Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.11 Disidang lagi


__ADS_3

“Sudah Nis.. biar saja, untuk apa kamu masih membela laki-laki yang kurang ajar begitu, tidak bertanggung jawab, hobi minum .. ditambah sudah merusak anak gadis orang!” tambah Abdul. Ia memang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Nisa ataupun kakek nya Wardi, hanya saja.. pak Wardi itu orang yang terkenal bijaksana dikampung Mekar Sari.


Nisa diam, ia bingung harus menjawab apa pada keluarga Fadil, ia memang merasa sakit hati sekali pada Yudi, tapi jika sampai mereka batal nikah secara resmi.. pasti keluarga Desi akan menyalahkan Nisa nantinya.


“Nisa! Fadil!” Nisa langsung menoleh kearah sumber suara, ternyata Yahya dan Eka yang datang.


“Ya...Lo udah anter mas Yudi?”


“Udah Nis,”


“Terus apa kata orangtua nya?”


“Ya pak Ahmad kayak nya marah, walaupun dia gak ngungkapin, tapi dari raut wajah nya angker Nis!”


“Si Ahmad itu terlalu lembek sama anak nya, hasil nya ya begitu.. si Yudi jadi manja, berbuat semaunya..” sela Abdul.


Nisa melirik ke arah Fadil sebentar lalu ke Yahya. Ia bingung harus bagaimana lagi sekarang.


“Assallamuallaikum,” terdengar suara pak Ahmad dari luar klinik. Semua orang menoleh, dan benar saja, pak Ahmad sudah berdiri disana bersama dengan Rendi, suami dari Naina.


Pak Abdul sudah memasang wajah masam, begitu ia tahu kalau Ahmad lah yang datang.


“Mss Abdul?” panggil Ahmad.


“Untuk apa kalian kemari?”


“Maaf mas.. Saya meminta maaf atas perbuatan Yudi pada anak mu Fadil, saya tahu.. Yudi sangatlah bersalah, tapi sebagai orang tua saya harap, mas Abdul mau memaafkan Yudi, apalagi besok adalah hari pernikahan nya dengan Desi,”


“Kamu pikir dengan minta maaf, anak saya bisa langsung sembuh! lihat pelipis nya sampai dijahit, bisa dibayangkan bagaimana Yudi memukul anak ku!” teriak Abdul dengan keras, beruntung salah satu warga yang melapor dengan pak kades saat kejadian tadi di balai desa sudah datang bersama dengan pak kades.

__ADS_1


“Ada apa ini pak?” tanya pak kades.


“Ini pak kades, anak nya si Ahmad ini, memukul anak saya sampai pelipisnya sobek dan harus dijahit! saya gak terima dong!” pak kades menoleh ke pak Ahmad yang sudah menunduk karena malu.


“Iya kami tahu pak.. tapi mertua saya kesini mau minta maaf sama Fadil dan juga pak Abdul, kami mengakui kalau Yudi memang bersalah, dan Bapak siap melakukan apapun.. Asal pak Abdul beserta keluarga mau memaafkan Yudi, dia tidak sengaja pak.. kalau dia sadar mungkin dia tidak akan melakukan itu!” tambah Rendi.


“Pak sudahlah.. Yudi sedang mabuk tadi, gak enak kalau ribut-ribut pak, lagian aku udah gak apa-apa pak! anak muda biasa seperti ini!” timpal Fadil menengahi, ia tak mau jika sampai bapak nya ini marah-marah terus, gak baik juga untuk darah tingginya.


“Kamu ini diam aja Dil, ini urusan orang tua.. mungkin kamu bisa melupakan kejadian itu, tapi bapak enggak!”


Nisa semakin resah, semua karena dia, itulah yang ada dalam pikiran nya.


“Oke.. kalau memang pak Abdul gak terima, lalu.. pak Abdul mau pak Ahmad melakukan apa?” tanya pak kades memberi usul, karena jika sudah begini, pasti pak Abdul tidak akan membiarkan Yudi kabur, bisa dilaporkan kepolisi nantinya.


“Kalau mau saya jelas melaporkan Yudi ke polisi!”


“Apa??” pekik Nisa, pak Ahmad dan Rendi bersamaan.


“Tapi apa dengan maaf luka anak saya bisa sembuh, setelah sembuh pun pasti akan meninggalkan bekas kan?”


“Pak Abdul, saya mohon maafkan lah Yudi, besok dia akan menikah.. tolong pak.. setidaknya sampai ia menikah dulu,”


“Mang.. Maaf kalau saya lancang menyela pembicaraan kalian, tapi semua ini terjadi karena saya yang berboncengan dengan Fadil, saya mohon maaf pak.. kalau sampai besok mas Yudi tidak jadi menikah dengan Desi, keluarga Desi pasti akan menyalahkan aku, karena semua bermula dariku!” kata Nisa dengan lelehan bening diwajah nya. Abdul merasa iba.. Gadis malang dihadapannya ini sungguh baik dan tidak layak mendapatkan hinaan dari manapun.


“Baiklah.. demi Nisa, saya akan memaafkan Yudi, tapi tidak secara gratis, saya mau Ahmad menyiapkan 2 ekor kerbau dan diberikan sebagai ganti rugi nya!”


“Oke.. kami setuju.. terimakasih mas, setelah acara pernikahan Yudi selesai, kerbau itu akan kami antar kerumah kalian!”


“Oke.. Aku tunggu!” jawab Abdul.

__ADS_1


Ahmad merasa lega, Yudi tak sampai dilaporkan ke polisi, beruntung Nisa bisa membujuk Abdul, kalau tidak, entah apa jadinya.


Kini pandangan mata Ahmad beralih ke Fadil, “Maafkan Yudi ya nak Fadil.. saya benar-benar minta maaf!”


“Lupakan saja pak.. saya sudah tidak apa-apa!”


“Terimaksih banyak! Nisa.. terimakasih sudah mau membantu bapak!” Ahmad mengusap puncak kepala gadis itu. Nisa hanya tersenyum, ia juga lega kalau masalah Yudi busa terpecahkan.


“Saya pulang dulu ya pak.. Sudah malam, saya takut Ibu dan kakek menunggu ku pulang!”


“Biar aku antar ya Nis?” ucap Yahya memberi saran.


“Ya, lebih baik kau pulang Nis, ini sudah cukup malam.. biar Yahya yang mengantarkan kamu ya!” Nisa mengangguk setuju.


“Dil.. cepet sembuh.. dan maafkan aku!”


“Sudah lah Nis, jangan salahkan dirimu terus, aku sudah tidak apa-apa!”


“Ya sudah, aku pulang ya!”


Setelah berpamitan Nisa pulang kerumah diantar oleh Yahya, setelah kepergian nya Ahmad memandangi gadis yang tidak jadi menantunya itu, senyum ceria yang biasa nya selalu ada diwajah nya kini seakan hilang.. Sedalam itu luka yang dibuat Yudi dan Desi.


“Kita pulang sekarang pak?” ajak Rendi.


Ahmad setuju lalu berpamitan pada Abdul dan keluarga nya, meskipun wajah Abdul masih terlihat sangat kesal, tak ketinggalan juga ia berpamitan pada pak kades. Setelah Ahmad dan menantunya pergi, pak kades menasehati Abdul agar tak ada dendam nantinya.


“Dul.. Saya tahu kamu masih tidak rela meskipun Ahmad menggantinya dengan 2 ekor kerbau, tapi relakan saja.. kasihan Nisa.. Saat ini anak itu pasti sangat hancur, biasa nya dia terlihat riang, kini wajah nya hanya murung..”


“Iya pak.. Kasihan Nisa kalau nantinya bapak masih mengungkit-ungkit kejadian ini, wong aku juga udah gak apa-apa,” tambah Fadil.

__ADS_1


“Iya tapi saya mau Yudi juga minta maaf sama Fadil pak kades, saya gak mau orangtua nya mengambil kesalahan anak nya!”


“Iya, kamu tenang saja, nanti saya akan coba bicarakan ini dengan pak Ahmad ya?” Abdul mengangguk, dan Leha pun ikut apa yang suami nya katakan.


__ADS_2