
Nisa menangkap sinyal lain dari Johan, jelas sekali kalau laki-laki dihadapan nya sedang mencari perhatiannya.
Sementara itu, Ilyas keluar dari ruangan nya hendak meminta cappucino pada Johan, ia mencari-cari Johan namun tidak kelihatan, padahal pengunjung cafe sudah mulai berdatangan, hanya Rio saja yang berada disana.
“Yo, dimana Johan? saya mau minta cappucino panas!” tanya Ilyas pada koki pendamping disana.
“Johan sedang sarapan pak Yas, di meja belakang, bareng Nisa,” Ilyas langsung memicingkan mata nya mendengar kalau Nisa sedang sarapan berdua dengan Johan. Dada nya agak panas, namun ia harus bersikap santai agar tak kelihatan jika hatinya saat ini sEdang bergemuruh dengan hebat.
“Berdua saja?”
“Iya pak!”
“Ya sudah kalau gitu, kamu buatkan cappucino buat saya, cepet ya?” titah Ilyas dengan nada yang begitu dingin. Rio yang merasakan hawa lain ,langsung gerak cepat membuat pesanan dari bos nya.
Saat Rio hendak mengantar kan pesanan nya pada Ilyas, Mala yang berpas-pasan dengan Rio pun bertanya.
“Ehh, Bang Rio, cappucino buat siapa?”
“Buat pak Yas, awas Mil.. aku buru-buru ni,”
“Kalau gitu biar aku aja yang nganter, boleh ya.. tuh ada pengunjung yang minta bikinin sandwich, buruan gih!” tanpa pikir panjang pun, Rio langsung memberikan nampan yang berisi Cappucino tersebut pada Mila.
Mila yang menerima nya merasa sangat senang, karena dia bisa tebar pesona dengan bos nya yang super super ganteng itu, kulit nya sawo matang, hidung nya mancung serta ada bewok tipis disekitar rahang nya membuat kesan macho diwajah nya.
Tanpa ba-bi-bu, Mila langsung masuk kedalam ruangan Ilyas.
“Permisi pak, Cappucino nya?” ucap Mila sambil meletakkan gelas Cappucino dihadapan nya, sesekali ia memainkan anak rambut nya, berharap Ilyas akan meliriknya sekali saja. Selama ini tidak ada laki-laki yang tidak tertarik padanya.
“Kenapa kamu yang bawa, saya minta sama Rio kan?” tanya Ilyas tanpa melihat kearah Mila.
“Iya pak.. Si Rio lagi buat sandwich , persenan pengunjung!” jawabnya dengan tersipu malu.
“Oke!” Jawab nya lagi dengan acuh. Mila agak kesal respon Ilyas hanya sebatas itu. Tidak lebih.
Cukup lama Mila berdiri mematung disana dengan tangan yang memilih ujung kemeja nya. Melihat Mila yang tak kunjung pergi, Ilyas pun menegur dirinya.
“Kenapa kamu masih disitu?”
“Eng-gak pak.. maaf ini saya mau keluar,”
__ADS_1
Mila langsung bergegas keluar ruangan Ilyas, begitu ia keluar, Nisa dan Naima menatap nya.
“Ngapain keruangan pak Ilyas mbak Mil?” tanya Naima kepo, sedangkan Nisa hanya diam saja ikut menyimak obrolan mereka.
“Oh, itu tadi.. pak Yas nyuruh gue masuk katanya ada yang mau dibicarain, gue kira apaan, eh tahu nya ngajak makan malam, ngedate gitu!”
“Ohhh gitu, jadi mbak diajak dinner nih ceritanya, ”
“Iya..” jawab Mila dan langsung pergi begitu saja. Ia takut ditanyai begitu dalam dengan Naima, karena dia lah disana yang seperti nya menentang keras hubungan Mila dan bos nya itu.
“Loh Nis, bukannya tadi pak Yas bilang dia mau ngajak kamu makan malam?” bisik Naima setelah Mila pergi.
“Kan ibunya pak Yas yang ngundang gue ma.. bukan Pak Yas nya, ya mungkin aja mbak Mila bener, dia diajak ngedate sama pak Yas!” jawab Nisa acuh.
“Iya juga sih,”
“Udahlah, kita kerja aja yang bener.. gak usah mikirin hubungan mereka,”
*
*
Malam hari nya, Nisa sedang bersiap dengan gamis berwarna abu tua, plus hijab yang lumayan panjang sampai menutupi dada nya. Sejak ia memutuskan untuk mulai sedikit demi sedikit menutup aurat nya, Nisa sudah menggunakan baju yang longgar, dan hijab yang menjuntai panjang.
Alhasil kini Nisa sudah sedikit terbiasa dengan pakaian longgar nya, apalagi dukungan keluarga banyak ia dapat.
Nisa merias wajah nya tipis, hanya menggunakan lipstik berwarna nude serta blush disekitar pipi nya. Seperti ini saja ia sudah terlihat sangat cantik dan memesona.
“MasyaaAllah.. mau kemana neng?” puji Gibran yang baru saja selesai melakukan shalat isya di mesjid.
“Nisa mau kerumah Pak Ilyas mas, ibu nya mengundang ku untuk makan malam,”
“Mas antar ya.. pake mobil bapak!”
“Boleh,”
Tak butuh waktu lama, untuk mereka sampai kerumah Ilyas, rumah yang begitu besar dan luas, mungkin kalau didesa nya, besar rumah Ilyas setara dengan 3 rumah di desa. Besar dan luas.
Nisa merasa sangat takjub, dan semakin minder untuk menemui keluarga Yas.
__ADS_1
“Mas ikutan masuk yuk, Nisa gak enak kalau sendirian,” rengek Nisa pada kakak sepupunya.
“Emm, oke deh.. mas juga agak berat ninggalin kamu Nis, yaudah deh yuk!”
“Assallamuallaikum ,” ucap Nisa mengucap salam, karena memang pintu rumah mereka sudah terbuka lebar.
“Wallaikumsallam,” jawab Yas dari dalam, ia langsung melihat siapa yang datang mengunjungi rumah nya.
“Ni-sa..” ucap nya gugup begitu melihat Nisa yang menurutnya malam ini begitu luar biasa mempesona di matanya.
“Ehem!” Gibran berdehem dan Ilyas pun langsung sadar.
“Ayo masuk,” Ilyas langsung membawa Nisa dan Gibran ke meja makan, disana sudah ada Bu Arumi dan pak Bahari.
“MasyaAllah Nisa,” Bu Arumi langsung mendekat dan memeluk Nisa. Sedang dengan pak Bahari Nisa hanya bersalaman saja.
“Ini gadis yang mama ceritain itu?”
“Iya pa.. Cantik ya.. dia sepupu Gibran!” Bahari tersenyum mendengar pujian yang keluar dari mulut istrinya.
“Kok kamu gak bilang sih Gib, kalau punya sepupu secantik Nisa ini, Ilyas udah pantas nikah kan, cocok gak kira-kira?” Gibran melirik Nisa yang salah tingkah dipuji seperti itu.
“Papa, Nisa ini kerja loh di cafe nya Yas,”
“Oh ya.. udah berapa lama Nis?”
“2 Tahun pak..” jawab Nisa pelan.
“Selama itu Yas? dan kamu gak bilang ke kita? wah.. memang kalau soal perempuan kamu ini payah sekali! lamban,” Nisa semakin salah tingkah ada diposisi seperti ini, ia merasa sedikit tidak nyaman, mendapat perlakuan yang begitu khusus dari keluarga Ilyas, ia takut jika Ilyas juga merasa tidak nyaman dengan candaan keluarga nya.
“Sudah kita makan dulu ma, lihat Nisa tidak nyaman loh!” sela Ilyas memotong pembicaraan kedua orang tua nya, ia bisa melihat jika Nisa merasa sangat tidak nyaman.
Akhir nya mereka memutuskan untuk makan malam lebih dulu. Setelah makan malam selesai, Ilyas meminta izin pada Gibran dan juga kedua orangtuanya untuk bicara berdua dengan Nisa ditaman samping rumah mereka.
“Nisa?” panggil Ilyas memulai pembicaraan mereka.
“Iya pak?”
“Kenapa kamu masih memanggil ku dengan sebutan pak, ini sudah di luar jam kerja, panggil nama saja,”
__ADS_1
“Maaf pak, usia kita beda jauh, jadi rasanya tidak pantas kalau saya memanggil hanya nama saja,”
“Kalau begitu panggil aku mas?”