
Seketika Dave menepikan mobilnya dan berhenti. lalu ia berkata.
"Bagaimana jika kita menikah Din, Aku akan tanggung jawab atas kalian berdua."
Dinda terkejut mendengar perkataan Dave.
"Dave, aku bersyukur kamu begitu baik pada ku, terima kasih kamu mau berkorban untuk aku dan anak ku."
Dinda diam sejenak, menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.
Dave bahagia mendengar ucapan Dinda.
"Tapi Dave, ini tidak adil untuk mu. Kamu terlalu baik, Aku tidak pantas untuk Kamu nikahi, Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari Aku Dave, Kamu Pantas bahagia."
Kamu tidak tahu Din, bahagia Ku itu Kamu. ucap Dave dalam hati.
"Din..."
belum sempat Dave melanjutkan, Dinda sudah memotongnya.
"Sudah lah Dave, percayalah Aku bisa menjalaninya sendiri. Jika Kamu ingin mendukung Ku, dukung lah Aku sebagai Sahabat Mu, kamu tidak perlu mengorbankan masa depan Mu untuk Ku Dave."
"Kamu yakin Din?"
"100% yakin Dave."
"Baiklah jika itu keinginan Mu."
Akhirnya Dave menyerah, setidaknya untuk saat ini Dia akan memberi ruang pada Dinda. Tapi lain waktu, Dia akan berusaha lagi.
Dave melajukan mobilnya kembali.
20 menit kemudian, mereka tiba di apartemen Dinda.
"Mau mampir Dave?"
"Boleh.."
Mereka turun dari mobil dan masuk ke apartemen bersama.
"Mau minum apa Dave."
"Air mineral aja Din."
"Tunggu sebentar ya!"
"Dimas sudah pulang Din?"
"Iya, minggu lalu Dia pulang."
"Jadi sekarang kamu sendiri di sini Din?"
"Ya begitulah Dave, mungkin Aku akan mencari rumah yang dekat dengan kantor Dave."
"Kenapa cari rumah Din?"
"Sekarang aku sedang mengandung Dave, tentu aku harus mempersiapkan tempat tinggal yang layak untuk anak Aku jika Ia lahir nanti."
"Iya ya... Aku akan bantu kamu cari rumah ya Din."
"Boleh Dave, tapi rumah yang sederhana aja ya Dave, yang penting ada halaman nya biar gak sumpek."
"Siap nyonya....."
----------------
Malam hari Dinda melamun sendiri di kamarnya sambil mengelus perut nya yang masih rata itu.
"Baby, terima kasih sudah hadir menemani Mommy, Mommy akan selalu menjaga Mu, Kamu jadi anak yang baik yah, biar Mommy mampu melalui semua ini."
Tak terasa air matanya mengalir, Dinda kembali teringat akan Adam.
"Apa kabar Kamu Mas? Apa Kamu sudah sadar? Jika Kamu tau sekarang buah Cinta Kita sudah ada di dalam rahim Ku pasti Kamu akan bahagia Mas, sudah sejak lama Kamu menantikannya."
Flashback#
__ADS_1
Setiap malam Adam dan Dinda selalu melakukan Pillow Talk, hal itulah yang membuat mereka saling mencintai dan menghargai satu sama lain.
Mereka tahu manfaat Pillow Talk sangat penting untuk membangun sebuah hubungan, sangat sederhana namun mampu membuat hubungan jadi lebih harmonis dan intim.
Biasanya Pillow Talk mereka lakukan setelah berhubungan intim atau sebelum tidur, semua hal dapat mereka diskusikan mulai dari masalah pekerjaan, pertemanan, harapan dan yang terpenting tidak ada rahasia yang mereka tutupi.
"Sayang, kemarin ada klien aku menawarkan sebidang tanah di daerah perkampungan, posisinya dekat dengan sungai dan sawah. Aku sih tertarik, gimana menurut kamu?" tanya Adam pada Dinda.
"Mas sudah lihat lokasinya?"
"Aku baru lihat fotonya, makanya sekarang Aku minta pendapat Kamu, kalau Kamu tertarik, nanti Aku akan minta jadwal untuk bisa survey lokasi."
"Kalau memang lokasinya bagus, rencananya Mas mau bangun apa di sana?"
"Aku mau Bangun villa Sayang, biar nanti kalau sudah punya anak, Kita ada tempat untuk berlibur di akhir pekan."
"Mas.."
"Hmm.."
"Mas pingin banget yah punya anak?"
"Ya iya lah Sayang, semua orang pasti pingin punya anak. Emang kamu gak mau?"
"Bukan begitu Mas, Aku pun sangat berharap. Namun Aku khawatir, Kita menikah sudah hampir satu tahun tapi sampai saat ini belum ada tanda kehadiran buah cinta kita di rahim Ku."
"Kamu kok jadi pesimis gitu sih? Kamu gak percaya sama Mas? Mas mampu kok, cuma mungkin Tuhan masih ingin Kita berusaha lebih giat lagi."
Dinda curiga, arah pembicaraan Adam mulai melenceng.
"Maksudnya Mas?"
" Ya jika menginginkan sesuatu itu Kita harus berusaha, tidak mungkin Dia bisa datang sendiri."
"oooh... gitu."
"Jadi ayo sekarang Kita berusaha, Kita bekerja keras sampai Tuhan mengabulkan keinginan Kita." senyum nakal.
"Tuhh kan, Aku udah curiga dari tadi pembicaraan Mas menjurus, ternyata benar."
Adam ******* bibir Dinda..
"Maasss..." Dinda menggeliat ketika lehernya ******** oleh Adam.
Tangan Adam dengan lincah melepas piyama Dinda dan melemparnya. kini Adam mulai turun ke bagian favoritnya..
Setelah pemanasan yang cukup Adam mulai memposisikan Dirinya. Sebelum mulai ke permainan inti, Dia membisikkan sesuatu di telinga Dinda sambil memegang perut bawah Dinda.
"Rahim ini hanya boleh di ****** oleh benih Ku, berapa lama pun Akuu harus berusaha, Aku siap melakukannya."
Tanpa menunggu jawaban Dinda, Adam langsung menerobos masuk dan memacunya.
Setelah cukup lama bertempur, dengan berbagai macam posisi, akhirnya merekapun melakukan pelepasan bersama.
Seperti biasa, setelah 'Beraktifitas' Adam mengecup kening Dinda.
"Besok kita akan Berusaha lagi ya Sayang... Mulai hari ini Kita akan berusaha setiap hari, sehingga peluang Kita akan lebih besar."
"Senjata makan tuan, cuma karena nanya masalah anak, kenapa jadi Aku yang kena batunya? Hiks..." gumam Dinda dalam hati.
Flashback Off#
Dinda mengelus bantal yang ada di sebelahnya, seolah itu adalah Adam.
"Mas, Aku rindu Kamu, Aku rindu tidur di pelukan Mu, Aku rindu Kamu yang manja, jahil dan selalu membuat aku tertawa."
Rasa cinta nya yang besar, mengalahkan rasa sakit hati jika mengingat penyebab perceraiannya.
Ia pun tertidur dalam tangisnya.
-----------------
Kondisi Adam semakin membaik, Dokter pun mengijinkannya pulang.
Setibanya di rumah Adam langsung bergegas mengambil kunci mobil dan pergi.
__ADS_1
"Adam kamu mau kemana?" tanya Mamah namun diabaikan olehnya.
Dalam perjalanan, Adam memacu mobilnya dengan cepat.
"Tunggu ya Sayang, Mas akan menjemput Mu, Kita harus bersama lagi. Aku tidak sanggup jika kamu tidak di sisi Ku." gumam Adam gelisah sambil meneteskan air matanya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Iya sebentar..."
Klek... Pintu terbuka dari dalam.
"Nak Adam?? Kamu sudah sehat?" tanya Ibu Mirna.
"Sudah Bu, mana Dinda Bu? Aku sangat merindukannya." menerobos masuk.
Hilangnya Dinda membuat kewarasan Adam berkurang.
"Nak, silahkan duduk dulu."
"Bu tolong panggilkan Dinda, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya." jawab Adam mengabaikan perkataan Ibu.
"Dinda tidak Ada disini Nak."
"Ibu jangan bohong. Din... Dinda, Kamu dimana Sayang? Mas datang mau menjemput Kamu.. Din, ayo kita pulang."
Teriak Adam sambil menggeledah seluruh ruangan rumah Ibu mirna dengan air mata yang terus mengalir.
"Bu, Aku mohon jangan sembunyikan Dinda Bu, Aku tidak sanggup jika harus kehilangannya. huuhuuhuu" Adam memohon di kaki Bu Mirna sambil menangis.
"Nak Adam tolong jangan seperti ini." Bu Mirna berusaha membangunkan Adam yang sedang berlutut.
"Dimana Dinda Bu?"
"Maaf Nak Adam, Dinda sudah tidak tinggal disini, Dia pergi ke Luar Kota, karena Ia ingin menenangkan pikirannya."
"Pindah kemana Bu? Aku akan segera menjemputnya."
"Maaf Ibu tidak dapat memberi tahu hal itu."
"Kenapa Bu, apa salah Aku sehingga Aku dipisahkan dari istri yang sangat Aku cintai."
"Mungkin orang tua Nak Adam lebih tau alasannya."
--------------------------------------------------------------------------
Berikut Visual yang menurut Author cocok, Jika ada yang merasa kurang cocok, silahkan berimajinasi sesuai kriteria masing-masing. 😉
Visual Adam & Dinda
Visual Dave
Visual Dimas
Ibu Mirna
Orang Tua Adam
------------------------------------------------------------------
Terima kasih sudah bersedia mampir,
mohon maaf jika masih banyak kekurangan.
__ADS_1
Ditunggu dukungan Like, Komen dan Vote nya ya, Biar makin semangat nulisnya. 😉