
Sepanjang hari Adam merasakan ada yang mengganjal, hatinya terasa sakit namun ada pula rasa bahagia seperti sedang menantikan sesuatu.
Adam melihat seorang anak kecil sedang bermain, Ia mencoba mendekat, belum sempat Adam menyapa anak itu, Dinda tiba-tiba muncul dan membawa pergi anak kecil tersebut.
"Din... Kamu kemana aja Sayang?? itu anak siapa? Din... Diiiinnn...." Adam berusaha memanggil Dinda namun Dinda tak mengindahkannya.
"Dindaaaaaaaaa........" Adam berteriak lalu terbangun dari mimpinya.
Ahhh ternyata hanya mimpi...
"Kenapa Aku melihat anak kecil bersama Dinda?" Adam mengelap peluh yang bercucuran di keningnya.
"Apakah Dia sudah punya anak? Tapi anak siapa?" Adam bersandar di kepala tempat tidur.
"Lalu kenapa mereka pergi? apa mereka baik-baik saja?" Ia semakin penasaran.
"Din, Aku harap Kamu baik-baik saja Sayang. Tunggu Aku akan berusaha untuk menemukan Mu." ucap Adam lirih sembari memandangi foto Dinda.
Hingga saat ini situasi di rumah Adam masih sama seperti terakhir Dinda meninggalkan rumah itu.
Banyak foto Dinda yang menghiasi dinding maupun meja lemari di rumah Adam. Ada foto pernikahan, foto traveling, ataupun foto close up Dinda seperti yang sedang di pegang Adam saat ini.
---------------
Pagi ini Dave datang ke Rumah Sakit membawa bucket bunga yang indah.
"Selamat ya Din, Kamu sudah menjadi Ibu." Meletakan bunga itu di meja samping ranjang Dinda.
"Terima kasih Dave kemarin Kamu udah nolong Aku." Dinda tersenyum.
"Jangan bilang gitu, itu sudah kewajiban Aku untuk menjaga Mu."
"Emang kamu pengawal Aku apa sampai punya kewajiban ngejaga Aku?" Ledek Dinda.
"Duuhh Ibu satu ini protes aja." Dave mencubit hidung Dinda.
"Keponakan Aku mana Din? Aku pingin lihat." Lanjut Dave.
"Masih di ruang bayi Dave, kalau mau lihat paling pagi sama sore aja, itu pun cuma bisa dari luar."
"Emang bayi nya gak di bawa ke sini?"
"Dibawa kesini kalau Dia haus dan mau minum asi aja, kan gak mungkin Kamu lihat Aku menyusui?"
"Yaaa Aku sih gak keberatan Din, hehehe." Dave menaik turunkan alis nya.
"Dihh.. Itu si mau Muuu. Jangan harap yaa." balas Dinda menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Ahh pelit Kamu Din." Dave pura-pura kecewa.
"Makanyaa cari istri sana biar Kamu gak penasaran."
"Ngapain nyari, orang ada di depan mata kok." gumam Dave dalam hati.
"Gak usah di cari juga nanti ketemu Din." Dave memelas.
"Ya ampun Dave.. Kamu tuh ya, gimana mau dapet istri kalau Kamu gak mau usaha, lagi pula pria sebaik Kamu pasti banyak yang mau lah."
"Kamu mau gak sama Aku?" Skak matt
"Daveeee, Aku serius lhoo Kamu malah bercanda." memicingkan mata ke arah Dave.
"Huuhh Diin..Din.. Kapan sih Kamu anggap aku serius? Dari dulu Aku selalu serius, tapi Kamu nya yang gak sadar." Gumam Dave dalam hati.
"Husss.. Malah bengong? Menepuk lengan Dave.
" Kamu kapan bisa pulang Din?" Mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kata dokter sih besok juga Aku udah boleh pulang Dave."
"Oke, besok biar Aku jemput ya?"
"Gak usah Dave, kan ada Dimas sama Ibu. Kamu nih ya bukanya ngurusin perusahaan malah sibuk ngurusin yang lahiran, jadi kamu tu CEO atau dukun beranak?"
"Kayak gini nih, kasian banget ya Andri punya Boss kayak Kamu, Dia kena getahnya terus."
"Ya udah deh Aku pulang sekarang, dari pada di sini Aku di marahin terus. Bener ya kata orang, Ibu-Ibu itu galak, Sebentar lagi bisa jadi singa betina Kamu Din. Dah Aku pamit.. Bye.!"
"Daveeee...." Melempar bantal kecil ke arah Dave yang hilang di balik pintu.
---------------
Bayi cantik itu kini sudah berusia 3 tahun. namanya Sean, ia bersekolah di play group, setiap hari Sean di antar oleh mommy nya dan di jemput oleh Dimas.
Dimas sudah lulus kuliah, dan Dia diberi kepercayaan untuk mengelola restoran milik Dinda, sehingga waktu nya fleksible.
"Gut aftewnun Gwanma, what aw u doing?"
(Good Aftrenoon Grandma, what are you doing?)
Tanya gadis cantik yang baru pulang sekolah.
Tidak seperti anak lain yang cadel menyebutkan kata ER jadi EL, Sean tidak bisa mengucapkan kata R tapi ER nya malah jadi EW.
"Good afternoon cucu cantik grandma. Grandma sedang membuat sup untuk makan siang Sean, are you hungry girl?" grand ma sibuk melanjutkan masaknya.
__ADS_1
"Ofcows im hungwi.. I like it, soup is my favouwite meal. I'll change my chlotes fiwst, and then we have lunch togethew."
(Ofcourse I'm hungry.. I like it, soup is my favourite meal. i will chang my chlotes first, and then we have lunch together). Berlari ke arah kamar nya.
Sean merupakan anak yang cerdas, Dinda membiasakannya berbahasa inggris walau belum fasih betul. Bagi Dinda bahasa inggris wajib di kuasai karena itu merupakan bahasa internasional yang digunakan di seluruh Dunia. Sehingga Sean tidak akan kesulitan menghadapi persaingan global terutama dalam bidang akademis.
"Dim Kamu makan di rumah sekalian ya!" Ibu mengajak Dimas untuk makan bersama, karena biasanya Dimas lebih sering makan di resto.
"Iya bu, kebetulan Aku lagi gak sibuk."
"Ayo Kita makan sekarang, Come here Sean sit down please." Ajak Ibu pada Sean yang baru saja keluar kamar.
Ketika Dimas hendak menyuap makanan ke mulut, tiba-tiba Sean mencekalnya.
"Stop!"
"Kenapa Sea (red: Si)?" protes Dimas.
"Uncle Di lupa??? Dont fowget to pway befowe eating."
(Dont forget to pray before eating) Mulai sotoy.
"Uncle already prayed Sea." Jawab Dimas kesal.
"I didnt heaw it." masih ngotot aj tuh Sean.
"Uncle prayed silently Sea." Dimas makin gemas.
"Dont lie uncle, god will be angwi (angry) loh."
"Udah-Udah kalau ribut terus kapan mau makannya?" Mereka pun melanjutkan makan.
Sean memang sangat kritis, Dia suka sekali protes terutama Dia paling suka menirukan gaya Dinda jika sedang menasehatinya. Dimas yang jadi sasaran Sean, mereka sering sekali berdebat.
"Uncle, cawots aw good fow the eyes, don't thow them away! wasteful."
(Uncle, carrots are good for the eyes, don't throw them away! wasteful.)
Si kicik itu protes lagi..
"Sea kalau lagi makan itu jangan banyak bicara nanti kamu tersedak!"
"Weee.." Sean malah menjebik kan bibir nya ke arah Dimas.
"Huuhh kasih sambel juga nih."
------------------
__ADS_1
"Mommy..... Daddy...." Sean berlari ke arah Dinda yang baru pulang.