
"Mommy.... Daddy....." Sean berlari ke arah Dinda yang baru saja pulang di antar Dave.
"Hai Lil Girl. How are u?" Sapa Dave pada Sean.
"I'm Vewi (very) good Daddy. Daddy kemana saja, kenapa jawang (jarang) main ke sini?" Sean mengeluh pada Dave yang jarang berkunjung.
"Daddy sibuk Sayang, tapi sekarang Daddy sempatkan waktu untuk bertemu dengan Sea. Because i miss u."
"Kangen nya sedikit atau banyak?" sambil mengangkat tangannya membentuk lingkaran.
"Banyak dong. Sini Daddy peluk." Memeluk Sean yang sedari tadi berdiri didepannya, lalu mereka duduk di sofa.
Awalnya Dinda tak mengizinkan Sean memanggil Dave dengan sebutan Daddy, namun karena Sean serta Dave memaksa dan Dia tidak tega, maka Dinda mengizinkannya, namun tetap di beri pengertian bahwa Dave bukanlah ayahnya.
"Daddy tadi di sekolah aku mewanai (mewarnai), gambaw (Gambar) Aku bagus deh." Antusias bercerita.
"Oya? Apa yang Sea warnai?"
"Aku mewanai Dolphin yang sedang bewenang (berenang) di laut. Dolphin nya lucu sekali."
"Lalu Sea beri warna apa?"
"Aku kasih wana (warna) Gwey (grey), dan laut nya wana Blue. Mom, sepewtinya (sepertinya) Aku jadi ingin melihat dolphin." kode kerass..
"Nanti ya Sayang, jika Mommy sudah tidak sibuk, Mommy akan ajak Sea lihat dolphin di pantai Lovina."
"Asiikkk, Aku mau ke pantai. Daddy ikut yaa?"
"Jika Daddy tidak sibuk Daddy akan ikut Sea."
"Yeeaayyy." Sea sangat bahagia, walaupun belum pasti kapan mereka akan pergi melihat Dolphin.
"Dave, terima kasih ya Kamu selalu berusaha membuat Sea bahagia."
"Tentu Din, Sea kan keponakan Aku, jika Dia bahagia maka Akupun bahagia."
"Uncle Di, Aku mau ke pantai Lho.."
"Oya? Kapan?"
"Nanti jika Mommy tidak sibuk."
"Uncle di ajak gak?"
"Mom, Bolehkah uncle ikut?" Tanya Sea pada Dinda.
"Boleh dong, nanti kita aja Grandma juga."
"Horeee Aku jadi tidak sabar."
"Mom, pewengkapan (perlengkapan) pasiw (pasir) Ku di mana yah? Aku ingin membawanya." Dasar bociyah, dibilang berangkatnya nanti Dia malah sibuk dari sekarang. Pastinya itu berlanjut sampai mereka benar2 pergi.
"Ada di gudang Sea, kan perginya juga masih lama."
"Tapi Aku mau siapin sekawang (sekarang) takut nanti ketinggalan."
"Duhh Salah ngomong deh Aku, jadi repot gini kan, pasti Sea bakalan nagih terus nih." gumam Dinda dalam hati.
"Anak siapa itu, kalau sudah ada maunya gak pernah sabar." Dave menggoda Dinda.
"Tau deh, Aku juga pusing ngadepin si sotoy."
"Sabar ya Mommy." Ledek Dave.
"Iya Daddy.." Menjebik.
__ADS_1
"Aku pulang dulu yah, udah malem nih."
"Gak makan dulu Dave?"
"Emang Kamu udah masak?
" Belum.. Hehehehe"
"Dasar, Sudah ku duga."
"Basa basi Dave." Menjulurkan lidah.
"Ibu sudah masak kok,ajak Nak Dave makan dulu Din. Ibu yang baru keluar kamar ikut nimbrung.
" Terima kasih Bu, tapi Aku memang harus pulang sekarang, karena ada urusan penting." Jawab Dave ngeles.
"Baiklah kalau begitu, lain kali kita makan bersama ya!" ajak Ibu.
"Siap Bu, dengan senang hati. Dave pamit dulu ya Bu."
"Iya Hati-hati."
"Sea, Daddy pulang dulu yah?" Dave berpamitan pada Sea.
"Yah Daddy kok cuma sebentaw (sebentar) sih, katanya kangen?" Sea kecewa belum sempat bermain dengan Dave.
"Daddy Ada urusan penting Sayang, Daddy juga mau cari uang biar bisa ajak Sea ke pantai."
"Weally (really)?" Rayuan Dave sepertinya berhasil
"Of course dong, kan kita sudah janji."
"Ya sudah kalau gitu Daddy pulang sana! nanti bawa uang yang banyak ya!" Dihh malah ngusir.
"Good bye Daddy, Muach.."
"Good bye Sea."
Setelah Dave pulang, Dinda bergegas mandi.
"Sea, Mommy mandi dulu yah, Kamu jangan nakal."
"Okay Mom."
"Good Girl."
"Dim, Kalian sudah makan?"
"Sudah kak, tadi Ibu masak udang asam manis dan tumis brokoli."
"Okay, Kakak mandi dulu ya."
"Sipp."
"Uncle, kenapa ya Daddy tidak tinggal disini?" tanya Sean polos pada Dimas.
"Mommy kan sudah pernah bilang sama Se, kalau Daddy bukan ayah Sean."
"Ya kan bisa Daddy menikah dengan Mommy, biar bisa tinggal sama Kita." Dimas kaget mendengar kata-kata Sean.
"Memang Sean tau menikah itu apa?" tanya Dimas menyelidik.
"Tau dong. Kata teman Aku, menikah itu tinggal bersama." Udah sotoy, salah pulak.
"Sea.. Tidak semua orang tinggal bersama itu menikah. contohnya Uncle dan Mommy tinggal bersama, tapi kami tidak menikah, karena Kami saudara." Dimas berusaha menjelaskan walaupun sebenarnya sulit.
__ADS_1
"Kalau tidak perlu menikah, kenapa Daddy tidak bisa tinggal di sini?" ngeyel.
"Kan Daddy bukan saudara Mommy Sea......" Mulai kezalll.
"Kalau gitu kenapa Daddy tidak jadi saudara Mommy?" Gubrakkkkk.
"Ya Tuhan beri Aku kesabaran." Gumam Dimas dalam hati.
"Hump.hump.hump." Dimas mengatur nafasnya agar tidak emosi.
"Sea, Kamu itu masih kicik (kecil) belum saat nya membahas hal seperti ini. lebih baik Kamu bermain, kan lebih seru." Dimas berusaha mengalihkan.
"Okay, Aku akan bermain, tapi Uncle jawab pertanyaan Aku 1x lagi yaa!"
"Apaaaa?"
"Jadi kenapa Daddy tidak tinggal di sini?" Ngajak perang.
"Seeeaaaaaannnnnnnn." Dimas Emosi..
Udah di jelasin muter-muter, ujungnya malah balik lagi. Dasar Bocil.
Sementara Sea hanya memandang Dimas dengan puppy eye, sehingga Dimas yang emosi malah jadi gemash.
"Sini Uncle kiss kamu yaa!" Dimas segera menangkap Sean.
"No.No.No Aku tidak mau, Uncle Di bau...!" Sean berlari ke kamar sebelum Dimas berhasil menangkapnya.
---------------
Di Sebuah restoran...
Sean sedang ikut Dinda mengecek resto miliknya. Resto dengan nuansa alami, berada di tepi danau dan memiliki halaman yang cukup luas.
Saat Dinda sedang sibuk, Sea asyik sendiri dengan bola nya, hinga bola yang Ia mainkan bergulir menjauh dan berhenti tepat di kaki seorang pria.
"Hi Uncle, thats my ball." Menunjuk bola yang di pegang pria tadi.
pria yang gemas melihat Sea pun mengajaknya berbincang.
"Oya? Whats your name Girl?"
"Aku Sean Uncle, u can call me Sea (red: Si)."
"Nama yang cantik."
"Sea umurnya berapa?"
"I'm 3rd years old."
Dinda yang sedari tadi asyik bekerja, baru sadar jika Sea tidak ada di ruangannya. Ia pun keluar mencarinya.
"Sea, Kamu sedang apa di sana? Kenapa Kamu pergi dari ruangan Mommy?"
Dinda yang muncul dari belakang pria itu mengagetkan mereka.
"Maaf Mommy, Aku hanya mengambil bola Ku, dan paman ini yang membantu Ku."
"Sepertinya Aku kenal suara itu?" Gumam sang pria.
"Terima ka...." Suara Dinda tercekat ketika melihat pria itu berbalik ke arahnya.
"Dinda????" Pria itu sangat terkejut melihat seseorang yang selama ini Ia cari ada di hadapannya.
Ternyata pria yang berbincang dengan Sean tadi adalah Adam.
__ADS_1