Kembalilah Istriku

Kembalilah Istriku
Bab 28 - Mencari Kebenaran


__ADS_3

"Mulai saat ini aku berjanji akan menjaga kalian. Kita harus kembali bersama demi anak kita sayang." lanjut Adam ia yakin bahwa mereka bisa bersama kembali


"Maaf Mas, aku tidak bisa." Dinda melepas pelukan Adam.


"Kenapa? bukankah bagus jika kita kembali bersama?"


"Ini bukan waktu yang tepat, Mas. Sean sedang berjuang didalam sana, mana mungkin aku memikirkan hal lain?"


"Aku yakin, jika Sean tau kita kembali bersama, dia pasti akan sangat bahagia." Adam membujuk Dinda.


"Maaf Mas, aku belum bisa melupakan foto itu. Aku tidak sanggup jika mengingat kamu pernah tidur dengan wanita lain." Akhirnya Dinda menjelaskan pada Adam.


"Foto apa, Din? wanita mana? siapa yang tidur dengan aku?" Adam bingung karena ia tidak pernah merasa melakukannya.


"Sudahlah, Mas. Aku tidak ingin membahasnya." jawab Dinda datar.


"Tidak, Din. Aku bersumpah, aku tidak pernah melakukan hal itu! mana mungkin aku melakukannya sementara hanya kamu yang aku cintai?"


"Tapi buktinya sudah jelas, Mas."


"Bukti apa? mana buktinya? tunjukan padaku!" Adam ngotot.


"Aku memang tidak memegang bukti itu, tapi mungkin mamah mu masih menyimpannya."


"Apa? Mamah?" Adam terkejut.


"Ya, silahkan kamu tanya ke mamah kamu, karena dia yang meminta ku menceraikan mu dia ingin kamu menikah dengan Erika."


"Erika? bagaimana mungkin? kamu kan tau aku tidak mencintai Erika!"


"Entahlah."


"Oke, aku akan mencari bukti untuk meyakinkan bahwa tuduhan mu salah. Tapi kamu harus janji, jika aku terbukti tidak bersalah, kamu harus kembali pada ku!" Adam bersemangat, ia yakin pasti bisa mendapatkan bukti itu.


"Terserah." jawab Dinda malas.


'Ting-tong' pintu IGD terbuka.


"Dok, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Adam dan Dinda.


"Putri Bapak sudah berhasil melewati masa kritis, kini kondisinya lebih stabil. setelah observasi, pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan."


Mereka semua lega mendengar pernyataan dokter.


"Syukurlah, Terima kasih Tuhan, engkau telah menyelamatkan anak kami." ucap Adam.


----------------


Setelah kondisi Sean membaik, Adam segera terbang ke Jakarta, ia ingin mencari bukti agar Dinda dan Sean bisa kembali bersamanya.


Di bandara, Aldo sudah menunggu Adam.


"Do, kita langsung ke rumah orang tua saya!"


"Baik, Pak."


Tiba di rumah orang tuanya, Adam langsung masuk mencari Mamah.

__ADS_1


"Mah... Mah..." panggil Adam.


"Sayang, akhirnya kamu datang ke rumah mamah lagi Nak." berhambur memeluk Adam.


"Mah, apakah Mamah masih menyimpan foto yang di maksud Dinda?" tanya Adam tak menghiraukan ucapan Mamahnya.


"Sayang, sebenarnya itu yang selama ini ingin Mamah bahas dengan mu. Tapi kamu selalu menghindari Mamah."


"Maaf, Mah. Saat itu Adam sedang kalut, sehingga tidak bisa berpikir jernih." Adam menyesal.


"Tapi Mamah tidak menyimpan foto itu sayang."


"Apa? lalu bagaimana cara Adam meyakinkan Dinda, sementara Adam sendiri tidak tau fotonya seperti apa?"


"Apa kamu yakin, kamu tidak pernah tidur dengan Erika?" tanya Mamah ragu.


"Mah... Adam bukan pria seperti itu. Tidak mungkin Adam tidur dengan wanita lain, sementara Adam memiliki Dinda yang sangat Aku cintai."


"Lalu bagaimana dengan cincin itu? bukankah kamu sudah melamarnya?"


"Apa lagi ini? aku tidak pernah melamar siapapun kecuali Dinda, Mah!"


"Tapi, Dinda mengenali cincin yang kamu berikan untuk Erika."


Adam coba mengingat kejadian sebelum ia kecelakaan.


"Ya Tuhan, jadi Erika bilang jika Adam melamarnya dengan cincin itu?" tanya Adam.


"Iya Sayang."


"Mah, cincin itu Adam beli untuk Dinda. Adam. Ingin memberinya kejutan."


"Adam ingat. Sebelum kecelakaan Adam baru pulang dari Jember. Adam pulang lebih awal karena ingin memberi kejutan untuk Dinda, Namun sesampainya di kantor, klien Adam yang di Bandung minta bertemu."


"Terus?" Mamah mendengarkan.


"Karena mendesak, Aku bergegas ke sana, dan kebetulan Erika pun menangani proyek itu, dan dia memaksa ikut mobil aku."


"Aku memang belum sempat mengabari Dinda, karena ponsel ku lowbat. Jadi aku pikir akan mengabarinya jika sudah sampai di Bandung." Adam melanjutkan penjelasannya.


"Dalam perjalanan, Erika mengambil kotak cincin yang akan aku berikan untuk Dinda dan memakainya. Adam berusaha merebut cincin itu, namun Erika menolaknya. Dan Akhirnya kecelakaan pun terjadi."


"Jadi kamu ke Bandung bukan untuk menikah?"


"Mah! Apa semudah itu Mamah percaya pada orang lain? bahkan Mamah tidak mempercayai Aku?"


"Penjelasan yang dia berikan sangat masuk akal sayang, mana mungkin Mamah tidak percaya?"


"Lalu, kenapa Mamah meminta Dinda untuk menceraikan aku?"


"Mamah pikir kamu tidak tega menceraikannya, sehingga kamu mau menikah diam-diam. Mamah hanya tidak ingin kalian berdua merasakan sakit lebih lama."


"Ya Tuhan, Mah.!"


"Awalnya Dinda menolak, tapi setelah dia melihat foto mu sedang tidur dengan Erika, Dinda langsung menanda tangani sirat cerai itu."


"Memang seperti apa fotonya, sampai bisa membuat Dinda menceraikan ku?"

__ADS_1


"Mamah rasa semua wanita akan melakukan hal yang sama jika melihat foto vulgar suaminya dengan wanita lain tanpa busana."


"Mamah kok jadi memojokkan Adam?"


"Bukan begitu Adam, Mamah hanya tidak habis pikir, bagaimana foto itu bisa ada? sementara kamu sendiri bersikeras tidak mau mengakuinya!"


"Karena Adam memang tidak pernah melakukannya, Mah! mungkin saja itu editan?"


"Foto itu sudah di cek keasliannya, 100% asli!"


"Ini pasti ulah Erika! Pantas saja dia menghilang." Adam kesal.


"Mamah akan minta tolong Papah untuk membantu mu mencari Erika. Hanya dia yang bisa menjelaskan kebenarannya."


"Baik, Mah. Terima kasih. Adam pun akan berusaha mencarinya."


----------------


Dokter sudah mengizinkan Sean untuk pulang dari Rumah Sakit. Kondisinya pulih lebih cepat dari prediksi dokter. Mungkin karena ikatan batin antara anak dan ayah, sehingga darah yang di donorkan Adam bisa membantu pemulihan Sean lebih cepat.


"Halo Sean, good morning."


"Mowning (morning) Uncle doktew (dokter)."


"Bolehkan uncle memeriksa kondisi Sean?"


"Boleh dong, Sea kan anak pintaw (pintar)."


" Wah, iya yah, Sea sangat pintar, pantas saja Sea cepat sembuh."


"Aku sudah boleh pulang belum?"


"Kalau Sea sudah merasa lebih baik, Sea boleh pulang hari ini."


"Oya? Aku sudah baik Uncle, nih aku udah gak pusing lagi." menunjukkan kepalanya yang sudah tidak pusing.


"Oh iya, luka Sea sudah sembuh. Nanti uncle kasih tau suster ya, biar urus kepulangan Sea."


"Yeaayy, thank you uncle doktew."


"Okay Sea, uncle pamit dulu yah, nanti kalau sudah di rumah, Sea harus lebih hati-hati."


"Ofcows (ofcourse) uncle, bye..."


"Mommy, aku kangen wumah (rumah)." ucap Sean yang sudah beberapa hari terbaring di Rumah sakit.


"Iya sayang, sebentar lagi kita pulang ya."


"Asiikk..."


"Mommy, antik (nanti) di wumah aku mau makan ayam kecap ya."


"Iya sayang, nanti Mommy buatin yah."


"Mom, semalam aku mimpiiii."


"Sea mimpi apa?"

__ADS_1


"Aku mimpi main sama papi, sewu (seru) deh."


__ADS_2