Kembalilah Istriku

Kembalilah Istriku
Bab 26 - Mengulang Kembali


__ADS_3

"Apa Kamu tidak merindukan Ku Din? Apa Kamu lupa saat kita bersama? Aku sangat merindukan Mu Din hingga Aku demam seperti ini. Kamu tau kan hanya ada satu cara yang ampuh untuk menurunkan demam Ku?" Memeluk Dinda erat dan menatapnya dalam.


Dinda terdiam mendengar perkataan Adam, Ia pun kembali mengingat kenangan mereka bersama. Dinda terpaku, Ia terhanyut dalam kenangan manis bersama Adam dulu. Tak dapat di pungkiri Ia pun merindukan mantan suaminya itu.


Adam tidak ingin melewatkan kesempatan emas yang ada di depan matanya. Ia segera menaklukan Dinda.


Dalam sekejap Adam berhasil merubah posisi, kini Ia sudah berada di atas Dinda. Ia mengunci pergerakan Dinda.


Adam ******* bibir Dinda, Dinda berusaha lepas, namun Adam seperti orang kesetanan, tenaganya sangat kuat, padahal Ia sedang sakit.


"Mass..." Suara Dinda yang merdu semakin membangkitkan semangat Adam.


"Aku sangat merindukan Mu sayang." Jawab Adam.


Tanpa menghentikan 'kegiatannya' Adam menanggalkan pakaian mereka satu per satu dan melemparnya ke sembarang arah.


Dinda yang sudah berhasil 'dikendalikan' oleh Adam pun mulai kehilangan akal nya. Saat ini Ia hanya ingin mengulang kenangan indah itu.


Kemudian pergulatan panjang pun terjadi. Mereka berdua melepas rindu yang sekian lama terpendam hingga mencapai puncak bersama.


"Terima kasih Sayang, Kamu telah mengobati Ku." Ucap Adam setelah seraya memeluk Dinda yang membelakanginya.


Benar saja, setelah selesai 'diobati' Dinda, demam Adam pun mulai turun.


"Ini tidak benar Mas." Ucap Dinda lirih.


"Aku tau Sayang, dalam hati mu sebenarnya masih ada Aku."


"Cukup Mas, jangan dilanjutkan!" Dinda beranjak dari tempat tidur, dan memungut pakaiannya yang terserak di lantai, lalu mengenakannya di kamar mandi.


"Demam Mu sudah turun. Aku pamit!" Dinda keluar dari kamar mandi kemudian pamit.


"Din... kembalilah bersama Ku!" Adam yang hanya mengenakan handuk di pinggang memeluk Dinda dari belakang.


"Maaf Mas, Aku harus pergi." Dinda pun pergi meninggalkan Adam.


"Aaarrrggghhh." Teriak Adam kesal karena tidak berhasil mengajak Dinda kembali bersamanya.


"Aku yakin Kamu masih mencintai Ku Din. Jika tidak, mana mungkin tadi Kita melakukannya." Adam tersenyum mengingat kejadian tadi. Ia seperti tidak waras, emosinya sangat tidak stabil.


"Ya Tuhan apa yang telah Aku lakukan?" Ucap Dinda di dalam mobil, Ia menyesal telah dikendalikan oleh hawa nafsunya sendiri.


Tak lama kemudian Dinda tiba di rumah.

__ADS_1


"Mommy, katanya tadi mau jemput Aku? Kok malah Uncle Di yang jemput?" Sean protes karena Dinda tidak jadi menjemput nya.


Mereka masuk ke dalam rumah.


"Kamu dari mana Din? Kok Aku hubungi dari tadi tidak di jawab?" Tanya Dave, ternyata Dave ada di rumah Dinda. Ia sempat khawatir karena Dinda tidak dapat dihubungi dan tidak ada yang tau keberadaannya.


"Oohh ponsel ku di silent Dave, Aku tadi ada urusan sebentar." Dinda berusaha menutupinya.


"Kamu kok pucat Din?" Tanya Dave.


"Gak apa-apa Dave Aku cuma kelelahan. Aku mau mandi dulu ya Dave, badan Ku lengket keringat." Iyalah lengket, abis enak-enak.


"Oke Din, kalau gitu Aku pulang ya, biar Kamu bisa istirahat." Dave pamit.


"Iya Dave, terima kasih ya.." Jawab Dinda.


"Cantik, sampai ketemu lagi yaa. Jangan nakal, kasian Mommy nya lagi capek."


"Okay Daddy, be cawefull (carefull) yaa."


"Thanks Sea."


Dave pun pergi dari rumah Dinda. Dinda bergegas masuk ke kamar untuk mandi.


"Aku seperti wanita murahan! Kenapa Aku jadi lupa diri seperti itu? Apa yang akan dipikirkan oleh Adam? Bagaimana jika Dia tau bahwa Aku masih mencintainya?" Dinda berperang dengan dirinya sendiri.


Di tempat lain Adam sedang duduk di sofa dekat jendela, Ia memandang keluar sambil mengingat kejadian tadi.


"Bagaimana Aku bisa melupakan Mu Din? Bahkan hingga tadi pun 'Rasa' nya masih sama. Kamu telah menghipnotis Ku Din, hingga Aku tak mampu berpaling pada wanita lain." Adam menyunggingkan senyum nya sembari menyeruput secangkir kopi.


Flashback On#


3 jam yang lalu di apartemen Adam.


Dinda'


Berada di apartemen hanya berdua dengan Mas Adam, membuat Ku mengingat kenangan dulu ketika Kami bersama. Aku tidak boleh lama-lama di sini, atau Aku akan kehilangan akal.


Iya aku tau, hanya 'sentuhan' Ku yang dapat menurunkan demamnya, tapi dengan kondisi Kami saat ini, tidak mungkin Kami melakukannya.


Ketika Mas Adam menarik tangan Ku, Aku terjatuh tepat di atas nya. jantung Ku berdegup sangat cepat, Aku yakin Dia pasti dapat merasakannya. Bagaimana ini?


Mas Adam tidak dapat mengendalikan dirinya. Aku harus menyadarkan Dia, ini tidak boleh terjadi. Tapi kenapa Aku malah merindukan sentuhan ini?

__ADS_1


"Sadar Din, jangan sampai lupa diri ini tidak benar, Kamu tidak boleh melakukannya." Gumam Ku dalam hati.


Tapi kata-kata Mas Adam malah membuat Ku terhanyut. Aku jadi lupa diri, dengan alibi demi menurunkan demam nya maka Aku pun pasrah.


Adam'


Ini kesempatan baik yang tidak boleh Aku lewatkan. Sesuatu yang sudah Aku nantikan sejak lama sudah ada di depan mata Ku. Aku akan menyesal jika melewati kesempatan ini.


Aku berusaha menarik Dinda hingga jatuh di pelukan Ku. Dia sempat berusaha kabur, namun Aku seperti mendapatkan suplai energi, sehingga Aku mampu menahannya, padahal Aku sedang demam.


Tak butuh waktu lama, Kini Aku berhasil menguncinya di bawah kendali Ku. Aku tak ingin mendengar penolakannya, maka Aku pun mengunci mulutnya dengan bibir Ku. Walaupun sempat berontak, lama-lama Dia pun mulai menerimanya. Dia tak menolak ketika Aku mulai melepaskan pakaiannya. hingga Aku dapat melihat tubuh yang ku rindukan selama ini. Dan kami pun melepas rindu dalam pergulatan panas.


Flashback Off#


"Kamu hanya milik Ku Din. Tidak ada pria lain yang pantas untuk Mu." Sombongnya Adam.


Tuut... tuut... Suara sambungan telepon.


"Ya Pak?" Aldo menjawab di sebrang telepon.


"Do, Tolong ambilkan surat cerai Aku dengan Dinda di rumah orang tua Ku, Aku akan menuntut pria itu!"


"Apa Bapak sudah yakin akan menuntutnya?"


"Tentu saja. sekarang juga Kamu ambil, lalu Kamu diskusikan dengan pengacara Kita." Ucap Adam yakin.


"Baik Pak."


1 jam kemudian.


kring.... kring...


"Ya." Adam menjawab telepon Mamahnya dengan malas.


"Apa yang akan kamu lakukan Sayang, kenapa Kamu mengambil surat cerai itu?"


"Aku akan menuntut pria yang merebut Dinda Mah."


"Sayang, tolong dipikirkan lagi. Apa kamu yakin?"


"Aku sudah memikirkannya Mah, Aku sangat yakin."


"Kamu belum tentu bisa menuntutnya, surat cerai itu sudah sah secara hukum Sayang. Kalaupun Kamu berhasil menuntutnya, apa Kamu tega melihat Dinda ikut terseret?"

__ADS_1


__ADS_2