
Mimpi buruk untuk Arnold. Kejadian yang menimpa Ray beberapa waktu lalu, kembali terjadi. Tapi kini, anak bungsunya yang menjadi korban. Setelah mendapat telpon dari Qian siang tadi, laki-laki itu segera melakukan mobilnya. Anak itu terlihat tidak baik-baik saja.
Dan benar saja, sejak datang ke rumah sakit serta menghadap seorang psikiater, anak itu mulai gelisah. Hingga ia berteriak tak mau dipegang oleh siapapun. Menangis sejadi-jadinya, berteriak kesakitan ketika tangannya dicekal oleh Qian dan Arnold, tapi di sana bahkan tidak terdapat luka apapun. Anak itu bisa diam, ketika sang dokter menyuntikan obat bius padanya. Tak butuh waktu yang lama, hingga Ten jatuh tertidur di atas ranjang rumah sakit.
Membuat Qian menangis dalam diam ketika menunggu pemeriksaan. Hanya ayahnya yang diijinkan ada di dalam ruangan. Sedangkan Qian, dia diminta keluar untuk beberapa saat. Tapi jelas dia sangat ketakutan, apalagi mendengar jeritan Ren tadi. Siapa yang tidak khawatir?
"Halo," Qian mengangkat telepon dari Erik. Mungkin sudah puluhan panggilan dia abaikan, dan kali ini dia menjawabnya. Tidak mau lagi membuat orang rumah khawatir. Apalagi di rumah sedang ada anak-anak keluarga Chandra.
"Abang ke mana?! Ini udah hampir Maghrib! Ren udah Abang jemput 'kan?! Kenapa nggak dibawa pulang dulu?"
Suara berderet yang berasal dari seberang sana membuat Qian menjauhkan ponselnya dari telinga untuk beberapa saat. "Gue di rumah sakit—"
"What?! Siapa yang sakit?! Bukan lo, 'kan?!"
"Bukan ... Ren yang sakit ..."
...🔹💠🔹...
Ketika malam tiba, waktu bahkan hampir tengah malam. Dan mobil milik Abra baru saja terparkir di halaman rumah. Setelah menjemput anak-anak di pasar malam, ia tidak menemukan mobil Arnold di rumah. Tapi dia juga tidak menaruh curiga, dia sering sekali lembur bahkan hampir pagi. Jadi setelah menurunkan 6 anak yang lain, ia langsung saja pulang tanpa mampir terlebih dulu.
Ketika Rion dan Abra baru saja masuk ke dalam rumah, mereka langsung disuguhkan lemparan bantal sofa. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Nia. Wanita itu belum tidur, dengan wajah marahnya bangkit dari sofa dan menjewer telinga anak juga suaminya.
"Ma ... Ma ... sakit iss!" rengek Rion
"Kenapa Sayang, aduh ..." Akhirnya Nia melepaskan jewerannya.
"Kalian ke mana saja, hah?! Ditelpon tidak diangkat! Dikirim pesan bahkan tidak dibaca! Nggak tau apa di rumah Mama paniknya minta ampun?!" wanita itu berkacak pinggang.
"Emang ada apa, sih, Ma? Tadi 'kan Rion udah ijin sama Mama."
"Masalahnya bukan itu, tadi si Arnold tiba-tiba telpon. Ren dibawa ke rumah sakit."
"HAH?! KENAPA?!"
...🔹💠🔹...
__ADS_1
Di lorong rumah sakit, langkah ribut dari dua orang itu membuat suasana sepi menjadi riuh. Bahkan Ray belum sempat mengganti seragamnya. Sesaat setelah Erik mengatakan bahwa adiknya ada di rumah sakit, remaja itu panik. Akhirnya, karena sudah malam juga Shan yang menemaninya pergi ke rumah sakit menggunakan motor milik Erik.
Tidak ada percakapan di antara keduanya. Keduanya kalut dengan pikiran masing-masing. Hingga langkah mereka tiba di sebuah ruangan, dengan Qian yang terduduk lesu di kursi tunggu depan ruangan.
"Bang, gimana?! Adik gue nggak apa-apa, 'kan?! Bilang kalau adik gue nggak apa-apa, Bang!" remaja itu sudah tidak bisa menahan emosinya. Ia terlalu khawatir, terlalu takut.
"Ray, tenang dulu. Biarin Bang Qian ngomong, kalau kaya gini dia jadi bingung mau mulai dari mana. Lo tenang dulu, okay?" Shan mengelus punggung Ray agar bisa tenang. Dan akhirnya, remaja itu bisa mengatur napasnya. Ikut terduduk bersama Qian.
"Gue nggak tau apa yang terjadi, Bang Arnold yang tau lebih jelasnya." Ray mengusap wajahnya. Kembali berdiri, kemudian mengintip lewat jendela kaca di belakangnya.
"Gue boleh masuk?" Dengan perlahan Qian hanya mengangguk. Tak menunggu lebih lama lagi, Ray sudah melesat dari tempatnya. Membuka pintu dan menghampiri adiknya yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Shan terdiam, melihat sosok Qian yang seperti ini membuatnya overthinking. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ren sampai anak kecil 5 tahun itu bisa berakhir di sini?
...🔹💠🔹...
Arnold menatap wajah damai anak bungsunya yang kini terbaring di atas ranjang. Baru saja diperiksa oleh seorang dokter bernama Pras. Setelah menggantikan pakaian pasien kepada Ren, laki-laki itu meminta Arnold untuk pergi ke ruangannya.
"Apa sangat parah?" Arnold tidak tau lagi ingin bertanya tentang apa.
Di ruangan tersebut, Arnold duduk dengan gelisah. Ia kembali teringat akan kejadian dulu. Tapi kali ini ia membiarkan anaknya yang lain terjebak dalam masalah yang sama. Dr. Pras melihat sosok ayah tersebut yang melamun. Mungkin berpikir akan hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Namanya Renand Chandra Arrega?" Arnold mengangguk samar. "Baik, tadi Anda melihat sendiri bahwa sepertinya Ren melalui masa-masa sulit. Apakah ada yang terjadi belakangan ini?"
"Saya tidak tau, tapi anak itu terlihat baik-baik saja ketika saya berada di rumah."
"Saya akan mengatakannya secara langsung. Anak Anda mengalami kekerasan. Saya tidak tau lebih tepatnya, tapi Anda liat sendiri 'kan lebam-lebam yang ada di tubuhnya?" Arnold menggigit bibirnya. Sedangkan laki-laki di hadapannya mulai membuka lembar-lembar catatannya yang tadi dibawa. "Ada 15 lebam kecil dan 3 lebam besar di pahanya. Mungkin kalau anak Anda mengeluh sakit perut, ada kemungkinan—"
"BRENGSEK!!" Arnold tidak bisa mendengarnya lagi, meja kaca itu pecah karena gebrakan tangannya. Membuat Dr. Pras terkejut dan melindungi tubuhnya dari pecahan kaca. Arnold berdiri dari tempatnya.
"Aku tidak ingin dengar lagi! Lakukan tugasmu sebagai dokter! Sembuhkan anakku secepatnya!" Sifatnya yang otoriter belum hilang. Dokter itu terkejut dibuatnya, ia hanya diam menatap Arnold yang keluar dari ruangannya sambil mengumpat.
Di luar, Arnold langsung menghubungi Karen.
"Halo, ada masalah, Ar?"
"Bukan masalah biasa lagi, Kak! Tolong aku, Kak! Aku nggak tau harus melakukan apa lagi!"
__ADS_1
"Hei hei, ngomong pelan-pelan, okay? Sekarang jelasin ada apa?" Arnold menunduk.
"Ren, Kak ... anak aku, Ren ... dia luka-luka, tapi dia nggak mau ngomong siapa pelakunya. Ini seperti kejadian Ray di masa lalu. Aku cuma takut, Kak ... Please, tolongin aku kali ini."
"Okay okay, kamu tenang di sana. Aku secepatnya akan datang. Sementara, biarkan Abraham yang tangani masalah ini."
"Nggak bisa, Kak Nia lagi hamil. Aku nggak mau buat dia membagi fokusnya."
"Hah, okay. Kamu tenang, jaga Ren terus! Jangan kepancing emosi, udah sekarang aku mau siap-siap kalau gitu!" panggilan langsung terputus begitu saja. Meninggalkan sunyi di telinga Arnold. Akhirnya dia melangkah ke ruang rawat anaknya. Anak kecil itu masih tertidur. Di sampingnya ada Qian yang setia mengelus tangannya, dan membenarkan selimut Ren setiap kali anak itu bergerak.
"Qian ..." Qian mengangkat wajahnya. Menatap manik sang kakak iparnya. "Bukan kamu 'kan pelakunya?" Qian mengernyitkan dahinya.
"Maksud Abang apa?"
"Bukan kamu 'kan yang melukai Ren?" Arnold bertanya lirih. Ia tau adik iparnya itu gampang tersulut emosi. Tapi jelas ia ragu, karena selama ini Qian yang paling perhatian dengan Ren.
"Abang bercanda 'kan?! Ngapain gue lakuin itu ke ponakan sendiri?! Gila ya Abang?!"
"Tapi kamu yang terakhir kali—"
"Stop jadi orang nggak waras, Bang! Kalau gue lakuin itu, ngapain gue repot-repot bawa dia ke sini! Abang jangan buat gue emosi di saat yang nggak tepat kaya begini!" Qian menghela napasnya. "Gue bukan orang pendendam, apalagi melampiaskan ke anak kecil kaya Ren." Pandangan Qian terlihat sendu. "Jadi stop berpikir kalau gue bakal lakuin itu ke anak Abang."
...🔹💠🔹...
"Adiknya Kakak kapan bangun? Ini udah jam dua pagi, tapi kamu 'kan tidur dari kemarin siang, nggak bosen apa tidur terus?" Ray tetap setia menemani adiknya. Sesekali mengecup punggung tangan Ren dengan lembut.
Sampai akhirnya, jari-jari mungil itu bergerak. Bersamaan dengan matanya yang ikut terbuka secara perlahan. "Ka ... kak ..." Ray mengangkat wajahnya. Remaja itu tidak berhasil menyembunyikan bulir bening dari pelupuk matanya.
"Hmm, suara Kakak terlalu keras ya? Ren ada yang sakit?"
Anak kecil itu diam. Memandangi wajah Ray dalam senyap. "Sebentar ya, Kaka panggilkan dokternya dulu—" sebelum Ray beranjak dari sana, anak itu menyentuh tangannya. Menyuruhnya untuk tetap di sana.
"Kakak ... tetap di sini ya? Sama Ren ... Ren takut sendirian ... Ren takut ditinggalkan ..."
...🔹💠🔹...
__ADS_1