Kembalilah Istriku

Kembalilah Istriku
Bab 1 - Lamaran


__ADS_3

Dinda sedang bersantai bersama Ibu dan Adiknya di ruang TV, tiba-tiba ada suara pintu diketuk.


"tok tok tok",


Dimas (Adik Dinda) beranjak kearah pintu lalu membukanya.


cklek..


" Maaf cari siapa ya?"


"Dinda nya ada?"


"Ada, silahkan masuk!"


Setelah masuk tamu pun dipersilahkan duduk lalu Dimas pamit untuk memanggil Dinda.


"Kak ada tamu."


"Siapa Dim? tumben banget ada yang nyari Kakak?"


"Gak tau Kak, laki - laki ganteng pacar Kakak kali??"


"Ahh Kamu ngarang aja, Kakak mana punya pacar!" sambil berlalu ke ruang tamu.


Deg, betapa terkejutnya Dinda ketika mendapatkan Bosnya lah yang sedang duduk di ruang tamu.


Ragu - ragu Ia mendekat disertai degan beribu pertanyaan didalam hatinya.


"Ya Tuhan ada apa ini? Apa Aku buat salah? atau apa ada masalah di kantor bahkan Pak Adam sendiri yang turun tangan datang ke rumah Ku?" tanya Dinda gelisah didalam hatinya.


"Siang pak."


"Siang dinda, apa kabar?"


"Baik pak. Maaf ada perlu apa ya Bapak datang kesini?"


"Memang kenapa Din, apa Saya tidak boleh datang kesini?"


"Oh bukan begitu Pak. Maksud Saya tidak biasanya Bapak datang kesini, mungkin ada keperluan?"


"Iya Saya ada perlu, Ibu Kamu ada?"


"Ibu? Bapak kenal Ibu Saya?"


"Tidak, hanya ada sesuatu yang ingin Saya sampaikan. kalau boleh tolong dipanggil Ibunya!"


"Baik Pak. Saya permisi dulu."


Tak lama kemudian, Merekapun sudah berkumpul di ruang tamu.


"Perkenalkan Saya Adam atasan Dinda." ucap Adam dengan senyum hangatnya.


"Iya, Saya Mirna Ibunya Dinda. ada perlu apa ya Bapak mencari Saya?"


"Tidak usah panggil Bapak Bu, panggil nama Saya saja! Adam."


"Baiklah."


"Maksud Saya kesini Saya berniat ingin melamar Dinda Bu, jika Ibu tidak keberatan mohon izinkan Saya menikahi Dinda."


Dinda sangat terkejut mendengar perkataan Adam seakan-akan jantungnya melompat, Ia tak percaya jika seseorang yang menurutnya sempurna itu datang melamarnya.


Bu Mirna pun tidak kalah terkejut. Mimpi apa Dia tiba-tiba anak gadisnya dilamar oleh atasnya sendiri.

__ADS_1


"Apa Saya tidak salah dengar?"


"Tidak Bu, Saya serius dengan ucapan Saya."


"Apa Nak Adam yakin? Dinda hanya gadis biasa yang memiliki banyak kekurangan. Saya rasa Dinda tidak sebanding dengan Nak Adam."


"Jangan berkata seperti itu Bu! Bagi Saya Dinda adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingi Saya. selama ini Saya mengaguminya diam-diam. Saya kira rasa Saya hanya sebatas kagum biasa, tapi ternyata Saya mencintainya. Dinda merupakan semangat hidup Saya Bu, setiap hari Saya menyempatkan untuk melihatnya agar Saya bersemangat dalam beraktifitas." jelas Adam penuh keyakinan.


"Jika Nak Adam sudah yakin, Saya serahkan keputusan ini kepada Dinda. karena bagaimanapun nanti Dinda lah yang akan menjalaninya."


"Bagaimana Din, apa kamu bersedia mendampingi Saya?" tanyanya cemas.


"Eemmhh, jika aku menikah bagaimana dengan Ibu?" bertanya pada Ibu.


"Ibu tidak apa-apa Nak, yang penting Kamu bahagia. Lagi pula Kamu sudah pantas untuk menikah. tidak mungkin kan Kamu selamanya akan bersama Ibu?"


"Baiklah Bu, Saya terima lamarannya."


Adam sangat bahagia lamaranya diterima.


"Terima kasih Din. Minggu depan Saya akan datang lagi bersama keluarga Saya, untuk melamar Dinda dengan cara yang pantas. Apa ada sesuatu yang Kamu inginkan Din? Katakan saja Saya akan berusaha mengabulkannya selama Saya mampu."


"Tidak ada pak. Tapi Saya hanya ingin pernikahan yang sederhana."


"Kenapa Din? Apa Kamu tidak bahagia menikah dengan Saya? biasanya wanita menginginkan pesta pernikahan yang sempurna."


"Bukan begitu Pak. Ayah Saya sudah tidak ada. Saya anak pertama. Saudara saya pun tinggalnya jauh. Saya tidak ingin merepotkan Ibu saya. Lagi pula pernikahan itu kan bukan berdasarkan mewahnya resepsi, namun bagaiman cara Kita menjalaninya."


"Saya tidak salah memilih Kamu Din." ucap Adam tersenyum menatap Dinda.


"Bagaimana mungkin Aku tidak bahagia jika menikah dengan orang yang selama ini Aku pun menyukainya. Bahkan sampai saat ini rasanya masih seperti mimpi." gumam Dinda dalam hati.


----------------


Seperti biasa Dia tidak pernah telat datang ke kantor.


Pagi itu Dinda sedang ngobrol dengan rekan-rekan sekantornya. tiba-tiba dari kejauhan terlihat Adam menuju ke arah mereka.


"Say lihat itu Pak Adam kayaknya kearah sini deh, duhh mau ngapain ya? kok Aku jadi deg-degan." ucap Vika.


"Yaa ampuunn tampan nyaaaa, bikin hati meleleh." timpal Sinta.


"Gak perlu sarapan, lihat Dia aja udah kenyang." balas Risa terkesima.


"Yaelah dasar perempuan gak boleh liat yg ganteng dikit langsung pada lupa diri deh. Ini dari tadi ada yang tamvan aja malah dicuekin." ucap Adit kesal melihat tingkah temannya.


Mereka semua terbelalak ketika melihat Adam menghampiri meja Dinda dan memberika sarapan untuknya dengan senyum yang lembut.


"Dimakan ya!" ucap Adam tersenyum.


"Iya Pak, terima kasih." Jawab Dinda Dengan senyum kaku.


Adam langsung berlalu meninggalkan mereka yang masih terkejut, mematung dan menganga.


"Guys barusan Aku gak mimpi kan?" Risa berkata tanpa menoleh.


"Itu bukan hantu kan?" Vika masih terpaku.


"Sepertinya ada yang salah." Sinta tak bergeming.


"Bisa dijelaskan Din?" tanya Adit, matanya menyorot Dinda tajam.


Bersamaan dengan Adam yang sudah tak terlihat Mereka pun tersadar dan serentak menoleh ke arah Dinda lalu berkata dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Dindaaaaaa.........."


Dinda yang salah tingkah pun bingung mau berkata apa. ia diberondong pertanyaan oleh rekan-rekanya.


Dengan terpaksa Dinda pun menceritakan kejadian kemarin.


Sinta, Risa, Vika dan Adit: "Demi apa Din?? serius Lo??????" tanya Mereka terbelalak.


"Iya serius, minggu depan lamarannya. Kalau Kalian ada waktu, datang ya dampingi Aku.


Antara patah hati, sedih senang dan terharu. Mereka pun menerima kenyataan bahwa pria yang diidam-idamkan sebentar lagi akan jadi milik sahabatnya.


-----------------


'ting'


suara notif di ponsel Dinda.


"Din, tolong jangan panggil Saya Bapak ya, saya kan calon suami Kamu."


"Lalu Saya panggil apa Pak?"


"Apa saja boleh, atau biar lebih mesra Kamu bisa panggil Mas 😁."


"Baiklah kalau begitu akan Saya coba ya Pak."


"Kok Pak lagi sih? â˜šī¸."


"Eehh iya Mas 🤭."


"Nah gitu dong, yu dah lanjut kerja ya 😘."


"okee 😉 ."


Mereka pun kembali dengan aktifitasnya masing-masing dengan senyum bahagia.


------------------


Jam pulang kantor tiba. Ketika Dinda tiba di pintu lobby ternyata Adam sudah menunggunya didepan mobilnya.


Saat itu Dinda sangat grogi karena diledek oleh rekan-rekanya.


Mereka berbisik.


"Cieee yang mau diantar pulang sama calon suamiiii..."


"Apaan sih, bilang aja iri... weee"


Adam membukakan pintu untuk Dinda dan mempersilahkanya masuk.


"Ayo aku antar."


"Terima kasih Mas."


Sepanjang jalan hanya ada keheningan.


Ya... Karena ini baru pertama kali mereka pergi bersama walaupun hanya sekedar akan pulang ke rumah.


Adam berusaha mencairkan suasana.


"Mulai sekarang Kamu Aku yang antar pulang ya Din. kalau berangkat Aku gak bisa jemput karena waktunya terbatas."


"Iya Mas, terima kasih."

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka tiba di rumah Dinda. Ketika Dinda hendak membuka pintu mobil, Adam menahanya dan tiba-tiba ia mengecup.............


__ADS_2