
Waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi, hari ini adalah hari Minggu. Itu artinya ini adalah hari favorit Ren. Tapi kali ini, di rumah tidak ada siapa-siapa. Cuma ada Yanti yang sedang mengurus tugasnya, yang lain ke rumah sakit untuk menemani kakaknya yang tiba-tiba sakit. Ren merasa kesepian, ia merasa tak memiliki teman ketika orang-orang di sekitarnya sibuk dengan Ray yang memang lebih sering sakit dari pada dia sendiri.
Dengan langkah lesu, dia mencoba untuk bermain bola sendiri di halaman rumah. Sesekali Yanti hanya menoleh untuk memastikan anak dari bosnya itu baik-baik saja di sana. Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Renand!" Ren terdiam, merasa ada yang memanggil namanya. Namun ketika ia menoleh ke arah Yanti, wanita itu sedang mengepel lantai. Dan tidak ada tanda-tanda ia memanggil nama Ren seperti tadi.
"Renand, Nak!" Suara itu semakin jelas. Ren menoleh ke arah gerbang yang tertutup rapat dengan pagar besi yang tinggi. Seorang wanita dengan topi dan masker berwarna hitam tengah berdiri di sana. Tanpa ragu, anak itu meninggalkan bolanya di sana. Dengan polos menghampiri wanita itu tanpa ragu.
Ren masih berdiri jauh di belakang pagar, namun setelah wanita itu membuka maskernya tiba-tiba anak itu tersenyum. Kemudian berlari lebih dekat dari tempatnya tadi.
...🔹💠🔹...
Ray tidak suka di sini. Bau obat-obatan yang menyengat membuatnya semakin tidak nyaman. Rion masih di sana, sibuk dengan ponselnya sedangkan Arnold sudah pergi ke kantor sejak satu jam yang lalu. Dua orang yang lain, Erik dan Qian pulang ke rumah untuk mengambil baju ganti. Walau keadaannya sudah membaik, Ray masih saja bingung kenapa perutnya masih terasa tidak enak. Bubur dari rumah sakit yang ada di samping ranjangnya masih utuh. Tenggorokannya masih kering karena sejak tadi tidak ada makanan yang masuk ke mulutnya.
Remaja itu terus saja diam, sampai ada satu saat di mana ia merasa perutnya serasa mendidih. Hingga tanpa ia sadari nafasnya kembali terengah-engah dengan alasan yang tidak jelas. Sampai Ray menyadari bahwa kali ini ia kembali memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Namun sebelum itu terjadi, tubuhnya lebih dulu terjatuh dari ranjang. Membuat tiang infus di sampingnya ikut rubuh menimpa kepalanya. Rion yang tersadar segera melempar ponsel di tangannya.
"Kenapa nggak bilang kalau mau--"
"A-ayah ..." Sekali lagi, Ray kembali memuntahkan isi di dalam perutnya. Wajahnya sudah pucat pasi ketika Rion mengelus tengkuknya untuk membuat Ray merasa lebih baik.
"A-ayah ... Ayah mana?"
"Om Arnold ada, nanti ke sini. Mau minum?" Ray mengangguk pelan. Tangan Rion meraih segelas air minum di samping ranjang. Kemudian meminumkannya pada Ray yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
__ADS_1
"Mau pulang ... mau ketemu Ren ..." Rion menghela nafas. "Soal pulang atau enggak, itu dokter yang tentuin bukan kamu sendiri!" Ia panik, tentu saja. Tapi saat melihat Ray yang kembali seperti ini membuatnya mengingat masa lalu. Satu-satunya hal yang menjadi kesalahannya saat itu adalah terlalu larut dalam emosi, dan terlalu panik ketika mengalami hal semacam ini. Sampai ia sadar tak bisa melakukan apa-apa selain menangis dan merutuki dirinya sendiri.
"Ayo, gue bantu! Nggak ada yang luka 'kan?" Ray menggeleng sambil mengusap mulutnya. Rion membantu Ray untuk kembali duduk di pinggir ranjang. Mendirikan tiang infus yang jatuh dan mengembalikannya pada tempat semula. Sejenak ia berfikir, setelah Ray hidup dengan aman dan damai pun berat badannya masih saja seringan ini. Rion tidak pernah berfikir kalau di sini juga tidak mudah bagi seorang Rayyan. Ia harus kembali beradaptasi dengan lingkungan baru. Sempat menjadi cibiran tetangganya karena kedatangannya dengan sosok Arnold dan Ren yang tiba-tiba. Nampaknya, masalah rumah tangga Raina dengan Arnold sudah menjadi isu-isu di antara mereka.
Dalam diamnya, Ray kembali menelan ludahnya yang terasa pahit.
"Masih mau muntah lagi?" Ray menggeleng, walau lidahnya masih kelu dan tenggorokannya masih merasakan panas, namun ia yakin kali ini tubuhnya sudah agak ringan.
"Gue panggil petugas kebersihan dulu, buat beresin ini. Lo nggak apa-apa gue tinggal?" Ray menggeleng, remaja itu nampak gelisah. Ia bermain dengan jari-jarinya, tatapan matanya yang sayu juga menjelaskan semuanya.
"Cuma sebentar, gue pasti balik lagi!" Namun setelah berdebat dengan dirinya sendiri, Ray berhasil menganggukkan kepalanya. Walau saat ini ia merasa takut entah kenapa. Mungkin efek dari demam, ia kembali merasa resah.
...🔹💠🔹...
Rumah itu nampak sepi, nyatanya walau Rion tidak banyak bicara ruangan itu selalu terdengar ramai ketika ia di rumah. Apalagi kini mereka tinggal bersama dengan sosok Abraham. Nia kira mereka akan menjadi canggung, namun di luar dugaannya dua makhluk itu malah jadi ramai kalau ditinggal berdua. Lebih sering berdebat dibanding akurnya.
Nia mengusap matanya yang tiba-tiba basah. Akhir-akhir ini ia sedikit sensitif, bahkan mengingat hal sekecil apapun. Ia juga ingin anak yang lucu dan menggemaskan seperti orang lain, tapi nyatanya ketika Rion sudah sedikit lebih dewasa anak itu sudah tidak tertarik dengan permainan anak-anak. Atau Nia menyebutnya sebagai definisi dari, 'terlalu cepat dewasa'.
"Nak, kalian tau nggak? Kakak sama Papa kalian itu kaya batu. Nggak mau bercanda sama Mama, nggak kaya manusia normal lainnya. Kalau kalian lahir nanti, kalian harus jadi anak yang ceria. Suka main sama Mama. Biar Mama nggak kesepian lagi, oke?" Nia tersenyum. Tangannya mengusap-usap perutnya yang mulai terlihat berisi.
"Aku selalu pulang cepat akhir-akhir ini, tapi kenapa kamu masih merasa kesepian?" Suara itu tiba-tiba terdengar. Membuat Nia mencari asal dari suara orang tersebut. Namun sebelum hal itu terjadi, Abra sudah lebih dulu duduk di samping sang isteri.
"Masih siang, kenapa sudah pulang?" Abra berdeham. Sengaja merapatkan duduknya dengan Nia.
"Kamu tau? Aku itu bukan batu--"
__ADS_1
"Aku tau. Mas itu patung Doraemon 'kan?" Abra berdecak. Nia memang ada-ada saja. Setelah ia disamakan dengan batu, kini ia disandingkan dengan patung, patung Doraemon pula. Abra menghela nafas, memeluk bahu sang istri.
"Aku selalu pulang cepat belakangan, kenapa masih aja merasa sepi?"
"Nggak tau, aku itu pengen anak yang ceria, cerewet, karena Rion dari kecil udah kamu ajari jadi batu, aku jadi nggak bisa liat jiwa anak-anak dalam dirinya. Aku juga pengen punya anak yang gemesin kaya Rayyan. Pengen punya anak aktif kaya Karel atau lucu kaya Samuel ..."
"Hei, dia anak kamu loh. Bukan anak pungut, dia anak kita kamu nggak lupa 'kan? Kalau dia jadi dirinya sendiri ya biarlah. Toh setiap anak juga beda-beda karakternya."
"Aku bukan nggak suka sama Rion. Cuma kadang-kadang ngerasa sepi aja di rumah nggak ada yang nemenin. Mungkin aku butuh kesibukan baru."
"Big no!" Berhasil membuat Nia kembali menghela nafasnya. Ia tahu benar, suaminya tidak akan mengijinkan dia untuk beraktifitas seperti dulu. Apalagi kini ia tahu Nia tengah mengandung anaknya, anak kembarnya.
"Kalau gitu aku mau ketemu Ray!"
"Dia 'kan lagi di rumah sakit, tunggu dia pulang dulu baru kita ke sana ya?"
"Kamu lupa? Setelah dia kembali ke keluarga besar kamu, aku yang jadi pengganti ibunya. Sekarang ibunya sudah nggak ada, Mas. Kamu tega biarin dia tanpa perhatian seorang ibu?"
"Tapi kamu bukan ibunya, lagipula sekarang dia sudah punya Qian sama Erik. Rion juga dari tadi jagain dia-"
"Kamu nggak akan tahu, perhatian seorang ibu nggak akan pernah terganti dengan siapapun ..." Lirih Nia. Ia tahu benar, anak itu merindukan kasih sayang seorang ibu. Memang hampir satu tahun atas kepergian Raina. Tapi tetap saja, bagaimanapun Ray sudah kehilangan ibunya. Bukan untuk satu atau dua bulan. Tapi untuk selamanya.
"Kamu nggak akan ngerti, karena Mas nggak pernah ngerasain!" Abra menghela nafas.
"Kalau gitu, sekarang siap-siap! Pakai jaket kamu, kita ke tempat Rayyan!"
__ADS_1
...🔹💠🔹...