
Mereka sudah kembali ke aktifitas nya masing-masing. Tak terkecuali Adam yang sudah kembali ke Jakarta.
"Sea jangan nakal yah, nanti Mommy yang jemput." Ucap Dinda ketika mengantarkan Sea ke sekolah.
"Okay Mom, Aku masuk dulu ya. Muach.." Mencium pipi Dinda.
"Muach.. Good bye Sayang."
"Good bye Mommy."
Dinda pun melajukan mobilnya kembali ke rumah. Hari ini Ia tak memiliki jadwal, sehingga Ia memilih untuk bersantai di rumah.
Dimas dan Eva sedang sibuk mengerjakan laporan di resto.
"Sstt..." Dimas memanggil Eva. Ketika Eva melirik, Ia mengedipkan sebelah matanya.
"Iiihh, genit."
"Tapi suka kaaann?"
"Kalau tau Kamu genit, Aku gak akan suka sama Kamu."
"Yang beneeerr?" Bangkit dari kursinya menghampiri Eva.
"Bener, Aku gak mau punya pacar genit, nanti semua wanita Kamu genitin lagi." Memutar kursi ke arah Dimas yang sedang membungkuk ke arahnya.
"Aku kan genitnya cuma sama Kamu." Gombal Dimas lalu Ia hendak mendaratkan bibirnya di kening Eva.
"Cklek.." Suara pintu terbuka.
Mereka pun salah tingkah, Eva pura-pura mengambil berkas dan bertanya pada Dimas.
"Jadi ini sudah betul belum?" Eva berakting.
"Iya betul, harusnya memang seperti itu." Dimas pun membalas akting Eva.
Maaf Mbak, Ini ada invoice yang harus segera di tanda tangani. Ucap seseorang yang mengetuk pintu tadi.
"Ohh iya, terima kasih." mengambil invoice lalu menandatanganinya.
"Kok Gue malah bilang terima kasih sih? Bodohnyaaa!" ucap Eva dalam hati.
"Baik Mbak, terima kasih, Saya permisi."
Dimas tersenyum melihat Eva yang salah tingkah.
Setelah orang itu menghilang di balik pintu, merekapun menertawakan kejadian tadi.
"Hahahaha, Kamu sih main nyosor aja, udah tau ini di kantor juga!" Ucap Eva kesal tapi senang.
"Abis aku kan kangen Yang." Mendekat ke Eva lagi.
"Kan Kita tiap hari juga ketemu?"
"Ya namanya kangen kan gak kenal waktu."
"Kamu ngapain kesini lagi? Nanti ada yang lihat gimana?"
"Mau lanjutin yang tadi. Nanti Aku penasaran kalau gak di lanjutin."
"Muach.." Belum sempat Eva menjawab, Dimas sudah mendaratkan kecupan di keningnya.
__ADS_1
"Kamu... Nan...." Ucapannya terhenti oleh Dimas yang seketika ******* bibir manis nya. Eva pun tak menolak.
"Cklek" Suara pintu terbuka kembali.
"Eheemm." Dinda berdehem.
Mereka yang sedang terhanyut pun panik.
"Eh, Kakak kok kesini?" Tanya Dimas.
"Emang kenapa? Gak boleh? Keganggu ya?" Jawab Dinda melipat kedua tangannya di dada.
"Bukan gitu Kak, tadi katanya mau santai di rumah?"
"Jadi ini kerjaan kalian setiap hari?" Dinda meledek sambil menggelengkan kepalanya.
Eva hanya terdiam. Dia sangat malu.
"Enggak lah Kak, ini baru pertama." Dimas beralibi.
"Dihh pake bilang yang pertama lagi, malu-maluin aja." Gumam Eva dalam hati.
"Emang sejak kapan kalian pacaran?" Selidik Dinda.
"Sejak di Pulau Derawan."
"Wah.wah.wah. Jadi Aku kesana hanya untuk membuat kalian jadi seperri ini?"
"Hehehe, Kan bagus Kak jadi bermanfaat."
"Iya, Asal jangn ganggu kerjaan aja!" Sindir Dinda.
"Iya.. Iya.. Penyegaran sedikit gak apa-apa dong."
Mereka bekerja di satu ruangan, ruangan Dinda terpisah oleh sekat jadi Ia memiliki ruangan sendiri di dalam ruangan besar tersebut.
Sementara meja Dimas dan meja Eva berdekatan. Dimas menjabat sebagai General Manager, sementara Eva sebagai Manager keuangan.
"Tuh kan, Kamu sih main serang aja." Protes Eva.
"Tapi Kamu suka kan? Buktinya tadi Kamu menikmati?"
"Udah ah jangan di bahas!" Eva sangat malu mengingat kejadian tadi. Namun Ia senang akhirnya bisa merasakan sentuhan bibir Dimas yang lembut.
"Oke, Gak usah di bahas, tapi hidung nya jangan kembang kempis gitu dong!" Ledek Dimas.
"Tau Ah.." Eva melanjutkan pekerjaannya.
Tak lama kemudian, Dinda pamit akan menjemput Sean.
"Dim, Kakak mau jemput Sean ya. Mungkin nanti Kakak gak balik lagi."
"Oke Kak, hati-hati."
Dinda berjalan menuju parkiran. Langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang sangat Ia kenal hampir terjatuh.
"Mas, Kamu kenapa?" Tanya Dinda pada Adam, Dia tak sempat bertanya kenapa Adam ada di sana karena panik melihat wajah Adam yang pucat.
"Gak, apa-apa Din, Aku cuma pusing." Jawab Adam.
"Ya ampun, badan Kamu panas banget Mas?" Dinda terkejut ketika memegang kening Adam yang panas.
__ADS_1
"Ayo masuk ke mobil Ku, biar Aku antar ke Rumah Sakit!" Dinda bergegas membawa Adam masuk ke mobilnya."
Setelah Adam duduk di kursi penumpang, Dinda segera masuk dan duduk di belakang stir.
'Tuut..tuut.." Suara sambungan telepon.
"Dim, tolong jemput Sean ya! Kakak ada keperluan mendesak." Ucap Dinda ketika telepon itu terjawab.
"Iya Kak." Jawab Dimas.
"Oke, terima kasih." Dinda langsung menutup teleponnya, dan melajukan mobil ke arah Rumah Sakit.
"Jangan ke Rumah Sakit Din!"
"Mas harus di periksa oleh dokter, tubuh mas sangat panas."
"Aku hanya butuh istirahat, tolong antar aku ke apartemen Ku saja."
"Oke." Dinda tidak mau berdebat dengan orang sakit. Dia langsung membawa Adam ke alamat yang Adam beri.
'Tilulit' Suara pintu otomatis apartemen Adam terbuka. Dinda membawa Adam ke tempat tidur.
"Mas istirahat dulu ya!" Ucap Dinda, Ia pun pergi ke dapur mengambil perlengkapan untuk mengompres Adam.
Tak lama Ia kembali ke kamar Adam dan mengompres nya.
"Kamu masih ingat Din bagaimana cara menurunkan demam Ku dengan cepat?" Ucap Adam.
"Mas jangan ngaco ya!" Jawab Dinda, Dia tau betul hal apa yang dapat menurunkan demam Adam.
"Lebih baik Mas istirahat dulu, Aku akan membuatkan Mas bubur." Ucap Dinda, walau bagaimana pun Dinda tak tega meninggalkan Adam yang sedang sakit terbaring sendirian di apartemen.
Dinda ke dapur untuk membuat bubur. Sekitar 1 jam, Dinda selesai memasak bubur, dan membawakannya untuk Adam.
"Mas... Bangun.. Makan bubur dulu biar bisa minum obat!"
Adam membuka matanya. Dinda menyuapi Adam bubur beberapa suap.
"Cukup Din, Aku gak nafsu, mulutku pahit."
"Ya sudah, Mas minum obat dulu ya!" Dinda memberikan Adam obat penurun demam.
Adam meminum obat yang diberikan Dinda.
"Mas istirahat lagi yah, Aku akan menunggu di ruang TV, jika demam Mas sudah turun Aku akan pulang." Ucap Dinda seraya beranjak keluar kamar.
Baru saja membalikan badan, langkah Dinda sudah tercekal oleh Adam. Adam menarik tangan Dinda hingga Ia terjatuh tepat di atas tubuh Adam.
"Mas, Lepas!" Dinda berusaha bangkit, namun Adam malah memeluknya makin erat.
"Apa Kamu tidak merindukan Ku Din? Apa Kamu lupa saat kita bersama? Aku sangat merindukan Mu Din hingga Aku demam seperti ini. Kamu tau kan hanya ada satu cara yang ampuh untuk menurunkan demam Ku?"
Dinda terdiam mendengar perkataan Adam, Ia pun kembali mengingat kenangan mereka bersama.
Adam tidak ingin melewatkan kesempatan emas yang ada di depan matanya. Ia pun segera menaklukan Dinda.
--------------------------------------------------------------------
**Hai Readers terima kasih ya sudah bersedia mampir, terima kasih juga atas dukungan sahabat semua yang setia menanti.😘
Jangan lupa Like, komen dan vote nya, Biar Author makin semangat. 🥰
__ADS_1
See u di next episode 😉**