Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.19 Desi kesal


__ADS_3

“Apa??” Yudi kaget kala mendengar kalau Nisa tidak ikut pulang kedesa dan malah dikota.


“Kok Nisa gak bilang sih Bu, dia mau ke kota.. harus nya dia izin dulu kan sama aku!” tambah Yudi lagi, semua orang disana terperangah mendengar pernyataan Yudi yang tidak sadar diri.


“Mas apaan sih!” sentak Desi tak terima jika suaminya seolah punya hak atas Nisa.


“Kamu gak salah nanya gitu?” tanya Susan dengan anda mengejek.


“Bu.. Yudi masih sayang sama Nisa, Yudi juga yakin kalau Nisa juga masih sayang dan cinta sama Yudi, jadi tolong Bu.. suruh Nisa pulang, Yudi janji gak akan sia-siakan dia!” ucapnya.


Wardi geleng-geleng kepala dengan sikap mantan calon suami cucunya. Apalagi saat ia melihat kalau dileher Desi banyak bekas kecupan, siapa lagi kalau bukan ulah dari Yudi, memang kini Yudi telah resmi menjadi suami nya, dan itu sah-sah saja, tapi melihat sikap Yudi yang seolah mengatakan kalau dia masih begitu menyayangi Nisa dan punya hak atas dirinya membuat Wardi geram dan ingin melayangkan satu pukulan untuk nya, tapi ia tahan karena untuk apa melakukan hal yang hanya membuang-buang energinya saja.


“Gila kamu ya .. bawa pulang suami mu ini des,” sergah Susan dan langsung pergi dari sana, ia malas meladeni anak tak tahu malu seperti Yudi ini.


“Bu! tolong Bu.. beri pengertian pada Nisa untuk memaafkan Yudi lagi!” Susan dan Wardi tak menghiraukan ucapannya. Dengan langkah cepat kedua nya masuk kedalam rumah dan mengunci pintu.


Yudi hendak mengejarnya, namun lengan nya ditahan oleh Desi. “Cukup mas! kamu ini sekarang suami ku! jangan gila kamu,”


“Lepas! jangan cegah aku! bukan urusan kamu tahu gak!”


“Ya jelas lah itu jadi urusanku, kamu itu suami ku mas, buka. suami Nisa! buka mata kamu, Nisa itu udah pergi ninggalin kamu! percuma kamu ngarepin dia lagi!” kata Desi, Susan yang berada didalam rumah merasa geram kala mendengar penuturan Desi yang mengatakan kalau Nisa Yang sudah meninggalkan Yudi. Tanpa aba-aba dan izin pada Kakek Nisa, Susan langsung membuka pintu dan melabrak Desi.


“Hei Desi, jaga ya bicara mu.. Nisa pergi dan meninggalkan Yudi itu karena siapa?? karena kalian berdua yang murahan, selingkuh dibelakang Nisa, kamu, sebagai sahabat nya kamu tega mengkhianati dia sebegitu nya.. kamu ambil calon suami nya tanpa memikirkan selama ini Nisa sudah begitu baik sama kamu! dan kamu juga! sebagai calon suami Nisa, yang katanya sangat sayang dan cinta sama Nisa, tapi kamu mengumbar syahwat mu pada wanita lain, apa itu yang namanya cinta?? selama ini aku diam karena Nisa, tapi sekarang Nisa sudah tidak memikirkan kalian lagi, dia sudah tenang dan nyaman hidup di kota, membuka lembaran baru tanpa ada parasit seperti kalian lagi!” hardik Susan dengan menunjuk Desi dan Yudi bergantian.


“Kok Ibu nyalahin aku sih, salahnya Nisa kenapa gak mau kasih kebutuhan nya Yudi, gak salah aku dong, kalau Yudi malah lebih milih aku ketimbang Nisa,” jawab Desi enteng dan santai, seolah dia tidak melakukan apapun.


“Astaghfirullah.. kamu ni berzina kok bangga sih Des, sudahlah .. terserah kalian mau mengatakan apa dan bagaimana, yang pasti anakku sudah bahagia di kota! Syukur-syukur dapat jodoh orang sana, jadi dia gak akan balik dan tinggal didesa ini lagi!” sahut Susan, lalu dia balik lagi kedalam rumah.

__ADS_1


“Kamu ni apa-apaan sih Des, apa coba maksud kamu ngomong gitu? biar keluarga Nisa semakin benci sama aku iya?? nyesel banget aku kenal sama kamu!” Yudi pun beralih meninggal kan Desi disana.


*


Dikota..


Hari ini Nisa dan Gibran akan mendatangi restoran dimana teman Gibran di kampus membuka usaha nya, sebelumnya Gibran juga sudah menelpon Ilyas, kalau dia akan membawa adik sepupunya untuk melamar pekerjaan disana.


“Kamu siap Nis?” tanya Gibran.


“InsyaAllah siap mas! mudah-mudahan temen mas mau ya kasih aku kerjaan yang cuma tamatan SMK ini,”


“Udah kamu tenang aja, dia baik kok.. jomblo juga!”


“Apaan sih kak, aku mau kerja loh.. bukan cari jodoh!” jawab Nisa sambil mengerucutkan bibir nya, mas Gibran nya ini sangat suka sekali menggoda nya.


“Udah ah.. aku malas bahas itu.. Ayo kak!” Nisa berjalan lebih dulu ke motor sport kakak sepupunya.


Gibran dan Nisa berangkat ke Ily Cafe, tak butuh waktu lama, karena kebetulan cafe itu letaknya tepat didepan kampus tempat Gibran kuliah dulu.


Mereka berhenti tepat didepan parkiran, Nisa bisa lihat area sekitar , sangat astri dan memang cocok sekali jika disini dibuka sebuah cafe, tempat nya yang strategis membuat anak-anak kuliahan nongkrong disana.


Tepat di depan , ternyata salah satu pelayan cafe sudah mengetahui kedatangan Gibran dan langsung membawa nya bertemu dengan Ilyas.


“Hei Yas!” sapa Gibran pada sahabat lama nya itu.


“Hai Gib.. apa kabar?” sapa balik Ilyas dan langsung mempersilahkan mereka duduk.

__ADS_1


“Kabar baik Alhamdulillah, ini sepupu yang gue ceritain itu Yas, dia mau cari kerja disini..” Gibran memperkenalkan Nisa pada Ilyas, untuk sejenak Ilyas memandang Nisa, sedangkan Nisa sendiri hanya tertunduk.. ini pertama kali nya ia melamar pekerjaan, jadi ia merasa agak gugup.


“Siapa nama kamu?” tanya Ilyas.


“Saya Anisa Pak.. tapi biasa dipanggil Nisa!”


“Jangan panggil saya pak, panggil saja saya seperti Gibran memanggil saya,”


“Gak enak pak, saya panggil pak aja.. ”


“Yaudah deh terserah kamu nya aja.. oh ya.. Gibran bilang kamu tamatan SMK ya.. jurusan akuntansi perbankan?”


“Iya pak.. saya hanya tamatan SMK..”


“Ya sudah, kalau begitu tugas kamu jadi kasir ya.. nanti dijarin sama Naima gimana cara kerja nya!”


“Baik pak.. tapi apa gak apa-apa saya hanya tamatan SMK langsung jadi kasir?”


“Ya gak apa-apa lah, pekerja disini semuanya juga tamatan SMA Nis, jadi kamu jangan canggung gitu!” terang Ilyas lagi menjelaskan.


“Baik pak.. jadi saya mulai kerja besok atau sekarang?”


“Sekarang juga boleh! gimana Gib.. boleh dia langsung kerja?” tanya Ilyas ke Gibran.


“Ya terserah gimana bagus nya aja Yas, cuma gue pesen ni.. Lo tolong ya. jagain sepupu gue, dia baru dikota, dan belum kenal siapapun?”


“Iyaa.. Lo tenang aja, selama Nisa masih kerja disini, ditempat kerja ,dia tanggung jawab gue.. bukan cuma dia aja, semua yang kerja disini juga gue perlakuan dengan hal yang sama,” Nisa mendongak untuk menatap Ilyas, Nisa tersenyum kecil, namun seperdetik Ilyas terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki Nisa.

__ADS_1


‘Masya Allah...’


__ADS_2