Kembalilah Istriku

Kembalilah Istriku
Bab 14 - Ngidam


__ADS_3

"Hai Mas, apa kabar?


Ketika Kamu baca surat ini, Aku yakin pasti Kamu sudah sehat.


Kehidupan itu lucu ya Mas? sangat tidak bisa ditebak. Siapa sangka orang yang dulu saling mencintai kini menjadi orang asing. jangankan untuk menyentuh, bahkan menyapa pun mungkin tak sanggup.


Padahal sebelum kamu pergi ke Jember, kita masih baik-baik saja, saat itu Aku masih merasakan cinta mu yang begitu besar pada Ku. pun demikian dengan diriku yang mencintaimu. bahkan malam sebelumnya kita masih 'melakukannya'.


Tapi hanya dalam waktu singkat ternyata semua bisa berubah.


Mas... Aku minta maaf selama ini aku belum bisa jadi istri yang baik untuk Kamu, Aku belum bisa membahagiakan Mu, dan Aku memiliki banyak kekurangan.


Aku paham betul jika kamu sangat menginginkan keturunan, jadi aku tidak akan egois untuk menahan Mu. Aku hanya ingin kamu bahagia Mas.


Aku harap kedepannya Kamu dapat pengganti yang lebih baik dari Aku, yang bisa membahagiakan Mu, yang paling penting bisa memberikan Mu keturunan.


Dan sekarang, setelah Kamu baca surat ini, mungkin Aku sudah pergi, rasanya Aku tak sanggup jika harus berada di kota yang sama dengan Mu.


Aku pamit ya Mas, Jangan lupa Tersenyum..


Salam manis dari mantan istrimu,


Dinda."


Tubuh Adam terasa panas, hatinya bergejolak, Ia ingin marah, tapi pada siapa?


Adam hanya bisa meratapi kesedihannya, menelan kekecewaan yang mendalam.


Hari-hari berikutnya dilalui Adam tanpa gairah hidup. Ia pun bersikap dingin dan jadi tempramen.


-----------------


Dinda masih melakukan rutinitas seperti biasanya, Ia tetap bekerja bahkan Ia seolah tidak sedang mengandung.


Ia sedang mengevaluasi proposal klien Di sofa ruangan Dave.


"Din Kamu kok biasa aja sih?"


"Lho emang harusnya gimana Dave?"


"Yang aku tahu kalau wanita hamil muda biasanya ada mual atau menginginkan sesuatu apalah itu namanya."


"Ngidam?"


"Ahh iya, Kamu gak ngidam?"


"Sejauh ini si engga Dave, ya mudah-mudahan Baby ku memang mengerti kondisi Ibunya jadi Dia gak neko-neko."


"Oohh gitu ya Din? Tapi kalau kamu menginginkan sesuatu, jangan segan-segan memberitahu ku ya Din."


Dinda tersenyum...


"Kok Kamu malah senyum sih?"


"Abis kamu PD banget ngomong gt kaya yang bisa ngabulin aja kalau aku pingin sesuatu."


"Ya Aku akan berusaha Din, Aku gak mau keponakan Ku nanti ileran."


"Sebenernya ada satu hal yang Aku inginkan Dave tapi Aku gak yakin Kamu bisa melakukannya."

__ADS_1


"Ya ampun Din Kamu kenapa gak bilang sih? kaya sama siapa aja. Emang Kamu mau apa? berhubung ini keinginan pertama Kamu, Aku pasti kabulin deh."


"Yakin??"


"Yakin seyakin-yakinnya."


Lalu Dinda membisikan sesuatu di telinga Dave.


"APAAAA???" Dave terbelalak mendengar keinginan Dinda.


"Tuh kan belum apa-apa kamu dah shock gitu, udah deh gak usah."


"Bukan gitu Din, Aku gak nyangka aja keinginan Kamu se extreme itu."


"Udah Dave lupain aja, Aku gak apa-apa kok."


Dave jadi gelisah, Dia terus memandangi Dinda, ada rasa hangat di hatinya ketika Ia mengingat perjuangan Dinda yang harus mengandung tanpa ada yang mendampingi.


"Ayo Din.." Menarik lengan Dinda mengajaknya pergi keluar.


"Ehh mau kemana Dave? Aku belum selesai."


"Udah ikut aja gak usah protes."


Mereka pergi ke salon untuk melakukan sesuatu.


Setelah selesai Dinda terkesima, Ia tak menyangka Dave akan mengabulkan keinginannya.


Tapi kemudian Dinda malah tertawa terpingkal-pingkal.


"Diiinn... Ini kalau bukan Kamu yang minta, Aku ogahh loh, Aku aja geli lihatnya."



Dan setelah itu Dave harus melakukan aktifitas nya hari ini dengan gaya seperti itu


Parah banget Dinda, orang se charming Dave disuruh dandan seperti itu.


"Ini kalau anak Mu masih ileran juga sih kebangetan Din."


Tiba di kantor mereka jadi pusat perhatian, Awalnya para staff tidak sadar bahwa itu Dave Boss ganteng pujaan mereka.


Tapi Setelah sadar mereka semua berusaha sekuat mungkin untuk menahan tawa nya.


Gile aja, siapa coba yang berani ngetawain Boss??


Setelah Dave masuk ke ruangannya, mereka pun melepaskan tawanya, mereka tak menyangka si Boss ganteng bisa jadi seperti itu, itu sangat menggelikan, lucu sekali, bahkan ada yang hampir ngompol karena tertawa berlebihan.


Jangankan staff, orang yang membuat Dave jadi seperti itu pun tak bisa berhenti tertawa.


"Din. Jahat Kamu ya? Kamu loh yang buat Aku jadi seperti ini, tapi Kamu malah ngetawain aku."


"hihihi, Maaf Dave, abis Kamu lucu banget, Aku gak nyangka Kamu mau ngelakuin ini."


tok tok tok...


cklek...


"Mbak Dinda, Pak Dave kemana ya?"

__ADS_1


Dinda menjawab dengan kode lirikan. Namun Andri tidak mengerti.


"Mbak, ditanya kok gak jawab?"


"Aku udah jawab lho."


Lalu Andri tersadar jika Dinda menunjuk pria Aneh yang sedang duduk di kursi milik Dave.


"Mbak itu siapa?" tanya Andri pelan.


"Lha kan tadi Kamu nyari Dia, ya itu orangnya di situ."


Secepat kilat Andri menengok dan memperhatikan pria aneh itu. betapa terkejutnya Ia ketika menyadari bahwa pria itu adalah Boss yang jadi panutannya.


"Pak, Bapak habis kena badai di mana? kok bisa separah ini? hahahaha."


"Berani Kamu ya Dri ngetawain Saya."


"Ya Tuhan maafkan dosa hamba. Ampun pak, ini diluar kendali saya, saya gak bisa ngerem.. wuahahahaha."


"Kalau Kamu kesini cuma buat ngetawain Saya, lebih baik Kamu keluar sana."


"Iya pak maaf, ini saya mau kasih berkas mengenai proyek dengan PT. ABC Pak, kalau gitu saya permisi ya."


Andri buru-buru keluar tanpa menunggu jawaban Dave, Ia tak sanggup jika terus melihat Dave pasti tidak akan bisa menahan tawa nya.


"Si Boss abis makan apa sih? Kok bisa aneh gitu, PD lagi.. emang ya, Boss mah bebassss." gumam Andri kembali ke ruangannya.


"Puas Kamu Din?"


"Hehehe" Senyum kuda.


--------------------


1 bulan kemudian.


Adam sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri di kantor.


Namun kali ini ada yang aneh dengannya. Ia merasa mual ketika asistennya mendekat.


"Emmhhh... Stop!" Adam menutup hidungnya.


"Kenapa Pak?" tanya Ando bingung.


"huuh huuh huuh..." mengatur nafas.


"Kamu pakai parfume apa sih, bau banget, Saya sampai pusing dan mual."


"Lhaa Saya pakai parfume yang biasa Saya pakai Pak, biasanya Bapak gak pernah protes?"


"Masa sih? Kenapa bau nya nyengat banget ya? atau mungkin itu yang palsu?"


"Engga ah Pak, Saya nyium nya biasa aja, lagian Saya beli di oficial store gak mungkin palsu."


"Udah Kamu jauh-jauh sana, mulai besok jangan pakai parfume itu lagi!"


"Hah? Kok gitu Pak? Terus pakai apa dong?"


"Ya terserah kamu, yang penting jangan pakai yang itu."

__ADS_1


Beberapa hari berlalu setiap hari Adam protes jika ada yang menggunakan parfume didekatnya, hingga akhirnya ia mengeluarkan peraturan aneh.....


__ADS_2