Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.16 Memulai hidup Baru


__ADS_3

“Kata siapa sih Ran, udah ah.. kamu jangan sampaikan apa yang dibilang orang-orang ke kami.. bukan apa-apa.. tapi kami gak mau jadi salah sangka ,” ujar Ibuku lagi.. Karena sifat Bik Rana ini melebih-lebihkan apa yang dia dengar dari orang lain, bahasa simple nya yaitu ia suka mengadu domba.


“Ya Allah mbak.. kok kata siapa sih.. ya seharian kan aku ngerewang dirumah nya Nuriah, mereka banyak gosipin Nisa loh.. kasihan kata nya, kalau Yudi sampai begitu sama Desi yang bukan tunangan nya, mereka berpikir kalau Nisa juga pernah disentuh sama Yudi dong?”


“Astagfirullah mbak... ngomong apa sih.. Demi Allah aku masih suci ya mbak.. terlepas dari semua masalah ku.. bukan berarti aku juga diperlukan sama!” tegas ku lagi, rasanya aku muak sekali di fitnah seperti ini, padahal aku sudah menjaga kehormatan dan harga diriku dengan baik dan tidak melewati batasan.


“Iya kalian keterlaluan loh! Nisa gak mungkin berani kayak gitu.. selama pacaran sama Yudi aja kami loh satpam nya mbak!” tukas Fadil membela Nisa.


“Bener itu, kami bisa pastikan kalau Nisa tidak seperti yang orang-orang pikirkan..” sahut Yahya.


“Sudah lah Rana! kamu ini ngomong makin lama makin ngawur kemana-mana.. kalau apa yang kalian bicarakan itu benar.. Berarti kalian ghibahin cucuku loh.. dan kalau gak bener jatuhnya Fitnah, kalian kan juga punya anak laki-laki dan perempuan, gak baik menceritakan aib anak orang lain!” tukas Kakek dengan bijak, dia tidak tersulut emosi sama sekali, selalu membalas perkataan orang dengan tenang, kecuali saat kemarin kejadian dengan mas Yudi, itu kali pertama aku melihat nya marah sekali.


“Ya ampun pak de, aku itu menyampaikan apa yang aku denger loh! kan bagus sih.. bisa bikin kalian hati-hati berteman disini!” jawab Bik Rana yang tdak mau disalahkan.


“Udah lah pak, ini hampir jam 8 malam loh, nanti kita sampai kota nya tengah malam!” sela Ibuku yang mungkin mulai lelah dengan ocehan Bik Rana. Kakek melihat jam dipergelangan tangannya.


“Iya.. Ayo kita berangkat!” seru kakek yang menuntun ku untuk masuk mobil. Fadil dan Yahya juga langsung masuk kedalam mobil diikuti dengan Ibuku, setelah kami semua berada didalam mobil, Ibu berpamitan dengan Bik Rana.


“Kami berangkat dulu ya Ran, takut kemalaman sampai di kota nya!” ucap Ibu seraya melambaikan tangannya, Yahya juga membunyikan klakson mobil nya untuk berpamitan.


Ku hembuskan nafas dalam-dalam,setelah hari ini..entah kapan lagi aku baru akan pulang ke desa, karena biasa nya saat idul Fitri pun, kami sekeluarga tetap berkumpul di rumah pakde Malik di kota. Perjalanan pun sangat lancar.. bahkan kulihat Ibu sudah mulai tertidur. kakek juga sudah menguap beberapa kali, ku pandangi wajah lelah mereka.. ‘Maafkan aku.. Karena aku.. kalian ikut lelah memikirkan nya!’ ucap lirih dalam hati, tak terasa butiran bening membasahi pipiku. Aku mengusap nya dengan segera agar Yahya maupun Fadil tidak melihat kalau aku sedang menangis.


Aku menyenderkan tubuh ku pada jok kursi belakang, kulihat Yahya sibuk mengotak Atik tombol didepan kemudi nya ,sepertinya ia hendak menghidupkan musik untuk menemani perjalanan kami yang lumayan memakan waktu.


Lagu pertama yang diputar adalah lagu nya Ressa Herlambang yang aku tahu berjudul ‘Menyesal’ kudengar bait demi bait nya..


Semula 'ku tak yakin


Kau lakukan ini padaku


Meski di hati merasa

__ADS_1


Kau berubah saat kau mengenal dia


Bila cinta tak lagi untukku


Bila hati tak lagi padaku


Mengapa harus


Dia yang merebut


Dirimu


Ho-o-ooo


Bila aku tak baik untukmu


Dan bila dia bahagia dirimu


Meski hati tak akan rela


Terkadang 'ku menyesal


Mengapa kukenalkan dia padamu


Aku mengumpati Yahya dalam hati, kenapa dia harus memutar lagu ini..


“Ya.. bisa tolong diganti gak lagunya!” ucap ku pada nya, Fadil menoleh kearah ku dengan senyum usil diwajahnya.. jahitan Luka bekas pukulan mas Yudi masih belum kering sepenuh nya, tapi dia kekeuh ingin ikut kata Yahya.


“Kenapa sih Nis, lagu nya bagus loh.. melow gitu..”


“Ya tapi gak gitu juga kali! Lo ini setia kawan gak sih!”

__ADS_1


“Ya setia lah.. buktinya ni ya.. gue nganterin kepindahan Lo ke kota! kurang setia apa coba?” jawabnya lagi.


“Halah.. Lo nganterin juga karena dibayar sama kakek kan? lagu lo itu Ya!” sahut ku lagi, dapat kudengar Fadil terkekeh geli.


“Kok pas banget sih Ya, lagu nya.. Si Nisa jadi flash back kan.. Kenapa harus.. dia yang merebut.. dirimu.. hoooooooo”


“Dil please! suara Lo gak ada bagus-bagus nya tau! lagu nya bagus tapi kalau elo yang nyanyi jadi ancur fals banget!” Yahya semakin kuat tertawa untuk meledek Fadil,


“Husst.. Ya, Lo ketawa jangan kenceng-kenceng dong! itu kakek sama Bu Sus lagi tidur.. nanti kalau bangun gimana?” Yahya langsung menutup mulut nya dan kembali fokus menyetir.


Suasana kembali hening.. tak ada yang bersuara sedikit pun. Tapi beberapa saat kemudian Fadil membuka suara nya.


“ Lo udah yakin buka lembaran di kota Nis?” tanya Fadil tiba-tiba.


“InsyaAllah... rencana gue mau cari kerja dulu disana, mudah-mudahan betah deh!” jawab ku.


“Bakal kangen dong kita ya..”


“Kalian berdua bisa lah sesekali main ke kota, dan kalau kalian nikah pasti gue pulang,”


Yahya dan Fadil mengangguk-anggukan kepala mereka.


“Nis, jangan pernah trauma dengan kejadian ini ya? Lo berhak dapat yang lebih baik lagi dari Yudi.. ” Aku diam mendengar penuturan Yahya, entahlah.. apa aku bisa jatuh cinta lagi atau tidak.. momen sakral pernikahan akan jadi trauma sendiri bagiku.


“Entahlah Ya.. gue gak tahu, untuk saat ini gue belum kepikiran!” Yahya langsung menoleh kearah Fadil dan mereka saling berpandangan, entah apa yang mereka berdua pikirkan, setelah percakapan itu suasana langsung hening, mata ku juga terasa berat, lalu aku juga ikut tertidur bersama Ibu dan kakek.


*


“Nis.. bangun.. kita udah sampai di rumah nya pakde mu!” Seru Ibu dengan mengguncang lengan ku. Aku mengucek mata ku, kulihat sekeliling.. ternyata benar kami sudah sampai, kulirik jam tangan di pergelangan tangan ku, sudah pukul 23.00 malam.


Aku langsung turun dari mobil, kulihat pakde Malik sudah mencium tangan kakek ku, Fadil dan Yahya juga menurunkan semua barang bawaan kami dan membawa nya kedalam, aku ingin membantu, namun mereka berdua menolak.

__ADS_1


“Nisa sayang... Pakde kangen banget sama kamu!” ucap nya dengan memeluk erat tubuh ku. Aku hanya tersenyum samar.


__ADS_2