
Setengah jam berlalu namun tidak ada tanda kehadiran Adam. Sampai satu jam kemudian Adam belum juga muncul.
"Sepertinya Kamu sudah melupakan tempat ini Mas?" Ucap Dinda lemas.
Ketika Dinda hendak beranjak pergi, seorang pria duduk di tepi kursi yang sedang di duduki sekar. Dinda pun mengurungkan niatnya.
Hatinya berdesir ketika Ia melihat wajah yang selama ini Ia rindukan.
"Akhirnya Aku bisa melihatmu Mas." Gumam Dinda.
Setelah merasa cukup puas memandang Adam yang sedang melamun, Dinda memutuskan untuk pergi. Namun Ia menumpahkan air tepat mengenai kaki Adam.
"Maaf, Saya tidak sengaja." Ucap Dinda dengan suara di buat-buat, Dia pun membersihkan kaki Adam yang basah.
"It's Okay, tidak apa-apa." Ucap Adam seraya memegang tangan Dinda.
Jantung Dinda berdetak kencang, tangannya mulai keringat dingin. Ia segera berlari menjauh.
Adam pun melanjutkan lamunannya, Namun Ia merasa ada yang aneh. Adam mengingat sesuatu.
"Tangan itu???" Berpikir sesaat.
"Ahh iya, itu tangan Dinda, Aku sangat mengenalinya." Ucap Adam semangat. Ada secercah harapan di hati Adam, Ia pun segera mengejar Dinda.
Dinda secepat mungkin menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil nya.
Di dalam mobil Dinda berusaha menenangkan hatinya yang masih berdebar. Ia memandangi tangan yang telah disentuh oleh Adam lalu meletakan tangan itu di perut.
"Akhirnya Kamu bisa merasakan sentuhan ayah Mu Sayang."
Adam masih berusaha mencari Dinda hingga Ia berada di depan mobil Dinda.
Beruntung Dinda sudah mengganti plat No mobilnya sehingga Adam tidak dapat mengenali mobil itu. Kaca yang gelap pun tidam mampu menembus pandangan ke dalam mobil.
"Aku senang Mas Kamu baik-baik saja." Ucap Dinda yang memandang Adam dari dalam mobil.
"Tapi maaf Mas, Kita tidak bisa seperti dulu lagi. Aku masih sakit hati jika mengingat Kamu pernah tidur dengan wanita lain." Ucap Dinda kecewa, Ia melajukan mobilnya melewati Adam yang sedang mencarinya.
Dinda pun segera pulang ke rumah.
Tiba di rumah..
"Kamu dari mana Din?" Tanya Ibu.
"Habis jalan Bu, Aku kangen sudah lama tidak keliling kota ini."
"Sarapan dulu Sayang, ini Ibu buatkan bubur kacang hijau, baik untuk ibu hamil."
"Oke, terima kasih Bu.."
Dinda pun memakan bubur kacang yang telah disiapkan, ditemani oleh Ibu, mereka berdua duduk di meja makan.
__ADS_1
"Rencananya Kamu sampai kapan di sini Din?"
"Mungkin lusa Aku kembali ke Kalimantan Bu."
"Cepat sekali Din?"
"Iya Bu, Aku mau pindah rumah, lagi pula aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ku terlalu lama. Ibu mau gak tinggal di Kalimantan?"
"Sejak Ibu tau Kamu mengandung, Ibu pun sudah memikirkan hal itu Din. Tapi Ibu tidak bisa ikut kamu sekarang, mungkin sekitar 2 minggu lagi Ibu baru bisa ke sana, karena ada yang harus Ibu urus."
"Aku senang sekali mendengarnya Bu, Terima kasih Ibu mau menemaniku." Ucap Dinda terharu.
"Tentu Sayang, mana mungkin Ibu membiarkan anak Ibu yang sedang hamil tinggal sendirian?"
------------------
"Ahh iya kenapa Aku tidak mencarinya ke rumah Ibu?? Bodoh sekali Aku." Ucap Adam ketika Ia sadar akan kebodohannya.
Kehilangan Dinda membuat Adam jadi kurang cerdas, Ia terlalu fokus memikirkan Dinda sehingga Ia tidak dapat memikirkan hal lain dengan baik.
Tiba di rumah Ibu, Adam melihat mobil yang Ia kenali sedang terparkir dan ada taxi yang menjauh dari arah rumah Ibu.
"Mobil itu sangat familiar, seeprtinya Aku pernah melihatnya, tapi dimana?"
"Aahhh iya.. itu kan mobil yang ada di depan ku waktu di taman tempo hari." Adam menjawab pertanyaanya sendiri.
"Berarti benar yang aku pegang waktu itu tangan Dinda." ucap Adam seraya tersenyum. Hatinya berdebar penuh harap.
cklek...
"Nak Adam??"
Adam menerobos masuk setelah menyalami Ibu, "Din... Aku tau kamu ada di dalam, tolong keluar sekarang Din, Kamu jangan siksa Aku seperti ini."
"Nak Adam ada apa ini? Dinda tidak ada disini."
Ternyata taxi tadi yang mengantar Dinda ke bandara.
"Ayolah Bu... Mau sampai kapan Ibu menyembunyikan Dinda dari ku??"
"Dinda memang tidak ada di sini Nak." jawab Ibu meyakinkan Adam.
"Kali ini Ibu tidak bisa mengelak. Aku yakin mobil itu milik Dinda, kemarin Aku melihatnya di taman, bahkan Aku Pun melihat Dinda Bu."
"Ya Ampun Dinda, apa sebenarnya mau Mu? Kenapa Kamu berusaha menemuinya?" gumam Ibu dalam hati.
"Ibu tidak bohong Nak. Jika Nak Adam tidak percaya, silahkan Nak Adam cari sendiri."
Adam tetap berusaha mencari Dinda ke semua bagian rumah Ibu.
"Bagaimana Nak, apa Kamu percaya?"
__ADS_1
"Kali ini mungkin Aku gagal lagi, Tapi aku tidak akan menyerah Bu. Aku permisi." Ucap Adam seraya berlalu pergi.
Ibu hanya menggeleng kepala dan menghela nafasnya.
"huuuhh... Kalian ini rumit sekali."
Ibu Mirna tipe orang yang santai. Ia tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain, walaupun itu anaknya sendiri, karena menurut Dia mereka sudah dewasa bisa menentukan mana yang baik atau tidak.
"Setidaknya Aku tau Kamu berusaha menemui ku Din. Aku yakin Kamu masih mencintaiku. Tunggu saja, Aku pasti akan menemukan Mu!" Ucap Adam mengancam.
----------------
Perut Dinda yang semakin besar membuatnya tak luput dari gunjingan para karyawan kantor. Karena setahu mereka Dinda tidak mempunyai suami.
Ketika Dinda sedang berjalan di lorong kantor, Ia mendengar namanya disebut dan menyimak percakapan 3 wanita yang ada di pantry itu.
"Eh.. tuh liat deh, bener kan dugaan Gue, Bu Dinda tu hamil."
"Iya ya, biarpun gak gemuk, tetep aja beda antara yang hamil atau gak hamil."
"Tapi bukanya Bu Dinda gak punya suami ya?"
"Jangan-jangan itu anaknya Pak Dave?"
"Ah jangan ngaco Lo, mana mungkin Pak Dave begitu?"
"Kita kan semua udah tau mereka tu deket banget, bisa aja kan mereka kumpul kebo dan emang gak pingin nikah?"
"Iya juga ya.."
Andri yang melihat Dinda mendengar perbincangan itu pun geram, Ia khawatir jika dilanjutkan Dinda akan lebih sakit hati. kemudian Ia masuk ke pantry.
"Ini kantor bukan tempat ngerumpi." Ucap Andri mengejutkan mereka.
"Ehhh Mas Andri.." Ucap salah seorang tersenyum.
"Lain kali kalau bicara itu hati-hati, karena jika ucapan kalian tidak benar, kalian bisa di tuntut dan masuk penjara." Ucap Andri sambil berlalu.
Andri pun melaporkan hal tersebut pada Dave, sebagai asistennya Ia harus melapor hal apapun yang menyangkut Boss nya tersebut.
Tok tok tok...
"Masuk.."
"Pak..............." Ucap Andri menceritakan kejadian yang tadi Ia dengar.
"Kamu serius?" tanya Dave
"Iya Pak, tadi Saya sudah memperingatkan mereka." jawab Andri.
"Keterlaluan. Panggil mereka!"
__ADS_1