
Ruangan ini terlihat ramai, tapi nyatanya hanya senyap yang setiap orang tangkap. Tidak ada yang tau kenapa hal ini tiba-tiba terjadi, sosok itu terlihat sangat tegar di hadapan banyak orang. Tidak ada yang tau, bahwa sebenarnya ia sedang kesakitan. Tubuh gagahnya hanyalah tampilan semata, orang-orang dengan mudahnya tertipu dengan sikapnya yang seolah-olah tidak apa-apa. Termasuk wanita dengan mata sembab di pojok ruangan. Sedangkan dua menantunya berusaha menenangkan di samping kiri dan kanan.
Kensie dan Shan berdiri di samping orang-orang berbaju hitam itu dengan tatapan sendu. Tidak ada yang bisa tersenyum dihari yang kelam ini.
Sedangkan dua adik mereka juga berdiri di tempat yang sama. Dengan mata merah, menahan tangis yang sedari tadi mereka tahan. Mencoba untuk tegar di hadapan semua orang.
Sosok kakek yang selalu memberi petuah bijak kepada mereka sudah tidak ada lagi. Semua menangis ketika tubuhnya diangkat, kemudian di masukkan kedalam peristirahatan terakhirnya. Tidak ada yang tau, kapan dan bagaimana ajal datang. Semua bisa terjadi kapan saja. Semua keluarga datang, termasuk Arnold dan Sasha yang seakan melupakan permasalahan mereka. Renand tidak henti-hentinya bertanya, mengapa kakeknya yang sedang tidur dimasukkan kedalam liang lahat kemudian ditimbun dengan tanah yang basah. Ia terus menangis ketika gundukan tanah itu sudah ditaburi dengan bunga-bunga, kemudian kembali bertanya 'mengapa?!'
Shan menatap keluarganya yang datang dengan cepat ketika mendengar berita duka ini. Syukurlah mereka masih punya nurani untuk mendatangi pemakaman kakeknya.
"Kalian ke kamar aja!"
"Nggak, gue di sini. Sama lo." Kensie menatap Shan lekat. Ia tau, tiga orang di sampingnya sudah lelah. Mereka di sana sejak pagi. Ketika pulang dari pemakaman kakeknya, hingga siang menjelang.
"Gue tau kalian capek, mending sekarang kalian istirahat. Inget, beberapa hari lagi lo bakal ikut ujian."
"Lo juga ikut. Kenapa nggak istirahat bareng aja?!"~Kensie
"Gue masih pengen di sini."
"Kak, beneran nggak apa-apa? Kita ke atas duluan ya?!" Shan mengangguk. Menatap kepergian Karel dan Sam. Ia tau, dua anak itu diam-diam menahan lelah setelah hampir seharian duduk bersama
"Kenapa lo masih di sini?!"
"Gue nggak akan pergi kalau lo nggak pergi!" Shan menghela nafasnya. Kemudian meregangkan kakinya. Setelahnya kembali senyap seperti beberapa menit yang lalu.
"Ray kenapa belum pulang ya?" Tanya Kensie sambil memandangi pintu depan yang terbuka lebar. Tapi Shan hanya diam. Mungkin kepergian kakek menyisakan luka yang lebih dalam pada Ray. Anak itu tidak menangis ketika yang lain terisak. Ia hanya diam sambil memandangi gundukan tanah yang masih basah. Ia hanya diam ketika yang lain mulai ribut menenangkan sang nenek. Dan ketika yang lain mulai beranjak pergi dari pemakaman, ia hanya diam. Ia tak mengatakan apa-apa, selain memandangi nisan itu sambil mengelusnya secara perlahan.
Berulang kali Rion memanggil namanya, tapi anak itu hanya diam. Dan masih tetap pada posisinya. Namun, Ray tidaklah setegar itu. Dia lemah dan rapuh. Batinnya terguncang, ketika satu-satunya orang yang terus membela keberadaannya sudah tidak ada lagi untuknya. Saat semua orang sudah meninggalkan nisan itu, ia berteriak sekencang yang ia bisa. Berharap setelahnya, hati akan terasa lebih lega.
Tapi yang ia rasakan malah sebaliknya. Semakin ia berteriak dengan kencang, semakin ia merasa ada hampa yang mulai merayap di sekitarnya. Dan teriakannya perlahan memudar. Berganti dengan isak tangis. Sean dan Rion saling bertukar pandang. Sedih kala melihatnya seperti ini.
Kehilangan kakek sudah cukup membuat mereka kehilangan dengan luka yang nampak jelas terpampang lebar. Jangan juga membuat remaja itu limbung dalam jalan yang sudah ia tentukan dengan perlahan. Jangan buat remaja itu kehilangan keceriaannya dan suara sumbarnya.
...***...
Ray menatap luar jendela yang nampak cerah. Namun anehnya, ia bisa melihat titik-titik kecil yang mulai jatuh dari atas sana. Ia jarang melihat hal semacam ini. Biasanya, matahari dengan awan tidak pernah seakur ini. Mungkin saja, mereka kembali menjalin persahabatan lamanya.
Lupakan awan dan matahari.
Sekarang, ia memilih untuk menyapu pandang. Berusaha untuk mencari dimana orang yang sedari tadi berdebat panjang lebar kali tinggi, lalu terhenti karena ia memecahkan gelas secara tiba-tiba. Apa yang mereka bicarakan di luar hingga sebegitu lamanya? Mungkin sesuatu yang menarik.
Ia melangkahkan kakinya menuju pintu.
__ADS_1
"Lo jangan bohong, kak. Bercanda lo nggak lucu tau! Kemarin masih baik-baik aja, jangan ngomong yang nggak-nggak!!" Sebelum Ray membuka pintu itu, nyatanya suara mereka bisa ia dengar dari sini. Apa yang mereka bicarakan? Dia sedang menelfon seseorang?!
"Kalian cepetan ke sini ya! Gue tunggu!" Suara dingin itu kemudian menghiasi udara. Sambungan telpon ditutup. Dia bisa mendengar dengan jelas bagaimana paraunya suara Sam.
"Ini nggak mungkin kan...kak?!"
"Ada apa?! Kalian kenapa?!" Ray membuka pintu dengan cepat. Menyadari bahwa ada yang aneh dengan percakapan mereka. Harusnya ia menyadari dari awal. Sam mengusap matanya, walau ia jelas-jelas menangis dengan sesenggukan di hadapan dua orang itu. Sedangkan Rion, remaja itu masih diam. Berdiri dengan sedikit getar di tangannya. Ia menepuk bahu Ray, kemudian mengatakan,
"Lo ganti baju ya?! Kita pulang kerumah." Rion menghela nafas. Tapi Ray bukan anak bodoh yang hanya mengatakan 'iya' jika disuruh. Ia perlu tau apa alasannya. Sebelumnya, Rion ingin membawa Ray pergi sangat jauh dari rumah, seakan mereka tidak akan kembali. Tapi sekarang, dengan mudahnya ia mengatakan 'ayo pulang!'.
"Lo bilang dulu, sebenarnya ada apa?! Kenapa Sam kaya gitu?! Kenapa lo juga sama?! Kalian kenapa?!!!"
"Ayo kita pulang! Kakek sudah menunggu kita!" Kini isakan Sam makin keras tubuhnya luruh di atas lantai begitu saja. Dan sekarang, Ray sudah paham apa yang Rion maksudkan.
Kakek sudah nunggunya...
...***...
Semburat merah itu kini mulai terlihat, tanda bagi seorang yang telah lelah seharian untuk kembali pulang. Namun, beberapa di antara mereka masih memilih untuk meregangkan otot sejenak. Kemudian beristirahat di bangku taman, sambil memandangi sang langit jingga. Sebenarnya, sangat disayangkan seorang melewatkan pemandangan se-menakjubkan ini. Atau, hanya Ray yang merasa dirinya tidak pernah melihat hal indah ini sebelumnya?!
Remaja itu lebih diam dari biasanya. Tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya sunyi diiringi dengan suara klakson mobil yang bersautan dari jalan di sebrang sana.
"Kak Ray udah makan, kan?!" Suara itu menghiasi pendengaran Ray. Membuat atensinya tertuju pada remaja di sebelahnya. Lantas ia tersenyum, menganggukkan kepala.
"Aku makan teratur, kok." Elak remaja itu. Biasanya, Ray tidak akan peduli ia makan teratur atau tidak. Mungkin kali ini, ia akan bebas dari pertanyaan Ray selanjutnya. Yang mungkin saja Rean tidak bisa membohongi sosok itu.
"Nggak usah bohong. Aku tau kamu jarang makan, setiap hari nyari penghasilan sendiri, dan berencana nggak melanjutkan pendidikan. Iya, kan?!" Rean menghela nafas. Pasti Ray tau dari Sam.
"Kamu itu pinter, nggak kaya kakak. Kamu bisa aja dapet beasiswa di mana-mana. Kenapa nggak usaha coba?!" Rean kembali menghela nafasnya. Inilah yang ia tak inginkan. Ia hanya bingung, bagaimana ia bisa menjawab Ray dan mematahkan pendapatnya.
"Kak, aku..."
"Perlu ku ingatkan sekali lagi, pendidikan itu penting. Negara ini ada di tangan generasi muda seperti kita, gimana mau berkembang kalau sekolah saja kita nggak mau." Sebelumnya, Ray tidak pernah bicara se-serius ini. Tapi kali ini, kalimatnya tepat membidik sasaran yang tepat di ruang hampa dalam hatinya. Ray bicara dengan pelan, bahkan tidak ada penekanan sedikitpun di dalamnya. Tapi, kalimat itu seakan meruntuhkan apa yang selama ini ia siapkan jauh-jauh sebelumnya.
"Terus gimana?!" Ray kembali menatap remaja di sampingnya.
"Aku mau sekolah. Tapi aku nggak bisa egois, masih ada anak-anak panti yang perlu sekolah lebih tinggi. Jadi, biarlah aku mengalah untuk kali ini saja." Ray menghela nafas. Kali ini, ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tau, Rean akan selalu mengalah. Bahkan ia tidak ingat, kapan terakhir kali ia egois, sejak pertama kali mereka bertemu.
"Kamu yakin?!" Rean mengangguk pelan.
"Liat aku!" Suara Ray nampak lebih baik. Rean mengalihkan pandang, mulai menatap Ray yang kini tersenyum hangat padanya. Remaja itu merentangkan kedua tangannya.
"Kamu nggak mau di peluk?!" Rean terpaku dengan pertanyaan itu. Ia pikir Ray akan marah, kemudian meninggalkannya begitu saja. Tapi dugaannya salah.
"Kak...kak Ray nggak marah?!"
__ADS_1
"Buat apa kakak marah?! Kamu buat aku bangga tau nggak?!" Rean masih terpaku di tempatnya.
"Jadi, beneran nggak mau di peluk?!" Rean langsung menghambur kedalam pelukan Ray. Ia tidak peduli bagaimana orang-orang melihat mereka dengan tatapan aneh.
"Kamu selalu buat aku bangga."
"Terima kasih..." Akhirnya, dari sekian banyak yang berusaha mematahkan rencananya, masih ada Ray yang terus mendukung. Ia hanya perlu itu.
"Maaf juga, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku cuma bisa mendukung dari belakang, berharap kamu nanti bisa jadi orang yang sukses!"
Mereka melepaskan pelukan satu sama lain.
"Kakak...jangan sedih lagi."
"Hah, sedih?! Sedih kenapa, hmm?! Aku nggak sedih!"
"Kakak jangan bohong, terus kenapa kak Ray nggak banyak bicara kaya biasanya?!"
"Aku cuma...cuma perlu waktu aja. Aku nggak apa-apa!"
"Pasti kakak terus kepikiran sama tuan Chandra, kan?!" Ray menghela nafasnya.
"Tadi kan udah aku bilang, aku cuma butuh waktu." Rean lega. sepertinya, keadaan Ray tidak seburuk yang ia pikirkan.
"Kak..."
"Ya, apa?!"
"Besok aku sudah menerima nilai ujian, kita bisa ketemu? Aku mau kak Ray orang pertama yang melihat nilaiku!"
"Boleh aja sih, besok aku bakal kabur dari Rion, hehe!"
"Tapi nanti aku yang kena marah! Ngomong dulu lah..."
"Kalau ijin, nggak bakal dibolehin! Kita ketemuan lagi di sini, okay?!" Rean tersenyum. Kemudian mengangguk.
Keduanya berusaha untuk memendam rasa sakitnya masing-masing. Berusaha kuat dengan saling menyemangati. Atau dengan bertukar canda tawa yang sedari tadi mereka tahan. Kemudian mereka melambaikan tangan ketika ingin pergi dari sana.
Ray tidak tau, kenapa perasaanya tidak seperti biasanya. Ia memandang kepergian Rean, hingga punggungnya tak kelihatan. Ia masih memandang jalan yang sempat Rean lewati. Kemudian menggeleng, berusaha untuk berfikir positif. Ia melangkah dari tempatnya dengan langkah cepat. Takut Rion akan marah jika ia lebih lama berada di sana.
Ia tak tau, bahwa mungkin saja kali ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk bertemu.
Dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1