Kembalilah Istriku

Kembalilah Istriku
Bab 9 - Lembaran Baru


__ADS_3

Pukul 20.00 Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepingan.


Dinda di temani oleh Dimas, kebetulan Dimas sedang libur kuliah. mereka langsung menuju ke Apartemen.


untuk sementara Dinda menyewa Apartemen, jika lamarannya diterima ia berencana mencari rumah agar ibu dan adiknya bisa ikut pindah bersamanya.


keesokan harinya, Dinda sudah bersiap untuk memenuhi panggilan interview. pukul 08.30 ia tiba di PT. Kaltim Coal Tbk.


hari ini Dinda mengenakan Blazer skinny warna beige dengan inner warna putih dan celana warna senada, ia membawa tas kecil warna mocca dan high heels cream.


Dinda sedang duduk di ruang tunggu. pukul 09.00 Dave tiba di kantornya.


"orangnya sudah ada Dri?"


"sudah pak, mau saya panggil sekarang?"


"boleh.."


---------------


"selamat pagi..."


"pagi.. silahkan duduk.!" jawab Dave tanpa menoleh


"Apa kab..." pertanyaan Dave terputus ketika ia menoleh dan melihat wanita yang sedang duduk di depanya adalah teman kuliah yang pernah ia cintai.


"Dinda??"


"Dave??"


tanya mereka bersamaan.


suasana pun berubah menjadi lebih hangat dan Dave sangat antusias.


karena tuntutan orang tua nya, ketika belum tamat kuliah Dave harus pindah ke kalimantan untuk ikut terjun mengelola perusahaan, semenjak itu mereka tidak pernah bertemu lagi.


"Din kamu apa kabar?" menjulurkan tangan pada Dinda.


"Aku baik Dave, kamu kemana aja, tiba-tiba hilang bak ditelan bumi?" menjabat tangan Dave.


seketika hati Dave berdebar kembali, seolah ia masih menyimpan rasa untuk Dinda.


Flashback#


7 tahun yang lalu di sebuah kampus ternama di Bandung.


"guys kalian duluan ya, gw mau ke perpus dulu." ucap Dave kepada teman nya ketika ia melihat Dinda sedang berjalan ke perpustakaan.


"oke deh, kita tunggu di kantin ya."


"Sipp.."


Dave bergegas menyusul Dinda.


tiba di perpus Dave bingung harus bagaimana. akhirnya ia memilih untuk mengikuti Dinda dari balik rak buku yang tinggi sambil pura-pura membaca buku.


Dinda yang fokus membaca buku tak menyadari ada yang memperhatikannya.


tak berapa lama ada 2 orang berpakaian safari menghampiri Dave.


"tuan muda, anda ditunggu di rumah sekarang juga, mari ikut kami."


Dave yang merasa terganggu sangat kesal, karena saat ia menoleh ke arah Dinda, dia sudah menghilang.


"ahh kalian ganggu aja si."

__ADS_1


"maaf tuan muda, ini perintah tuan besar."


"ya udah gw bawa mobil sendiri."


"saya akan ikut dengan anda." ucap salah satu pengawal.


"gak percaya banget si lo." ucap nya sambil berlalu.


jarak rumah yang dekat dengan kampus hanya butuh waktu 15 menit untuk tiba di rumah.


"Dave..." mama Dave menyambut dengan pelukan dan wajah sedih.


"ada apa ma? papa kenapa?"


"papa mu sakit Dave, vertigo nya kambuh."


Dave bergegas ke kamar papa nya, di sana ada seorang dokter yang sedang memeriksa papa Dave.


"bagaimana kondisi papa saya Dok?"


"Sementara Tuan besar harus istirahat, dan tidak boleh memikirkan hal yang berat. ini resep obat nya, silahkan di tebus di apotek."


"baik dok. terima kasih."


"kalau begitu saya permisi dulu."


"mari saya antar dok." ucap mama Dave.


resep itu diserahkan ke ajudan tuan besar untuk segera di tebus.


"Dave, sini papa mau bicara."


"ada apa pa? papa jangan terlalu banyak pikiran dulu ya."


"justru itu Dave, besok papa ada janji dengan klien penting di Kalimantan. papa harap kamu bisa mewakili papa."


"papa yakin kamu pasti bisa, papa percaya sama kamu Dave."


"baik pa, Dave akan berusaha sebaik mungkin. sekarang papa istirahat ya, Dave tidak ingin papa drop lagi."


sebenarnya berat bagi Dave jika harus menggantikan papa nya, selain ia ragu akan kemampuannya, ia pun tidak siap jika harus terpisah dengan Dinda. tapi mau bagaimana lagi, kondisi mengharuskan Dave untuk pergi.


hari demi hari, beberapa bulan berlalu, hingga Dave memiliki waktu luang dan ia kembali ke Bandung untuk menemui Dinda.


setibanya di Bandung, ia bergegas mencari Dinda. betapa kecewa nya Dave ketika mendapatkan bahwa Dinda sudah tidak tinggal di Bandung, tetangga nya pun tidak tahu dia pindah kemana.


Dave menyesali hal itu, seandainya dulu ia tidak ragu, mungkin saat ini Dinda akan bersamanya.


Flashback off#


Dave pun menceritakan kejadian 7 tahun lalu bahwa ia harus menggantikan ayahnya.


"ya sudah, yang lalu biarlah berlalu Dave."


tapi kamu tidak tahu Din, betapa tersiksanya aku kehilangan kamu? gumam Dave dalam hati.


"kamu serius mau kerja di sini Din?"


"serius lah Dave, masa iya aku cari kerja hanya untuk main-main?"


"bukan begitu, maksudku ini kan Kalimantan Din, emang kamu siap kalau harus tinggal di sini?"


"justru aku sengaja cari kerja di luar pulau Jawa Dave."


"emang kenapa?"

__ADS_1


"ada sesuatu yang harus aku hindari."


"apa Din? kamu punya masalah? atau ada yang ganggu kamu?"


"ceritanya panjang Dave, kerjaan mu bisa keganggu kalau aku cerita sekarang, hehehe"


Dave yang penasaran tidak sabar ingin mendengarkan cerita Dinda, dan banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Dinda.


"setelah ini kamu ada acara gak Din?"


"aku sih gak ada rencana, karena aku ke Kalimantan memang khusus untuk interview di sini saja, gak nyangka juga ternyata itu kamu."


"berarti jodoh..." jawab Dave samar


"apa?"


"itu, nanti kita lunch bareng yuk?"


"emang kamu gak sibuk Dave?"


"ya engga lah, waktu aku selalu ada buat kamu."


"aduuhh baru ketemu udah gombal aja, kamu gak berubah yaa."


interview yang seharusnya membahas masalah pekerjaan pun malah di jadikan ajang Nostalgia oleh mereka berdua.


mereka asyik berbincang hingga tak terasa jam makan siang pun hampir tiba.


"ya ampun udah jam 11.30 aja, perasaan baru sebentar kita ngobrol nya ya Din?"


"biasa wanita kan kalau udah ngobrol suka lupa waktu."


"Dindaaa, kamu anggap aku apa??" ucap Dave sambil merapatkan giginya dan melirik ke arah Dinda.


"hahaha, iyaa ya, sorry deh aku lupa. abis udah lama gak ketemu jadi seru banget ngobrolnya."


"jalan sekarang yuk?"


"kemana?"


"ke Raja Ampat."


"hah? ngapain?"


"makan lah, emang ngapain?"


"serius Dave? jauh banget lho, yang ada belum sampe rumah udah laper lagi."


"ya Tuhan Din, kamu masih kaku aja sih, masa iya aku ngajak kamu ke Raja Ampat di Papua? itu lho Resto Raja Ampat di sebrang kantor ini." jawab Dave gemas sembil menunjuk ke arah resto yang tadi ia sebutkan.


"hahaha, makanya ngomong tu yang jelas Dave, mana aku tahu ada Raja Ampat disitu, ini kan pertama kali aku kesini."


"iya iya, nyonya selalu benar, hamba yang salah. marii..." mengajak Dinda keluar ruangan sambil menunduk Ala pelayan yang sedang mempersilahkan tamunya masuk.


sebelum pergi, Dave memanggil Andri dan menyampaikan sesuatu.


"Dri, sini.."


Andri segera keluar ruanganya


"iya pak."


"hari ini kamu handle semuanya ya, aku ada urusan penting, tolong jangan ganggu."


"baik pak."

__ADS_1


"good boy."


dihh emang gw apaan dibilang good boy. tapi itu pak Dave aneh banget, masa interview aja selama itu, malah pergi keluar segala. tau ahh, bos mah bebaass... ucap andri bingung.


__ADS_2