
"Yang... jangan sayang kita belum menikah, nanti kalau aku ham*l gimana?" Eva masih bisa mengendalikan diri.
"Aku akan menikahimu!" Dimas benar-benar sudah gelap mata, ia melanjutkan aksinya.
Mendapat rangs****n dari Dimas, Eva pun mulai kehilangan akal, ia sudah pasrah.
Dimas mengangkat Eva, membawanya ke dalam kamar.
"Yang, aku takut." ucap Eva lirih.
"Kamu tenang ya, aku pelan-pelan." Dimas mengelus kepala Eva, berusaha menenangkannya.
Beberapa kali Dimas berusaha melakukan penyatuan, hingga akhirnya ia berhasil masuk semakin dalam dan Eva pun menangis kesakitan.
"Yang, Sakit..."
"Kamu harus rileks sayang, biar gak sakit. Tenang ya, nanti sakitnya hilang." Dimas berhenti sejenak, hingga Eva lebih santai.
Setelah ia merasa Eva sudah rileks, Dimas melanjutkan gerakkannya perlahan, mereka pun terhanyut dalam pengalaman pertama mereka hingga mencapai puncak nya.
Setelah selesai, Dimas berbaring di samping Eva. Eva pun kembali menangis.
"Sayang, terima kasih. Aku semakin mencintaimu. kamu kenapa sayang?" tanya Dimas, memeluk Eva.
"Kamu jahat, kamu mengambil hal paling berharga bagiku."
"Maaf sayang, aku berjanji akan bertanggung jawab."
"Tapi ini tidak seharusnya terjadi. huu.huu.huu." Eva terus menangis, menyesali perbuatannya sendiri.
Begitulah jika sepasang kekasih berada di satu ruangan yang sepi tanpa orang lain, maka terjadilah hal yang terlarang. menyesal pun percuma, tidak dapat mengembalikan keadaan seperti semula, dalam hal ini tentu saya pihak wanita yang paling dirugikan.
Keesokan harinya, Adam sudah berada di rumah orang tuanya. mereka menunggu kedatangan Erika di ruang tamu.
"Mereka tiba jam berapa, Pah?" Adam tidak sabar ingin membawa Erika ke hadapan Dinda.
"Sebentar lagi Nak, mereka sudah di jalan menuju ke sini."
"Jika dia sampai, aku akan langsung membawanya."
"Sabar Nak, kita harus mendengarkan penjelasannya dulu, kamu jangan tergesa-gesa seperti itu."
"Bagaimana aku bisa sabar, Pah? aku terpisah dari istri dan anak ku selama 4 tahun. bahkan aku tidak bisa mendampinginya ketika dia mengandung."
"Iya Papah mengerti perasaanmu."
30 menit kemudian, Erika tiba di rumah orang tua Adam.
"Om, Tante Mas Adam... ada apa ini?" Erika pura-pura tidak tau.
"Tolong kamu jelaskan semuanya, Erika!" Adam berusaha menahan emosinya.
"Silahkan duduk dulu, Erika!" ucap Mamah dingin.
"Apa yang harus aku jelaskan?"
"Sudahlah jangan pura-pura! Aku sudah bertemu dengan Dinda."
Deg. Erika langsung merasa gelisah, mendengar nama Dinda ia seolah menjadi tersangka.
"Adam... Maaf kan aku, aku tidak bermaksud."
"Cukup, aku tidak ingin mendengar alasan mu! aku ingin tau, foto apa yang kamu tunjukan pada Dinda?"
"Aku tidak membawa foto itu, itu sudah sangat lama."
"Aku yakin, kamu pasti menyimpannya di ponsel mu. mau kamu yang tunjukan atau aku yang merebutnya?" Adam mengancam.
__ADS_1
"Oke-oke, akan ku tunjukan. ini fotonya." Erika memberikan ponselnya pada Adam.
"Astaga. Erika! bagaimana bisa ada foto seperti ini?" Adam terkejut melihat dirinya sedang tidur bersama erika, seolah telah melakukan 'sesuatu'.
"Lho, kamu lupa? itu kan waktu di hotel x pas kita di Bandung." Erika masih berusaha membohongi Adam.
"Jangan bohong kamu! aku tidak pernah merasa melakukan hal hina seperti itu!"
"Tapi itu ada buktinya."
"Bukti apa ini? ini hanya sebuah foto. bisa saja kamu merekayasanya!"
"Untuk apa aku merekayasa hal seperti itu?"
"Oke jika kamu tidak mau mengaku. Aku akan pergi ke hotel itu untum mengecek kebenarannya. jika kamu berbohong, aku akan menuntutmu!"
Adam beranjak hendak pergi.
"Tunggu!" Akhirnya Erika menyerah.
"Iya, aku yang melakukannya."
Semua orang terkejut, bagaimana wanita seperti Erika nekat melakukan hal seperti itu?
"Waktu itu kamu sedang kurang sehat, lalu kamu minum obat dan tertidur. ketika kamu tidur aku membuka pakaian atas mu dan mengambil foto seperti itu, lalu memakaikan pakaian mu kembali."
Erika sendiri malu dengan perbuatannya, tapu ia terpaksa mengaku. ia takut akan di jebloskan ke penjara.
"Ya Tuhan, Erika. tante gak nyangka kamu sepicik itu!"
"Maaf tante, Aku sangat mencintai Adam, aku tidak rela Adam bersama wanita lain."
"Tapi tidak begitu caranya, ERIKA!" Emosi Adam sudah tak terkendali, ia berteriak dan menampar wajah Erika hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah.
"Adaamm..." Mamah pun berteriak, ia terkejut melihat anaknya bisa sekasar itu.
Papah dan Pak Ujang berusaha menahan Adam, mereka khawatir Adam gelap mata.
"Adam kamu harus tenang. jangan seperti ini, nanti kamu sendiri yang rugi." teriak Papah.
Erika sudah menangis ketakutan. walaupun kesal, Mamah berusaha melindungi Erika dari serangan Adam.
"Ikut aku sekarang, Kamu harus menjelaskan pada Dinda!" Adam membentak Erika.
"Tante, aku takut, aku tidak mau ikut dengan Adam." ia memohon pada Mamah.
"Pah, bagaimana ini?" Mamah pun bingung, tidak mungkin dia membiarkan Erika di bawa Adam. Mamah khawatir Adam akan membunuh Erika.
"Lebih baik kita pergi bersama." Papah mengambil keputusan tepat.
"Oke, kita pergi sekarang juga." Adam tidak memberi waktu pada yang lain untuk bersiap.
Mereka pun langsung terbang ke Kalimantan sore itu juga.
Tiba di Kalimantan, Adam langsung mengajak Erika dan orang tuanya ke rumah Dinda.
"Dam, Apa tidak lebih baik besok saja ke sana nya? ini sudah malam sayang." Mamah mencoba membujuk Adam.
"Tidak Mah, jika aku tidak menyelesaikannya sekarang, nanti malam aku tidak akan bisa tidur."
"Ya sudah terserah kamu."
1 jam kemudian mereka tiba di rumah Dinda.
'Tuk.tuk.tuk'
"Ya sebentar." Bunda menjawab
__ADS_1
'Cklek'
"Nak Adam, Besan? Silahkan masuk!"
"Terima kasih, Bu."
"Silahkan duduk."
"Dinda nya ada, Bu?"
"Dinda belum pulang dari resto, Nak. Ada apa ya?'
"Aku kesini mengajak orang tua ku dan Erika untuk menjelaskan kesalahpahaman antara aku dan Dinda, Bu."
"tunggu sebentar, biar ibu hubungi Dinda dulu ya!"
"Baik, Bu."
Tak lama kemudian Sean ke ruang tamu.
"Helo Uncle, how aw (are) u?"
"Baik sayang, kamu apa kabar?"
"I'm vewi gut (very gut)"
"Uncle sedang apa di wumah (rumah) ku?"
"Uncle ingin bertemu mommy dan Sea."
"Kenapa uncle ingin bewtemu (bertemu) mommy dan aku?"
"Karena Uncle rindu kalian?"
"Oya?"
"Iya sayang..."
"Itu siapa uncle?" Sea menunjuk orang tua Adam.
"Itu grandma dan grandpa nya Sea."
"Gwanma (grandma) aku kan ada di dalam."
"Ini grandma dari papi nya Sea."
"Sini Sea, grandma ingin memeluk Sea, boleh?"
"Boleh dong." Sea memeluk Mamah Adam.
"Gwanma benewan (beneran) gwanma nya Sea?"
"Iya sayang."
"Kenapa selama ini aku tidak pewnah (pernah) melihat gwanma?"
"Karena Tuhan baru mempertemukan kita, sayang."
"Tewima (terima) kasih ya Tuhan." ucap Sea.
"Cucu grandma sangat pintar."
"Gwanma, kemawin (kemarin) Sea mimpi ketemu papi."
"Oya? lalu?"
"Iya, tapi kok papi yang di dalam mimpi aku mirip uncle ini ya?" menunjuk Adam.
__ADS_1