Kembalilah Istriku

Kembalilah Istriku
Bab 10 - Nostalgia


__ADS_3

"Selamat Datang... silahkan masuk, apakah sudah reservasi?" ucap pelayan restoran.


"belum, saya minta ruang private no smoking."


Dave ingat Dinda benci asap roko, jadi ia meminta ruang khusus agar lebih nyaman.


"Mari silahkan.."


pelayan menunjukan ruangan sesuai dengan permintaan Dave.


"mau langsung pesan atau mau lihat-lihat dulu?" memberikan buku menu


"langsung pesan saja. kamu mau makan apa Din?"


"Aku gak tau makanan disini, jadi aku mau yang kamu rekomendasikan aja, aku percaya selera kamu oke."


"Baiklah... saya pesan ini, ini, ini, ini, dan ini."


"Baik mohon ditunggu, pesanan akan siap 15 menit lagi."


pelayan pun keluar ruangan.


"Din, kamu pindah kemana? aku sempat cari kamu tapi kamu tidak ada."


"waktu itu ayah aku pindah tugas Dave, kami pindah ke Yogya."


"orang tua mu apa kabar?"


"2 tahun setelah pindah ke Yogya, ayah aku meninggal karena serangan Jantung Dave."


"maaf Din aku tidak tahu. aku turut berduka ya Din"


"gak apa Dave, lagi pula itu sudah lama, Ayah ku pasti sudah tenang disana."


"kalau kamu gimana Dave?"


"aku yaa begini aja Din, sibuk kerja, apalagi setelah Papa aku meninggal semua perusahaan dibebankan ke aku."


"kapan Papa mu meninggal Dave?"


"satu tahun setelah aku ke Kalimantan Din."


"aku turut berduka Dave, pasti berat banget ya kamu harus menghandle semua sendiri?"


"Begitulah Din, aku anak tunggal, mau tidak mau aku harus menjalani semua ini."


"Semangat ya Dave.."


"Pasti.." mengedipkan mata


"permisi, ini pesanannya.." menaruh menu pesanan di meja.


"pesanannya sudah lengkap ya pak, jika ada yang kurang silahkan panggil kami lagi."


"baik terima kasih."


"selamat menikmati.."


Dave dan Dinda menikmati makan siangnya sambil sesekali berbincang.


"gimana Din, kamu suka ga?"


"sudah aku bilang Dave, aku percaya selera kamu. makanannya enak."


"Iya memang selera ku bagus, bukan hanya tentang makanan." jawab Dave sambil menyindir Dinda tentang perasaannya.


"apa Dave.?"


"engga, itu kamu makan yang banyak ya, biar makin cubby."


"ihh emang aku bayi harus cubby?"


"Kamu udah punya pacar Din?"


"Belum, tapi...."


kring... kring...

__ADS_1


ponsel Dave berdering memutus ucapan Dinda.


"ya.."


,,,,,,,,,,,,,,, (menjawab)


"kamu handel dulu, saya masih sibuk."


tak menunggu jawaban, Dave langsung memutus sambungan telepon nya.


"Kamu Sibuk Dave?"


"gak ko, cuma hal kecil.. tadi kita sampai mana ya?"


"aku juga lupa." jawab Dinda tersenyum.


Selesai makan, Dave mengajak Dinda ke Pantai untuk melanjutkan obrolannya sambil berjalan.


"oh iya Din, tadi di kantor Kamu bilang harus menghindari seseorang, siapa?" bertanya lalu minum air mineral botol.


"Mantan suami ku Dave."


Dave yang sedang minum pun seketika tersedak dan batuk.


"uhuk..uhuk..uhuk.."


"kamu kenapa Dave?" menepuk-nepuk pundak Dave


"gak apa Din, tadi cuma ada serangga yang lewat."


"makanya kalau minum pelan-pelan Dave."


Kamu gak tau Din, yang bikin aku tersedak itu kamu. aku gak nyangka kamu sudah pernah nikah. gumam Dave dalam hati.


"Kamu kenapa menghindari mantan suami mu Din?"


"ceritanya panjang Dave, apa kamu yakin mau dengar cerita aku?"


"pasti, aku akan jadi pendengar setia."


"dihh emangnya radio?"


"Berengsek juga ya mantan suami kamu."


"aku sebenarnya gak yakin Dave kalau dia bisa melakukan itu. tapi bukti yang aku lihat sangat meyakinkan. menurut kamu apa aku salah mengambil keputusan seperti ini?"


"tidak Din, keputusanmu sangat tepat."


jadi aku masih punya harapan ke kamu Din. gumam Dave dalam hati.


"Udah sore Dave, aku pulang dulu yah, kasihan Dimas sendiri di Apartement."


"aku antar ya Din."


"gak usah Dave aku bisa sendiri, apartementnya deket kok."


"Kamu kapan bisa mulai kerja Din?"


"Aku sih besok juga bisa."


"serius Din?"


"iya, lagi pula aku tidak ada kegiatan lain."


"oke, sampai ketemu di kantor ya Din."


15 menit kemudian Dinda tiba di Apartement.


"kok baru pulang kak, langsung kerja?" tanya Dimas.


"engga Dim, kebetulan Boss di kantor itu teman kuliah kakak dulu."


"oalah, pantesan sampe lupa waktu."


Dimas tidak tahu jika Boss yang di maksud Dinda adalah seorang pria.


"kamu udah makan Dim? maaf ya kakak tadi gak sempet sediain makan buat kamu.

__ADS_1


"udah kak, aku kan bukan anak kecil, bisa cari makan sendiri."


"ya udah kakak mau mandi dulu."


-------------------


Keesokan harinya pukul 09.00 di kantor.


Dave sudah menyiapkan ruang kerja untuk Dinda, posisinya tepat disebelah ruangannya, hanya berbatas dinding kaca.


"Selamat Datang Dinda, semoga kamu betah di kantor baru kamu ini ya Din, kalau ada yang kurang nyaman kamu jangan sungkan bilang ke aku ya."


menarik kursi untuk Dinda duduki.


"ya ampun Dave, ini ruangannya terlalu bagus buat aku.. apa karena aku teman kamu, jadi kamu menyiapkan ruangan sebagus ini untuk aku?"


Dinda duduk di kursi yang sudah disiapkan Dave, kursi yang nyaman untuk digunakan bekerja.


"engga kok Din, kamu memang pantas mendapatkan inu."


iya kamu pantas, karena aku harap kamu bukan hanya sekedar teman ku.


"aku tinggal ya, kamu silahkan beradaptasi aja dulu, nanti kalau ada yang ingin kamu tanyakan langsung hubungi aku yah."


"Siap pak Boss."


Dave segera masuk keruanganya, karena kemarin ia meninggalkan kantor seharian, maka hari ini Dave cukup sibuk.


Dinda menjabat sebagai Data analyst external, tugasnya khusus menganalisa proposal kontrak dengan perusahaan lain. jika Dave ada pertemuan dengan klien, maka dia harus mendampingi Dave sebagai konsultan bisnis nya.


2 minggu kemudian di Jakarta.


di rumah sakit, Adam yang sudah hampir dua bulan terbaring tak sadarkan diri (koma) mulai menggerakan tangannya.


Mama nya yang melihat langsung histeris antusias.


"Pah, tangan Adam bergerak Pah."


Papah Adam langsung beranjak dan menekan tombol untuk memanggil tim medis.


tak lama kemudian Adam membuka matanya.


orang tua adam tak kuasa menahan tangis haru, mereka sangat bersyukur Anak satu2 nya bisa sadar dari tidur panjangnya.


sementara Erika yang berada di samping Adam langsung memeluk Adam.


hal pertama yang Adam cari ketika membuka mata ialah istrinya.


"Dinda mana Mah?"


Erika yang sedang memeluk Adam mendadak kaku dan perlahan melepaskan pelukannya mundur.


"kamu tenang dulu ya sayang, sekarang kamu jangan mikir apa-apa dlulu."


"gimana aku bisa tenang mah kalau aku tidak melihat Dinda." jawab Adam gelisah, ia sama sekali tidak memperdulikan Erika.


Dokter pun datang dan memeriksa tubuh Adam.


"sejauh ini kondisi Pak Adam sudah pulih, tapi kami harus melakukan general check up, agar bisa memeriksanya secara menyeluruh, sehingga kami dapat memastikan kondisi Pak Adam dengan optimal."


"lakukan apapun yang terbaik dok, yang penting anak saya bisa pulih kembali."


"baiklah, kami akan menyiapkan proses nya, silahkan ibu mengurus prosedurnya di bagian administrasi."


"biar aku aja tante yang urus." jawab Erika.


Erika berusaha menghindari Adam, karena ia yang telah menyebabkan Dinda pergi.


"Mah.. Pah.. tolong panggil Dinda kesini, aku sangat Rindu Mah."


orang tua Dave bingung harus menjawab apa.


------------------------------------------------------------------


Terima kasih sudah bersedia mampir,


mohon maaf jika masih banyak kekurangan.

__ADS_1


jangan lupa dukungan Like, Komen dan Tips nya ya, Biar makin semangat nulisnya. 😉


__ADS_2