
"Mom, semalam aku mimpiiii."
"Sea mimpi apa?"
"Aku mimpi main sama papi, sewu (seru) deh."
"Papi? maksudnya Daddy?"
"No, dia bilang dia papi nya Sean."
"Oya? lalu Sean main apa?"
"Sea main pasiw (pasir) Mom, kita juga bewmain (bermain) di pantai."
"Sea senang bisa main sama papi?"
"Iya, Mom. tapi Sea sedih. Papi tiba-tiba pewgi (pergi), kata papi dia mau mengajak mommy untuk pulang." ucap Sea polos.
Mendengar cerita Sea, Dinda jadi teringat Adam yang sudah beberapa hari tidak muncul.
"Katanya kamu ingin membuktikan, tapi mana? bahkan sampai saat ini kamu tidak muncul Mas." gumam Dinda dalam hati.
Semenjak pulang ke Jakarta, Adam memang belum pernah menghubungi Dinda lagi. Bukannya tak ingin, tapi ia lupa meminta nomor ponsel Dinda.
Saat ini Adam sedang berusaha mencari Erika, dibantu oleh Papah nya.
Di kantor Adam.
'tut.tut.tut' ponsel Adam berdering.
"Iya, Pah?"
"Papah sudah menemukan lokasi Erika." jawab papah di sebrang telepon.
"Benarkah? dimana dia sekarang?"
"Papah sudah menyuruh anak buah papah, untuk membawanya ke Jakarta. Mungkin besok dia baru sampai."
"Syukurlah, Terima kasih Papah telah membantu Adam. Besok Adam akan ke rumah Papah."
Sambungan telepon pun terputus.
"Akhirnya aku bisa membawa bukti untuk mu Din, tunggu Aku akan segera menjemputmu dan anak kita, sayang."
"Do, tolong ke ruangan saya!"
'tuk.tuk.tuk'
"Masuk!"
"Iya, Pak?"
"Tolong pesankan tiket pesawat untuk saya dan Erika besok sore ke Kalimantan?"
"Bu Erika sudah ditemukan, Pak?"
"Sudah, makanya aku akan segera membawanya besok. Aku sudah tidak sabar ingin berkumpul dengan istri dan anak ku." senyum Adam mengembang ketika ia memikirkan anak dan istrinya.
"Baik, Pak. Saya akan segera memesannya."
Aldo pun keluar ruangan Adam.
'Tut.tut.tut' Adam menghubungi seseorang.
"Bi, tolong bersihkan seluruh ruangan ya! saya akan segera membawa Dinda pulang!" Adam menyuruh Bi Sumi membersihkan rumah, ia sangat yakin Dinda akan pulang bersamanya.
"Baik, Pak." jawab Bi Sumi.
"Oke, terima kasih." Adam sangat antusias. padahal Erika pun belum tiba di Jakarta.
------------------
__ADS_1
Dimas sedang berbincang dengan kasir restoran, Eva memperhatikan dari jauh, ia melihat kasir resto yang cari perhatian ke Dimas, namun Dimas tidak peka.
"Mas Dimas hari ini fresh banget. Lagi happy ya?"
"Masa sih? biasa aja ah."
"Iya, beda dari biasanya, aura nya lebih bersinar."
"Ah, kamu bisa aja. hehehe."
Dimas tak sengaja melirik ke arah Eva, dia melihat mata Eva yang memicing ke arahnya.
"Aku tinggal ya."
"Oke, Mas." jawab kasir tadi.
Dimas berjalan mendekati Eva. Eva masuk ke ruangannya.
"Sayang kamu lagi apa?" tanya Dimas tanpa dosa.
Eva yang kesal pun mengabaikannya.
"Kok diem aja sih, ditanya juga?" Dimas mendekat ke kursi Eva.
"Ngapain kamu kesini? bukannya kamu lagi asik sama kasir tadi?"
"Lho, aku cuma ngobrol sama dia, kamu cemburu?"
"Gak, ngapain cemburu, gak penting!"
"Terus kenapa kamu marah gitu?"
"Aku gak marah. aku cuma kesel aja, punya pacar kok jelalatan."
"Jelalatan gimana sih? masa gitu aja jelalatan. terus orang ngajak ngobrol harus aku cuekin?" bukannya minta maaf, Dimas malah ikutan marah.
"Terserah." Eva kesal dengan sikap Dimas yang tidak peka, ia pun bergegas untuk pulang, karena memang sudah waktunya untuk pulang.
"Pulang."
"Aku antar ya." menggenggam pergelangan tangan Eva.
"Gak usah aku bisa sendiri. kamu lanjut ngobrol aja sama kasir tadi." menghempaskan tangan Dimas lalu pergi keluar.
"Tuh kan, pasti dia marah, gitu aja cemburu!" Dimas kesal dengan sikap Eva.
"Nyebelin, pacarnya lagi marah bukan di kejar malah diem aja." Eva kesal karena Dimas benar-benar tidak peka.
Sebagai pria, Dimas tidak paham bagaimana caranya menghadapi sikap wanita yang tidak bisa di tebak.
Dimas tak tenang jika Eva terus marah. ia pun berusaha mengejar Eva. Namun sayang, ia terlambat. Eva sudah pulang naik ojek online.
"Aahh gue telat lagi. makin ngambek deh dia."
Dimas bergegas ke mobilnya, ia akan mengejar Eva ke apartemen Eva.
"Shit, gue lupa ini jam pulang kantor." Dimas terjebak macet. sementara Eva yang naik ojek online sudah sampai lebih dulu, ia segera mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang emosi itu.
30 menit kemudian, Dimas tiba di apartemen Eva.
'ting.tong' Dimas menekan bell.
"Ya sebentar." jawan Eva dari dalam, ia lupa melihat siapa yang datang, jadi Eva langsung membuka pintu.
"Kamu? ngapain kesini?" Eva hendak menutup kembali pintunya.
"Yang, jangan gitu dong, biarin aku masuk ya? please..." Dimas memohon.
[ya ampun, Eva seksi banget]
Ternyata Eva baru selesai mandi, ia hanya mengenakan bath robe mini satu jengkal di atas lutut dan rambut basahnya dibiarkan terurai.
__ADS_1
Eva yang biasa mengenakan pakaian seksi di rumah pun tidak risih berpenampilan seperti itu di depan Dimas, apa lagi Dimas kekasihnya.
Dimas masuk dan duduk di sofa. Eva pun ikut duduk di depan Dimas sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Mau apa kamu kesini?"
"Sayang, kamu masih marah sama aku?"
"Siapa yang marah?"
"Itu tadi kamu pergi gitu aja? Aku minta maaf ya?"
"Minta maaf kenapa?"
[nah kan, jebakan batman nih, kalau gue salah jawab bisa makin ngambek dia.]
"Aku minta maaf tadi udah ngeladenin kasir ngobrol."
"Terus?"
"Aku janji gak akan ngulangin lagi."
"Ingat ya! jangan sampai lupa!"
"Iya sayaanggg..."
"Kamu mau minum apa?"
"air dingin aja."
"Oke, tunggu sebentar."
Ketika Eva hendak berdiri, tali bath robe nya tersangkut di sofa, hingga bath robe nya terbuka dan Dimas melihat tubuh polos Eva.
"Aaaa..." Eva langsung merapihkan bath robe nya. ia sangat malu dan berlari ke dapur.
[Aaaa gue malu banget, tadi Dimas liat gak ya? gue harus ganti baju nih.]
Sementara itu Dimas terkejut melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat.
[Ingat Dim, lo harus kuat, jangan sampai lupa diri, itu gak boleh dim, sadar. lo belum nikah!] Dimas berperang dengan batinnya sendiri, ia berusaha untuk tidak tergoda.
"Ni minumnya. Aku ganti baju dulu ya!"
"Iya terima kasih."
Ketika Eva hendak berbalik, Dimas menarik Eva ke pangkuannya.
"Yang, kamu ngapain? aku mau ganti baju ih." Eva mulai gelisah dengan sikap Dimas.
Dimas memeluk Eva.
"Aku sayang kamu." Dimas menatap Eva dalam.
"Iya aku juga sayang kamu." jawab Eva.
Dimas yang sudah tak tahan segera Mel***t bibir Eva hingga mereka kehabisan nafas, Dimas pun melepaskan bibirnya.
"Yang, udah ya, kalau di lanjut nanti kebablasan, itu gak boleh yang." Eva berusaha menyadarkan Dimas.
Namun usahanya tak berhasil, Dimas sudah tidak dapat mengendalikan diri.
"Aku akan bertanggung jawab sayang, percaya pada ku!"
Tanpa menunggu jawaban Eva, Dimas menel*s*r* leher Eva dengan lidahnya. Tangannya mulai bergriliya masuk ke dalam bath robe.
"Yang, jangan sayang kita belum menikah, nanti aku hamil gimana?" Eva masih bisa mengendalikan diri.
"Aku akan menikahimu!" Dimas benar-benar sudah gelap mata, ia melanjutkan aksinya.
Mendapat rangs****n dari Dimas, Eva pun mulai kehilangan akal, ia sudah pasrah.
__ADS_1