Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.12 Sifat jelek Yudi


__ADS_3

Nisa pulang kerumah dengan langkah gontai, pikirannya penuh, karena ulah Yudi ia merasa malu lagi dengan orang-orang.. Belum usai cerita yang pertama, kini ia buka cerita yang kedua.


Nisa memasuki rumah tanpa salam, Susan melihat aneh ke putrinya. Bahkan Yahya pun tak dipersilahkan untuk masuk dulu.


“Loh Nis.. kamu pulang sama siapa?”


“Sama Yahya Bu!”


“Kok sama Yahya, tadi bukannya kamu pergi sama Fadil?” tanya Ibu nya heran.


“Iya.. Tadi Fadil ada insiden Bu, jadi terpaksa deh Yahya yang nganterin aku!”


“Insiden apa ??”


Akhirnya Nisa menceritakan seluruh kejadian yang menimpa Fadil dan tuntutan dari pak Abdul.


“Ya Allah si Yudi itu, ada-ada saja ulah nya! kalau dia memang setakut itu kehilangan kamu, terus kenapa dia bisa-bisanya hamilin Desi?”


“Itu makanya egois! dia mau seluruh kemauan nya bisa terpenuhi, pikirannya belum dewasa, beruntung Nisa belum jadi menikah sama dia, kalau sampai setelah menikah, semua masalah ini baru terungkap, bapak yakin kamu bakal lebih hancur dari ini!” tukas Kakek Wardi yang ikut nimbrung ngobrol bareng anak dan cucunya.


Nisa terdiam, benar yang dikatakan kakek nya, selama ini ia berpikir merasa sangat hancur, namun ada hikmah dibalik semua itu, Beruntung nya dia yang masih belum menikah, Allah menyayanginya dengan mengungkap semua kebobrokan Yudi, bagaimana jadinya jika ia yang sudah sah menikah, namun semua nya baru terungkap, entah bagaimana ia menghadapi dunia.


“Terus besok kamu tetep akan jadi pagar Ayunya Desi?” tanya Ibunya lagi, sebenarnya Susan agak ragu mengizinkan Nusa untuk pergi kerumah Nuriah dan Desi lagi, pasti disana ia akan jadi bulan-bulanan warga yang lain.


“Jadi Bu!”


“Kamu yakin?”

__ADS_1


“Iya Bu,”


“Tapi ibu khawatir loh! gak usah lah Nis.. kamu gak perlu membuktikan apa-apa!” tambah ibunya lagi.


“Memang sih Bu, tapi Nisa gak mau disangkut pautkan dengan mereka lagi, sudah cukup.. Nisa muak dan benci,” Kakek dan Ibunya terdiam, mereka sadar luka dan kecewa yang mereka alami, tidak sebanding dengan rasa sakit ya Nisa yang dikhianati oleh sahabat dan calon suami nya sendiri.


*


*


Dirumah Yudi


Yudi menerjabkan mata nya menyapu semua ruangan disekitarnya. Nampak disana Santi dan juga Naina. karena Ahmad dan kakak iparnya sedang pergi menemui Abdul dan Fadil.


“Udah bangun kamu!” tanya Santi dengan nada yang kesal, gimana gak kesal.. anak nya itu udah mukulin anak orang lain karena mabuk.


“Kalau orang tua ngomong itu dijawab Yud!” tambah Naina, ia juga merasa jengkel dengan sikap adik nya yang mulai kambuh lagi minum nya, padahal dulu saat ia bersama dengan Nisa, kebiasaan nya ini sudah hilang.


“Ya Kalian lihat sendiri kan kalau aku udah bangun?” jawabnya acuh.


“Kamu ini ya.. selalu aja bikin orang tua kamu malu! belum cukup apa masalah kamu menghamili anak orang?”


“Apa sih buk! lagian kan itu hak nya aku, Nisa itu calon istriku, ya wajarlah kalau aku marah, siapa suruh dia boncengan sama laki-laki lain!”


Santi dan Naina saling pandang dengan jawaban Yudi, apa otak nya belum sadar hingga mengatakan kalau Nisa itu masih calon istrinya.


“Kamu lupa kalau besok kamu nikahnya sama Desi dan bukannya Nisa?” tanya Naina.

__ADS_1


“Aku inget! tapi aku gak mau nikah sama Desi yang gampangan itu,”


Plaaakk!!


Santi langsung menampar Yudi agar dia sadar, apa yang baru saja ia ucapkan, meskipun sejatinya Santi tak pernah suka dengan Desi, tapi ia juga tidak suka melihat anak laki-laki nya merendahkan martabat wanita, apalagi saat ini wanita itu tengah mengandung anak nya.


“Awww! apaan sih ibuk ini!”


“Kamu yang apa-apaan, sejak kapan sih kamu jadi gak bertanggung jawab seperti ini? kamu tidak pernah mendidik kamus seperti ini Yudi! kamu lahir dari seorang perempuan, tapi kamu menghina perempuan lain yang saat ini mengandung anak mu!!” Santi berkata dengan nada suara yang sangat besar dan amarah yang meluap, selama ini ia selalu sabar menghadapi Yudi dengan segala perangainya, bahkan jika bapak nya Ahmad memarahi nya, ia akan bilang agar Ahmad bisa lebih sabar menghadapi Yudi, tapi kali ini, kesabaran nya juga habis, ia tak menyangka anak yang ia lahirkan sanggup melakukan dan berkata seperti itu untuk orang lain.


“Buk! aku gak pernah serius sama Desi, hanya mengisi waktu kekosongan ku aja, lagian yang nyentuh dia itu banyak! belum tentu itu anak ku!”


“Jaga ucapan mu Yudi! terserah mau itu anak mu atau tidak, kau tetap harus bertanggung jawab, kalau kau tidak mau disalah kan, harusnya sebelum berbuat kamu mikir akan seperti apa konsekuensi nya, bukan hanya enak nya saja di pikiran mu itu!” jawab Santi lagi.


“Ibu bener, lagian mau ngelak gimana juga kamu tetep harus tanggung jawab, kamu lupa udah nikahin Desi secara siri kemarin, kalau kamu lari itu sama aja kamu buat bapak sama ibu itu mati Yudi!”


“Apa sih kak, lagian kita kan banyak uang, kasih aja uang sama keluarga Desi pasti mereka diem dan gak nuntut apapun, aku tetap bisa nikahin Nisa kan, aku gak mau kehilangan Nisa Bu, tolong mengerti lah... aku cinta mati sama dia, ”


Plakk!!


Satu tamparan lagi mendarat dipipi Yudi, kali ini tamparan nya sangat keras, bahkan diujung bibir nya mengeluarkan darah. Yang menamparnya kali ini ternyata bukan Santi, tapi Ahmad yang baru saja tiba dirumah, darah nya mendidih begitu mendengar ucapan Yudi yang tidak punya sopan santun sama sekali, ditambah ia membanggakan harta kedua orang tua nya, seolah karena uang dia bisa berbuat apa saja.


“Bapak!” ucap Yudi dengan kaget, sejak kapan bapak nya ada disana, setaunya hanya ada Ibu dan kakaknya saja tadi.


“Aku malu punya anak seperti mu Yudi!” teriak Ahmad, Rendi mengusap punggung mertua nya agar lebih sabar menghadapi anak bungsunya itu.


“Apa salah ku pak? aku mencintai Nisa bukan Desi, harus berapa kali aku jelaskan, kalau aku gak mau nikah sama perempuan murahan seperti itu, dan aku juga gak salah kan.. Uang kita banyak.. bapak bisa ngasih keluarga Desi uang agar mereka bisa diam dan tak melawan, itu kalau bapak sayang sama Yudi, tapi sepertinya bapak gak sayang sama sekali!”

__ADS_1


“Diam kau!! harga diri seseorang gak bisa dibeli sama uang Yudi! kamu udah berbuat, dan kamu harus tanggung jawab!”


__ADS_2