Kembalilah Istriku

Kembalilah Istriku
Bab 18 - Emergency


__ADS_3

Setelah 3 orang tadi masuk ke ruangan Dave, Dave memanggil Dinda lewat telepon.


tuut....


"Din, tolong ke ruangan saya sebentar!"


Tak lama kemudian..


Tok..tok..tok..


"Masuk..."


3 orang tadi mulai panik. Mereka menyadari kesalahan mereka.


"Ada apa Dave?" Tanya Dinda pada Dave yang sedang berdiri menyandarkan tubuhnya di ujung meja kerja nya menghadap ke 3 'terdakwa', tangannya di silangkan di atas dada.


"Saya harap kalian tau apa yang harus kalian lakukan!" Perintah Dave pada 3 orang itu.


Mereka yang sadar akan kesalahannya pun langsung meminta maaf pada Dinda.


"Bu Dinda kami mohon maaf karena telah lancang memfitnah Ibu."


"Sudahlah Dave, masalah seperti ini tidak usah diperpanjang." Dinda malah berbicara pada Dave, karena menurutnya ini hal sepele.


"Tidak bisa Din, Aku tidak mau harga diri kamu di injak oleh mereka. Bahkan mereka berani bawa nama Aku." ucap Dave Emosi sambil menunjuk mereka.


"Perlu kalian ketahui, Dinda mengandung anak dari suaminya. Dan hubungan Saya dengan Dinda hanya sebatas teman dan rekan kerja." Ucap Dave tegas.


Sebenarnya berat bagi Dave mengatakan hal itu, Ia tidak rela jika hubungannya dengan Dinda hanya sebatas teman dan rekan kerja.


"Saya menempatkan Dinda di posisi sekarang karena Dia memang mampu, dan kualifikasinya memenuhi persyaratan Saya. Jadi jangan kalian pikir Dinda bisa mendapatkan posisi ini hanya karena Dia teman Saya." Lanjut Dave emosi.


"Maaf Pak Kami bersalah, Kami tidak tahu."


"Makanya kalau tidak tahu lebih baik kalian Diam!"


"Sudah Dave Aku tidak apa-apa, lebih baik kalian keluar sekarang, lanjutkan pekerjaan kalian."


"Tapi Bu tolong maafkan Kami."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, silahkan kalian keluar." Ucap Dinda.


"Terima kasih Bu." Mereka pun pamit.


"Jika Saya mendengar ada hal seperti itu lagi, Saya akan melaporkan siapapun itu pada polisi dan memecatnya!" Ucap Dave mengejutkan mereka ketika hendak melangkah keluar.


"Baik Pak Kami tidak akan melakukannya lagi. Kami permisi."


Mereka pun pergi. Tinggallah Dinda dan Dave berdua di ruangan itu.


"Ya ampun Dave, Kamu tu kaya gak ada kerjaan aja, hal kayak gini kamu perpanjang?" tanya Dinda menggelengkan kepalanya.


"Kamu gimana si Din? Aku kan lagi belain Kamu."


"Aku gak apa-apa Dave, hal seperti itu biasa. Kita tidak bisa mengontrol pembicaraan orang, jika kita sibuk mengurusi hal seperti itu waktu kita akan terbuang percuma Dave. Tidak mungkin kan Kita menjelaskan ke semua orang yang menggunjing kita satu persatu? itu hanya akan menguras emosi."


"Kamu sih Din.."


"Lhoo kok Aku?"


"Iyalah, Coba Kamu mau nikah sama Aku, hal seperti ini tidak akan terjadi Din."

__ADS_1


"Siapa yang bisa jamin?? Diluar sana pasti akan selalu ada orang yang tidak menyukai Kita Dave. Apapun yang Kita lakukan selalu di anggap salah."


"Terserah lah Din." Jawab Dave kecewa.


---------------


Kini kandungan Dinda sudah memasuki usia 9 bulan. Tinggal menghitung hari bagi Dinda untuk melahirkan. Ibu dan Dimas sudah lama pindah ke Kalimantan menemani Dinda.


Kebetulan kampus tempat Dimas kuliah memiliki cabang di Kalimantan, jadi Ia tidak perlu repot untuk mengurus kepindahannya.


"Din, Kamu belum cuti?" tanya Ibu.


"Nanti saja Bu jika Aku sudah melahirkan, jadi waktu Ku akan lebih banyak untuk merawat baby. Sekarang Aku masih kuat kok Bu."


"Tapi Kamu harus hati-hati ya, jangan sampai Kelelahan."


"Iya bu, tenang saja.."


Semenjak hamil 8 bulan, Dave sudah tidak mengajak Dinda untuk pergi ke luar kantor lagi. Ia khawatir jika terlalu sering keluar, Dinda akan kelelahan.


Di kantor..


Dinda yang sedang membuat susu di pantry merasakan perutnya sakit..


"Awww..."


"Bu Dinda kenapa?" Ucap seorang OB yang kebetulan lewat.


"Aawww perut Ku sakit.. Aduuhh.."


"Jangan-jangan Ibu mau melahirkan??"


OB itu panik, Ia bergegas ke ruangan Andri.


"Ada apa dengan Bu Dinda?"


"Bu Dinda mau melahirkan."


Andri yang terkejut segera lari ke ruangan Dave.


"Pak.. Mbak Dinda mau melahirkan."


"Apa???? Sekarang Dia dimana?"


"Ada di pantry Pak."


Secepat kilat Dave berlari ke pantry. Ia kaget ketika melihat Dinda terduduk di lantai dengan genangan air ketuban.


"Ya Tuhan Din... Apa ini?" tanya Dave.


"Sepertinya air ketubannya sudah pecah Pak." jawab salah seorang karyawan wanita yang melihat kondisi Dinda.


Beruntung Andri cepat tanggap, tadi Dia langsung memanggil Ambulance."


Tak lama kemudian team medis yang membawa ambulance tiba di kantor, mereka segera membawa tandu ke lantai atas tempat Dinda berada.


"Dri tolong kamu hubungi Bu Mirna."


"Baik Pak." andri langsung menghubungi Bu Mirna, memintanya segera ke Rumah Sakit.


Sementara Dave ikut masuk ke ambulance mendampingi Dinda.

__ADS_1


"Din Kamu yang kuat ya, Aku yakin Kamu pasti bisa."


"Sakiittt Dave... huu huu huu." Keluh Dinda menangis.


"Sabar ya Din, sebentar lagi kita sampai."


Dinda mencengkram tangan Dave.


Tak lama kemudian mereka tiba di Rumah Sakit.


team medis segera membawanya ke ruang persalinan.


Dave menunggu di luar ruangan dengan cemas.


"Dave.. Dimana Dinda?" tanya Bu Mirna yang baru saja datang bersama Dimas.


"Dinda sedang ditangani di dalam bu."


Mereka semua harap-harap cemas.


Di dalam ruangan bersalin.


"Atur nafas ya Bu!" ucap dokter.


"huuhh huuhh huuuhh." Dinda mengatur nafas.


"Saya hitung sampai tiga, setiap hitungan Ibu tarik nafas dalam dan hembuskan, jika sudah hitungan ketiga Ibu langsung dorong ya!"


"Satu... Dua... Tiga.. Ya dorong sekarang Bu!"


"Eeeeeeeeeeeeeu.. huuh huuh huuh." Teriak Dinda dengan nafas tersenggal."


"Ayo Bu dorong sedikit lagi, kepalanya sudah terlihat."


"Aadaaaaammm B*j*ngaaaannn.. Aaaadaaaaammmmmm." teriaknya sambil mengejan.


Tepat setelah dorongan terakhir, Bayi cantik berhasil lahir ke dunia.


"Wah.. Cantik sekali bayi nya.." ucap dokter


perawat memberikan Bayi pada Dinda untuk melihatnya.


"Selamat ya Bu, bayinya perempuan, sehat dan sempurna."


Dinda pun terharu dan mengecup bayinya.


Perawat membawa bayi ke tempat lain untuk di bersihkan, sementara dokter 'merapihkan' dinda.


Setelah selesai, dokter keluar ruangan bersalin, sementara perawat yang lain bersiap untuk memindahkan Dinda ke ruang perawatan.


"Selamat ya Pak, Bu.. Bayinya sudah lahir dengan selamat. Bayi perempuan dengan berat 3,2kg dan panjang 50cm."


"Sementara Bu Dinda akan melakukan IMD (Inisiasi menyusui Dini) dulu, setelah itu baru di pindahkan ke ruang perawatan." ucap dokter panjang.


Mereka semua bersyukur dan sangat bahagia..


"Selamat ya Bu, Ibu sudah menjadi Oma sekarang." Ucap Dave pada Bu Mirna.


"Terima kasih Dave." Jawab Bu Mirna terharu.


------------

__ADS_1


"Kenapa dari tadi hati Ku gelisah? Seperti ada sesuatu yang mengganjal." Ucap Adam ketika merasakan hatinya gelisah...


__ADS_2