Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.25 Bertemu Yudi


__ADS_3

Aku merebahkan diri di kasur karena tubuh ku terasa letih sekali, mata ku sudah berat dan rasanya ingin segera terpejam, mengingat aku belum shalat Dzuhur,gegas aku pergi kekamar mandi untuk mengambil wudhu, saat aku hendak masuk ke kamar mandi, kulihat dari samping rumah mbak Intan sedang bercakap-cakap dengan seseorang, kuteliti lebih dalam lagi siapa orang yang bersama dengan nya.. ternyata itu mas Yudi!


Apa tidak ada yang mengawasi mbak Intan , kan harus nya dia dipingit dan ada didalam kamar nya, kenapa dia harus ada disitu?


Sebenar nya pikiran ku sudah traveling jauh, mengingat perkataan mbak Intan padaku tadi, tapi segera ku tepis karena aku mau shalat Dzuhur lebih dulu.


Setelah selsai melaksanakan kewajiban ku, aku kembali melihat jendela samping, rupanya mereka sudah tidak ada disana lagi, buru-buru aku menghampiri ibu-ibu yang sedang ngerewang didapur.. aku malas beristirahat sendirian.. takut mbak Intan datang dan membicarakan soal mas Yudi lagi.


“Ya ampun neng Nisa makin geulis eeuy.. tambah glow up dikota ya neng?” ucap salah satu warga sekitar.


“Biasa aja Bu.. kan sekarang udah kerja.. tempat nya teduh pula.. kalau didesa kan sering ikut Ibu ke sawah,” jawab ku.


“Emang dasar nya udah cantik neng.. waktu didesa aja manis pisan, pas pergi ke kota makin cakep, udah ada jodoh nya belum ?” aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal sama sekali, aku bingung harus menjawab apa, agak kikuk rasanya ditanya soal jodoh begini, kalau didesa seusia ku sudah dianggap tua kalau belum menikah, padahal baru 21 tahun.. padahal dikota ada yang menikah diusia 30 lebih dan mereka masih santai saja melajang.


“Kok diem sih neng?”


“Heheh belum Bu.. masih belum kepikiran.. pas nyampek kota terus dapat kerja, waktu Nisa udah habis sama semua itu, sekarang mau fokus bahagiain Ibu sama kakek aja dulu!” kata ku lagi, memang benar saat ini aku ingin sendiri dan fokus pada keluarga ku, aku tak ingin menjalin kasih pada siapapun.. apalagi pacaran, aku takut kejadian yang sama akan terulang kembali.


“Kamu masih trauma ya sama kejadian tempo dulu?” tanya ibu-ibu yang lainnya.


“Itu sudah lalu Bu.. gak ada sangkut-pautnya sama keputusan Nisa yang mau membahagiakan ibu dulu!”


“Nisa?” panggil Ibu ku, gegas aku menoleh kearah nya, ibu menatap ku lekat.. entah apa yang ia pikirkan, aku pun merasa bingung.


“Ayo makan dulu nak.. itu mas mu sama pakde pada mau makan,” ajak ibu dan mengulurkan tangannya untuk membantu aku berdiri. Mungkin Ibu ingin mengeluarkan aku dari situasi pertanyaan yang paling aku hindari dari dulu.

__ADS_1


Ibu mengusap rambutku yang tertutup jilbab instan berwarna coklat susu, “Jangan hiraukan pertanyaan mereka nak..” kata Ibu yang membuat ku langsung menoleh kearahnya.


“Nisa gak apa-apa Bu! harus nya pertanyaan seperti itu gak Nisa hindari dari dulu.. tapi syukurnya saat mereka bertanya, hati Nisa sudah siap dengan segala nya.. tidak seperti dulu!”


“Sudah, kamu makan dulu ya.. ”


*


*


Keesokan harinya acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai, semua anggota keluarga sudah bersiap, termasuk juga aku.


Saat ini aku menggunakan setelan gamis berwarna dusty pink, lengkap dengan pasmina nya. Karena sekarang aku memang menggunakan hijab, tidak seperti dulu.. Mas Gibran mengajari ku banyak hal, termasuk tentang menutup aurat, jadi aku masih belajar menggunakan nya.


Pukul 8.50 pagi, keluarga mas Anton sudah mulai tiba, karena memang akad nikah akan dilangsung kan pukul 9.15.


Hampir seluruh keluarga mas Anton kenal dengan ku,mereka agak kaget melihat perubahan pada diriku termasuk mas Yudi..


Tanpa memperdulikan banyak orang, dia langsung datang dan berdiri dihadapan ku, penampilan nya tak segagah dulu, kini kulitnya agak gelap serta rambut yang tumbuh disekitar wajah nya seperti bewok dan kumis dibiarkan begitu saja, sangat berantakan.


“Nisa.. ini benar kamu?” tanpa sadar tangannya memegang punca kepala ku dan mengusap nya dengan lembut, hal yang biasa ia lakukan saat kami bertemu dulu. Aku refleks menghindar dan beringsut mundur di belakang mbak Intan.


Aku melirik sekilas kearah mas Yudi, mata nya berkaca-kaca seperti sedang menahan tangis.


“Apa-apaan sih kamu mas? gak lihat banyak orang disini hah!” sentak Desi dengan kesal, tangan kirinya sedang menggendong anak nya yang aku perkirakan usia nya sekitar hampir 2 tahun itu.

__ADS_1


Mas Yudi seperti tidak peduli dengan sentakan istrinya, mata nya masih tetap memandang ku, tanpa berkedip. Aku agak risih ditatap seperti itu, terlebih sekarang dia sudah menjadi suami orang dan Ayah dari anak nya.


Hingga Bu Santi datang dan menepuk pundak Yudi. “Yudi!! tolong kendalikan dirimu, ini acara nya Anton, jangan rusak dengan pertengkaran kalian!”


Seperti nya cara itu sukses hingga membuat mas Yudi menoleh ke arah ibunya.


“Bu.. aku kangen sama Nisa! 2 tahun ini aku merasa gila Bu.. ibu tahu sedalam apa perasaan ku!” pungkas mas Yudi tanpa peduli dengan sekitar nya.


“Yudi!” Kini pak Ahmad juga ikut-ikutan memelototi dirinya. Akhirnya dengan bentakan dari bapaknya mas Yudi mundur beberapa langkah, namun tetap matanya masih menatap ku.


Mas Gibran mungkin sadar kalau aku merasa tak nyaman, akhirnya dia datang mendekat dan berdiri di sampingku, wajah mas Yudi tiba-tiba berubah, seperti saat dulu aku dekat dengan teman laki-laki. Ia akan cemburu dan marah setelah nya. Selama aku dan dia menjalin hubungan, mas Yudi sama sekali belum pernah bertemu dengan mas Gibran, karena dulu saat acara pertunangan, hanya mas Fauzi dan istrinya yang hadir.


“Si sundal kenapa?” bisik mas Gibran ditelinga ku.


“Sundal siapa?”


“Mantan kamu lah!”


“Astaghfirullah mas! Nisa pikir siapa loh!”


“Ngapain dia pegang-pegang kepala kamu gitu? inget Nis.. setelah kamu mencoba menutup aurat, belajar untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis! termasuk sama mas, atau mas Fauzi! karena kita berdua juga bukan mahram,”


“Loh.. begitu hukumnya ya mas? tapi selama ini kita berdua sering pergi bersama,”


“Iya.. itu kan dulu sebelum kamu menutup aurat, setelah ini mas akan antar kamu pakai mobil bapak aja, gak usah pakai motor lagi!”

__ADS_1


“Jadi kamu ke kota dan berpacaran dengan laki-laki ini Nis?”


__ADS_2