
POV Nisa
"Nisa??" panggil mas Yudi lagi, suara nya begitu kuat dan memelas, jujur.. Aku butuh penjelasan nya, apa alasan nya berbuat begini padaku.
Terdengar langkah kaki dari dalam rumah, melihat keluar, seperti nya itu pakde Warno, kakek dan juga Ibu.
"Untuk apa kamu kesini, belum puas bikin Nisa sakit hati?" tanya kakek dengan suara yang sedikit bergetar, aku tahu kakek merasa cemas dengan nama baik ku. Sekarang sudah pasti orang-orang akan menggunjingkan diri kami sekeluarga.
"Kek.. Aku mau bicara sama Nisa.." pinta mas Yudi dengan mengiba.
"Untuk apa lagi Yudi.. kamu sudah bikin Nisa kecewa, apalagi yang mau kamu jelaskan, kita ketemu nanti malam dibalai desa!" jawab Ibuku .
"Bu.. Izinkan sekali aja Yudi bicara sama Nisa!" mendengar nya bicara seperti itu, hatiku tergerak, bagaimana pun aku butuh bicara dengan nya berdua.
"Enggak!! aku gak ngizinin kamu ketemu cucuku!!"
"Kek.." ucapku dengan parau.
"Kamu mau kemana?? mau ketemu sama laki-laki kurang ajar ini??" bentak kakek padaku.
"Kek, Nisa butuh bicara sama Mas Yudi, kami perlu bicara berdua.. Bukan untuk melanjutkan.. tapi untuk kejelasan!" kataku lagi, berharap kali ini kakek serta Ibu mau mengizinkan.
"Enggak!! sakit hatiku Nisa! sekali saja kamu melewati batas pintu rumah ini, kutebas kakimu itu!" hardik Kakek lagi, kini ia sudah mengambil golok yang biasa bawa ke kebun, kalau sudah begini, aku bisa apa?? akan sulit bicara pada Kakek, mungkin karena kecewa nya pada mas Yudi begitu besar.
"Pak.. Jangan begitu, biar Nisa bicara sama Yudi, bagaimana pun ini mengenai hubungannya, mereka harus punya privasi, tapi tetap kita pantau dari sini," usul pakde Warno memberi saran.
"Tapi mas.."
"Sus.. Kita sebagai orang boleh kecewa, aku juga gak setuju kalau sampai Nisa melanjutkan pernikahan ini, tapi mereka perlu bicara berdua, biar ada kejelasan.. dan Nisa juga bisa lega!"
Akhirnya atas bujukan dan saran dari pakde Warno, kakek dan Ibu mengizinkan aku bicara berdua saja dengan mas Yudi diteras rumah, banyak pasang mata yang memperhatikan kami, tapi mas Yudi tidak merasa risih sama sekali.
Dan kini, kami disini.. diteras rumah ku, aku duduk dijursi sementara mas Yudi masih berdiri, wajah tampan yang selama ini aku kagumi berubah sembab, rambut nya acak-acakan.
"Nis.." panggil nya dengan sendu, selama ini aku tidak pernah melihat mas Yudi seperti ini.
__ADS_1
"Waktu kita gak banyak mas!" jawab ku. Tanpa diduga, ia langsung menubruk kaki ku dan terisak disana.
Mendengar tangisnya yang begitu pilu, hati ku sedikit goyah.. ingin sekali aku memeluk nya dan memaafkan semua kesalahan nya, tapi akal sehat menyadarkan aku..
"Jangan seperti mas, orang-orang sedang melihat kita!" kata ku menginterupsi.
"Nisa.. Mas tahu mas salah.. Mas pernah khilaf sama dia, tapi... mas gak yakin itu anak nya mas!"
degh!
kata-kata mas Yudi barusan mengiris bahkan sampai kerelung hatiku, jadi benar jika dia pernah menghabiskan malam bersama Desi?? padahal sisi lain hatiku masih berharap kalau kamu mengatakan tidak mas..
"Tetap saja kamu pernah melakukan!"
"Tapi bukan berarti itu anak ku Nisa, karena waktu itu.. Saat aku melakukannya, Desi sudah pernah disentuh!" jawab nya lagi yang membuat darah ku berdesir hebat.
"Meskipun seribu kali kau mengatakan itu, tetap saja.. kau juga pernah melakukannya, jadi kau harus bertanggung jawab, karena Desi mengatakan kalau anak yang ada dalam kandungan nya itu anak mu!"
"Enggak Nisa.. Mas mohon.. kamu boleh pukul mas, kamu boleh caci maki mas, lakukan Nis.. tapi mas mohon, jangan batalkan pernikahan ini!" mohon nya padaku, ia belum juga beranjak dari bawah sana, ia masih mendekap kaki ku dengan sangat kuat.
"Tapi mas sayang nya sama kamu Nisa, mas cuma mau nikah sama kamu, bukan sama perempuan lain," kata nya lagi.
"Kalau kamu sesayang itu, kenapa kamu melakukan nya dengan Desi? apa kamu gak sabar nunggu pernikahan kita?"
"Mas khilaf.. mas minta maaf Nisa!"
"Cukup mas, aku maafin kamu.. tapi aku gak bisa melanjutkan hubungan ini, aku minta maaf, Nikahi saja Desi!" kubuka cincin yang ia sematkan dulu saat lamaran kami, dan ku taruh ditelapak tangan nya.
"Nis.. mas mohon ampun.. mas gak bisa tanpa kamu Nis!"
"Desi hamil, dan anak dalam kandungan nya butuh sosok Ayah, jadi apa aku harus seegois itu?"
"Tapi Nis.."
"Kita ketemu nanti malam dibalai desa mas, pembicaraan kita sudah cukup," Aku langsung beranjak dari sana, air mata yang sejak tadi susah payah aku tahan luruh juga, aku tidak.mau kalau sampai mas Yudi melihat semua ini.
__ADS_1
"Nisa.."
"Sudah Yudi.. pulang lah, dan bersiap lah untuk nanti malam," ucap pakde Warno.
Akhirnya mas Yudi meninggal kan rumah kami.
*
Malam hari, setelah ba'da Isya' semua orang yang ditunggu sudah datang semua nya, hanya tinggal Desi saja.
Beberapa saat kemudian Desi datang dengan didampingi keluarga nya, ia datang dengan dagu yang terangkat, memandang semua orang dengan tatapan menantang seolah ia tak bersalah sama sekali.
"Lihat itu si Desi, dia gak merasa bersalah kan?? ya ampun.." ucap salah satu tetangga mereka.
"Iya.. Nuriah juga sama, cuma mas Adi disini yang menunduk," ucap yang lainnya lagi.
"Pak Adi, Bu Nuriah.. " sapa pak kades, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh mereka berdua.
"Baik lah.. karena semua orang yang berkepentingan disini sudah hadir, marinkita mulai sidang desa ini!" ucap Pak Kades, memulai pembicaraan.
"Desi, apa benar kamu sedang hamil saat ini!"
"Iya pak kades!" jawabnya mantap.
"Sudah berapa bulan?"
"3 bulan pak!" jawab nya lagi.
"Siapa Ayah dari anak yang kamu kandung itu?"
"Mas Yudi!"
"Bohong pak kades, saya memang pernah menyentuh dia, tapi saat itu dia sudah tidak suci lagi, bukan hanya aku, ada orang lain juga!" jawab Yudi dengan lantang, membuat semua warga mengelus dada mereka, dan ada salah seorang anak muda yang memandang penuh benci pada Desi, Faisal.. ia merasa geram karena merasa dibohongi selama ini!
"Tapi terakhir kali kamu yang melakukan nya mas!" jawab Desi lagi, sungguh ia sudah tidak merasa malu lagi mengatakan hal itu, Adi hanya menunduk malu, berulang kali ia mengusap air mata nya karena kecewa, marah dan juga malu.
__ADS_1
"Berarti kamu sering melakukan nya dengan orang lain Des??" tanya Santi yang tidak terima jika putra nya yang dipojokan, jika seperti itu, berarti bukan hanya Yudi yang harusnya bertanggung jawab kan?