Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
40. Aku menerima kamu


__ADS_3

“Maksud kamu apa hah! kamu bilang aku bohong, hello Naima aku tuh bener-bener dihubungi sama Mas Ilyas, kalau nggak percaya nih kamu cek aja HP aku!” Mila barang, ia kesal sekali dengan Naima yang selalu saja memilih Nisa. Padahal apa sih bagusnya Nisa cantikan juga dia. Batin Mila.


“Aduh udah deh, males banget nanggepin orang yang tingkat halunya itu tinggi banget,”


“kamu ngatain aku halu, kurang ajar kamu ya Naima!” tanpa aba-aba Mila langsung menampar Naima dengan kuat.


Melihat Naima meringis kesakitan, Nisa langsung maju dan menarik Naima kebelakang nya.


“Ya ampun mbak! kok gitu sih?”


“Apa? kamu mau sok kuasa karena calon istrinya bos gitu.. ngaca dong Nis.. modelan kayak kamu tuh gak pantes buat Pak Ilyas!”


“Jadi yang pantes mbak gitu? kalau mas Ilyas nya mau silahkan mbak, bukan aku yang ngejar-ngejar dia.. tapi mas Ilyas sendiri!” jawab Nisa tak terima, rasa kesal nya pada Yudi masih memuncak. Dan kini Mila juga ikutan bikin dia tensi!


“Ooh bagus sekali ya alasan mu Nisa! sok cantik kamu, dari kampung aja belagu.. mending kamu pulang deh.. tuh mantan kamu masih tergila-gila sama kamu, aku jamin seratus persen, kalau orang tua pak Ilyas pun jijik sama kamu!”


“Mila!!” bentak Ilyas dari pintu ruangan nya. Johan memberi tahunya kalau Naima ditampar oleh Mila, dan Ilyas juga mendengar debat antara Nisa dan Mila yang membuat telinga nya panas.


“Pa-k Ilyas..” Mila tergagap, ia pikir Ilyas sudah pergi karena tadi ia melihat Ilyas jalan keparkiran, rupanya tebakannya meleset. Ilyas masih berada disana.


“Apa-apaan kamu? tahu dari mana kamu kalau orangtua saya jijik dengan Nisa? mereka kasih tahu kamu?” tanya Ilyas, mata nya tajam menatap Mila yang sedang berdiri dan memilih ujung jari nya.


Nisa bisa melihat sorot mata Ilyas begitu marah, selama ini Ilyas tak pernah begitu kepada karyawannya, itulah kenapa semua nya betah kerja di cafe ini, termasuk Nisa sendiri.


“Bu-kan gitu pak.. maksud saya..”


“Kamu gak sopan mencampuri urusan pribadi saya, menampar teman sesama pekerja.. dan menebarkan berita bohong tentang saya! Apa kita akrab sampai kamu melakukan semua ini?”


“Eng-gak pak.. Sa-ya..”


“SUdahlah! kamu gak pantes kerja disini, attitude kamu gak bagus sama sekali.. Mending kamu pulang aja deh, saya pecat kamu sekarang!”


“Tapi pak.. Saya mau kerja dimana setelah ini..”


“Itu urusan kamu!”


“Pak! saya mohon.. Jangan pecat saya.. Saya minta maaf pak!”


“Kamu sudah mengusik Rana pribadi saya, apalagi kamu mengaku dihadapan calon istri saya kalau saya sering menghubungi kamu malam hari. Kamu tahu kan apa efek kamu mengatakan itu? dan kedua.. Kamu menampar Naima, hanya karena dia mengatakan Yang sebenarnya! Bagi saya semua itu sudah Tidak bisa saya tolerir lagi! sekarang kamu pergilah.. ”


Mila tergugu, hilang sudah harapannya untuk bersanding dengan bos dari Cafe ini. Padahal ia sudah bermimpi kalau ia akan hidup enak saat sudah menjadi istri Ilyas. Tapi semua harapan itu hilang karena ada nya Nisa.

__ADS_1


Ia berjalan gontai kearah ruang ganti, tepat saat ia melewati Nisa, iris mata nya menatap tajam Nisa. Dan setelah itu, ia langsung mengambil tas nya dan pergi dari sana.


Mila pergi dengan hati yang sangat dongkol. Berulang kali ia mengumpati Nisa dan Naima dalam hati.


“Tunggu!” panggil seseorang dari arah samping.


“Kamu..”


“Kamu dipecat?” tanya seseorang itu, Mila mengangguk.


“Kamu menyukai Ilyas ya..”


“Iya mas!”


“Kalau begitu, gimana kalau kita kerjasama?”


“Kerja sama?”


*


“Naima, kamu gak apa-apa kan?” tanya Ilyas pada Naima, ia melihat pipi Naima sedikit merah.


“Terimaksih karena kamu sudah membantu Nisa,”


Naima mengangguk, dan Nisa masih diam saja. Kejadian hari ini membuat nya sedikit kelelahan. padahal hari masih begitu pagi.


“Nisa.. Aku ingin bicara padamu.. datang lah keruangan ku sekarang,” titah Ilyas, ia langsung berbalik dan kembali masuk kedalam ruangannya.


Nisa menarik nafasnya dalam-dalam dan membuang nya dengan perlahan. Entah kenapa saat Ilyas mengatakan ingin bicara padanya, jantung nya berdetak hebat.


“Jangan gugup, Nis! santai saja mau ketemu calon suami tuh!” ledek Naima, ia ingin Nisa tidak gugup.


“Apaan sih Naima.. paling ngobrol yang tadi, masalah mbak Mila itu,”


“Heran kan.. kok ada ya.. manusia kayak Mila, percaya diri banget! memang sih percaya diri itu boleh, tapi jangan berlebihan ah, imbangi juga rasa malu nya.” papar Naima lagi.


“Udah lah Ma, mungkin dia terlalu suka sama bos kita..”


“Kamu enggak ??” Naima menaik turunkan alis nya menggoda temannya ini.


“Engg... udah ah, aku masuk dulu!” Nisa langsung berlari kecil untuk masuk keruangan Ilyas.

__ADS_1


Johan sejak tadi mendengar obrolan mereka menghela nafas berat, “Semoga memang Ilyas kebahagiaan mu Nis.. Ternyata seperti ini definisi mencintai dengan ikhlas!” ucap nya sendiri.


*


“Mas..” panggil Nisa begitu ia sampai diruangan Ilyas.


“Ayo kita duduk disitu!” ajak Ilyas.


“Mau bicara apa?”


“Emm, maaf sebelumnya kalau pertanyaan ku sedikit memaksa Nis.. ”


“Mau tanya apa mas?”


“Bagaimana jawaban dari lamaran ku malam itu?”


Hening, tiba-tiba suasana menjadi benar-benar hening. Nisa tahu pasti Ilyas akan mempertanyakan ini lagi. Mungkin karena kedatangan Yudi tadi, jadi ia meminta kejelasan pada Nisa.


“Apa mas yakin ingin menikah dengan ku?” tanya Nisa, kini ia sudah berani menatap manik mata Ilyas yang hitam legam itu.


Pria tampan, dengan rambut yang tersisir rapi itu langsung mengangguk cepat.


“Sangat yakin.. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi aku akan berusaha untuk selalu membuat mu bahagia.”


“Yang berjanji saja bisa mengingkari, apalagi yang tidak berjanji! apa jaminan nya kalau kau tidak akan menyakiti ku, mas?”


“Saat kita menikah, saat lafaz ijab Qabul terucap dari bibirku, saat itu aku berjanji pada Allah untuk selalu menjaga, bertanggung jawab dan menyayangi mu sepenuh hatiku, Nis.. janji apa yang lebih bagus dari pada janji kita pada Allah? jika aku ingkar.. maka Allah sendiri yang akan menghukum ku!”


Mendengar itu, tiba-tiba saja bibir Nisa tersenyum.


“Kalau begitu aku menerima lamaran mu mas! datanglah pada Ibu dan kakek ku, minta lah Restu mereka.. Jika mereka setuju aku ingin, pernikahan kita diadakan secepatnya.. apa kamu bisa?”


“Bisa!” jawab Ilyas mantap, tidak dapat digambarkan bagaimana bahagia nya hati Ilyas mendengar jawaban dari Nisa. Ia ingin segera pulang dan mengabari pada kedua orang tua nya.


Nisa juga merasakan kelegaan yang luar biasa, tidak ada lagi beban yang seakan menghimpit nya saat membahas soal pernikahan, tidak seperti waktu itu. Apa karena tadi saat bertemu dengan Yudi ia menumpahkan segala yang membuat nya sesak?


“Tapi.. saat aku masih merasa tidak nyaman soal kejadian malam itu, apa kamu mau bersabar mas??” meskipun saat ini ia sudah merasa lega, Nisa takut kalau suatu hari ia masih merasakan trauma itu.


“Aku akan tetap mendampingi kamu, apapun kondisi nya!”


“Terimakasih, mas!”

__ADS_1


__ADS_2