Kembalilah Istriku

Kembalilah Istriku
Bab 8 - Aku Terpaksa Pergi


__ADS_3

Flashback on#


kringg...


"halo sayang.."


"halo mas, Ada apa?"


"kamu masih di kantor?"


"iya mas, ni aku lagi siap-siap sebentar lagi mau pulang."


"sayang aku minta tolong ambilkan flash disk ada di laci meja ku, aku baru sampai bandara, kalau ke kantor dulu takut macet."


"oke sayang, nanti aku ambil."


"terima kasih sayang, kamu hati-hati yah nanti pulang nya, jangan nakal."


"iya suami ku ya cereweett."


Dinda berjalan ke ruangan Adam, saat membuka laci ia langsung menemukan flash disk nya, namun ketika tangannya bergerak menutup laci, ia melihat ada kotak kecil berwarna navy, karena penasaran ia membukanya.


"wah.. cincinya indah sekali, apakah mas Adam ingin memberi kejutan untuk ku? tapi kenapa masih disimpan disini?"


Flashback Off#


ia mengenali cincin yang di gunakan Erika.


ahh, itu kan cincin yang di laci meja kerja mas Adam, ohh jadi ini kejutannya. teriak Dinda dalam hati.


"aku tidak akan percaya sebelum mas Adam yang mengatakannya sendiri." jawab Dinda berusaha tegar


"jika kamu tidak percaya, silahkan kamu tanya ke om dan tante."


Dinda menengok ke arah mertuanya, seolah mengerti arti tatapan Dinda, mertuanya pun menjawab.


"betul Din, Adam memang sudah melamar Erika, dan saat kecelakaan terjadi, mereka sedang dalam perjalanan ke bandung untuk menikah."


Duarrr... seolah tersambar petir disiang bolong, ia tak sanggup berkata-kata lututnya terasa lemas. ketika Dinda hendak duduk perkataan Erika menambah pukulan bagi Dinda.


"Adam sudah merencanakan ini beberapa bulan lalu, dia sudah tidak tahan dengan mu karena kamu tidak dapat memberinya keturunan."


pikiran Dinda mendadak kosong, harga dirinya hancur ketika hal yang selama ini ia khawatirkan terjadi, terlebih orang lain yang mengatakannya. sesaat kemudian Dinda tak sadarkan diri.


---------------


Satu bulan berlalu


Dinda masih setia merawat suaminya, ia berharap suaminya akan segera siuman dan mengatakan bahwa semua yang ia dengar tidak benar.


Erika yang tak tau malu pun setiap hari menjenguk Adam, ia selalu memprovokasi Dinda.


"Sampai kapan kamu akan bertahan Din? aku yakin jika suamimu sadar ia akan langsung menceraikan mu."


sebisa mungkin Dinda berusaha tegar dan mengabaikan Erika.


sampai pada waktunya orang tua Adam datang membawa map coklat dan menyerahkannya ke Dinda.


"Apa ini mah?"

__ADS_1


"silahkan kamu baca sendiri Din."


tangan Dinda bergetar saat sedang membaca isi surat itu.


"apa maksudnya ini mah, pah?"


"mamah harap kamu menandatangani surat cerai itu dan segera meninggalkan Adam."


wajah Dinda memerah menahan tangis.


"kenapa jadi seperti ini mah?"


"kamu tidak boleh egois Din, Adam menginginkan keturunan dari mu, tapi sampai saat ini kamu belum juga bisa memberikan kami cucu."


"tapi mah, kami sedang berusaha, bahkan dokter pun mengatakan kandungan aku tidak bermasalah."


"tapi nyatanya Adam tidak hanya berusaha dengan mu Din." tukas Erika seraya menyerahkan beberapa lembar foto.


Dinda sangat terkejut melihat foto Adam yang sedang berada di kamar hotel bersama Erika.


hatinya sudah tidak dapat menerima lagi, jika hanya omongan akan dia anggap sebagai angin lalu, tapi difoto itu sangat jelas Adam sedang tidur memeluk Erika hanya berbalut selimut.


tanpa pikir panjang ia langsung menanda tangani surat cerai itu. dengan berat hati ia pun terpaksa pergi.


"tega kamu mas." ucap Dinda pelan sambil keluar ruangan.


sepanjang jalan Dinda menangis, ia kembali ke rumah yang ditempatinya bersama Adam. dia membereskan barang dan pakaiannya.


"lho, mau kemana bu? kok bawa koper banyak sekali?"


"bi, saya titip rumah yah, mungkin ini hari terakhir saya disini, kedepannya saya tidak akan datang kesini lagi."


"dia sudah tidak butuh saya bi. terima kasih ya bi, selama ini bibi sudah banyak membantu saya, bibi sudah saya anggap seperti saudara sendiri."


"ibu yang sabar ya bu, semoga ibu bisa mendapatkan kebahagiaan dimanapun ibu berada."


"terima kasih bi."


mereka berpelukan sambil menangis.


---------------


Di rumah Bu Mirna.


"lho, kamu kenapa nak, kok nangis? ada apa dengan nak Adam?"


"maaf bu, aku gak sanggup untuk cerita, saat ini aku sangat terpukul bu."


"sini duduk dulu, Dim tolong ambil minum untuk kakak mu."


"kakak kenapa bu?" memberikan segelas air.


"sudah biarkan kakak mu tenang dulu. ini minum nak biar kamu lebih tenang."


"terima kasih bu."


"kalau kamu sudah siap, kamu boleh cerita ke ibu kapanpun. apapun yang terjadi ibu yakin pasti kamu memilih yang terbaik."


Dinda hanya membalas dengan anggukan, ia bersandar di pundak ibu nya.

__ADS_1


----------------


keesokan harinya Dinda datang kekantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri, ia tak sanggup jika harus bertemu sahabatnya, maka ia hanya menitipkan surat itu kepasa receptionis.


semenjak menanda tangani surat cerai, Dinda memutuskan akan pergi keluar kota, ia tak sanggup jika harus tinggal satu kota dengan Adam.


beberapa hari ia sibuk mencari pekerjaan baru di kota lain secara daring. berbekal sertifikat CFA (chartered financial analyst) sebagai akuntan tentu saja bukan hal sulit bagi Dinda untuk mendapatkan pekerjaan.


CFA merupakan sertifikasi akuntan yang paling bergengsi dalam lingkup analis keuangan, dikeluarkan oleh CFA institute dan untuk meraihnya harus lulus tiga level ujian dengan pengalaman minimal empat tahun.


semangat Dinda, kamu harus bisa melewati semua ini. karena Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi mu, bukan yang kamu inginkan. ucap Dinda menyemangati dirinya sendiri.


"pernikahan memang seperti berkebun, meskipun sudah dirawat dan diberi pupuk, namun ada saja hama yang dapat merusak kebun itu."


---------------


di sebuah perusahaan Batu Bara di pulau Kalimantan tepatnya di Balikpapan.


seorang CEO muda (David) sedang mencari akuntan yang akan ia pekerjakan di bagian khusus sehingga ia menentukan kualifikasi yang sulit di jangkau.


"gimana Dri, apa sudah ada pelamar yang sesuai dengan kriteria saya?"


"sementara belum ada pak, karena untuk kriteria seperti itu agak sulit pak, kalaupun ada pasti sudah bekerja di tempat lain."


ting'


suara notif di tab milik Andri berbunyi, rupanya ada email masuk.


"pak saya rasa ini cocok dengan kriteria bapak." menyerahkan tab ke David


Dave mempelajari resume nya beberapa saat dan dia pun tertarik.


"besok saya sendiri yang akan menginterview nya."


"baik pak."


Andri membalas email tersebut dan mengundangnya untuk interview di kantor besok pagi jam 09.00 waktu setempat.


ting'


suara notif email Dinda.


Selamat Siang,


Selamat anda lolos seleksi dan kami tunggu kehadiran anda besok jam 09.00 di kantor kami.


Terima kasih,


Salam,


HRD.


"yess, akhirnya aku bisa pergi dari kota ini. terima kasih ya Tuhan, semoga kali ini aku bisa diterima."


karena waktu yang singkat, Dinda pun segera mengemasi pakaiannya, ia membawa pakaian untuk 1 minggu, karena ia khawatir akan ada test selanjutnya.


Ibu Mirna tidak banyak bertanya, karena sebelumnya Dinda sempat bercerita dan menjelaskan keinginannya.


ia hanya bisa mendo'a kan yang terbaik untuk Dinda.

__ADS_1


__ADS_2