
“Masa depan?? Lo udah nikah kan? gue denger dari anak-anak kata nya elo udah nikah,” Yudi diam, ia tak menjawab perkataan Ilyas, kini netra mata nya justru menatap ke bawah. Memikirkan bagaimana nasib percintaan nya yang naas, gara-gara kebodohan nya sendiri.
Melihat Yudi diam, Ilyas berinisiatif menawari nya minum, mungkin masalah sahabat lama nya ini lebih rumit dari perkiraan nya.
“Minum dulu gih! atau elo mau makan apa gitu.. biar gue pesenin ke anak-anak,”
“Gak usah Yas, ini aja udah cukup!” tolak Yudi, karena memang dia kesana bukan buat makan atau liburan, tapi untuk meyakinkan Nisa untuk kembali pada nya.
“Lo kalau mau cerita, cerita aja.. kali aja gue bisa bantu!” kata Ilyas, padahal saat ini masalah nya dengan Nisa juga rumit, tapi ia tetap menawarkan diri untuk membantu sahabat lama nya.
Akhirnya Yudi bercerita soal hubungan asmara nya dengan Nisa dan soal ia yang hanya sekedar bermain-main dengan Desi hingga gagal nya pernikahan yang ia impikan selama ini, karena kecerobohan nya sendiri.
Semua Yudi ceritakan dengan detail, tak ada satupun yang terlewat. Mendengar itu, Ilyas jadi teringat pada Nisa yang juga bernasib sama dengan mantan kekasih sahabat nya, hanya saja Yudi tak menyebutkan secara gamblang siapa nama dari wanita yang sangat ia cintai itu.
“Gue minta tolong, supaya gue bisa kerja disini..sementara aja Yas.. Sampek gue bisa yakinin dia untuk kembali ke gue lagi!” mohon Yudi.
“Lo waras yud! anak istri Lo gimana di desa sana? Lo gak mikir gimana mereka kalau Lo disini?” Menurut Ilyas, Yudi ini seorang pengecut yang lari dari kenyataan.
“Gampanglah mereka, kan ada orang tua gue!”
“Parah Lo sih! mereka itu tanggung jawab elo, lagian semua masalah ini kan karena Lo sendiri yang buat, kalau Lo beneran cinta tuh sama mantan calon istri Lo, gak ada alasan untuk mengkhianati dia Yud! apapun itu?!”
“Gue khilaf Yas! kan gue bilang tadi awal nya gue cuma main-main doang!”
“Terserah elo deh, gue udah ingetin ya.. kalau soal kerja disini, bisa sih.. tapi cuma waiters lowongan yang ada,”
“Gak apa-apa , apa aja yang penting gue bisa disini dulu!”
Setelah disetujui Ilyas, Yudi langsung berkemas untuk mencari kos-kosan untuk beberapa bulan saja. Ia yakin, jika ia terus berusaha mendapatkan hati Nisa kembali, usaha nya itu takkan sia-sia.
Sedangkan Ilyas, setelah Yudi pergi, ia langsung menelpon Gibran, untuk menanyakan perihal kelanjutan dari calon istrinya itu.
“Halo Gib, gimana?” tanya Ilyas melalui sambungan telepon.
(Alhamdulillah, Nisa mau ke psikiater Yas,)
“Alhamdulillah, kalau gitu.. biar gue aja yang atur pertemuan nya sama kakak sepupu gue, insyaAllah banyak orang yang sudah konseling dengan nya jadi lebih baik,”
__ADS_1
(Oke.. entar Lo tinggal kabari gue ya?)
“Iya.. Tapi boleh aku ngobrol sama Nisa?”
(Sorry Yas, dia lagi ngobrol sama ibunya.. sehabis ashar Lo kemari ya.. Kakek mau ketemu Lo katanya!)
“Serius gue kesana Gib, tapi Nisa?”
(Udah Lo datang aja!)
Sambungan telepon pun terputus, Ilyas melirik arloji dipergelangan tangannya.
“Masih ada waktu 3 jam lagi!” gumam nya sendirian. Ilyas berjalan mendekat kearah para karyawannya.
“Temen-temen, sebentar lagi ada temen saya yang bakal gabung jadi waiters disini, cowok! jadi saya harap kalian bisa berbaur dengan baik dengan dia ya?”
“Baik pak!” setelah itu Ilyas pergi.
*
*
POV Nisa
Udara siang ini sedikit panas, dan entah kenapa aku malah berdiam diri dirumah dan tidak bekerja. Hanya karena pemilik cafe itu mengutarakan niat baik nya padaku, aku langsung sesuka hati meminta libur??
Ya Allah.. Kenapa beban ini sulit sekali hilang dari pundak ku!
Aku menghela nafas dengan kasar, apa aku sungguh harus ke psikiater? bagaimana tanggapan keluarga pak Yas nantinya.
Pak Yas orang baik, harusnya dia bisa dapat perempuan yang jauh lebih baik dari aku kan?
Tok tok tok..
Terdengar suara pintu diketuk dari luar.
“Sayang.. makan dulu yuk.. itu Ibu bikin Sempol ayam kesukaan kamu!” seru Ibu dari luar, aku gegas membuka pintu. Padahal kalau dulu mendengar kata sempol, aku langsung senang. Tapi kali ini, rasanya nafsu makan ku mendadak hilang.
__ADS_1
“Iya Bu.. nanti Nisa nyusul ya?”
“Sekarang atuh neng, ini udah siang tapi kamu belum sarapan juga loh!”
“Yaudah Nisa makan,” jawab ku pada akhir nya. Aku sadar mereka semua cemas karena keadaan ku yang seperti ini. Aku pikir semua akan hilang seiring berjalan nya waktu. Tapi.. semakin lama rasanya semakin menjadi.
Aku dan Ibu datang ke meja makan, rupanya disana sudah ada istrinya mas Fauzi beserta anak mereka yang gemoy.
“Aduh ganteng nya keponakan Tante..” sapa ku pada nya.
“Iya nih.. Alia kesini mau nemeni Tante makan?” jawab Ibu nya dengan menirukan suara khas anak kecil.
“Maacih sayang..”
“Itu loh Nis, mbak juga bikin sate kesukaan kamu, mas Fauzi bilang kamu suka sekali dengan sate pake bumbu kacang, mbak bikinin khusus buat kamu,”
“Ya Allah mbak repot-repot loh! padahal mbak kan punya anak kecil,” kata ku.
“Enggak repot sama sekali! udah kamu makan gih! menghadapi kenyataan juga butuh tenaga Nis!” balas nya lagi membuat hatiku menghangat. Setidaknya aku bisa menemukan sosok kakak perempuan didalam diri mbak Naina.
Saat aku sedang berjuang menyuapkan nasi ke mulut, tiba-tiba mbak Naina memegang tangan ku.
“Mbak boleh nanya?”
“Tanya apa mbak?”
“Kamu masih cinta sama Yudi?”
Aku diam, bingung harus menjawab apa.
“Ya gak mungkin lah mbak, dia kan udah punya istri dan anak!”
“Jangan bohong Nis, kalau kamu gak cinta lagi, kenapa rasa trauma itu masih ada?”
“Aku gak tahu mbak, perasaan yang aku rasain sekarang itu cinta atau kecewa, kalau itu cinta aku bisa aja cemburu kan liat mereka berdua waktu diacara nya mbak Intan kemarin, tapi gak ada sedikit pun rasa itu, malahan aku tuh benci banget mbak lihat dia lagi, apa coba yang mau dia buktikan ke aku dengan dia jadi berantakan seperti itu!”
“Ya jelas dia mau kamu balik lagi sama dia, tapi kamu juga harus ingat, benci sama cinta itu perbedaan nya tipis banget! jadi mbak harap jangan sampai kamu terjebak dengan kata-kata manis nya lagi! kamu harus inget kalau dia sudah ada istri dan anak!
__ADS_1
Jujur mbak gak suka dengan cara nya yang sudah berbuat tapi tidak mau mengakui, dia bukan pria baik-baik Nis!”