
Dihari yang sama, Qian memaksa untuk pulang. Membuat Arnold mendengus kesal, melihat tubuhnya yang masih terlihat lemah berdebat dengannya hanya membuatnya lelah. Nyatanya anak itu selalu punya alasan untuk membantah setiap perkataannya. Kini, Qian berjalan dengan pelan sambil dibantu Erik di sampingnya. Melihat kesana-kemari mencari dua sosok yang ia tinggalkan tadi pagi.
"Ray sama Ren mana ya? Kok nggak keliatan? Udah makan belum ya? Oh iya, Rik bantu gue ke dapur! Gue mau mas—"
"Kamu jangan yang aneh-aneh dulu, itu kaki kamu aja belum tentu bisa berdiri sendiri. Sok-sokan mau masak, nggak usah!" Qian mendengus kesal.
"Tapi—"
"Ini jam sepuluh malam, Aqiannugraha Rendianaka Jawaragupta! Ray sama Ren udah tidur dari tadi, soal makan kamu nggak usah khawatir. Ray udah cukup dewasa hanya untuk sekedar buat mi instan!"
"Mi instan?! Itu 'kan nggak sehat, gimana kalau—"
Plak ...
Erik mulai tidak tahan dengan kakaknya ini. Bisa-bisanya dia masih memikirkan orang lain padahal tubuhnya sendiri sedang begini. Dia jadi tidak bisa menahan tangannya untuk menggampar mulut Qian.
"Udah?! Oke, sekarang Bang Qian ayo istirahat! Nggak usah banyak ngomong kalau kaki lo aja masih loyo kaya gini!" Qian mendengus untuk yang kedua kali. Terpaksa menuruti keinginan dua manusia es itu, dan melangkahkan kakinya ke kamar dibantu Erik. Arnold menggeleng pelan, melihat sikap Qian yang keras kepala membuatnya ingat akan satu orang yang sudah lama sekali tak ia temui. Dan tak akan bisa.
Raina, ternyata setelah lama ia pergi dari dunia malah membuat Arnold semakin patah. Andai saja dulu dia tidak berkhianat, mungkin saat ini perempuan itu masih ada di sini.
Kakinya entah kenapa ingin pergi melihat dua sosok buah hatinya. Sekedar melihat mereka memang tidur atau pura-pura seperti yang lalu-lalu. Ia membuka pintu bercat putih dengan pelan. Melihat dua sosok yang kini terbaring sambil berpelukan di atas ranjang membuatnya menyunggingkan senyuman. Kenapa semakin hari, Ren terlihat mirip dengan Ray? Harusnya dia mengingatkannya pada sosok wanita bernama Sasha. Dia tidak bisa melihat sosok itu di wajah mungilnya.
Perlahan ia mendekat, mengelus rambut si bungsu yang terasa lembut. Kemudian kembali mengulum senyuman.
"Sehat sehat anak Ayah—"
Plak ...
Tangannya ditangkis dengan pelan oleh sosok yang kini masih memejamkan mata.
"Jangan pegang-pegang Adek, kalau masih belum mandi! Mandi sana!"
"Elah, cuma pengen ngelus rambutnya doang."
"Itu tangan Ayah banyak bakterinya!"
Arnold menghela nafasnya berat. Ray benar-benar menyayangi Ren. Melupakan kenyataan bahwa ibu anak itulah yang telah memberikan luka paling banyak dalam hatinya.
...🔹💠🔹...
__ADS_1
Ray benci mengatakan ini, tapi sejak Arnold mengatakan ingin memperkerjakan seorang pembantu membuat moodnya tiba-tiba memburuk. Bukan karena dia tak mau ada orang yang bisa membantu meringankan beban Qian, hanya saja ia tidak bisa percaya pada orang baru dengan mudah.
Dengan langkah lesunya, ia masuk ke dalam kelas. Mengedarkan pandang di dalam kelas. Merasakan ada hawa baru yang muncul di sana.
Eh, beneran ganteng banget
Mau minta nomor hp nya, tapi takut. Nanti kalau gue mati duluan karena tatapanya gimana??
Namanya kaya nggak asing ya?
Ray dengar segerombolan anak perempuan tengah memandang ke atas seorang yang kini menelungkup kan wajah pada lipatan tangan di atas meja.
"Eh, siapa itu bocah? Anak baru?" Ray ikut bergabung dengan mereka. Ikut-ikutan berbisik, karena dia juga penasaran.
"Etdah, ini bocah main nyelonong aja! Eh, iya. Dia anak baru, kayanya pindahan dari Malang sama kaya lo!"
Hah?
"Pindahan dari Malang?" Jenni mengangguk.
"Namanya kok, kaya nggak asing ya kan?"
"Kalian ini!! Udah jam 7 lebih, belum juga duduk di tempatnya masing-masing!" Suara pak Agung terdengar sangat. Membuat anak-anak remaja itu berlarian ke tempatnya masing-masing. Begitu pula dengan Ray yang kini duduk di bangkunya. Tepat di samping seorang yang katanya murid baru, yang sampai sekarang masih menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangan di atas meja.
"Ya ampun, itu siapa yang masih tidur! Nggak denger bel masuk?! Kemarin malam begadang apa gimana itu?!!" Pak Agung sudah mulai murka. Johnny yang ada di depannya, berinisiatif untuk membangunkan anak batu itu.
Dia meregangkan tubuhnya, menguap dengan keras. Bahkan disaksikan oleh pak Agung sendiri. Anak itu memang tak punya sopan santun.
"Hah, kenapa? Masih ngantuk banget elah, gue nggak tidur semalaman—"
"Kamu nggak tidur semalaman ngapain?!! Balapan liar?! Nge-game?!!" Sampai Rion sadar bahwa ada Pak Agung yang sudah ada di hadapannya. Memegang penggaris panjang dan memasang wajah garang. Rion terhentak, dia tidak pernah dibentak seperti ini. Ayahnya bilang, Rion akan paham bagaimana rasanya sekolah yang sesungguhnya bila ia berada di sini. Tapi kini, ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kemudian meminta maaf dengan lirih, kemudian duduk dengan tegap kembali.
"Lo ngapain aja sampai nggak tidur semaleman?! Mikirin hutang, atau ngerasa bersalah sama gue??!" Rion berbalik dan menemukan sosok yang ia cari cari selama ini. Ia terdiam cukup lama, dan menghela nafas sekali lagi. Mulutnya terasa kaku, ketika menyadari bahwa Ray menatapnya begitu lekat untuk meminta jawaban dari pertanyaannya.
"Kenapa diem aja? Takut?!" Rion menggeleng. Belum berani membalas tatapannya. Karena kini, Rion menggigit bibirnya dengan kuat.
"Gua nggak pernah ngerasa takut sama siapapun, kecuali Papa."
"Om Abra emang galak, gue liat dia sering marahin karyawannya sampai kaya mau pingsan. Jangankan karyawannya, gue aja yang nggak salah apa-apa sama Om Abra juga kena semprot!" Cerocosnya. Rion tersenyum.
"Gue malah digampar sama dia ..."
__ADS_1
"Hah?!" Ray hanya memastikan bahwa apa yang ia dengar tidak salah.
"Maaf ..." Lirih remaja di sampingnya. Dan kala itu Ray juga ikut tersenyum sangat lebar.
"Gue nggak denger, lo bilang apa?!"
"Maaf ..."
"Apa?! Ya ampun telinga gue kayanya ada yang salah sih ini, coba sekali lagi!" Rion menghela nafas.
"Gue bilang lo cerewet, ceroboh, keras kepala banyak tingkah, cempreng, dan pendek kaya bunga bangkai." Ray terkekeh.
"Haha, iya iya. Gue maafin, tukang batu. Coma ngomong gitu aja susah amat sih." Agaknya, dua remaja itu lupa akan asistensi Pak Agung.
"Rayyan! Kamu berdiri di depan tiang bendera, sampai jam pelajaran saya berakhir. Kamu juga, anak baru! Jangan mentang-mentang murid pindahan, kamu bisa seenaknya ngobrol di jam pelajaran saya!" Keterkejutan Rion makin menjadi ketika Pak Agung mulai mendekat sambil mengangkat penggaris yang ia bawa tinggi-tinggi. Membuat dua oknum di belakang sana cepat-cepat berlari ke luar kelas. Berdiri di depan tiang bendera dan menjadi atensi mereka yang lewat.
"Baru masuk aja udah sial banget gue, gimana kalau sampai lulus ..." Keluh Rion. Ray tertawa mendengarnya.
"Tenang aja Bro, lo nggak akan pernah nyesel sekolah di sini! Karena lo akan ngerasain bagaimana masa SMA yang sebenarnya."
...🔹💠🔹...
Erik menghela nafas, sejenak ia merasa orang yang tengah duduk di atas sofa itu memang benar-benar merasa butuh istirahat. Tapi nyatanya, kini Qian hanya memandangi layar ponselnya sambil tersenyum sendiri.
Kumat lagi ...
Batin Erik berkata demikian. Qian memang orang yang hampir bisa segala hal. Memasak, menyetrika, bersih-bersih, belajar, berkendara, semuanya dia mahir melakukannya. Hanya satu yang menjadi kelemahannya.
"Eh, Rik! Liat deh cakep nggak pacar gue?" Qian menunjukkan layar ponselnya pada Erik. Dan remaja itu mulai menghela nafas. Qian lemah hatinya karena satu cewek, satu wanita yang bahkan tidak tahu dia siap dan hidup atau tidak.
"Bang, lo nggak usah halu kenapa sih?! Yang realistis aja!" Qian berdecak, kemudian ia kembali memandangi foto pada layar ponselnya.
"Winter itu calon istri gue. Cantik, lucu, imut, kriteria gue banget." Erik menghela nafasnya lagi. Qian itu fans beratnya Winter dari Aespa. Setiap dijulidin Erik, pasti Qian mengatainya Black Mamba.
"Dasar Black Mamba! Mau gue beristri siapa, punya pacar makhluk apa, dan bagaimana prosesnya itu cuma Tuhan yang tahu. Siapa tahu, nanti Winter tiba-tiba turun dari langit dan bersedia jadi bidadariku." Qian mulai lagi dengan pikiran absurdnya.
"Gue lebih percaya lo pacaran sama alien daripada Winter Winter itu!" Erik mengalihkan pandangan dari Qian, daripada berdebat dengan kakaknya itu, dia lebih memilih untuk mencari minum di dalam kulkas. Namun, sebelum itu terjadi, ia mematung pada tempatnya. Pandangannya terhenti pada sosok yang ada di belakang Ray.
"Bang Erik/Rion!!"
__ADS_1