
1 tahun kemudian
Setiap hari mereka lalui dengan bahagia, Adam yang sangat mencintai Dinda selalu memperlakukannya dengan baik, sehingga Dinda merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena mendapatkan suami sebaik dan sesempurna Adam.
hanya saja Dinda merasa ada yang kurang, karena hingga saat ini ia belum juga mengandung buah cinta mereka.
"mas berapa hari di jember?"
"5 hari sayang, kamu mau ikut?"
"mau sih mas, tapi ini kan akhir bulan, aku harus tutup buku, dan gak mungkin aku tinggalin kerjaan."
Dinda yang bekerja sebagai Accounting memang selalu sibuk setiap akhir dan awal bulan.
---------------
3 hari kemudian
kring.. kring.. ponsel Dinda berdering
sesaat setelah Dinda mengangkat telepon masuk, ponsel nya terjatuh. Dinda terkejut mendengar berita bahwa Adam dilarikan ke rumah sakit akibat kecelakaan.
lutut Dinda terasa lemas, namun ia berusaha untuk bangkit, karena ia harus segera pergi ke RS untuk melihat keadaan suaminya.
Dinda masih mampu menyetir mobil sendiri, tapi sepanjang jalan air matanya tah henti menetes.
"ya Tuhan, tolong selamatkan suami ku, lindungilah dia, aku tak sanggup jika kehilangannya."
orang tua Adam sudah tiba lebih dulu di RS, dan mereka yang tadi menghubungi Dinda.
"bagaimana keadaan mas Adam mah?"
"dia masih di dalam, dokter yang menanganinya belum keluar, kita berdoa saja, semoga Adam baik-baik saja."
mereka duduk dengan tegang, Dinda sangat gelisah dan terus menangis.
ting' ketika pintu ruang UGD terbuka, dokter pun muncul.
"dok, bagaimana keadaan suami saya?"
"bagaimana keadaan anak saya dok?"
tanya Dinda dan mamah bersamaan.
"tuan Adam telah melewati masa kritis, namun ia belum sadar, kondisinya akan kami pantau terus, silahkan di bantu doa agar keadaan semakin membaik."
"apa saya boleh masuk dok?" tanya Dinda
"untuk saat ini pasien belum bisa di jenguk, karena masih dalam masa observasi, sekarang ia sudah di pindahkan ke ruang ICU, anda bisa melihat kondisi nya dari luar ruangan."
"terima kasih dok."
"baik, saya permisi dulu."
__ADS_1
di depan ruang ICU mereka hanya bisa memandangi Adam dari dinding kaca, Dinda sangat terpukul melihat suami yang sangat menyayanginya terbaring tak berdaya.
tak kalah mengejutkan ketika ia tahu bahwa suami nya kecelakaan tidak sendiri, tapi bersama dengan Erika.
bagai tersambar petir disiang bolong ia tak habis pikir bagaimana bisa suami nya itu bersama dengan Erika, padahal seharusnya ia sedang berada di jember.
mengingat kondisi suami nya saat ini, ia memilih untuk tidak memikirkan hal itu dulu, karena yang terpenting saat ini adalah menunggu suaminya sadar agar bisa segera pulih.
"biar aku aja yang nunggu mas Adam mah. mamah dan papah istirahat aja di rumah, nanti kalau ada perkembangan aku kabari."
"kamu yakin bisa sendiri Din?"
"iya mah."
Dinda menelepon bi sumi, minta tolong di bawakan pakaian untuk ganti, ia memutuskan untuk tidur di RS.
duduk sendiri di koridor rumah sakit, membuat pikiran Dinda berkelana, bayangan sikap Adam yang manja, perhatiannya, kasih sayangnya semua terlintas di benak Dinda.
Dinda teringat ketika ia sakit bahkan Adam sampai rela tidak tidur, kurang istirahat dan setia merawatnya.
Adam selalu berusaha mengabulkan keinginan Dinda.
terlebih ia mengingat ketika sikap "nakal" adam jika menginginkan 'sesuatu'.
iya tersenyum namun menangis lagi saat ia sadar sekarang belahan jiwanya sedang tak berdaya.
ia mengingat sesuatu, dan berusaha mencari tau. ia menuju ke meja Administrasi.
"ketika tiba di RS, kondisi pasien sudah tidak sadarkan diri, terjadi geger otak karena benturan kepala dengan stir mobil, serta beberapa bagian tubuh yang memar."
"bagaimana kondisi korban yang lain sus."
"korban lain tidak terlalu parah karena posisi kecelakaan nya ke arah kanan, sehingga pengemudi yang mengalami luka berat, sedangkan penumpang mangalami shock dan hingga saat ini ia belum sadar."
"kejadiannya di mana sus?"
"ketika kami di hubungi, ambulance diminta untuk menjemput pasien di jalan ke arah Bandung."
"Bandung?"
"iya, menurut informasi terjadi kecelakaan tunggal, untuk penyebabnya silahkan ibu tanya ke pihak kepolisian."
"baik sus, terima kasih."
Dinda kembali ke koridor ruang ICU, ia berjalan lunglai.
"apa yang sedang kamu lakukan mas? kenapa kamu bisa bersama nya? kenapa kamu ke arah bandung? harusnya hari ini kamu masih di Jember."
----------------
Seminggu kemudian
Adam masih dalam keadaan koma, hingga saat ini ia belum menunjukan tanda kemajuan. sedangkan Erika sudah sadar.
__ADS_1
esok harinya ketika ia terbangun ia mendapatkan mamah Adam yang duduk di samping ranjang nya.
"tante.. bagaimana kondisi Adam?"
"Adam masih belum sadar Rik."
"tante aku mau lihat Adam."
"kamu harus istirahat dulu, biar kondisi mu segera pulih."
"tapi aku khawatir tante."
"memang apa yang sedang kalian lakukan waktu itu?" tanya mamah
"sebenarnya kami ke Bandung ingin menikah tante."
"apa????"
percaya tidak percaya, mamah sangat terkejut, bisa di bilang tidak mungkin Adam menghianati Dinda, sementara ia sangat mencintai istrinya.
"iya tante, jika tante tidak percaya tante bisa lihat cincin ini." menunjukan jari nya
"Adam sudah melamar aku tan, dan aku menerimanya."
"ya tuhan, kenapa jadi seperti ini?" mamah menangis bingung.
"kami memutuskan menikah di bandung karena Adam belum siap memberi tahu Dinda tan. sebetulnya Adam sudah lama merencanakan ini karena hingga saat ini Dinda belum mampu memberinya keturunan."
untung aku punya kelemahan mu Dinda, jadi tidak sulit bagi ku untuk meyakinkan tante. gumam Erika dalam hati.
"tante mengerti perasaan Adam, karena tante sendiri berharap Adam segera memiliki keturunan. kalau gitu tante dukung kalian."
senyum licik tersungging di bibir Erika.
di ruangan lain, Dinda dengan sabar setiap hari mengurus suaminya, mulai dari mengelap tubuh, membersihkan kotoran bahkan selalu mengajaknya berbicara. ia yakin jika suaminya mampu mendengar, walaupun tidak bisa merespon.
"aku kangen kamu mas, apa kamu gak kangen sama aku? mas ingat gak waktu pertama mas datang ke rumah aku? waktu itu aku tidak percaya, aku kira itu hanya mimpi. tapi ternyata Tuhan baik pada ku sehingga aku bisa mendapatkan suami sempurna seperti mas."
lagi-lagi tak dapat membendung air matanya, ia menempelkan telapak tangan Adam ke pipinya.
ketika sedang memandangi suaminya, Dinda kaget ada orang yang datang memeluk suaminya. dan mertua nya hanya menonton.
"Adam kamu bangun dong, mau sampai kapan kamu tidur terus, aku janji kalau kamu bangun, kita akan langsung menikah."
Deg.. bak dihantam peluru, hati Dinda sangat sakit mendengar perkataan Erika. Dinda pun tersulut emosi.
"tolong jaga sikap dan ucapan mu Erika, kamu tidak pantas berkata seperti itu kepada suami orang." berusaha melepas pelukan Erika.
"memang apa yang aku ucapkan Din? itu kenyataan, bahkan Adam sudah melamar ku." menunjukan cincin dijarinya
kening Dinda berkerut, seolah ia mengenal cincin itu.
ahh, itu kan cincin.....
__ADS_1