Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 47. Ren dan Masalahnya


__ADS_3


Masih menggunakan seragam putih abu-abu, Ray pergi ke pasar malam bersama dengan enam orang yang lain. Di sana, banyak sekali orang-orang. Hal yang selama ini hanya mereka temukan di pesta orang-orang besar dan kaya, nampak seperti sebuah tempat yang sangat indah.


Anak-anak berlarian, dengan tawa yang menggema di setiap ujung ruang lebar tersebut. Seolah berlari tanpa beban, anak-anak itu tidak peduli akan terjatuh ketika bermain.


"Gue gak pernah naik komedi putar. Cuma sering liat di YouTube, mereka keliatan seneng banget. Apa nggak pusing ya?" Sean menatap orang-orang yang sedang menaiki komedi putar. Tertawa setelah kuda-kuda yang ada di sana berputar seiring dengan lagu yang berkumandang.


"Yang lempar-lemparan itu apaan, Rel?" Sam yang penasaran langsung mengguncang tubuh Karel dengan brutal.


"Itu, lo harus lempar tepat sasaran pada kaleng yang di susun itu. Kalau jatuh semua bisa milih hadiah yang ada di sana." Karel menjelaskan.


"Aku pengen main, temenin kuy!" katanya sambil menarik tangan Karel. "Eh, ngapain ngajak gue?" Sam tidak menjawab, tidak peduli bagaimana Karel menolak ajakannya anak itu tetap memaksa.


"Bang, temenin gue naik komedi putar dong." Shan mendelik, menatap Sean yang menunjukkan wajah imutnya. "Eh, lo sadar gak? Tubuh lo gagah tinggi kek gini mainan komedi putar sama anak-anak SD?! Lo gak malu apa?"


"Tapi 'kan kita nggak pernah naik kaya begitu, Kak. Dari kecil ..." setelah berdecak, akhirnya Shan mau menemani Sean naik komedi putar. Bersama anak-anak kecil yang memandang mereka dengan heran. Ada ya anak sebesar mereka naik komedi putar?


Menyisakan mereka bertiga yang tidak tau ingin melakukan apa. Tapi sepertinya, Ray mengingat sesuatu. Kemarin dia berjanji membelikan gelang pada Sam sebagai tanda persaudaraan mereka. Alhasil, disinilah mereka berakhir. Sebuah tempat yang menjual perhiasan-perhiasan dengan harga yang bisa dibilang sangat murah.


"Mau beli?" Kensie bertanya, Rion yang ada di dekatnya juga mengangkat satu alisnya. Tumben banget dia mau beli perhiasan kaya begini.


"Emm, kemarin aku udah janji sama Sam bakal beliin gelang. Tapi kayanya di sini gak ada gelang buat cowok, deh." kata Ray sambil melihat-lihat perhiasan yang terpajang di sana.


"Mau cari apa, Mas?" Ray beralih menatap sang penjual. Seorang wanita, mungkin sudah 50 tahunan.


"Saya mau cari gelang, Bu. Tapi kayanya yang buat cowok nggak ada ya?" si pedagang melihat-lihat ke arah barang dagangannya dengan teliti.


"Kalau gelang nggak ada, Mas. Tapi kemarin saya punya kalung yang cocok banget buat Masnya." Wanita itu mengambil sesuatu di dalam tas ranselnya. "Ini, kemarin saya liat kalung yang cakep. Bentuknya bulan, tapi nggak feminim, kok." Dia memberikan sebuah kalung dengan bandul berbentuk bulan sabit. Ray mengamatinya sebentar, begitu pula dengan Rion dan Kensie di belakangnya.


...


...

__ADS_1


"Pas banget sama keluarga kita." Rion mengangguk setuju dengan apa yang Kensie bilang.


"Saya beli 7, ada 'kan Bu?"


...🔹💠🔹...


Ren sepertinya kembali kehilangan semangat. Bukan karena pelajaran yang tidak menyenangkan, tapi karena teman-temannya sangat menyebalkan. Dia duduk di bangkunya dengan tenang, sedangkan yang lain bermain tanpa ada yang mau mengajaknya. Seharusnya, di sekolah akan jadi lebih menyenangkan jika Ren tidak terlalu takut memulai sebuah obrolan ringan.


Anak itu memang susah didekati. Ditambah banyak isu-isu yang menyebar dikalangan orang tua anak-anak. Ren pernah mendengarnya langsung, bahkan tepat di dekatnya berdiri ibu-ibu itu dengan sengaja membicarakan dirinya yang merupakan anak broken home. Ren bangkit dari tempatnya duduk, lalu dengan perlahan melangkah ke luar gerbang. Sudah saatnya ia dijemput.


"Liat anak itu, setiap hari selalu sendiri. Kalau pagi diantar ayahnya, kalau pulang selalu dijemput pamannya yang masih kuliah. Pasti ibunya kabur dari rumah. Atau bisa jadi, dia anak haram yang sengaja ditinggalkan pada ayahnya."


"Kasihan sekali ya? Padahal masih kecil."


"Dia itu anaknya Pak Arnold, kamu tau 'kan? Suaminya mendiang Raina? Aku dengar kabar, dia sudah menikah lagi dan dia anak istri keduanya. Tapi di mana istrinya kira-kira ya?"


"Tapi ... tapi ... sekarang katanya Pak Arnold udah menetap di rumahnya Qian. Terus, ngapain dia bawa anak itu segala? Apa nggak kasihan si Ray yang sakit hati, kalau liat anak itu, pasti ingat sama wanita yang merebut ayahnya dari sang ibu?"


"Berarti fiks, dia memang anak haram!"


"Ren ..." Ren berbalik, menatap seorang yang memanggil namanya. Tapi di sana, ia hanya melihat seorang perempuan dengan dress di bawah lutut dan menggunakan masker hitam.


"Tante siapa?"


"Ren ..." Perempuan itu mendekat. Suaranya terdengar familiar di teliga anak itu. "Ini Mama, Sayang." kata wanita itu dengan buliran bening yang menumpuk di pelupuk matanya. Merentangkan tangan siap untuk memeluk tubuh kecil sang anak.


Tapi anak itu menghindar, menatapnya dengan penuh ketakutan. "Aku nggak suka Mama! Aku takut sama Mama! Mama jahat sama Ren! Mama jahat sama Kak Ray!" seru anak itu walau di hatinya ia ketakutan setengah mati. Perempuan itu terdiam di tempatnya. Iya, dia Sasha. Ibu kandung dari Renand Chandra Arrega.


"Maafin Mama ya, Sayang? Maafin Mama ... Mama kangen sama Ren ..." Ren menggelengkan kepalanya.


"Ayah jahat ya, Sayang? Dia buat Mama jadi seperti ini ..."


"Ayah nggak jahat! Mama yang jahat!" Sasha mengusap matanya yang berair. Kemudian mendekat pada anaknya yang masih ketakutan melihat sosoknya.

__ADS_1


"Apa yang Ayah kamu bilang sampai kamu se-benci itu sama Mama? Atau kakak kamu yang satu itu? Dia bilang apa sama kamu?" Ren lagi-lagi hanya bisa menggeleng. "Kak Ray juga gak jahat ..."


"Berarti kamu yang anak nakal ... nggak dengerin apa kata Mama. Anak nakal harus dihukum, 'kan?" Ren menggeleng. Ia bersiap untuk berlari tapi lebih dulu Sasha menyambar tangan kecilnya. Tidak peduli bagaimana Ren memohon ampun. Atau berteriak memanggil ayah dan nama kakaknya. Kala itu, Sasha benar-benar menjadi monster untuk anaknya sendiri.


Dia ... sudah gila.


...🔹💠🔹...


Qian berjalan lebih cepat ketika ia melihat ke arah jam tangannya. Sudah jam 11, kali ini dia benar-benar melewatkan kuliahnya untuk menjemput Ren. Tapi tidak apa, dia senang melakukannya. Apalagi, dari dulu dia memang menyukai keberadaan anak-anak. Terkadang, ingin sekali dia menikah muda dan memiliki anak di usianya. Tapi melihat kakak iparnya yang gagal merajut rumah tangga sebanyak dua kali membuatnya takut sendiri.


Qian menghentikan langkahnya. Taman kanak-kanak itu sudah sepi. Tapi ia bisa melihat sosok Ren yang berdiri di depan gerbang sambil memegang tali ranselnya.


"Maaf ya, Ren. Abang telat jemput, kenapa nggak tunggu di dalam? Di luar bahaya nanti kalau Ren kenapa-kenapa bagaimana?" Qian mendekat. Tapi anak itu masih diam. Masih menatap kosong jalanan di hadapannya. Merasa aneh dengan anak kecil itu, Qian segera mengguncangkan tubuh Ren dengan pelan.


"Ren ... kamu kenapa?" Ren akhirnya menatap Qian di hadapannya. "Oh, Bang Qian. Ayo pulang ..." kata anak itu. Seperti ada yang hampa.


"Ren kenapa? Ada yang sakit? Atau di kelas tadi ada masalah? Coba bilang sama Abang." Tidak ada penekanan. Tapi anak itu hanya menggeleng, lantas memegang tangan Qian dengan amat erat. Seperti menahan rasa sakit. Tidak segera mendapatkan jawaban dari si anak, Qian lantas menggendong Ren dan segera pergi dari sana. Anak itu terbiasa diam saat merasakan terguncang. Bahkan ia sudah terbiasa sejak bersama ibunya. Karena wanita yang seharusnya menjaga, malah menjadi sumber luka paling banyak untuknya.


Bergegas, Qian menelpon Arnold dan memintanya segera pulang. Sepertinya ada yang salah dengan anak itu. Ren membutuhkan psikiater.


Ada sedikit penyesalan ketika Qian menjemput anak itu tanpa kendaraan apapun. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai rumah, tapi saat ini jalanan itu terasa seperti puluhan kilometer. Melihat jalanan saat ini pun, terlihat sangat sepi. Tidak ada satu pun taksi ataupun ojek yang melintas. Sedangkan tubuh Ren menggigil, meremat baju Qian dengan kuat. Anak kecil itu memeluk tubuh Qian dengan kuat.


"Udah, tenang ya? Bang Qian di sini. Bang Qian bakal jaga Ren. Tenang ya? Ren anak pintar, Ren anak baik ..." Qian mengusap punggung Ren dengan lembut. Berusaha menenangkan anak kecil itu.


Tin tin ...


Sebuah mobil hitam berhenti di samping Qian. Lantas, Qian melangkahkan kakinya ke dalam saat Arnold dengan tergesa-gesa membuka sebelah pintunya.


"Lama banget sih, Bang! Gak tau apa gue khawatir sama anak lo!"


"Dia kenapa?" Jujur saat melihat Ren saat ini, ia bisa tau apa yang dialami adalah hal yang tidak mengenakkan. Terlebih, anak itu memancarkan tatakan hampa yang mampu membuat Qian dan Arnol menjadi sangat khawatir.


Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Menuju rumah sakit, tapi masalah Ren tidak sesederhana yang mereka kira. Bahkan hingga malam tiba, tidak ada tanda-tanda dari mereka akan pulang ke rumah.

__ADS_1


...🔹💠🔹...



__ADS_2