Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.27 Merasa muak


__ADS_3

“Puas kamu bikin malu disana mas?” hardik Desi dengan penuh emosi. Bahkan Farlina pun sudah tidak ia pedulikan lagi. Desi mencekal kuat tangan Yudi yang uring-uringan sejak kejadian di pesta Anton dan Intan tadi.


“Bisa diem gak? jangan bikin aku gelap mata Des!”


“Kamu selalu aja begini, dua tahun mas! udah dua tahun tapi kamu masih gak bisa lupain Nisa? apa artinya aku disamping kamu?!” teriak Desi dengan nada frustasi, sementara Santi dan Ahmad hanya mendengar kan saja diluar kamar, hal seperti ini sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Seperti itulah rumah tangga Yudi dan Desi setiap hari, mereka hanya saling menyalahkan satu sama lain. Meskipun Santi tidak menyukai Desi sama sekali.. tapi ia juga tidak bisa membiarkan putra nya hancur berantakan seperti itu.


“Semua ini gara-gara kamu!! kalau saja kamu tidak merusak hubungan ku dengan Nisa, saat ini tentu aku sudah menikah dan hidup bahagia bersama nya!!” jawab Yudi tak kalah sengit. Desi tertawa kecil dan mengejek Yudi.


“Bahagia?? apa aku tidak salah dengar? kalau kau mencintai Nisa sejak dulu.. lalu kenapa kau mencari kepuasan dengan ku?? karena semua itu tidak bisa kau dapatkan dari Nisa kan?? wanita itu sok suci padahal juga sama saja!!”


“Diam!!” Yudi menarik lengan Desi dan mendorong nya ke kasur. Desi agak terkejut dengan reaksi dari Yudi yang mendadak kasar. Selama ini.. jika mereka bertengkar mungkin hanya akan adu mulut saja. Tapi kali ini Desi benar-benar tidak menyangka dengan reaksi Yudi.


“Jangan pernah sekalipun kau menyebut dirinya sama dengan mu! kau dan dia tidak sama! kesalahan ku karena sudah terlena dengan bujuk rayu mu itu, andai saja dulu aku tidak tergoda, semua nya tidak akan seperti ini!”


“Kau menyesal?”


“Jelas, aku sangat-sangat menyesal, aku bodoh!” Desi mengeram Karena emosi mendengar perkataan Yudi, bisa-bisanya ia bicara seperti itu saat ada anak ditengah-tengah mereka.


“Kau lupa kalau kita sudah punya Farlina?”


“Aku tidak lupa, tapi benci dengan keadaan ini!”


“Tega kamu mas!” sentak Desi, ia pun berlalu meninggalkan Yudi dikamar dan keluar untuk mengambil Ferlina ditangan nenek nya.


“Kau mau kemana Des?” tanya Santi.


“Pulang kerumah Orangtua ku!” jawab nya ketus dan langsung pergi begitu saja, sepanjang jalan ia merasa sangat kesal dan muak dengan keadaan rumah tangga nya, selama dua tahun ia bertahan disisi Yudi , namun pria itu sama sekali tidak pernah melihat diri nya. Hanya Nisa ,Nisa dan Nisa saja yang ada dalam otak nya.

__ADS_1


‘Aku pikir dengan aku merebut mu dari Nisa maka kehidupan ku akan membaik dan bahagia, tapi apa! semua tidak sesuai dengan ekspetasi yang aku pikirkan! kau masih saja memikirkan dia mas! apa kurang nya aku? bahkan sekalipun kau tidak bekerja aku tetap berada disisi mu, semua orang mengejek ku pun aku tetap menebalkan muka, tapi kenapa justru seperti ini yang aku dapatkan?'


Desi duduk di pinggir jalan, ia menatap putri nya dengan lekat.


“Nisa.. aku tahu kau memang wanita baik, tapi aku tak suka kalau kau selalu menghambat kebahagiaanku, kau selalu saja mengisi pikiran mas Yudi, meskipun dia sedang menyentuhku, tapi bayangan mu lah yang ia imajinasi kan!


Aku akan pastikan, kau tidak akan pernah bahagia Nis.. tidak akan pernah!”


Setelah mengucapkan itu, ia langsung melanjutkan perjalanan nya kerumah orang tua nya.


Saat melewati rumah Nisa, ia menatap nanar kearah Bu Susan , Kakek Wardi dan Nisa ya g tengah berbincang-bincang, ada kakak sepupu Nisa juga disana, Gibran!


”Sial! ternyata Nisa punya sepupu sekeren Gibran, andai saja aku belum menikah.. Aku pasti bisa membuat Gibran bertekuk lutut dihadapan ku!” Gumam nya pelan, lalu kembali berjalan menyusuri jalan kerumah nya.


Sementara itu dirumah Nisa.


“Kepikiran sih sudah tentu Bu.. tapi Nisa gak mau buru-buru, belum ada juga yang deketi Nisa lagi,” jawab Nisa.


“Yakin gak ada yang deketi Nis.. ada kok tapi kamu nya aja yang terlalu dingin,” sahut Gibran.


“Kok mas tahu sih? siapa? Johan?”


“Johan siapa?” tanya kakek Wardi yang ikut penasaran dengan obrolan cucu-cucu nya.


“Lah iya.. Johan siapa?” Gibran malah balik bertanya.


“Ihh mas ini gimana sih, kata nya ada yang deketi Nisa, siapa lagi coba.. karena selama ini yang agak perhatian ya cuma mas Johan!”

__ADS_1


“Johan siapa sih!”


“Itu loh Bu, koki di cafe.. tapi kayak nya gak mungkinlah dia suka sama Nisa, wong dia koki Nisa cuma pelayan cafe aja, kebanting lah Bu!”


“Ohh Johan itu.. bukan dia yang mas maksud,"


“Terus siapa?”


“Ilyas!” jawab Gibran.


“Hah!!” Nisa melongo tak percaya, mana mungkin orang sekelas bos nya bisa suka dengnnya yang hanya pelayan cafe biasa, dengan Johan saja sudah Nisa anggap kebanting , apalagi dengan Ilyas. Bos yang terkenal dingin dan irit bicara itu.


“Lah kamu gak ngeh kalau selama ini dia suka sama kamu?” Nisa menggeleng lemah, memang ia sama sekali tak pernah menduga apapun.


“Beneran Gib? bos nya suka sama Nisa? kamu tahu dari mana?” tanya Bu Susan pada Gibran, sebagai seorang ibu tentu ia merasa antusias, dan ia berharap jika ada laki-laki baik yang akan menyunting putri nya.


“Ya tahu lah Bulek, kan Ilyas itu temen kuliah Gibran, kami kenal baik kok.. ”


“Memang Ilyas itu anak nya gimana?”


“Setahu Gibran sih keluarga nya humble kek, meskipun mereka kaya.. tapi gak pernah Mandang status temen-temen nya gimana, dan istri kakak nya Ilyas si Rio juga dari desa, dan dia diterima baik disana,” terang Gibran panjang lebar.


“Ya meskipun keluarga nya baik, gak mungkin lah mas pak Yas itu suka sama aku, banyak loh perempuan cantik diluar sana,”


“Dia suka sama kamu sejak pandangan pertama Nis, tapi dia malu ngomong nya.. karena kamu kata nya selalu aja ngasih jarak dan dingin banget!”


“Haduh.. udah deh mas..gak usah bahas soal suka-suka an dulu.. Nisa masih mau fokus kerja dulu, enak loh apa-apa bisa beli sendiri,”

__ADS_1


“Ya gak kayak gitu juga nduk! sebagai orang tua tentu kakek sama ibu kamu pengen kamu cepet nikah, tapi sama laki-laki yang baik tentunya!”


__ADS_2