
"Kalau gitu nginep aja."
"Serius?" Dimas tersenyum nakal menatap Eva.
Eva hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.
Dimas menatap Eva dalam, dan mendorong tubuh Eva pelan, hingga Eva mundur ke arah kamarnya.
"Yang, Aku rindu..." Dimas berbisik di telinga Eva.
"Aku juga rindu, Sayang..." Eva merangkul leher Dimas dengan kedua tangannya.
"I Love You. Muach."
I Love You too. Muacchh."
Dimas tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Ia membungkam mulut kekasihnya dengan ******* lembut, tangannya mengeksplorasi tubuh Eva, dan mereka melepaskan satu per satu pakaian masing-masing.
Lagi-lagi mereka melakukan hal terlarang. Karena mereka berani memulainya, kini mereka pun tak sanggup untuk menahan hawa n*fsunya itu.
------------------
Hari ini Adam dan Dinda akan menikah. Adam sangat bersemangat.
"Do, kamu yang jemput penghulu! langsung antar ke rumah Dinda."
"Baik, Pak."
Adam keluar apartemen nya, iya berjalan ke kamar orang tua nya.
"Pah, Mah, apa sudah siap?"
"Sebentar sayang, ini Mamah masih makeup."
"Mah, yang mau menikah itu aku, kenapa Mamah yang sibuk Makeup?"
"Ya ampun, Adam. Kamu sangat tidak sabar? penghulu nya saja baru di jemput Aldo."
"Adam tidak ingin terjebak macet, Mah."
"Sudah, dari pada marah-marah. Lebih baik kamu sarapan dulu, temani Papa mu!"
"Mamah jangan lama-lama ya!" Adam sangat gelisah.
"Iya sayang...."
Di rumah Dinda, mereka sedang bersiap-siap, acara yang terbilang mendadak ini membuat mereka cukup sibuk. Beruntung Adam sudah mengurus semuanya, termasuk catering.
Dinda sedang di rias di kamarnya.
"Wow, Mommy so beautyfull."
"Terima kasih, Sayang. Sea juga cantik." Sea di dandani ala princess.
"Papi kok belum datang, Mom? Sea kan kangen."
"Sabar ya, Sayang... Papi sedang dalam perjalanan."
"Huh, Papi ini sangat lama!"
Eva masuk ke kamar Dinda.
"Wah, pengantinnya sangat cantik."
"Terima kasih, Va. Kamu di jemput Dimas?"
"Iya, Kak. Tadi pagi Dimas jemput aku."
[Bukan di jemput sih, lebih tepatnya kita jalan bareng.]
__ADS_1
"Kamu udah sarapan belum? Sarapan dulu sana!"
"Sudah kak, tadi sudah sarapan sama Dimas."
"Oohhh... Oke deh."
1 jam kemudian mereka semua sudah berkumpul.
Ijab kabul dilaksanakan dengan lancar, seperti sebelumnya, Adam hanya perlu melakukannya 1x.
Ketika kata Sah terucap, Adam menitikan air mata. ia tak kuasa menahan haru, mengingat perjuangannya untuk dapat bersatu kembali dengan istri yang ia cintai.
"Yeaayy, Papi bisa tinggal sama aku..." suara Sean membuyarkan suasana haru di sana, mereka pun semua tersenyum.
Setelah itu mereka pun makan bersama.
"Setelah ini kalian akan tinggal di mana?" tanya Ibu.
"Aku sih ikut Mas Adam aja, Bu."
"Iya, Bu... Rencananya Adam akan mengajak Dinda kembali ke Jakarta."
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan mu, Din?"
"Aku sudah bicara dengan Dave, Bu. Dia tidak keberatan jika aku bekerja jarak jauh. Untuk urusan resto, aku serahkan sepenuhnya pada Dimas."
"Baiklah jika itu keputusan kalian."
"Bu, ada sesuatu yang ingin aku katakan." Dimas menginterupsi pembicaraan.
"Apa, Di?"
"Aku akan menikah dengan Eva."
"Wah.. kamu tidak mau kalah dari Kakak ya?" Ledek Dinda.
"Ya, Kakak aja udah dua kali, masa aku belum? hehehe." semua tertawa mendengar ucapan Dimas.
"Rencananya minggu depan, Bu."
"Apaa? kenapa semua orang senang sekali memberi kejutan?" Ibu terkejut.
"Sepertinya Dimas sudah tidak sabar, persis seperti Adam ya, Mah?" Papah meledek Dimas.
"Iya, Pah. Anak jaman sekarang ini selalu tergesa-gesa. Jika sudah menginginkan sesuatu, maka harus terlaksana." timpal Mamah.
"Di, kalau minggu depan kami tidak sempat bulan madu dong." Adam protes.
"Kakak masih perlu bulan madu?" meledek Adam.
"Tentu saja, sudah 4 tahun kami berpisah, ini seperti kami baru pertama kali menikah." Adam nyolot.
"Wiee. santai Bos! hahaha."
"Ya sudah, lebih baik nanti kalian bulan madu bareng aja." Mamah memberi usul.
"Apaa?" Adam dan Dimas kompak terkejut.
"Kayaknya seru juga tuh, iya gak Va?" Dinda tak keberatan dengan usulan, Mamah.
"Iya, Kak. Jadi lebih seru kalau rame-rame." jawab Eva.
"Kalau gitu kita pergi sama-sama aja?" Mamah semangat ingin ikut.
"Apaa?" Adam dan Dimas terkejut lagi. mereka tak rela acara bulan madunya di ganggu.
"Ya udah, minggu depan setelah akad nikah Dimas dan eva, kita semua berangkat ya!" Dinda semangat.
"Sayang...!" Adam mengeluh.
__ADS_1
"Sudah lah, Mas! Kita ini kan bukan baru pertama kali menikah, lagi pula lebih banyak yang ikut akan lebih seru."
"Tapi bagaimana dengan Dimas? mereka kan baru menikah? nanti mereka akan terganggu." Adam mencari kambing hitam.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku malah lebih suka rame-rame." jawab Eva.
"Ah, gagal nih bulan madu gue." Dimas bergumam dalam hati.
----------------
Satu minggu kemudian, tiba waktunya hari pernikahan Dimas dan Eva. seperti yang direncanakan sebelumnya, mereka akan pergi bersama setelah akad nikah.
Akad nikah selesai, kini mereka siap berangkat ke bandara untuk terbang menuju Pulau Bali.
Mereka memilih berkeliling Pulau Bali dan Nusa Penida. Sekaligus memenuhi janji pada Sean untuk melihat lumba-lumba di Pantai Lovina.
"Semua sudah siap kan? ada yang tertinggal gak?" tanya Papah.
"Siap, Pah."
"Oke, kita jalan sekarang." mobil pun mulai melaju.
"Ketika Ibu hendak menutup kaca jendela mobil, terdengar suara teriakkan."
"Mommy... "
"Ciittt..." sontak 2 mobil itu mengerem mendadak.
"Sean??" semua orang terkejut melihat Sean yang berlari dari arah samping rumah.
"Mommy... Kenapa aku di tinggal? huuhuuhuu." Sean menangis karena hampir tertinggal.
Mereka langsung keluar mobil. Dinda berlari memeluk Sean.
"Sea, bukankah tadi kamu ada di dalam mobil?" Dinda merasa lega, karena Sean tidak tertinggal.
"Mommy ini gimana si? masa anaknya mau di tinggal? kalau aku diculik gimana? emang Mommy gak sedih?" Sean malah ngomel-ngomel.
"Maaf ya Sayang, tadi Mommy kira Sean sudah di dalam mobil."
"Papi juga, aku kan sudah bilang kalau mau ambil mainan dulu, kan tadi Papi bilang iya!" Sean berkacak pinggang.
"Papi tidak dengar sayang." saat sean pamit, Adam sedang sibuk membereskan barang. laki-laki memang hanya bisa fokus pada satu objek sehingga ia bisa menjawab tanpa sadar.
"Aku kesel, kalian gak sayang aku!" Sean merajuk.
"Sea sayang, Sea ikut di mobil grandpa yuk!" Papah membujuk, Sea.
"Iya Sea, sama grandma juga, nanti kita beli ice cream?"
"Oya?"
"Iya sayang."
"Aku mauuu..." anak-anak sangat mudah di rayu.
Akhirnya mereka pun bisa melanjutkan perjalanan mereka.
3 jam kemudian mereka tiba di Pulau Bali. Disambut dengan alunan suara gamelan khas Bali yang mengalun memanjakan telinga, nuansa etnik sangat kental terlihat di sana.
Mereka semua berbahagia dapat menikmati waktu bersama, terlebih di tempat yang eksotis seperti Pulau Dewata Bali.
------------------
Haii... terima kasih sudah mampir di karya Mommy. Sebagai penulis baru, Mommy masih perlu banyak belajar, banyak yang perlu di perbaiki dari cerita ini.
Novel ini sengaja di buat singkat, agar sahabat readers tidak bosan dengan alur cerita yang terlalu panjang. Maklum, Mommy masih amatir, khawatir nanti malah blunder ceritanya.
Sekali lagi terima kasih ya, jangan lupa, like, komen, dan vote nya.😘
__ADS_1
See u di next Novel.. 😘😘