Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.35 Konsultasi


__ADS_3

Setelah puas berbincang dan tukar pikiran dengan kakak ipar nya, Nisa kembali merebahkan tubuh nya dikasur. Pikirannya masih berada di awang-awang. Ia juga masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang luka yang masih terbuka lebar , hingga membuat nya sulit untuk bernafas.


“Ternyata aku selemah itu! bodoh, kenapa kau masih bersarang di sana.. kenapa sulit sekali untuk ku membuka lembaran baru, dan memberikan kebahagiaan untuk diriku sendiri?” gumam nya sendiri dengan kesal.


Sedang asyik ia berdebat dengan pikiran nya sendiri, pintu kamar nya diketuk lagi.


“Nisa ada Ilyas diluar,” kata Gibran.


“Pak Yas? dia kesini?? aku harus apa? haruskah aku menemui nya?” pikirannya berkecamuk, ia belum mampu untuk bertemu dengan orang yang tadi malam mengutarakan niat baik nya untuk menikahinya.


Tapi jika dia menghindar, bukannya akan sulit, setiap hari ia akan bertemu dengan Ilyas di cafe.


Nisa memutuskan untuk menemui Ilyas. Karena Nisa bertekad untuk bisa keluar dari Zona yang seakan mencekik dirinya dalam 2 tahun ini. Setelah memakai hijab nya Nisa keluar dari kamar nya, Ilyas sedang berbincang dengan sang kakek.


“Tuh Nisa udah datang, kalian ngobrol dulu aja.. Ingat sama perkataan kakek tadi ya nak Ilyas!” seru kek Wardi memperingati Ilyas.


“Kakek ngomong apa pak? ehh maaf mas?”


“Itu hanya aku dan kakek saja yang tahu, oh ya.. gimana keadaan kamu?” tanya Ilyas.


“Aku baik mas, soal tadi malam aku...”


“Udah, jangan bahas itu dulu.. Aku paham dan ngerti Nis, aku denger dari Gibran, kamu mau konsultasi ke psikiater ya?”


“Iya mas, awalnya aku malu sih.. tapi mereka bilang aku harus berani,” Ilyas mengutas senyum nya.


“Itu saja sudah jadi awal yang bagus Nis, kamu tahu kan, setiap manusia pasti punya masalah nya masing-masing! tergantung gimana kita nyikapinya.. apa yang terjadi sama kita, itu sudah jadi bagian dari takdir..


Kamu harus bisa keluar dari rasa takut mu sendiri, terlepas dari pernyataan aku ke kamu malam tadi,” kata Ilyas membuat hati Nisa sedikit menghangat.


Dalam hati ia berpikir, benarkah perasaan Ilyas padanya..

__ADS_1


“Makasih mas!” jawab Nisa, hanya kata-kata itu saja yang keluar dari mulut nya, Nisa masih berasa canggung dengan kenyataan kalau Ilyas benar suka padanya dan..


“Oh ya, aku juga udah bilang sama Gibran, kalau aku punya kenalan psikolog, ya masih sepupu sih.. Tapi aku yakin kamu bakal nyaman konsultasi sama dia.. perempuan kok!”


“Siapa mas?”


“Alsinta Adiatma, dia salah satu psikolog terkenal di kota ini, kalau kamu mau .. hari ini bisa juga kita langsung kesana, gimana?”


“Hari ini? tapi bukannya kita harus buat janji dulu ya..”


“Gampang itu, aku suruh dia cancel semua jadwal hari ini, untuk kamu!” balas Ilyas lagi dengan mantap.


“Gak bisa gitu dong mas! mana boleh,”


“Udah kamu tenang aja! sekarang kamu nya mau atau enggak?!”


“Yaudah deh, aku mau!”


“Oke,”


*


*


Entahlah dari sudut mana rasa itu ada, setiap memandang Nisa, hatinya terasa teduh dan sulit untuk dijelaskan. Tapi sebelum Ilyas mampu menggapai hati wanitanya, ia harus berusaha keras menyembuhkan rasa trauma Nisa yang jelas akan mengganggu masa depannya kelak. Bukan ia tak terima dengan masa lalu nya, setiap orang punya masa lalu.. tapi rasa trauma yang dialami Nisa sungguh itu membuat hati Ilyas sedih.


Setelah menempuh jarak yang agak jauh, mereka sampai setempat tujuan. Dari depan sudah berdiri seorang wanita cantik dengan kulit yang putih bersih, meskipun tidak menggunakan hijab tapi wanita itu cukup anggun.


“Hai Yas, ini yang kamu ceritakan itu?” sapa Sinta.


“Iya Sin, ini Nisa..”

__ADS_1


“Salam kenal mbak! maaf karena kami tidak buat janji dulu..”


“It‘s okay.. karena Mochi satu ini sudah mencancel seluruh tamu ku hanya buat kamu Nis,” seru Sinta sambil menyikut perut Ilyas.


“Sin..” Ilyas tak terima jika dirinya dipanggil Mochi oleh sepupunya itu.


“Apa?”


“Jangan sebut panggilan itu didepan Nisa, bisa dong!”


“Enggak bisa!” balas Sinta dengan ketus.


“Nisa please, jangan dengerin dia.. kita kemari untuk konsultasi kan.. jadi jangan hiraukan keabsurdtan perempuan gak laku-laku ini!”


“Hei.. harap dijaga kata-kata anda barusan, kamu sadar gak, dirimu juga belum sold out Yas..”


“Sebentar lagi!” bisik Yas pelan.


“Nis.. kamu mau nikah sama dia? dipikir-pikir lagi deh! dia ini setia orang nya,”


Nisa hanya nyengir kuda berada ditengah-tengah mereka, ternyata Sinta cukup humble orang nya. Perasaan Nisa semakin takut, takut jika sampai dia tidak memenuhi ekspektasi dari keluarga Ilyas.


“Yaudah masuk yuk.. kita mulai sesi konsul nya, tapi Ilyas tetep di luar ya?” Ilyas mengangguk setuju. Bagaimanapun itu hal pribadi Nisa sendiri.


Kini Nisa dan Sinta sudah berada dalam ruangan yang menurut Nisa sangat nyaman, aroma terapi menguat disana, hingga membuat pikiran jadi lebih rileks dan tenang.


“Jangan canggung ya.. kita bisa mulai sekarang.. jadi Nisa.. ceritakan apa saja yang saat ini masih begitu sesak dihati kamu.. Jangan terburu-buru santai saja dan biarkan semua itu mengalir dengan sendiri nya dari pikiran dan hati kecil kamu!” kata Sinta.


Nisa meremas ujung jilbab nya, tidak dipungkiri kalau saat ini ia begitu gugup.


“4 Tahun yang lalu, saya.. menjalin kekasih dengan seseorang, mas Yudi namanya.. dia begitu sangat mencintai aku , dan aku juga melakukan hal yang sama waktu itu. Kami sangat harmonis dan jarang sekali bertengkar, dan pada saat itu usia saya masih begitu belia, 18 tahun. Setelah menjalin hubungan selama 1 tahun, dia melamar ku untuk menjadi istri nya. Jelas aku sangat bahagia, pada saat itu saya baru saja lulus sekolah menengah atas, dan setelah genap 2 tahun, dan usia saya juga genap 20 tahun kami memutuskan untuk menikah!

__ADS_1


Aku pikir, aku adalah wanita yang sangat beruntung mendapatkan pria baik seperti mas Yudi, dia tampan dan juga mapan.. 3 hari menjelang hari H, semua dekorasi sudah dipasang di halaman rumah ku, harus nya aku bahagia kan.. tapi kisah ku dihantam badai besar, bahkan sangat besar.. sampai aku tidak mampu mempertahankan nya lagi, calon suami ku, orang yang begitu sangat aku cintai, menghamili sahabat ku sendiri! aku hancur.. impian bahagia ku seperti di jatuhkan berkali-kali, rumah tangga sudah hancur bahkan sebelum dimulai.. tapi dia datang memohon maaf padaku mbak.. dia frustasi sejak aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami dan menyuruh nya menikahi sahabat ku!


Ada gejolak batin saat dia seperti ini.. aku bingung, masih kan ada rasa cinta untuk nya, atau semua itu hanya rasa kecewa ku saja!”


__ADS_2