Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.24 Pulang ke desa


__ADS_3

Hari ini Malik dan keluarga serta Nisa akan berangkat Ke desa Malahati , desa yang terletak bersebelahan dengan desa mekar sari, meskipun tidak ke pulang ke kampung halaman nya, didesa Malahati pun ia tetap akan bertemu dengan Yudi, orang yang selama ini ia hindari.


Kakak sepupu Nisa akan menikah dengan sepupu Yudi, anak dari adik kandung Bu Santi.


Perjalanan yang memakan waktu selama kurang lebih 3 jam itu membuat Nisa tidak tenang, kalau saja ia bisa menghindari saat-saat seperti ini, sudah pasti ia tak akan datang, tapi nasib tetap saja mempertemukan mereka, tak disangka justru kakak sepupunya malah mendapat jodoh sepupu Yudi.


Gibran menoleh kearah sepupu nya yang tidak tidur sama sekali, sedangkan kakak nya Fauzi beserta istrinya sudah terlelap di bangku belakang, begitu juga dengan bapak dan Ibu nya, hanya Nisa ya g masih nampak gusar.


POV Nisa


“Nis.. kenapa?” tanya kak Gibran padaku, mungkin ia melihat ku tak tenang dan sedikit gelisah, pasal nya sejak dari rumah pakde Malik mata ku sama sekali tak bisa diajak untuk beristirahat.


“Gak apa-apa kak,” jawab ku , aku menatap nya sekilas, lalu mengalihkan pandangan ku ke luar jendela mobil. Sudah 2 tahun aku tidak kembali kedesa, dan sekarang aku harus pulang dan bertemu dengan orang yang paling menyakiti aku seumur hidup ku, sakit nya masih berasa, meskipun luka nya sudah kering, tapi bekas nya masih ada.


“Jangan bohong sama mas, kamu gugup atau kenapa?” tanya nya lagi, memang sesama orang yang pernah mengalami hal yang sama, tentu mas Gibran sudah bisa menebak isi hatiku dengan jelas.


“Mas mau aku jujur atau??”


“Ya jujur lah, mas tahu apa yang kamu rasain , jadi jangan coba-coba untuk menutupinya.” pungkas nya lagi.


Aku menggigit bibir bawah ku, sebenarnya aku enggan mengatakan nya, tapi mas Gibran tahu semua tentang cerita ku, lantas kenapa aku harus berpura-pura biasa saja.


“Sebenarnya aku gak siap untuk ketemu sama mas Yudi mas!” kataku pada akhirnya.

__ADS_1


“Kamu tenang aja.. ada mas.. dia gak bakal bisa ganggu kamu..”


wajah nya saja, rasanya hatiku terasa sakit sekali mas.. bagaimana kalau aku ketemu langsung, meskipun sudah dua tahun, tapi luka itu masih membekas sampai sekarang!” maas Gibran diam, mungkin ia sedang memikirkan bagaimana cara menenangkan aku.


“Kamu tenang ya.. Yang pasti dia gak akan berani deket-deket sama kamu, kita lihat aja nanti!” jawabnya dengan penuh keyakinan, entah apa yang membuat mas Gibran yakin, tapi setidaknya aku masih punya kekuatan yaitu kakak sepupuku sendiri, ada mas Gibran dan juga mas Fauzi, harus nya aku merasa tenang.


Sesampainya disana, pakde Warno, Ibu dan Kakek sudah menyambut kami, senyum mengembang diwajah ibuku melihat aku datang. Bik Rana juga ada disana, karena memang dia itu saudara jauh kami, jika memang ada acara besar seperti ini, dia pasti akan datang.


“Ya ampun Nis.. sejak dikota kamu makin cantik ya..” puji Bik Rana .


“Mungkin air kota sama desa beda Bik.. buktinya sekarang Nisa makin putih bersih kulit nya, wajah nya juga tambah glowing.. pasti deh.. cowok-cowok kota banyak yang ngantri buat deketin kamu ya kan?” tambah mas Bowo yang ikut-ikutan bersuara memujiku.


“Bibik sama mas Bowo ini bisa aja deh, aku biasa aja kok..”


Kan.. ini juga jadi salah satu hal yang membuat aku malas untuk kembali, bukan tidak rindu.. tapi lebih baik menjauh dari mulut-mulut orang yang berpikiran sempit dan tidak terbuka.


“Husst! sudah toh Ran.. ini mereka masih capek loh, baru aja datang dari kota.. biar mereka masuk dulu,” sela bude Lilis istri dari pakde Warno.


“Iya maaf mbak.. habis aku tuh kangen sama Nisa, lagian kamu kenapa sih Nis gak pernah pulang? setiap idul Fitri kamu selalu aja lebaran di kota, apa kamu gak kangen sama desa tercinta kamu?” kata Bik Rana lagi.


“Kangen lah bik, cuma ibu sama kakek pengen ngerasain lebaran disana,”


“Kamu udah dapat pacar baru belom Nis..”

__ADS_1


“Ya ampun Bik.. aku masih capek loh ini.. tanya-tanya nya entar aja ya.. aku mau mandi dulu, gerah soal nya,” jawab ku mengakhiri obrolan, aku memang sungguh merasa sangat letih, tapi selain itu juga sebisa mungkin aku menghindari pertanyaan-pertanyaan mereka seputar tentang pacar atau calon suami, karena hingga kini pun aku belum mendapatkan nya, aku masih nyaman sendirian, usia ku juga masih muda, masih 21 tahun.


“Besok Yudi kesini loh Nis.. kamu siap gak ketemu dia!”


Degh!


Spontan aku menghentikan langkah ku untuk masuk kedalam kamar, kata -kata mbak Intan langsung membuat jantung ku berdetak dengan sangat kuat, aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuhku, setiap nama mas Yudi disebut oleh orang lain, jantung ku langsung terasa tidak seperti biasanya, bukan Cinta.. perasaan cinta yang timbul dulu tidak seperti ini, jika dulu aku mendengar namanya disebut, hatiku langsung berbunga-bunga, seperti ada ribuan kupu-kupu yang mengitari tubuhku.


Tapi sekarang rasanya aneh, aku merasa tak nyaman sama sekali.


“Nis...” panggil mbak Intan.


“Iya mbak?”


“Mbak minta maaf ya.. bukan mbak gak memikirkan perasaan kamu, tapi mbak sama Anton saling mencintai, maaf mbak gak bisa menolak untuk Yudi ikut datang kesini!”


“Gak apa-apa mbak.. aku sama Yudi udah selesai, jadi gak Maslah dia mau datang atau enggak.” jawab ku dengan yakin.


“Tapi kata mas Anton, sampai sekarang dia masih terus memikirkan kamu Nis, bahkan anak perempuan nya saja dia tidak begitu peduli, karena dia belum yakin kalau itu anak nya!” Aku bergeming, memang enggan untuk menjawab, aku tak ingin Yudi salah paham padaku.


“Sudahlah mbak.. urusan keluarga Yudi, cukup sampai di mbak aja, dia sudah punya keluarga, jangan libatkan aku lagi dalam setiap masalah nya!” tegas ku, seperti nya mbak Intan ingin aku dekat lagi dengan mas Yudi, atau memang dia disuruh Yudi menyampaikan hal ini, agar aku luluh..


“Mbak cuma menyampaikan apa yang mbak tahu aja Nis, gak ada maksud apa-apa kok!” aku menyimpulkan senyum mendengar jawaban mbak Intan, sesuai dugaan ku, mbak Intan ini suruhan Yudi, karena dulu.. dia tipikal wanita yang jarang berbaur dengan saudara sepupunya, oleh karena itu aku lebih dekat dengan mas Gibran dan mas Fauzi ketimbang dirinya dan juga adiknya Heni.

__ADS_1


__ADS_2