Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab. 10 Keluarga Fadil tidak terima


__ADS_3

Semua warga yang ada ditempat hiburan itu menyarankan pada Yahya untuk membawa Yudi pulang kerumah nya. Mengingat kalau besok adalah hari penting untuk nya.


Yahya setuju, dan langsung membawanya pulang dibantu salah warga disana. Sesampai nya dirumah Yudi, Santi histeris melihat kondisi putra nya yang seperti itu.


“Ya Allah Ya...Ini Yudi kenapa?” tanya Santi pada Yahya.


“Dia habis minum Bu! terus tadi juga mukul si Fadil karena Fadil boncengan sama Nisa di acara Tari dibalai Desa,” terang Yahya.


“Astaghfirullah.. Tolong dibaringkan di sofa aja ya nak!” Yahya setuju, lalu membaringkan Yudi disofa dekat ruang tengah mereka, sebenarnya Yahya merasa kasihan dengan Santi dan juga Ahmad, mereka bisa terbilang orang tua yang sangat baik dan juga punya pikiran yang terbuka, tidak seperti orang tua kebanyakan dikampung ini, masih ada beberapa yang memiliki pikiran toxic, contohnya keluarga Desi.


“Kenapa lagi dia buk!” tanya Ahmad yang baru saja tiba, Ahmad masih menggunakan sarung lengkap dengan baju Koko dan peci, mungkin baru selesai shalat isya atau baru pulang dari mesjid.


“Kata Yahya, dia itu mukul anak nya mas Abdul pak, si Fadil.. ”


“Kok bisa sih, mereka bertengkar Ya?” tanya Ahmad ke Yahya.


“Saya juga gak tahu pasti pak, karena ada suara musik tari disitu, tapi setahu saya.. Yudi datang dan langsung memukul Fadil, dari yang saya tangkap, dia marah karena Nisa berboncengan dengan Fadil, padahal bukan seperti itu, mohon maaf sebelumnya pak.. Kami kan temen-temen nya Nisa, melihat kondisi Nisa yang terguncang setelah apa yang Yudi lakukan, kami berinisiatif untuk menghibur nya, jadi kami ajak dia buat nonton pertunjukan yang kami buat itu, Nah, kebetulan.. Si Fadil yang jemput Nisa!” jelas Yahya, ia tak ingin jika Pak Ahmad dan keluarga nya juga akan menyalahkan Nisa atau Fadil.


Ahmad menghela nafas nya, pikirannya sudah ruwet karena ulah anak nya itu, ditambah sekarang ada masalah baru lagi, belum habis malu nya ditambah lagi.


“Selalu saja bikin ulah!” dengus Ahmad dengan kesal, ia langsung mendudukkan dirinya tepat di depan Yudi dibaringkan.


“Mohon maaf pak, kalau saya lancang.. tapi sepertinya, Yudi tadi minum-minum.. mulut nya bau alkohol!”


Ahmad langsung memijat pelipis nya yang mulai pening, dulu Yudi pernah sampai lebih parah dari ini, tapi sejak mengenal Nisa, Ahmad sudah tidak pernah lagi mendengar kalau Yudi minum-minum.


“Terimakasih ya Ya! kamu udah ngantar Yudi pulang,” ucap Ahmad membuka suara.

__ADS_1


Yahya mengangguk, lalu pamit pulang.. Ia juga ingin melihat keadaan Fadil bagaimana. Setelah kepulangan Yahya, Santi langsung membuat kan suami nya teh, dan meletakkan nya dimeja, Naina putri sulung nya langsung ikut bergabung bersama dengan sang suami, Naina tak tinggal bersama Ahmad, rumah nya ada didesa sebelah. Ia datang karena acara pernikahan Yudi dengan Nisa, tapi malah kejadian seperti ini.


“Pak.. ” panggil Santi dengan hati-hati, ia tahu saat ini suami nya itu sedang marah dan memikirkan sesuatu.


“Kapan sih anak ini berubah Bu! dulu sewaktu masih sama Nisa, dia udah berhenti minum, sekarang dia ulangi lagi, bapak malu Bu, bapak merasa telah gagal mendidik Yudi dengan benar!” Santi menunduk.. Ia juga tidak memungkiri jika tabiat putra nya memang agak buruk, dulu Nisa bisa membawa aura positif untuknya, karena yang Santi tahu, dia amat sangat mencintai gadis itu, ia juga bingung kenapa Yudi malah menghamili Desi.


“Sabar pak! Ibu juga gak habis pikir sama Yudi, kenapa dia tega berbuat begini!”


“Gimana aku bisa sabar, orang tua Fadil pasti gak akan terima anak nya dipukul! sudah pasti mereka akan menuntut nantinya! besok Yudi akan menikah, gimana kalau sampai Abdul melaporkan Yudi kepolisi? mau malu berapa kali kita buk?” Benar .. ucapan suami nya benar, bagaimana kalau sedang ada cara ijab Qabul, tiba-tiba polisi datang dan membawa Yudi, sudah pasti orang tua nya yang akan merasa malu.


“Sebelum Pak Abdul kesini, lebih baik kita saja yang kesana pak, minta maaf!” usul Rendi suami Naina.


“Ya,.kamu benar Ren, Ayo kita kesana!”


*


Sementara itu, Nisa membawa Fadil ke bidan terdekat, karena satu-satunya akses kesehatan disana hanya lah Bu bidan saja, jadi Nisa langsung membawa nya kesana.


“Sampai dijahit ya Bu,”


“Iya neng, biar luka nya gak infeksi,” jawab Bu bidan lagi, sementara itu Fadil masih berbaring sehabis merasakan nyeri saat pelipis nya dijahit oleh Bu bidan.


“Dil.. Gimana??”


“Gue udah gak apa-apa Nis, cuma... nyeri waktu dipukul Yudi, lebih nyeri lagi jahitan Bu bidan!” jawabnya dengan terkekeh kecil. Nisa langsung mencubit tangannya, ia sudah merasa khawatir sejak tadi, tapi yang dikhawatirkan malah cengengesan begitu.


“Lo ini ya.. Gue cemas tahu gak,”

__ADS_1


“Tumben Lo cemasin gue,”


“Ya semua ini kan gara-gara gue Dil,”


“Fadil!!” teriak seseorang dari luar klinik.


“Ibu?” Leha dan Abdul berlari dengan tergesa, Leha langsung menubruk putra nya, saat Bowo anak nya Rana mengabari kalau putra nya dipukuli Yudi, gara-gara membonceng Nisa.


“Kamu gak apa-apa?” tanya Abdul.


“Pelipisnya robek pak, tapi sudah saya jahit.. gak banyak kok, cuma 3 jahitan!”


“Sampai dijahit itu tandanya serius kan buk bidan?”


“Tidak serius pak, saya jahit karena takut luka nya terbuka dan infeksi, tapi anak nya juga sudah cengengesan dari tadi!” jawab Bu bidan dengan candaan.


“Maaf ya mang Abdul.. Bik Leha.. semua gara-gara Nisa!” ucap Nisa memberanikan diri, ia sangat tahu bagaimana Bapak nya Fadil yang mudah marah itu.


“Kok kamu yang minta maaf si Nis, yang salah kan Yudi, memang kurang ajar anak itu! mentang-mentang bapak nya kaya!” jawab Abdul.


“Iya nak.. yang salah kan bukan kamu, lagian apa salah nya kalau kalian berboncengan, kau dan Yudi kan sudah resmi berkahir kan!? kalian tidak jadi menikah, jadi kau sendiri lagi sekarang, lalu salah nya dimana?” tambah Leha.


“Yang dikatakan ibu nya Fadil benar, tapi saya sebagai orang tua Fadil gak terima, kita harus menuntut Yudi, kita laporkan aja dia kepolisi!”


Nisa kaget, saat mendengar kalau Yudi akan dilaporkan kepolisi, besok kan hari pernikahan nya dengan Desi.


“Pak Abdul maaf, bukan saya mau ikut campur, tapi pak.. apa tepat waktunya kalau mas Yudi dilaporkan kepolisi? dia akan menikah besok pak!”

__ADS_1


“Biar saja, biar dia tahu rasa nya.. Jangan sesuka hatinya sendiri kalau berbuat,”


“Tapi pak.. ”


__ADS_2