Kata Rayyan

Kata Rayyan
Bab 49. Keinginan Sasha


__ADS_3


Rion termenung dalam tempatnya. Melihat Ray dari balik jendela kaca kamar rawat Ren. Anak itu banyak diam semenjak ia siuman, selalu mencengkeram erat baju Ray ketika remaja itu ingin beranjak dari tempatnya. Sebenarnya, Rion hanya mengamati Ray, tentang sikapnya, dan juga perhatian yang selama ini ia berikan pada sosok anak berusia lima tahun tersebut.


Menyuapinya. Membersihkan tubuhnya. Menceritakan hal-hal lucu agar sang adik bisa tersenyum kembali. Dan itu berhasil. Rion sempat heran, apakah Ray tidak memiliki emosi untuk sekedar tau bahwa anak yang selama ini dia anggap adiknya adalah anak dari wanita yang menghancurkan keluarganya menjadi berkeping-keping? Tentu saja tidak, Ray sering marah saat dirinya dengan sengaja makan makanan ringan kesukaannya di kulkas. Tentu remaja itu punya emosi, hanya saja ia terlalu pintar untuk mengaturnya.


Rion bisa melihat senyum terbit dari bibir Ren yang pucat.


"Ck, heran gue sama itu anak."


"Heran kenapa?" Rion membalikkan badan ketika mendengar suara familiar itu. "Dia emang kayak begitu dari dulu. Harusnya lo yang paling tau." Erik datang dengan sekantung plastik di tangannya. Mungkin berisi makanan dan cemilan.


"Enggak, gue kadang heran aja. Kok bisaโ€”"


"Dia juga bisa sembuhkan depresi lo hanya dengan ngobrol bareng. Itu bukan hal yang aneh." Rion ikut duduk di samping Erik.


"Bang?"


"Hmm, apa?"


"Ibunya Ray itu ... kayak gimana?" Erik melipat dua tangannya. Berpikir.


"Gue nggak terlalu ingat. Waktu Kak Raina nikah sama Bang Arnold, gue masih kecil banget. Tapi, Bang Qian selalu bilang kalau Kak Raina itu wanita paling cantik yang pernah dia kenal. Saat dewasa, gue bener-bener gak kenal sama Kak Raina."


"Terus ... kok bisa lo kenal sama Ray? Kok bisa Bang Erik kebetulan sekolah di tempat yang sama? Gak mungkin 'kan kalau cuma kebetulan aja?" Erik terkekeh.


"Tentu, bukan kebetulan. Ini semua berkat kerja keras Bang Qian. Gue nggak tau lagi waktu itu mau bilang apa, dia putus sekolah untuk cari kerja. Bang Qian bahkan tidak pernah menikmati masa remajanya. Sampai suatu hari Kak Raina menghubungi Bang Qian. Bilang kalau dia udah nggak tinggal lagi sama Bang Arnold. Katanya, Bang Arnold selingkuh sampai selingkuhannya hamil di luar nikah. Dan saat itu, gue nggak bisa berkata apa-apa. Bang Qian ngamuk di rumah. Nenek gue ketakutan waktu liat Bang Qian marah-marah."


"Bang Qian ... marah banget?" Erik mengangguk. "Nggak pernah gue liat Bang Qian semarah itu selama hidupnya."


"Gue nggak bisa berbuat apa-apa. Jadi waktu itu yang bisa gue lakuin cuma belajar dan berusaha dapetin beasiswa di SMA tempat keluarga lo sekolah. Ya, gue sadar diri aja. Nggak mungkin gue masuk jalur reguler dengan gue yang miskin kek gini. Jadi, gue minta tolong sama guru-guru di sekolah buat bantuin. Dan beruntungnya, waktu itu kepala sekolah gue baik banget. Kasih gue info seputar beasiswa di sekolah lo. Dan begitulah gue berakhir di kota perantauan selama 3 tahun."


"Terus, Bang Qian kok bisa beli rumah segala? Maksudnya ... itu rumah dua tingkat lho, nggak mungkin murah juga."

__ADS_1


"Ah, itu ... Bang Qian itu ... nggak tau gue! Soalnya di itu eksis banget di Instagram. Pengikutnya juga banyak, katanya dia tinggal promosi di situ. Terus dapet uang deh."


"Beneran? Se-terkenal apa sih?"


"Nggak tau, coba aja buka Instagram!" Rion itu penasaran. Masa cuma dengan promosi di Instagram dapet uang segitu banyak? Akhirnya dia membuka Instagram, pengikutnya tidak banyak. Cuma seribu lebih sedikit. Baru saja ingin bertanya dengan Erik apa siapa nama akun milik Qian, di laman pencarian sudah terlihat dengan jelas. Ia cuma mengetik nama Qian, dan akunnya sudah ada di sana dengan sendirinya.


Tunggu.


Rion melebarkan matanya. Iya benar itu Instagram milik Qian, fotonya terpampang jelas di sana. Dan pengikutnya ...


"Ini beneran punya Bang Qian?" Erik menoleh ke arah ponsel milik Rion. Kemudian mengangguk. "Iya bener, itu punya Bang Qian. Gimana, gila 'kan?"


"Ini beneran? 900 ribu lebih?! Ini hampir satu juta loh!"


"Ya memang begitu."


...๐Ÿ”น๐Ÿ’ ๐Ÿ”น...


Ray mengusap kepala sang adik. Anak itu bahkan tidak tidur setelah siuman pagi tadi. Terus memandangi wajah Ray yang terlihat lelah. Tentu saja lelah, dia tidak tidur semalaman. Sekarang, terlihat jelas lingkaran hitam di bawah matanya.


"Enggak, Ren nggak mau. Nanti kalau Ren tidur, Kakak hilang. Ren nggak mau sendiri."


"Enggak, Kakak di sini, temenin Ren terus."


"Bohong!"


"Serius, nih. Kakak duduk di sini!" Ray mendudukkan dirinya di kursi. Kemudian mengulas senyum untuk membuat adiknya percaya. Tapi anak itu tetap menggelengkan kepalanya. Dan Ray menyerah, ia memilih bangkit pada tempatnya. "Kalau gitu, Kakak yang tidur di sini. Kamu temani Kakak ya?" Ten hanya mengangguk pelan. Kakaknya mengambil space kosong di samping Ren. Kemudian ikut membaringkan tubuhnya di sana.


Ray menatap tubuh adiknya lamat-lamat. Ia terlalu tak tahan untuk mengusap kepala sang adik. Kemudian ia tersenyum, sambil mengusap rambut Ren yang terasa lembut.


"Kamu kok udah gede, perasaan kemarin kamu belum bisa bilang r dengan benar."


"Aku udah dewasa!" jawab anak itu dengan lantang. Tidak, Ray tidak menginginkan adiknya tumbuh dewasa terlalu cepat. Dia tidak ingin adiknya merasakan bahwa dewasa tidak seindah yang ia bayangkan.

__ADS_1


"Dewasa itu nggak enak, jadi kamu jangan cepet-cepet dewasanya." tidak ada penekanan. Hanya saja Ray tidak suka ketika adiknya mengatakan kalimat tersebut. "Kamu harus jadi adik Kakak dalam waktu yang lama. Kakak nggak mau nanti adik Kakak ini lebih dewasa dari Kakak." Ren tidak bergeming. Lantas anak itu merapatkan wajahnya tepat di dada Ray. Mencari kenyamanan yang selama ini tidak ia dapat dari orang lain.


"Boleh Kakak tanya?"


"Hmm, boleh."


"Siapa yang pukul Ray sampai begini?" Tubuh Ten menegang. Bahkan Ray bisa merasakannya sendiri. Adiknya ketakutan. "Ren jangan takut, ada Kak Ray yang selalu lindungin Ren di sini. Coba bilang, siapa yang lakuin?" Ren menggelengkan kepalanya.


"Kak, bisa tidak aku merahasiakannya saja?" Ray mengernyitkan keningnya.


"Kenapa?"


"Nanti kalau Mama ke sini, aku takut. Kata Mama aku itu nggak berguna, aku itu nggak punya hak untuk tinggal bareng Kakak. Kata Mama, aku nggak punya hak sama sekali. Bahkan untuk hidupโ€”"


"Berhenti ya? Kakak nggak mau dengar lagi. Sini Kakak peluk. Adik kesayangan Kakak harus tidur biar besok lebih kuat lagi! Okay?" Ray memeluk Ren. Anak itu terlihat ketakutan, sama seperti tubuhnya yang menggigil menginginkan perlindungan.


"Kakak ... Kakak sayang sama Ren?" anak itu bertanya.


"Tentu saja! Ren itu adalah hal yang paling berharga buat Kakak! Makanya, Kakak akan selalu jadi pelindung buat adik Kakak!"


...๐Ÿ”น๐Ÿ’ ๐Ÿ”น...


Wanita ber-dress putih itu melemparkan tas nya tepat di atas meja. Merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas kasur.


"Anak nggak tau diri! Harusnya aku nggak punya anak seperti dia! Kalau dia nggak ada, aku nggak akan berakhir bersama dengan Arnold itu! Ini semua karena anak itu! Dasar nggak berguna!!" teriak Sasha sambil meremat selimut putih di bawahnya.


Dia baru saja dibebaskan satu bulan yang lalu, tiba-tiba ada sebuah rasa rindu pada Ren yang muncul di hatinya. Namun setelah berpikir dengan semua hal yang ia alami selama ini, anak itu yang paling salah. Kalau saja dulu Ten tidak hadir lebih dulu di dalam rahimnya, ia tidak akan menikah dengan Arnold. Kalau saja anak itu tidak hadir sebagai anaknya, maka hidupnya akan jauh lebih baik.


Kepalanya berpikir, bahkan setelah lepas dari Arnold hidupnya sama sekali tidak tenang. Lantas apa yang harus dia lakukan?


Apakah ketika Ren lenyap semua kekhawatirannya akan hilang? Sasha kembali bertanya-tanya. Iya, mungkin saja ketika Ren hilang semua masalah yang ada padanya akan ikut lenyap.


Selanjutnya, Sasha tertawa seakan ia menemukan jalan keluar dari masalahnya. Tidak tau bahwa sepertinya masalah yang lebih besar akan menimpanya bila ia benar-benar melakukan hal gila tersebut.

__ADS_1


...๐Ÿ”น๐Ÿ’ ๐Ÿ”น...



__ADS_2