
Nuriah merasa geram dengan para warga di dusun tempat Ahmad dan Santi tinggal itu, mereka sombong sekali hingga mengatakan kalau dia dan putrinya tidak tahu malu.
“Sudahlah.. aku mohon jangan bikin keributan disini, ini rumah besan kita, mertua nya Desi, jadi tolong.. tahan sedikit amarahmu itu!” mohon Adi pada istrinya, Nuriah bertambah kesal saja melihat reaksi suaminya, yang tidak pro sama sekali pada putrinya sendiri.
“Tuh dengerin apa kata suami mu Nur, meskipun kita gak tinggal satu dusun, tapi kelakuan anak mu itu, sudah menyebar sampai seisi desa, masih juga kamu sombong!” ucap Bu Ida tetangga samping rumah Santi.
“Jaga mulut mu ya Da! kamu juga punya anak laki-laki dan perempuan,”
“Kamu lupa Nur, anak-anak ku sudah pada nikah semua, dan Alhamdulillah mereka gak bikin aku malu! aku bukan mengejek anak mu Yang sudah hamil duluan, tapi kelakuan sombong mu itu, kenapa kamu itu seolah bangga dan mendukung sikap anak mu yang tidak benar itu,”
“Hei!! yang salah itu bukan anak ku saja, tapi anak nya Santi juga! jadi jangan menyudutkan anak ku saja,”
“Kucing kalau dikasih tulang jelas saja dia langsung mau, bisa saja kan anak mu yang menggoda Yudi duluan,”
“Mulut mu itu keterlaluan Da! lihat saja.. aku akan bilang pada mbak Santi untuk berhenti menyewekan Sawah nya pada kamu!” ancam Nuriah, ia bicara begitu karena ingin membungkam mulut Ida yang begitu menghina nya.
“Ada apa ini? kenapa ribut sekali.. acaranya sudah mau dimulai!” Santi keluar dengan tergesa-gesa karena mendengar suara gaduh di luar rumah.
“Ini besan mu ini sombong sekali, dia mengancam ku agar kamu berhenti menyewakan sawah mu padaku,” ucap Ida yang menatap sengit Nuriah.
“Bener itu Nur?”
“Ya habis nya aku kesel mbak, mereka ini.. lebih tepat nya Ida ini, mereka menghina anak ku, dia bilang kalau Desi yang merayu anak mu, aku gak terima dong! jelas-jelas disini anak mbak juga salah.. kenapa harus Desi yang hanya disalahkan, gak adil nama nya!” cerocos Nuriah membela diri.
__ADS_1
Santi agak tersinggung dengan ucapan Nuriah yang terkesan tak mau disalah kan sendiri, “Sudahlah Nur.. ini acara mau dimulai, kenapa kalian malah ribut, malu loh! jangan biasakan tabiat buruk mu itu di sini, aku gak suka Nur!” tegas Santi memberi ultimatum. Nuriah mendengus kesal mendengar jawaban besannya itu, tidak sesuai dengan ekpetasi nya, sementara itu Yudi.. sejak ia masuk kedalam rumah orang tuanya, pikirannya kembali berpusat pada Nisa, ia membayangkan kalau seandainya nya saat ini Nisa lah yang ia boyong pulang kerumah orang tua nya, tapi mimpi itu harus segera pudar saat wajah Desi lah yang duduk disampingnya, dan bukannya Nisa.
'Aku kangen kamu Nis!'
**
2 Tahun kemudian...
Desi sudah melahirkan anak nya dengan sangat mudah, orang bilang.. kalau anak diluar nikah, akan dilahirkan dengan sangat mudah. Begitu juga yang dialami Desi, meskipun tetangga nya sering mengumpati nya kalau dia sangat bersalah dengan Nisa, dan persalinan nya yang akan jadi taruhannya, namun asumsi itu terpatahkan saat Desi melahirkan tanpa susah payah.
Kini anak Desi dan Yudi sudah berusia sekitar 1 Tahun 6 bulan.. sudah mulai bisa berjalan dan anak mereka perempuan. Selama itu.. Jika kalian pikir Yudi sudah bisa menerima Desi, tebakan itu salah, Yudi masih saja memikirkan Nisa, karena Nisa tak pernah pulang kedesa meski hati raya idul Fitri sekalipun, hanya ibu dan kakek nya saja yang pergi ke kota.
Sedangkan Nisa masih betah kerja di cafe milik Ilyas, tidak ada perkembangan apapun mengenai hubungan mereka, Ilyas masih mencoba mendekati Nisa, tapi sepertinya gadis itu selalu memberi nya jarak, tapi Ilyas tak menyerah...ia yakin suatu hari nanti pintu hati gadis itu akan terbuka untuk nya.
Suatu hari Nisa mendapat kabar, kalau anak perempuan pakde Warno Leli akan menikah dengan saudara sepupu Yudi, Herman. Pakde Warno memberi tahu Nisa agar ia bisa pulang kedesa menemani kakak sepupunya melepas masa lajang, Nisa gamang.. ia masih malas untuk bertemu dengan Yudi maupun Desi. Tapi Gibran meyakinkan kalau dia terus menerus menghindar, akan makin sulit nantinya... Nisa merenung sesaat hingga akhir nya ia menyetujui untuk ikut pulang kedesa sebelah tempat pade Warno nya tinggal.
“Pak Yas.. Saya minta izin untuk pulang kedesa boleh?” tanya Nisa pelan dan agak hati-hati, ia takut kalau bos nya itu tidak memberi nya izin.
Ilyas agak kaget, mendengar Nisa mengatakan kalau ia akan pulang ke desa.
“Maksudnya kamu mau berhenti kerja?”
“Bu-kan pak! saya mau menghadiri acara pernikahan sepupu saya, jadi saya harus pulang.. saya minta izin 3 hari boleh pak?” Ilyas mengambil nafas lega.. bahkan sampai saat ini ia belum berani mengungkapkan rasa suka nya pada gadis bermata sendu dihadapannya.
__ADS_1
“Tapi Nis.. kalau kamu pulang kesana bukannya kamu akan tering_...” Ilyas langsung mengatupkan bibir nya lagi, ia lupa jika Gibran yang memberi tahu nya, bukan Nisa sendiri.
“Tering apa pak?”
“Oh enggak.. saya juga tiba-tiba lupa mau ngomong apa!” jawabnya sambil nyengir kuda, membuat Nisa bertanya-tanya... ia heran bosnya ini bisa sebegitu garing nya sampai tertawa pun harus dibuat-buat, pasalnya selama ini.. Ilyas tak pernah bersikap akrab pada karyawannya termasuk dirinya, walaupun dia sering menawarkan tumpangan saat pulang kerja, tapi saat ditolak, ia akan langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun..
“Gitu ya pak.. yaudah deh.. jadi gimana pak? apa boleh saya izin?”
“Boleh.. kamu boleh pergi!” ‘dan cepat kembali!’ tambah nya dalam hati.
“Teeimaksih banyak pak!” Nisa langsung keluar dari ruangan Ilyas. Setelah kepergian Nisa, Ilyas langsung menyambar ponsel nya dan menelpon Gibran.
“Halo Gib.. beneran ada saudara Lo yang bikin hajatan?”
(Iya ada.. Anak adik nya bapak gue, memang nya kenapa?? Nisa udah izin ya sama elo?)
“Iya udah.. tapi Gib.. apa gak apa-apa kalau Nisa pulang?”
(Lah.. memang nya kenapa?)
“Nanti kalau dia ketemu sama mantan nya yang brengsek itu gimana?”
(Ya Allah Yas.. Lo takut Nisa ketemu sama Yudi?)
__ADS_1
“Ya bukan gitu, tapi gue bingung dan takut.. tolong selama disana, Lo jagain Nisa ya.. jangan jauh dari dia sedikit pun, gue takut mantannya itu akan berbuat hal yang enggak-enggak!”
(Tenang aja, gue tahu harus apa Yas, lagian elo.. udah 2 tahun Loh.. masih gak berani aja Lo ngomong.. gerak dong Yas.. jangan salahin gue kalau dia keburu dilamar orang ya!)