Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.37 Ternyata?


__ADS_3

“Gak apa-apa mas,” jawab Nisa, ia langsung mengalihkan pandangannya kearah lain, karena merasa malu, bertatapan langsung dengan manik mata Ilyas.


“Maaf , aku gak lihat kalau ada polisi tidur tadi,”


“Gak apa-apa mas,” jawab Nisa singkat, dadanya masih bergemuruh hebat dengan kejadian barusan.


Begitu sampai dirumah, Ilyas hanya pamit pada Gibran karena sudah larut malam. Begitu Nisa masuk, semua keluarganya sudah menunggu diruang tamu untuk menanyakan bagaimana keadaan nya.


“Gimana Nis? maksud Ibu perasaan kamu sekarang gimana nak?”


“Alhamdulillah Nisa agak lega Bu, dan mbak Sinta itu baik banget mashaAllah,”


“Masa sih? cantik gak orang nya?” sahut Gibran.


“Mas! aku pulang tu ditanya kek gimana tadi, ini malah nanyain orang nya cantik atau enggak!” gerutu Nisa pura-pura merajuk.


“Ya ampun dia ngambek karena gak ditanyain loh Bulek!”


Susan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua, tapi seperti nya Nisa sudah jauh lebih baik saat ini.


“Kan Ibu udah wakilin Gibran untuk tanya sama kamu Nak!” jawab Ibunya.


“Aku juga belum tahu Bu, tapi jujur sekarang aku jauh lebih tenang, ya mudah-mudahan cara ini berhasil,”


“Btw Nis.. kamu belum jawab loh, yang namanya Sinta itu cantik atau enggak!”


“Cantik banget mas, udah cantik baik pulak..”


“Masa sih, namanya juga dia itu psikolog, ya jelas kelihatan baik lah,”


“Enggak mas, aku yakin emang dasarnya dia orang yang baik, buktinya dia gak maksa tuh aku harus terima Mas Ilyas, kan mereka sepupuan.. Justru dia lebih bijak memberikan saran agar aku lebih matang dalam memikirkan jawaban untuk mas Yas!”


“Ciiee mas Yas!” ejek Gibran yang diselingi tawa para petuah disana.


Nisa yang merasa malu langsung masuk kedalam kamar nya. Bayangan tentang Yas dan kejadian tadi membuat nya berdebar tak karuan.

__ADS_1


“Perasaan ku kenapa sih, gak bisa dikontrol banget!” gumam nya sendirian.


*


*


Esok hari nya, Nisa bersiap datang ke Cafe. Hari ini ia sudah merasa segar dan akan bekerja seperti biasa nya.


Gibran juga sudah menunggu Nisa, untuk berangkat.


Setelah sampai di Cafe, Nisa terkejut saat melihat ada Yudi disana. Orang yang membuat nya merasa sakit hati yang teramat dalam, orang yang paling sangat ia hindari saat ini. Dan kenapa sekarang malah dia aada disini.


“Nisa!” panggil Yudi. Nisa memalingkan wajah nya, malas sekali rasanya jika harus berhadapan dengan Yudi, anak-anak pasti akan tahu tentang masa lalu nya kalau Yudi ada disini.


Nisa lebih memilih pergi dari sana, namun tangannya segera dicekal oleh Yudi.


“Tunggu Nisa!”


“Mau apa lagi?”


“Bukan urusan kamu!”


“Nis, please.. kamu mau jadi pusat perhatian anak-anak yang lain? aku ingin bicara.. aku mohon, beri aku kesempatan untuk bicara sama kamu!” mohon Yudi dengan suara yang sedikit tertahan. Bagaimanapun ia tak mau jika masalah pribadinya dengan Nisa jadi konsumsi publik anak-anak yang kerja disana juga. Jelas itu akan menggangu Nisa.


Dengan berat hati Nisa menurut, ia pergi ke teras belakang yang memang digunakan, jika karyawan sedang ada tamu.


“Disini aja!” jawab Nisa ketus, ia tak mau kalau sampai Yas tahu soal ini.


Yudi mencoba meraih tangan Nisa, namun Nisa menepis nya.


“Tolong bersikap normal ya mas! aku bukan siapa-siapa kamu!” bentak Nisa.


“Aku tahu.. Tapi aku masih sangat mencintai kamu Nisa... Aku, aku gak bisa hidup tanpa kamu! Aku sengaja datang kesini untuk mencari kamu, aku rindu kamu Nisa,” kata Yudi dengan tatapan sendu, mata nya merah karena menahan tangis. Nisa bisa melihat kalau Yudi tidak mungkin berbohong. Jika dia sudah menangis, itu artinya dia sungguh-sungguh mengatakan yang sebenarnya.


“Cinta yang mana yang kamu maksudkan mas? cinta itu sudah habis tepat saat kau berpikir untuk mengkhianati aku!”

__ADS_1


“Aku salah, aku khilaf.. aku bodoh Nisa! aku sadar hidup dan cinta ku hanya untuk kamu!”


“Kalau memang seperti itu, harusnya kamu tahu resiko saat kamu akan bermain gila dengan Desi! Aku manusia mas, aku punya hati dan pikiran, kalau kamu sendiri tidak menghargai ikatan kita, lalu apa lagi yang harus aku pertahankan!”


“Tapi aku menyesal Nisa!”


“Apa itu bisa merubah semua nya?? apa penyesalan mu bisa mengembalikan rasa trauma ku tentang pernikahan?? Bisa?!”


“Nisa...”


“Stop mas Yudi! tolong stop! Aku.. sedang berusaha menghilangkan rasa sakit ku pada kalian berdua, kenapa kau mengusik ku lagi?? apa kau lupa kalau saat ini kau sudah punya anak?? kau sudah punya istri, jangan mengabaikan kebenaran hanya untuk memenuhi ambisi bodoh mu itu!”


“Kau bilang cinta ku bodoh?? aku sangat mencintai kamu Nisa, aku meninggalkan mereka demi kamu! demi untuk bisa bersama kamu!”


“Tapi aku gak mau mas! aku bukan perempuan yang merebut suami orang! sudah cukup kau menghancurkan hidup ku dengan selingkuh dari ku, dan sekarang tolong pergilah..”


“Enggak Nis, aku sudah berkorban banyak demi untuk bisa sampai disini, kau lihat aku sekarang, hidup ku berantakan Nisa!! Aku seperti orang gila yang mengharapakan dirimu, apa kau tahu itu?!”


“Kau sendiri yang membuat semua nya menjadi rumit mas! aku sudah ikhlas melepaskan mu hidup dengan Desi, lalu apa lagi?” teriak Nisa dengan kuat, membuat teman-teman nya langsung berhambur mendekati nya. Begitu juga Ilyas.


Rupanya sejak tadi Ilyas mendengar apa yang mereka berdua katakan, jadi Yudi itu laki-laki yang membuat Nisa jadi seperti ini?


Tanpa sadar, tangan Ilyas terkepal dengan sempurna.


“Aku ingin kau kembali padaku!! mudah kan!” jawab Yudi enteng.


“Kau pikir semua nya bisa kau atur sesuka hatimu??”


“Aku bisa melakukan apa saja demi cintaku Nisa! Ayo kita pulang ke desa, aku akan menceraikan Desi dan kita akan menikah!” Yudi mencekal tangan Nisa dengan kuat, ia mencoba melepaskan pegangan tangan Yudi, namun tenaga perempuan nya tidak mampu menangkis kekuatan tangan kekar Yudi.


“Lepas mas!”


“Gak akan! kalau ku lepas kau akan pergi jauh lagi dari ku Nisa, dan aku gak sanggup!” jawabnya dengan menatap Nisa, mata nya sudah merah karena air mata membendung disana.


“Tapi kau menyakiti ku mas! apa belum selesai kau membuat ku sakit? Kau membuat melodi trauma ku sendiri! kau ingin aku terus bergerak mengikuti arahan mu?? sampai kapan? semua nya sudah berakhir, tidak ada secuil pun yang tersisa untuk dihargai dan dipertahankan! kau mengenggam masa lalu ku, lalu kau lempar sekuat hatimu ke hadapan ku lagi! apa seperti itu bentuk cinta mu? seperti itu rasa sayang mu? kau sudah menghancurkan duniaku, kepercayaan ku, dan cinta ku!! kau ingin mengahancurkan apa lagi?!” balas Nisa, untuk pertama kali nya ia mengeluarkan semua rasa sakit nya selama ini, rasa sakit yang membelenggu batin dan jiwa nya.

__ADS_1


Ia tak peduli jika saat ini ia jadi pusat perhatian orang-orang cafe. Termasuk Ilyas dan Johan.


__ADS_2