
Ting'
Suara notiv di komputer seluruh staff.
"Mulai besok DILARANG MEMAKAI PARFUME ke kantor. Jika ingin memakai wewangian hanya boleh aroma Lemongrass (sereh) atau Minyak Gosok. Apabila ada yang melanggar maka akan dikenakan sanksi."
Seluruh kantor pun ribut setelah membaca pengumuman itu.
"Gak salah?? Ini kantor mau di ubah jadi panti pijat apa gimana?" ucap seorang karyawan.
"Parah sih ini mah pelanggaran hak asasi namanya." timpal karyawan yang lain.
Dan sebagian besar karyawan pun keberatan atas peraturan baru itu.
Adam tidak peduli dengan protes karyawannya. Bagi Adam yang terpenting Dia tidak merasakan mual dan pusing lagi.
Bahkan pengharum ruangan, karbol dan sabun pel lantai pun di rubah aromanya menjadi aroma lemongrass.
"Masuk kantor berasa masuk Rumah Sakit nih Gue." Ucap Ando yang baru turun dari mobilnya.
Ketika ia melangkah hendak masuk ke kantor, Ia terkejut.
"ASTAGA... Kok Gue jadi ngeri ya, ini si Boss kenapa bisa gini sih?" ucapnya pelan.
Hari ini penampilan Boss nya memang sangat aneh.
Ando yang pura-pura tidak melihat Adam dikagetkan oleh sapaan Adam yang tidak biasa.
"What's Up Ando. are u okay?"
"O...okee Pak okee.."
"Justru Gue yang harusnya nanya, si Boss sehat gak sih? heerrhh" gumam Ando dalam hati merinding.
Kasihan sekali Adam harus merasakan ngidam yang aneh, namun Ia sendiri tidak sadar akan hal itu.
Sementara itu di pulau sebrang, Dinda yang sedang mengandung menikmati momment kehamilannya dengan santai.
Perubahan tubuh Dinda tidak begitu signifikan karena Dia menjaga pola makannya agar nutrisi sang bayi tercukupi.
Sebagai calon Ibu baru, Dinda banyak mempelajari tentang kehamilan, baik melalui buku ataupun secara daring. Ia paham jika kebutuhan asupan gizi bagi Ibu hamil itu bukan hanya sekedar makan banyak tapi makan yang cukup (nutrisinya).
Di sebuah Cafe dengan pemandangan laut.
"Din, kamu kapan pindah rumah?" tanya Dave seraya meminum kopi.
"Rencana nya si akhir pekan ini Dave. Aku pindah juga cuma bawa pakaian aja kok, kan selama di apartemen Aku pakai properti yg sudah tersedia di sana."
"Baguslah kalau begitu, jadi Ibu hamil gak perlu capek."
"Tapi Aku mau cuti Dave, bisa ga?"
__ADS_1
"Bisa lahh, apa si yang enggak bisa buat Kamu? Disuruh jadi 'cosplay' aja aku lakuin kan?"
"Hahaha, Kamu dendam banget kayaknya Dave, masih inget aja sih?"
"Itu sih gak akan Aku lupain Din, seumur hidup ku itu yang pertama dan terakhir Aku ngelakuin hal sekonyol itu." jawab Dave, Dia menggelengkan kepala.
Ia sendiri tidak habis pikir mengapa waktu itu Dia dapat melakukannya? padahal saat ini hanya mengingat nya pun Ia tak sudi, karena itu sangat memalukan.
"Aku jadi penasaran Din, nanti anakmu kalau udah lahir kayak gimana ya? Masih di dalem perut aja kemauannya udah amazing gt."
"Yang pasti gak jauh lah dari Mommy nya." jawab Dinda sambil menaik turun kan alisnya.
"Bahaya kalau gitu, nanti pas udah besar harus di awasi Din."
"Kok gitu?"
"Iya kalau mirip Kamu nanti banyak yang naksir." jawab Dave ala berbisik.
"Aahh bisa aja Kamu." Dinda tersenyum.
Sikap Dinda yang easy going membuatnya mudah bergaul, dengan siapapun pasti asik di ajak ngobrol, dan itu yang menjadi daya tariknya. Supel, Cantik, Cerdas pula, gimana Adam sama Dave gak tergila-gila coba?
"Kamu cuti mau kemana Din?"
"Aku rencananya mau ke Jakarta Dave, mau nengokin Ibu, Aku kangen."
"Berapa hari kamu di Jakarta?"
"Gak lama Dave, mungkin sekitar 3 hari."
"Gak usah lah Dave, Aku bisa sendiri kok. Kamu itu kan sibuk, masa harus ngorbanin waktu mu cuma buat nemenin aku."
"Huuuhhh Diinn.. Kamu masih aja kaku."
Sebenarnya Aku ke Jakarta karena menginginkan sesuatu Dave. Tapi aku tidak bisa cerita ke Kamu. ucap Dinda dalam hati.
----------------
Sebelum pulang ke Jakarta, Dinda berencana membeli oleh-oleh untuk Ibu dan Adiknya. Hari ini Dia pergi ke pusat perbelanjaan.
Dinda mengenakan pakaian santai, sendal jepit dan membawa sling bag mini.
Ketika Dinda masuk ke salah satu butik ternama, ia menjadi pusat perhatiaan.
Bukan karena ia cantik, namun karena penampilannya yang terlalu santai sehingga orang memandangnya sebelah mata.
"Maaf mau cari apa ya Kak?" tanya Pramuniaga.
"Saya mau lihat tas yang itu dong." pinta sekar menunjuk tas yang berada di rak display paling atas.
"Yang itu harganya mahal Kak, 12jt." Jawab pramuniaga meremehkan.
"Iya, saya mau lihat." jawab Dinda.
__ADS_1
"Hati-hati ya Kak, kalau lecet Kakak harus membayar tas ini." ucap pramuniaga.
Sekar tidak peduli dengan perkataan yang menurutnya tidak penting itu.
"Penampilan kaya gembel aja sok mau lihat tas mahal." ucap pramuniaga tadi pada rekannya.
"Paling juga lihat-lihat aja, terus nanti Dia beli KW nya tuh."
"Ahh bikin repot aja. Awas aja kalau sampe lecet, Gue bawa ke kantor polisi. karena gw yakin Dia gak akan bisa bayar."
"Kayaknya Dia lagi hamil, Liat tuh perutnya buncit gt. Kasian banget lagi hamil tapi pergi sendiri."
"Kira-kira Dia punya suami atau engga ya?"
"Kalau liat dari penampilannya si kayaknya engga. Paling simpenan Om om."
Ketika Pramuniaga itu asik bergosip, mereka tak sadar ada sepasang telinga yang mendengarkan.
Tiba-Tiba....
"Ehh itu kan Dave, pengusaha Batu bara No.1 di kota ini." ucap Pramuniaga berbisik.
"Oh iyaa.. Gilaa aslinya ganteng banget."
"Biar Gue yang layanin ya." Ucap Pramuniaga seraya menghampiri Dave.
Pramuniaga itu berhenti ketika melihat Dave menyapa Dinda.
"Sayang, Kamu suka yang itu?" tanya Dave agak mengeraskan suaranya agar terdengar orang banyak.
"Gak kok Dave Aku cuma mau lihat-lihat aja." jawab Dinda heran dan keningnya berkerut.
"Oohh cuma lihat-lihat, iyalah gak usah beli tas di sini! kualitas nya jelek. apa lagi sales service ny, gak sesuai sama harganya." ucap Dave dengan volume suara yang tinggi sehingga seluruh orang yang ada di butik itu mendengarnya dan menatapnya.
Dave mengambil tas yang di pegang Dinda lalu Ia menarik tali tas itu hingga putus.
"Oopppss putus. Tuh kan kualitas nya jelek ini, masa baru di tarik gitu aja putus." ucap Dave lalu melempar tas itu ke lantai.
Pramuniaga tadi mulai panik.
" Dave kamu apa-apaan sih?" Bisik Dinda.
"Maaf Pak, Bapak harus membayar tas ini!" Ucap salah satu pramuniaga sambil menunjukan tas nya.
"Dri..." panggil Dave.
Andri yang paham pun memberikan uang seharga tas tersebut.
"12 juta kan? Nih Saya bayar." seketika Dave melempar uang nya ke atas hingga uang itu berhamburan tercecer ke lantai.
"Lain kali jangan pernah lihat orang dari penampilannya, siapapun yang masuk ke sini adalah pelanggan, dan kalian sebagai PELAYAN harus melayani dengan baik!"
Deg, Pramuniaga itu sadar apa yang dimaksud oleh Dave.
__ADS_1
"****** Gue, jangan-jangan Dia denger omongan Gue tadi." kata pramuniaga itu.
Dave pun berlalu menarik tangan Dinda ke luar butik.