
Nuriah menyodorkan segelas teh hangat beserta roti untuk putrinya, Desi langsung menerima dan memakan nya dengan lahap.
“Ibu tanya kok gak dijawab sih Des!” Desi kembali mendengus dengan kesal.
“Mas Yudi masih inget Nisa terus Bu!”
“Udah kamu tenang aja, Ibu denger dari Ibu-ibu yang ngerewang tadi, katanya si Nisa pergi ke kota, dia merasa hancur karena Yudi menikahi kamu!”
“Oh ya?? ibu serius?”
“Ya serius lah,ngapain Ibu bohong!”
“Syukurlan kalau gitu, jadi mas Yudi gak akan mikirin dia lagi!”
“Yang penting kamu harus bisa ambil hatinya Yudi, kamu harus bisa manfaatkan kamu punya suami Yudi!” Ucap Nuriah lagi, ia harus bisa menguasai Ahmad , karena dendam lama nya itu belum tuntas dengan Santi dan juga Ahmad.
“Balik sana ke kamar, bawain ini teh sekalian buat Yudi, dan jangan lupa campurin ini!” Nuriah mengeluarkan botol kecil yang isinya seperti minyak tapi berwarna merah.
“Ibu udah siapin ini semua?”
“Ya iyalah.. kali ini Ibu gak akan buat Yudi lepas dari kamu, campurkan ini kedalam teh yang kamu kasih kedia.. habis itu. tunggu reaksi nya.. malam ini.. dia akan sangat lengket padamu!”
Desi langsung memasuki kamar nya, ia melihat kalau kini suami nya sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos berwarna hitam, tampan sekali batin Desi dalam hati.
“Mas.. mau teh?”
“Boleh!” dengan tanpa basa basi Yudi langsung menenggak teh yang dibawa Desi, bahkan ia meminumnya seperti minus air dingin saja, padahal teh itu masih terasa hangat.
Desi penasaran dengan reaksi apa yang ditimbulkan dari cairan yang diberikan ibunya tadi. Beberapa menit kemudian tubuh Yudi terasa panas, padahal ia baru saja mandi, dengan cepat ia langsung membuka baju nya, tapi masih terasa panas juga. Saat ia beralih menatap Desi, menurut nya malam ini Desi sangat ****, Yudi perlahan mendekat dan mencium Desi dengan sangat panas nya.
__ADS_1
Hingga terjadilah malam itu.. kedua pengantin baru itu saling mereguk kasih dan surga dunia.
Keesokan harinya pukul 9.30 pagi, Yudi terbangun karena mendengar bunyi orang membongkar tenda pesta, suara besi yang saling bersentuhan itu menimbulkan bunyi yang mengganggu Indra pendengaran.
Ia menerjabkan mata nya, dan didapatinya Desi yang juga masih tidur disamping nya, ia memperhatikan Desi yang masih polos tanpa pakaian, dan begitu amat sangat banyak bekas kecupan ditubuhnya.
‘Gila!! apa sepanas itu tadi malam? bukannya aku menolak nya? kenapa aku bisa lepas kendali seperti itu?’ batin Yudi, ia langsung menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Setelah segar ia membangun kan Desi.
“Bangun Des! kau beri apa aku tadi malam hingga tidak sadar?”
Desi menggeliat kecil dan membuka matanya. “Kenapa sih mas, kau gila tadi malam... aku tahu.. meski kau menolak ku, kau tetap tergila-gila dengan pelayanan ku! lihat.. bekas kecupan ini saksinya!”
“Kau licik Des!” Setelah mengucapkan itu, Yudi langsung keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan bapak-bapak yang sedang melepas tenda.
Dari depan rumah Desi nampak jelas juga teras rumah Nisa yang masih tertutup.
“Eh.. enggak kok pak!”
“Lagian mau mas pandangi terus ,orang nya gak bakal keluar.. mereka sudah pergi ke kota tadi malam,”
“Hah! tadi malam?? maksudnya gimana pak?” Yudi membelalakkan mata nya mendengar penuturan bapak itu, Kalau Nisa pergi ke kota, semua pasti karena dirinya, batin Yudi.
“Saya gak tahu cerita aslinya gimana, cuma yang saya dengar dari suami nya Rana si Agus kalau Nisa pergi ke kota tadi malam diantar Yahya, ibu dan kakek nya juga ikut,” Yudi langsung terduduk dikursi yang tepat ada di belakang nya, ‘Mungkin Nisa pergi kerumah pakde nya yang dikota, ada acara keluarga.. gak mungkin dia kabur dan pergi dari desa kan?’ batin Yudi dalam hati. Ia masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau Nisa hanya pergi sebentar dan tidak benar-benar meninggalkan dirinya.
*
3 Hari sudah berlalu.. Namun Nisa dan keluarganya tak kunjung kembali, Yudi berdiri didepan rumah Desi dengan mondar-mandir kesana kemari, Desi yang perasaan jika sang suami sedang berpikir sesuatu pun menghampirinya. “Kenapa sih mas, dari pagi loh kamu itu mondar mandir gak jelas gitu! lagi mikir apa?” tanya Desi.
“Gak usah banyak tanya lah, jelas aku mikirin Nisa, udah 3 hari dia gak pulang kerumah!”
__ADS_1
“Memangnya kamu gak tahu ya.. kalau Nisa itu pindah kerumah pakde nya yang dikota?”
“Mana mungkin, setiap mau kemana-mana dia selalu izin sama aku kok!” Desi menatap heran pada suami nya, apa suami nya sedang mengigau atau sudah frustasi karena ditinggal Nisa pergi.
“Izin sama kamu?? hubungannya sama kamu apa?? lupa kalau sekarang kita udah nikah?” ejek Desi dengan bengis. Yudi berhenti sejenak, ditatapnya wajah wanita yang kini bergelar istrinya itu.
“Aku akan tetap menganggap Nisa itu calon istriku, dan ya.. besok kita pulang kerumah orangtua ku, ada acara disana,” setelah mengucapkan hal tersebut, Yudi langsung masuk kedalam kamar mereka, Adi yang melihat menantu serta anak nya tidak pernah akur hanya mengelus dada saja.
Desi pun hendak ke kamar menyusul suami nya, namun ia dikagetkan dengan bapak nya yang sudah berdiri tepat dihadapannya.
“Ngagetin aja sih pak!”
“Bapak liat Yudi itu gak pernah suka ya sama kamu? setiap hari selalu ada aja yang bikin dia males!”
“Apa sih pak, bukannya bela anak nya ini malah nuduh yang enggak-enggak, ya apalagi .. dia kepikiran terus sama mantan calon istrinya itu!”
“Hati-hati Des.. karena jalan yang kau pilih ini salah, bapak gak tahu harus gimana nyikapinya,” Ujar Adi , sejak keputusan menikah Yudi dan Desi dibuat, ia sama sekali tak bisa membuka mulut nya untuk sekedar mengeluarkan saran baiknya bagaimana, semua Nuriah yang mengaturnya, anak serta istrinya itu sangat sulit diberi tahu.
“Udahlah pak.. Bapak ini gak kayak Ibu, gak pernah dukung aku sedikitpun.” sentak Desi.
Lalu ia kembali ke kamar menyusul suami nya.
Keesokan harinya, saat Yudi beserta keluarga Desi dan beberapa tetangga lain hendak berangkat kerumah orang tua Yudi karena ada acara ngunduh mantu, Yudi melihat ada mobil yang terparkir didepan rumah Nisa. Tak lama setelah itu Buk Susan turun dari mobil, dan diikuti oleh kakek Nisa yaitu Kakek Wardi, tapi Nisa tidak ada.
Karena penasaran akhirnya Yudi mendekati mantan calon mertua nya itu.
“Loh Bu.. kok pulang sendiri? Nisa kemana?”
Susan menatap malas, tapi tetap menjawab nya. “Nisa Di kota! dia kerja disana, jadi gak ikut pulang!”
__ADS_1