Kembalilah Istriku

Kembalilah Istriku
Bab 27 - Terungkap


__ADS_3

"Bagaimana aku bisa melupakan hal itu? Aku tidak mau jika Dinda ikut terseret." gumam Adam dalam hati.


"Sudah dulu ya, Mah." Adam langsung memutuskan panggilannya.


"Do, Tolong dibatalkan, aku tidak jadi menuntutnya." isi pesan Adam untuk Aldo.


"Ya ampun si Boss ni galau tingkat dewa kayaknya, bisa berubah-berubah hanya dalam hitungan menit." gumam Aldo yang kesal karena Boss yang selalu menghilang itu memerintah nya sesuka hati.


----------------


Adam masih saja mengawasi di depan rumah Dinda. Entah apa yang ia harapkan padahal ia tahu, selama ini ia selalu mengawasi rumah Dinda tidak menunjukan adanya kemajuan dalam hubungannya dengan Dinda.


Ketika Adam sedang asik memandangi rumah Dinda, tiba-tiba Sean keluar rumah mengejar bola nya yang menggelinding ke jalan.


Adam terkejut ketika mendapati bahwa ada mobil yang melaju kencang ke arah Sean.


Ia bergegas keluar mobil untuk menolong Sean, namun Adam terlambat. Kecelakaan pun tak terhindarkan. Hatinya sangat sakit melihat Sean terbaring di tengah jalan seperti itu.


Dinda tak kalah terkejut melihat anak semata wayangnya bersimbuh darah.


"Seaaaaaannnnn...." Dinda berteriak dan berlari ke arah Sean.


"Huuhuuhuu... Sean, bangun sayang, Sean jangan bobok yah, Sean Mommy di sini sayang." Dinda tak dapat menahan air matanya.


"Kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit Din." ucap Adam.


Dinda kaget melihat Adam selalu ada di sekitarnya, namun ia tak menghiraukannya. Yang terpenting sekarang harus membawa Sean ke Rumah Sakit.


Dinda masuk ke mobil Adam, ia duduk di kursi belakang memangku Sean. Adam langsung berlari ke kursi kemudi. Ia melajukan mobilnya dengan cepat.


"Sea, kamu harus bertahan sayang, Sea anak pintar, Mommy yakin Sea pasti kuat. Huuhuuhuuu." Dinda terus berbicara sambil menangis. Padahal Sea sudah tak sadarkan diri sejak tadi.


Beruntung jalanan lengang, sehingga mereka bisa segera tiba di Rumah Sakit.


Tiba di Rumah Sakit, Sea langsung di bawa ke ruang IGD.


"Maaf Bapak dan Ibu silahkan tunggu disini!" Ucap salah seorang perawat yang ikut menangani Sea.


"Sus, tolong selamatkan anak saya, sus."


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Bu." menutup pintu.


"Kamu harus tenang, Din!" Adam merangkul Dinda.


"Ya Tuhan kenapa hati ku bisa sesakit ini, melihat anak Dinda terluka?" gumam Adam dalam hati.


"Bagaimana aku bisa tenang, Mas? Anak ki.... Anak ku sedang berjuang didalam!" hampir saja Dinda keceplosan.


"Bagaimana kondisi Sean, Din?" Ibu dan Dave bertanya, mereka baru saja tiba di Rumah Sakit.


"Bu..... Sean...Huuhuuhuu." Dinda berhambur memeluk Ibu.

__ADS_1


"Kamu harus sabar Din, Ibu yakin kamu sumber kekuatan Sea, Jika Dia tau kamu menangis, pasti Sea akan sedih." Ibu mencoba menenangkan Dinda.


"huuhuuhuuu, aku sangat bodoh Bu, aku tidak bisa menjaga anakku sendiri."


"Tidak Din, jangan salahkan dirimu sendiri!"


Sementara Ibu dan Dinda menangis, Dave dan Adam terpaku berhadapan.


'Ting-tong...' suara pintu ruang IGD terbuka, dokter muncul dari dalam ruangan.


mereka semua berdiri dan mendekat ke dokter.


"Dok bagaimana keadaan anak saya?" tanya Dinda tidak sabar.


"Saat ini pasien masih dalam penanganan, namun karena pendarahan yang cukup banyak, kini pasien kekurangan darah, ia membutuhkan Golongan darah B+, sementara stok darah tersebut di Rumah Sakit ini sedang kosong." jelas dokter.


"Diantara ayah dan ibunya pasti memiliki golongan darah B+ silahkan segera ke ruang untuk donor darah! sementara itu, yang lain silahkan mencari bantuan untuk antisipasi!" lanjut dokter.


Deg. Dinda seakan di tampar, ia dan keluarganya tidak ada yang memiliki golongan darah tersebut.


"Din, kamu harus segera ke ruangan donor darah!" Adam menyadarkan Dinda yang sedang melamun.


"Golongan darah ku A, Mas." jawab Dinda lemas.


"Kalau begitu kamu yang harus mendonorkan darahmu!" ucap Adam pada Dave.


"Golongan darahku juga A." ucap Dave datar, ia sadar setelah ini Adam akan tau kebenarannya.


Ia langsung berlari ke ruang donor darah, diikuti oleh suster yang sejak tadi menunggu.


Selagi darahnya diambil, Adam berperang dengan batinnya sendiri.


Adam'


Bagaimana mungkin, orang tua tidak ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan anaknya? jika Sean bukan anak Dave, lalu dia anak siapa? Kenapa golongan darahnya malah sama dengan aku?"


Deg. (Adam tersadar ada yang mengganjal.)


Tunggu! bagaimana bisa golongan darahnya sama dengan aku?


Dia?? apakah dia anakku dan Dinda? tidak, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus mencari tahu kebenarannya.


Adam tidak sabar ingin segera menanyakan hal itu kepada Dinda.


----------------


Adam kembali dari ruangan donor darah. Sementara Dinda menyiapkan hati untuk mendapat tekanan dari Adam. Ia yakin Adam akan bertanya padanya.


"Din, kamu harus menjelaskannya padaku!" ucap Adam datar, hatinya masih gelisah menantikan sebuah kebenaran seperti yang Ia harapkan.


Dinda masih terdiam.

__ADS_1


"Sudah saatnya kamu memberi tahu Nak Adam, Din!" ucap Ibu.


"Tapi Bu..." Dinda masih ragu, ia takut Adam akan mengambil Sean darinya, karena dulu Adam sangat mengharapkan buah hati.


"Dia berhak tau, Din!"


"Baiklah, Bu." ucap Dinda pasrah.


"Ayolah, Din, tolong jelaskan padaku!" Adam semakin penasaran.


Dave yang ada di sana pun menyiapkan hati nya, ia harus rela jika setelah ini mungkin Dinda akan kembali bersama Adam.


"Benar, Mas.. Memang seperti yang Mas pikirkan." Seolah Dinda bisa membaca pikiran Adam.


"Tolong katakan dengan jelas, Din!" air mata Adam mulai mengalir.


"SEAN ANAK KANDUNG MAS ADAM." ucap Dinda datar.


"Apa?? a...apa aku tidak salah dengar, Din?" Air mata Adam mengalir semakin deras.


Dinda hanya mengangguk.


"Terima kasih Tuhan, engkau telah memberi anugrah terindah untukku." Adam langsung memeluk Dinda, ia tak bisa berkata-kata lagi.


Mereka berdua hanya menangis antara bahagia dan pilu mengingat kenyataan bahwa mereka sudah terpisah.


Ibu yang melihat mereka pun ikut menangis.


"Huuhuuhuuu, kamu tega memisahkan aku dengan anakku. Hatiku sangat hancur, Din. Ketika aku bangun kamu sudah tidak ada, sementara aku tidak merasa pernah melakukan kesalahan apapun. Rasanya lebih baik aku mati ketika mengetahui wanita yang sangat aku cintai meninggalkanku." ucap Adam menangis dengan memeluk Dinda.


"Dan kini setelah hampir 4 tahun kamu meninggalkanku, aku baru tau kalau aku memiliki anak darimu, Din. Pantas saja selama ini hatiku selalu gelisah, seperti ada yang mengganjal, tapi aku tidak tau itu apa?" lanjut Adam.


"Jika sampai terjadi apa-apa pada anakku, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Aku telah gagal menjadi suami dan ayah bagi kalian." Adam terus meruntuki nasib nya. Hatinya bergemuruh, Sangat sakit untuk menerima kenyataan pahit yang Ia alami.


"Maaf kan aku, Mas. Aku tidak bermaksud melakukan semua ini. Aku..." Dinda menyesal.


"Sudah jangan dilanjutkan, kamu tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Jika ada yang harus disalahkan, Aku lah orangnya." jawab Adam.


"Aku tidak bisa menjaga kalian dengan baik, sehingga hal buruk seperti ini menimpa keluarga Kita." begitu besar nya cinta Adam terhadap Dinda. Hingga Ia tak mau menyalahkan Dinda.


"Mulai saat ini aku berjanji akan menjaga kalian. Kita harus kembali bersama demi anak kita sayang." lanjut Adam.


"Maaf Mas, aku tidak bisa." Dinda melepas pelukan Adam.


-----------------------------------------------------------------


Hai Readers, terima kasih ya sudah bersedia mampir. Terima kasih juga atas dukungan sahabat semua yang setia menanti.😘


Jangan lupa Like, komen, dan vote nya, biar Author makin semangat. 🥰


See u di next episode 😉

__ADS_1


Note: Mohon maaf jika banyak kesalahan penulisan, author masih perlu banyak belajar.


__ADS_2