
Keluarga Yudi langsung menuju tempat yang sudah disediakan untuk akad nikah resmi mereka, setelah berkumpul.. Pihak dari KUA pun sudah datang.
Ijab Qabul pun selesai, meski Yudi 2 kaki salah sebut nama, dan pandangan mata nya juga tak lepas dari Nisa yang menurutnya Hari ini sangat cantik.
“Selamat ya.. mulai sekarang kalian berdua sudah resmi menjadi suami istri, baik secara agama maupun negara,” ucap petugas KUA tersebut. Desi mengulum senyum nya, impiannya untuk bersuamikan Yudi telah tercapai. Ia tak peduli dengan perasaannya Nisa ataupun omongan para tetangga.
Acara selanjutnya yaitu temu pengantin, dari pihak Desi Nisa dan Eka yang menjadi pagar Ayunya, sementara dari pihak Yudi kerabat nya dari tetangga sebelah.
Sejak prosesi temu pengantin, mata Yudi bukan melihat ke pengantin nya melainkan ke Nisa, sejujurnya Nisa tidak kuat berada lama-lama disana, bagaimana pun ia merasakan sakit yang luar biasa melihat semua ini. Tapi ia ingin membuktikan pada keluarga Desi, kalau ia tak butuh laki-laki yang pengecut seperti Yudi itu.
Bik Rana menghampiri Nisa, “Nis.. kok kamu kuat sih disini, harusnya tu hari ini pernikahan kamu!” ucapnya.
“Mau bagaimana lagi Bik, bukan dia jodohku.. Bukannya pengkhianat akan berjodoh dengan pengkhianat juga!” jawab Nisa dengan nada suara yang agak ditinggikan, membuat Nuriah dan Desi bisa mendengar itu, entah kalau dengan Yudi. Desi tak peduli dengan ucapan Nisa, malah ia semakin mengeratkan pegangan tangannya di lengan kekar Yudi.
Nuriah tersenyum miring, kali ini ia merasa telah menang dari Susan.
“Nis.. pulang yuk,” ajak Nining dan Eka.
“oke deh.. tapi kita salaman dulu sama pengantin nya!”
“Yakin ni mau salaman?”
“Udah lah ayoo!” Nisa menarik tangan kedua sahabatnya menuju kepelaminan. Orang pertama yang menyalami mereka adalah Eka.
“Selamat ya buat kalian berdua.. semoga gak langgeng!” Ucap Eka dengan menyipitkan matanya, Desi merasa geram di do‘akan begitu.
“Kok do‘a lo kayak gitu sih Ka!”
“Ya terus gue harus do‘ain apa?? do‘ain kalau Yudi bakal direbut orang lain juga??”
__ADS_1
“Jaga ucapan Lo ya.. gue tahu Lo itu setia kawan sama Nisa, tapi buktinya Yudi tetap milih gue kan? Gue lebih baik dari Nisa!”
“Teeserah elo deh, tapi gue ingetin ni ya... dari dulu.. Lo itu selalu aja ngerebut apa yang punya Nisa, segitu terobsesinya ya elo sama kehidupan nya dia, karma itu bakal ada Des, kalau bukan nimpa elo, anak Lo yang nanggung! ngerebut kepunyaan orang kok bangga!” jawab Eka lagi lalu ia beralih pergi dari sana, Yudi tak bereaksi sama sekali saat Eka mengatakan itu, karena saat ini yang ada didalam pikirannya hanya Nisa!
“Kurang ajar banget mulut lo Ka, biar aja gue sumpahin gak nikah-nikah seumur hidup!”
Eka bodo amat di sumpahin seperti itu, ia melengos meninggalkan mereka disana.
Kini giliran Nining yang menyalami mereka, hal dilakukan Eka juga dilakukan Nining.
“Semoga aja gak bahagia!” ucap Nining.
“Kalian kenapa sih! kompak banget ya ngejudge gue? tapi terserah lah kalian mau ngomong apa, yang penting sekarang gue udah nikah, dan sebentar lagi bakal punya anak , ya kan sayang!” Yudi menatap malas pada Desi yang melawan teman-teman Nisa, sejak tadi ia sudah mengatupkan bibir rapat-rapat.
“Tuh liat.. Suami Lo aja diem, gak malu? udah ah.. ini gue datang kesini hanya karena kita satu kampung dan satu sekolah, kalau gak juga ogah!” Nining berlalu cepat dan langsung turun dari pelaminan.
Dan kini, tibalah giliran Nisa yang menyalami mereka.
“Ternyata dari kalian bertiga, masih ada juga do‘a yang bener.. makasih ya Nisa...kau memang sahabat yang baik!”
“Aku bukan sahabat mu! jangan sok akrab lagi dengan ku mulai sekarang!”
“Nisa.. apa kau sungguh tidak mencintaiku lagi? yang terjadi sekarang ini salah Nis.. kita masih bisa bicara baik-baik!” rengek Yudi, yang membuat Desi langsung terbakar api cemburu.
“Apaan sih mas, kamu suami aku sekarang ya.. jangan macam-macam!” kata Desi dengan memelototi Yudi, berharap suami nya itu, tidak akan melakukan hal seperti itu lagi didepannya.
“Sejak awal aku gak mau nikah sama kamu, aku diam bukan berarti aku menerima semua nya!” jawab Yudi yang tak mau kalah.
“Kalau kalian ingin bertengkar silahkan bertengkar berdua, jangan libatkan aku! permisi!” Nisa pergi dari sana, karena sudah merasa muak dengan mereka berdua.
__ADS_1
“Nisa!” Yudi masih mencoba memanggilnya berharap gadis itu akan berubah pikiran dan kembali padanya.
Namun dari arah bawah, Ahmad dan juga Santi sudah memelototi anak nya itu , membuat nyali Yudi menciut dan urung untuk mengulangi panggilannya.
Nisa langsung berjalan cepat kerumah nya, sesampai dikamar.. ia langsung membanting tubuh nya kekasur dengan keadaan telungkup.
Wajah nya basah karena air mata yang sudah sejak tadi ingin keluar, dadanya sesak, jauh dilubuk hatinya.. ia masih mengira ini adalah mimpi buruk, meskipun dengan mata nya sendiri ia melihat kalau laki-laki yang pernah amat ia cintai itu menikahi wanita lain, yang tak lain ada sahabat nya sendiri.
Kenapa mas??
Kenapa harus dia?
Aku masih belum yakin kalau ini nyata, aku masih belum percaya kalau kau tega melakukan ini padaku..
Jika memang aku tidak bisa membuat mu bahagia, kenapa tidak jujur?
Kenapa aku harus menanggung semua ini?
Sebagai wanita biasa, tentu ia merasa sakit.. Meskipun diluar ia nampak kuat, tapi hati nya benar-benar seperti dipatahkan, semangat hidup nya hilang entah kemana.
Sang kakek Wardi, yang melihat kondisi cucunya seperti itu pun merasa gelisah, ia mondar-mandir didepan pintu kamar Nisa memikirkan sesuatu.
“kenapa toh pak.. kayak cemas gitu?” tanya Susan.
“Itu loh Nisa, aku cemas sama keadaan dan masa depan nya, pasti trauma gagal nikah ini akan ada Sus, kalau dia tetap disini dia masih akan ketemu sama Yudi dan Desi!”
“Iya ya pak, kok aku gak ada kepikiran kesana, terus gimana pak? apa kita pindah saja ke desa sebelah dekat mas Warno?”
“Kita gak usah.. gimana kalau dia kita antar ke rumah Malik?”
__ADS_1
“Mas Malik yang dikota pak.. ”