
"Mah.. Pah.. tolong panggil Dinda kesini, aku sangat Rindu Mah."
orang tua Dave bingung harus menjawab apa.
"lebih baik kamu Check Up dulu ya sayang, masalah Dinda kita bicarakan jika kamu sudah pulang dari rumah sakit."
"memang Dinda kenapa Mah." jawab Adam sambil berusaha bangkit, namun kondisinya yang baru siuman setelah koma selama 2 bulan membuat ia tidak bisa bangun walaupun hanya sekedar duduk.
"Sayang kamu tenang Dulu ya.."
"bagaimana aku bisa tenang mah, sedangkan istri aku tidak ada ketika aku sadar? aku tidak mau tau, jika hingga besok Dinda tidak ada disini, maka aku akan mencarinya sendiri."
Mamah mulai khawatir, ia tahu jika anaknya sangat mencintai Dinda, ia percaya Adam bisa melakukan apapun untuk bertemu dengan istrinya.
tak lama kemudian dokter dan perawat masuk menjemput adam untuk dibawa ke ruang Radiologi.
----------------------
Malam hari di ruang perawatan Adam.
berulang kali Adam mencoba menghubungi istrinya, namun selalu gagal, no ponsel Dinda tidak aktif. ia pun mengirim pesan.
"Sayang Kamu dimana?"
"Sayang aku kangen."
"Sayang tolong jawab aku, apa kamu tidak ingin melihat suami mu yang sudah sadar?"
"Adinda, kenapa kamu tidak membalas pesan aku, kenapa no kamu tidak aktif? kamu sebagai istri harusnya mengurus dan merawat ku ketika aku sakit, bukannya malah menghilang seperti ini. tunggu sampai aku pulih, aku akan cari kamu sampai ke ujung dunia pun akan ku kejar."
Duhh Adam hilang akal, sudah tau no Dinda tidak aktif, tapi ia malah memberondongnya dengan banyak pesan singkat.
Keesokan harinya Adam tetap berusaha menghubungi Dinda. ketika Mamah nya datang ia bertanya.
"Mah, sebenarnya ada apa? kenapa no ponsel Dinda tidak aktif, dia kemana Mah?"
Mama hanya diam, lidahnya kelu.
"oke kalau Mama tidak mau memberi tahu Aku, Aku akan mencarinya sendiri."
Adam berusaha bangkit, namun di taha oleh Mama nya, namun Adam memberontak.
"lepaskan aku Mah, aku mau mencari istriku, aku tidak bisa hidup tanpa dia Mah."
Mamah pun menyerah, akhirnya ia memberikan bukti surat cerai ke Adam.
"sebelum kamu baca ini, Mama mohon kamu harus tenang dan menerima apapun isi dari surat ini."
Adam tidak menjawab, ia langsung merebut surat yang ada di tangan Mamanya.
"Apa ini mah?" tanya Adam Dingin menatap Mamahnya, ia tidak percaya, ia berharap itu hanya lelucon.
"iya Adam, Dinda sudah menceraikan mu, dia sudah pergi sayang."
Duaarrrr... bagai tersambar petir di siang bolong Adam sangat terkejut.
"TIDAK MUNGKIN...." teriak Adam.
__ADS_1
Erika yang melihat Adam mulai kehilangan kendalinya ikut berbicara.
"itu benar Dam, Dia sudah meninggalkanmu, Dia tidak mau merawat mu yang tidak jelas kapan sadarnya, sehingga dia memutuskan untuk menceraikan mu."
Adam yang tidak mau mendengar ucapan Erika pun membentaknya.
"Diam kamu Erika."
Mamah yang mendengar pernyataan Erika bingung. kenapa perkataannya bisa berbeda, ada apa sebenarnya ini, apakah aku salah sudah memisahkan anak ku dengan istri yang sangat dicintainya? tanya mamah dalam hati.
Adam tiba-Tiba melepas jarum infus yang tertanam di punggung tangannya. ia seperti mendapatkan energi lebih, sehingga ia berusaha untuk pergi.
"Adaamm apa yang kamu lakukan, tolong jangan seperti ini sayang.." mama berusaha menahan Adam sambil menangis.
"Lepas mah, aku tidak bisa hanya diam saja. ini tidak adil mah, bagaimana mungkin aku yang sedang koma di ceraikan, aku tidak setuju, aku akan membawanya (Dinda) kembali."
ketika ia berusaha turun dari tempat tidur dan berdiri, kepalanya langsung pusing, dan ia pun terjatuh..
"Ahhh..." prankk, suara gelas yang pecah tersenggol Adam, ia pun jatuh di atas pecahan gelas itu, tangannya terluka.
"susteerrrrr... susteeerrrr...toloonggg" teriak Mamah histeris, karena panik, mama lupa untuk menekan tombol untuk memanggil perawat, sehingga ia hanya bisa berteriak.
huuuhuuhuuu "tolong jangan seperti ini sayang, apa kamu tidak kasihan pada mamah?"
Adam hanya terdiam menyesali dirinya yang tidak mampu berdiri.
tak lama kemudian beberapa perawat datang untuk membantu Adam bangun dan membaringkannya kembali di tempat tidur.
mereka memasangkan kembali selang infus dan memberi Adam obat penenang lewat infusan nya.
--------------------
"sementara cukup sampai di sini, untuk detail lebih lanjut kita bicarakan di pertemuan berikutnya ya pak." ucap Dave sambil menjabat tangan klien nya.
"Baik Pak Dave, terima kasih atas waktunya, saya sangat menantikan kerja sama kita."
"sama-sama Pak, sampai bertemu kembali."
klien pun pergi meninggalkan meja mereka.
"Din, kamu sepertinya agak pucat, apa kamu kurang sehat?"
"gak tau Dave, rasanya ada yang tidak nyaman."
"sebaiknya kamu segera pulang, mari aku antar."
belum sempat keluar Restoran, Dinda yang sedang berjalan tiba-tiba tak sadarkan diri. beruntung Dave segera menangkapnya, hingga ia terjatuh di pelukan Dave.
"Din, sadar Din." ucap Dave sambil menggoyangkan pipi Dinda, namun tidak ada respon
Dave sangat khawatir, akhirnya ia menggendong Dinda ke dalam mobil dan menuju rumah sakit terdekat.
beberapa jam kemudian Dinda tersadar, dan sudah ada di ruang UGD.
"Dave, ini kita dimana?"
"Din, kamu kenapa tadi tiba-tiba pingsan?"
__ADS_1
"pingsan?" tanya Dinda heran.
Dinda mencoba mengingat kembali.
"seingat aku tadi kita sedang di Restoran Dave."
"iya, tapi ketika aku akan mengantarmu pulang, kamu tiba-tiba tak sadarkan diri."
Dinda berusaha Duduk.
"biar aku bantu Din." membantu meninggikan kepala ranjang yang di tempati Dinda.
"terima kasih Dave."
"gimana perasaan mu sekarang?"
"sekarang aku tidak merasakan apa-apa Dave, hanya perasaan tidak nyaman, tapi aku tidak bisa menjelaskannya, karena aku sendiri tidak tahu apa."
Permisi, ini hasil dari pemeriksaan atas Ibu Dinda.
"Selamat ya, Nyonya Dinda sebentar lagi akan menjadi Ibu, kini usia kandungannya sudah menginjak 3 bulan" ucap dokter seraya memberi selamat.
"tolong kondisi istrinya di jaga ya Pak, pola makan nya di perhatikan, karena tri semester pertama itu sangat rentan. nanti akan saya resepkan vitamin. untuk membantu asupan gizi janin nya."
Dave tertegun, ia shock mendengar perkataan dokter.
Dinda pun tak kalah terkejut, perasaannya campur aduk, satu sisi ia senang, karena tuduhan yang selama ini telah menghancurkan harga dirinya terbukti salah, ia mampu mengandung buah hati Adam.
di sisi lain, ia sedih karena ia harus berjuang seorang diri.
"Din..."
"it's okay Dave, aku baik-baik aja." jawab Dinda berusaha tegar.
"Dave, aku mau pulang sekarang."
"Ayo Din biar aku antar."
Setelah menyelesaikan proses administrasi, Dave mengantar Dinda pulang ke Apartemen.
Diperjalanan Dinda hanya tertegun menatap kosong kedepan sambil memegang perut nya yang masih rata. entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Din, apa kamu yakin bisa sendiri?"
"aku yakin Dave, ini anak yang aku nantikan selama ini, aku pasti bisa menjaganya."
ada sedikit rasa sakit yang Dave rasakan ketika ia mendengar kata terakhir yang Dinda ucapkan.
begitu cintanya kamu pada suami mu Din, hingga kamu bahagia menerima kondisi seperti ini. gumam Dave dalam hati.
seketika Dave menepikan mobilnya dan berhenti. lalu ia berkata.
"Bagaimana jika kita menikah Din, Aku akan tanggung jawab atas kalian berdua."
------------------------------------------------------------------
Terima kasih sudah bersedia mampir,
__ADS_1
mohon maaf jika masih banyak kekurangan.
mohon dukungan Like, Komen dan Vote nya ya, Biar makin semangat nulisnya. 😉