
Kakek nya Nisa Pak Wardi sudah mengambil keputusan,kalau cucu perempuan satu-satunya harus ia ungsikan ke kota, demi masa depannya juga, ia tak mau trauma Nisa akan berkepanjangan, meski gadis itu terlihat baik-baik saja.. Tapi siapa yang tahu yang ada didalam hatinya apa?
POV Nisa
Setelah kepulangan ku dari pesta pernikahan Desi dan mantan calon suamiku, aku langsung masuk kamar tanpa mengatakan apapun, bunyi sound sistem yang mengisi hajatan Desi sangat memekakkan telinga.. Meskipun aku mencoba semampuku untuk menutupi rasa sedih ku.. tetap saja rasanya begitu sakit.. ditambah soal kejadian tadi malam yang membuat Fadil terluka, aku merasa sangat malu pada orang tua nya, andai saja tadi malam aku menolak ajakan nya untuk melihat pertunjukan tari daerah, pasti kejadian tersebut tidak akan terjadi.
Tok..tok..tok..
Kudengar suara pintu kamar ku diketuk dari luar.. kulihat jam dipergelangan tangan ku ternyata sudah memasuki waktu ashar, aku sampai melewatkan shalat Dzuhur karena rasa sedih ini.
Astaghfirullah.. padahal Allah sudah begitu baik padaku, membongkar semua kebusukan mereka berdua sebelum ijab Qabul di gaungkan, kalau tidak...aku tidak tahu akan sehancur apa aku saat ini.
“Nisa...” panggil Ibuku dari luar.
“Iya Bu.. sebentar!”
Aku langsung membuka pintu kamar ku.
“Udah shalat kamu nduk?” tanya Ibuku lagi, aku menggeleng cepat, karena memang aku belum melaksanakan nya.
“Ya sudah...kamu shalat dulu.. habis itu keruang tamu ya.. Ibu sama kakek mau ngomongin sesuatu,” Aku mengangguk lalu menutup pintu kamar ku lagi, segera aku mengambil wudhu dan melaksanakan kewajiban sebagi hamba Allah.
Setelah selesai, gegas aku pergi keruang tamu , tempat yang Ibu maksud untuk membicarakan sesuatu. Begitu aku sampai disana, kakek dan Ibu ternyata sudah disana duluan.
__ADS_1
“Ada apa buk? apa ada yang serius?” tanya ku penasaran.
“Begini nduk.. Kakek dan ibumu berpikir gimana kalau kita pergi ke tempat pakde Malik dikota? ya untuk menghibur dirimu dari semua masalah yang menimpa kamu dan keluarga kita.. kalau kamu betah, kamu bisa tetap disana sampai kamu bosan,” ucap Ibu dengan agak hati-hati. Mungkin ia takut akan menyinggung perasaan ku, Ya Allah.. Betapa sayang nya ibu serta kakek ku, aku tahu kalau mereka begitu mencemaskan aku..
Aku masih 19 tahun.. perjalanan ku masih begitu panjang.. Takkan mungkin aku menyia-nyiakan nya demi laki-laki yang sebrengsek itu menipu dan mempermainkan perasaan ku. Mungkin ini keputusan yang tepat untuk menepi dari sumpek nya pikiran ku.
“Kapan kita berangkat Bu?” tanya ku dengan sedikit senyum menghiasi bibirku. Ibu nampak ikut senang mendengar pertanyaan ku, begitu juga dengan kakek.
“Kalau kamu mau, nanti jam 7 kita berangkat , kita bisa minta tolong Yahya untuk mengantar dan memberinya uang sewa mobil,” jawab Kakek, memang didesa ini masih minim sekali orang yang punya mobil, hanya beberapa orang saja, kebetulan temanku Yahya, mobil nya sering digunakan untuk disewa jika ada yang hendak bepergian ke kota, karena jarak ke kota lumayan jauh.. sekitar 3 jaman.
“Yasudah.. kalau begitu aku mau beresin barang-barang yang mau aku bawa ya Bu! siapa tahu nanti disana Nisa bisa dapat kerjaan, dan bisa membantu ibu dan kakek disini..”
“Alhamdulillah sekali kalau kamu punya pikiran untuk mencari pekerjaan nak, ibu pikir kamu akan terpuruk dengan keadaan ini,”
“Sudah nak.. Malah pakde Malik mu yang memberi ide kalau kamu harus kesana, kemarin kakek menelpon dia kalau kamu tidak jadi menikah, takut nya dia sudah dalam perjalanan, jadi kakek segera menghubungi nya, syukurnya mereka baru akan berangkat, belum diperjalanan,”
“Syukurlah kek.. Nisa takut ngerepotin pakde sebetulnya, makanya Nisa berpikir untuk cari kerja.. jadi gak nganggur pas disana nanti!”
“Ya sudah.. terserah kamu saja.. mudah-mudahan ijazah kamu bisa digunakan untuk mencari kerja, ya sudah.. ayo kita beres-beres.. kami juga akan menginap disana selama 2 hari.. setidaknya setelah dirumah Nuriah itu udah pada sepi..”
Kami pun membubarkan diri menuju kamar masing-masing, untuk membereskan barang apa saja yang akan kami bawa, terutama aku yang akan tinggal agak lama disana.
Malam hari pukul 19.30 Yahya sudah datang dengan Fadil untuk mengantar kan kami ke kota, ia sengaja mengajak Fadil agar saat pulang besok ia tak sendirian dan ada teman untuk mengobrol.
__ADS_1
Fadil membantu ku membawa masuk barang-barang kami, Saat kami semua hendak masuk kedalam mobil tiba-tiba Bik Rana memanggil kami.
“Loh mbak Susan?” panggil nya dengan suara yang sangat kuat, membuat beberapa orang yang akan kondangan kerumah bik Nuriah dan Desi melihat kearah kami bersamaan. Bik Rana lari tergopoh-gopoh kearah kami.
“Kenapa sih Rana, teriak-teriak gitu!”
“Ya kalau aku gak teriak nanti mbak dan Nisa keburu naik mobil dan pergi!” jawab Bik Rana dengan nafas yang masih sedikit tersengal.
“Jadi kamu kenapa manggil kami?” tanya Ibuku.
“Mbak sama Nisa mau kemana?”
“Mau kekota Ran, mengunjungi kakak tertuaku disana, kami ada acara keluarga.. ”
“Berapa hari mbak disana?”
“Paling sekitar 2 atau 3 hari!”
“Kalian pergi karena kejadian Nisa ya mbak?” tiba-tiba Bik Rana mengulik masalah itu lagi, hal pertama kenapa aku mau pergi dari sini ya karena itu, omongan para tetangga yang menanyakan, ‘loh kok bisa sih Nis, tunangannya sama kamu nikahnya sama Desi?’ atau ada juga yang tanya ‘Desi beneran hamil sama Yudi Nis?? kasihan banget sih kamu?’.. Terkadang sebagian orang hanya pura-pura peduli padahal dalam hatinya mengumpati kita. Aku jengah mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang mereka lontarkan.
“Bukan karena itu Ran.. memang kami ada acara keluarga, dan itu sudah direncanakan sejak dulu.. bahkan jika saat ini Nisa menikah dengan Yudi, maka lusa kami akan tetap berangkat, nah berhubung Nisa tidak jadi, ya gak apa-apa dong kalau kami berangkat sekarang?” bohong Ibu, ibu juga tahu seperti apa mulut Bik Rana ini, meskipun dia selalu memihak pada keluarga kami, tapi diluar tetap saja dia akan menceritakan info yang dia dapat dari sini.
“Ohh.. begitu.. soalnya tadi ada yang bilang, kalau Nisa merasa frustasi ditinggal nikah oleh Yudi dan Desi!”
__ADS_1
Nah kan!