
Sejak kejadian bertemu dengan Bu Arumi di gang komplek kemarin, setiap bertemu dengan Ilyas di cafe Nisa agak merasa canggung. Apalagi Gibran bilang kalau Yas menyukai diri nya.
Seperti pagi ini, Yas mengumpulkan seluruh karyawan untuk brefing mingguan, mata Yas tak lepas dari Nisa yang kini sudah mulai mengenakan hijab, bertambah Ayu dan cantik menurut Yas.
“Semua boleh keluar , kecuali Nisa!” titah Yas melirik ke arah Nisa, semua teman sejawat Nisa pun merasa heran, pasalnya selama ini, Yas tidak pernah seintens itu berinteraksi dengan karyawan nya.
“Ada apa ya pak? apa saya membuat kesalahan?” tanya Nisa takut-takut, apa Yas akan marah dia izin selama 3 hari kemarin? Naima bilang pengunjung cafe agak ramai dan mereka sedikit kewalahan.
“Aura pak Yas dingin banget Nis, ati-ati ya?” bisik Naima ditelinga Nisa, membuat gadis itu merinding, kalau benar dia akan dimarahi..
“Hhh!”
Setelah semua nya keluar ruangan, Yas mulai berjalan mendekat dan jadi berjarak hanya satu meter saja dengan Nisa.
“Saya.. mau mengucapkan terimakasih, karena waktu itu sudah bantuin mama ,” ucap Yas membuka suara.
Nisa bernafas lega, ia pikir ia akan dimarahi, ternyata Ilyas hanya mengucapkan terimakasih padanya.
“Sama-sama pak, saya hanya membantu sedikit, tidak menghilangkan rasa sakit nya,”
“Tapi setidak nya, mama tidak merasakan sakit sebelum kau menolong nya, saya mengucapkan terimakasih banyak, nanti malam mama mengundang mu untuk makan malam dirumah Nis!”
Nisa terperangah, ia bisa menangkap sinyal lain disini, pikirannya berkecamuk hanya dengan ajakan makan malam saja. Melihat sinyal kegelisahan Dimata Nisa, Ilyas mengambil inisiatif lain.
“Kalau keberatan sendirian datang kesana, Gibran diajak juga gak apa-apa kok, asal kamu datang memenuhi undangan mama saya,”
“Yasudah pak.. saya usahakan nanti malam..”
__ADS_1
“Oke...”
“Ada yang lain pak?” tanya Nisa, pada Ilyas, laki-laki bertubuh tegap dan tinggi itu menatap Nisa dengan tatapan lain.
“Gak ada, kamu boleh keluar..” kata nya.
Nisa keluar dengan perasaan aneh. Ditatap sebegitu nya oleh Ilyas membuat ia jadi serba salah.
“Ada apa Sa?” tanya Naima yang kepo ingin tahu, karyawan yang lain juga langsung mengerubungi Nisa, dicafe milik Ilyas ini, hanya Nisa dan Naima lah waiters paling lama, karena banyak karyawan baru.
Johan juga terlihat mendekat, berusaha ingin tahu apa yang bos nya katakan diruangan tadi.
“Enggak ada sih, cuma mama nya pak Ilyas ngundang buat makan malam?” jawab Nisa gak enak, gimana kalau sampai yang lain mikir yang lain. Nisa takut disangka ada apa-apa dengan Ilyas.
“Hah! serius kamu?? kok bisa kenal dengan mama nya pak Ilyas? jangan-jangan kamu..
“Husst.. jangan mikir yang macam-macam Naima, kemarin waktu aku pulang belanja dari pasar, aku liat mama nya pak Ilyas itu kesakitan dideket komplek perumahan paman ku, aku tanya kenapa? eh rupanya mungkin asam lambungnya kambuh, aku dimintai tolong buat nelfon anak nya, yaudah deh, tanpa pikir panjang aku langsung telfon, sambil nunggu aku urutin bagian punggung nya biar gak terlalu sakit, karena pengalaman pas dikampung, kalau asam lambung ku lagi tinggi dan susah nafas, ibu aku selalu pake cara itu, dan Alhamdulillah berkurang, malah bisa juga langsung enakan! Pas anak nya datang aku kaget dong! ternyata pak Yas!” terang Nisa menjelas kan, agar tak ada salah paham disana.
Johan yang sedari tadi menguping pun bernafas lega, ia juga takut kecolongan kalau ternyata Nisa dan Pak Yas punya hubungan khusus.
“Ohh gitu toh, aku pikir kamu ada apa-apa sama bos kita yang kece itu!” sergah Mila , anak baru yang baru kerja sekitar 3 bulanan.
“Ya emang kenapa kalau Nisa dan pak Yas ada apa-apa mbak Mila?” tanya Naima. Karena memang Mila itu jauh lebih tua usianya dari mereka berdua. Mungkin Mila ini sepantaran dengan Ilyas dan Johan.
“Emm, ya aneh aja gitu.. secara aku kan agak lumayan deket sama pak Yas, dia sering loh kirim pesan ke aku malam-malam buat nanyain aku udah sampai rumah apa belum kalau aku kena shift malam,” Nisa tersenyum kecut, dalam hati nya berpikir.
‘Ternyata semua laki-laki sama aja, bilang suka tahunya suka juga sama orang lain!’ Menurut Nisa Mila lumayan cantik dan menarik, rambut nya yang pirang dan sebahu ,tinggi semampai dan kulit yang bersih membuat ia terlihat lebih mencolok dibanding karyawan lain, ia juga bilang, pernah masuk pramugari namun nasibnya belum beruntung, hingga tidak lolos.
__ADS_1
“Wah masa sih mbak, Pak Yas kayak gitu, karena setahu aku ya.. yang udah kenal dengan pak Yas selama 3 tahun terakhir, dia itu dingin banget kalau sama perempuan..” tambah Naima yang seolah tak percaya dengan kata-kata Mila.
“Gak percaya?? mau aku kasih liat bukti pesan nya?”
“Gak perlu mbak.. Iya mungkin Naima salah kan, bisa aja pak Yas berubah setelah bertemu dengan mbak Mila,” ucap Nisa menengahi, agar tak ada perdebatan lagi, karena sudah masuk jam kerja, sebentar lagi mungkin para mahasiswa akan mulai datang untuk sarapan atau ngopi.
“Tuh dengerin Ma.. Nisa aja ngerti!” Naima melengos tak suka, bukan sebab ia suka dengan pak Ilyas, tapi ia tak suka dengan sikap Mila Yang seolah paling cantik sebumi ini.
“Sudah lah.. Nis, kamu udah sarapan belum? nih aku buatin cappucino panas buat kamu, sama ada roti lapis juga.. sarapan yuk!” sela Johan diantara perdebatan kamu hawa, ia bersyukur jika Nisa dan bos nya tidak ada hubungan apapun.
“Ehh mas Johan bikin Capuccino?” tanya Nisa.
“Iyaa, yuk sarapan dulu..” ajak Johan pada Nisa.
“Nisa aja nih bang ya g dibikin cappucino, aku nya enggak?” tanya Mila.
“Loh, kamu kan lagi deket sama pak Yas Mil.. nanti dia cemburu loh kamu deket-deket sama orang lain..” Mila melirik sadis dan memanyunkan bibir nya lalu pergi meninggalkan Johan dan Nisa.
“Naima.. Ayuk ngopi dulu.. Mas Johan udah bikin cappucino nih , sama roti lapis!” ajak Nisa pada Naima.
“Aduhh , aku udah sarapan tadi Sa, di rumah.. masih penuh banget ini perut, kamu aja deh sama mas Johan.. tuh udah ada pengunjung.. gak ada yang jagain kasir,” tolak Naima dengan halus, selain memang dia sudah sarapan, ia tahu kalau Johan menaruh hati pada rekan kerja nya itu. Biarlah mereka dekat siapa tahu jodoh, batin Naima.
“Makasih loh mas, udah repot-repot bikin sarapan,”
“Santai aja Nis.. lagian aku suka kok kalau bikinin kamu sarapan, kalau bisa setiap hari malah,”
“Hhh”
__ADS_1