Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.32 Diskusi


__ADS_3

Nisa masih memejamkan matanya disepanjang perjalanan pulang kerumah orangtua Gibran. Berungkali Gibran menoleh kearah Nisa ,untuk memastikan apakah Bisa terbangun atau tidak.


Begitu sampai dirumah, Gibran langsung menggendong Nisa masuk kedalam kamar nya. Tentu hal itu menarik perhatian Lastri dan Malik yang kebetulan masih bersantai diruang tv berdua.


“Loh Nisa kenapa Gibran?” tanya Lastri panik, namun Gibran tak menjawab, ia langsung berlalu masuk kedalam kamar Nisa. Setelah dirasa Nisa tetap tidur dengan nyaman, barulah Gibran keluar untuk menjelaskan kondisi nya.


“Pak, tolong telepon Bulek Susan dan kakek agar mereka besok segera berangkat kesini,” ucap Gibran.


“Iya tapi kenapa? ada apa toh nak.. jangan bikin Ibu sama Bapak cemas begitu loh!” tambah Malik yang ikutan bingung.


“Aku juga gak tahu lebih detail nya pak, Bu.. tadi sewaktu kami makan malam dirumah Ilyas, setelah selesai makan malam, Ilyas meminta izin padaku untuk ngobrol berdua dengan Nisa, karena setahu aku dia akan melamar Nisa untuk menjadi istrinya. Jelas aku mengizinkan karena aku tahu Ilyas itu anak yang baik dan juga bertanggung jawab. Tapi tiba-tiba.. Ilyas teriak kalau Nisa seperti orang yang ketakutan!


Aku lari dan langsung menghampiri Nisa, benar saja Bu.. Nisa terduduk di atas rumput dengan kedua tangan yang menutupi telinga nya, saat aku tanya dia bilang kalau dia gak mau nikah sama Yudi, Yudi dan Desi sudah mengkhianati dirinya, itu katanya!” terang Ilyas pajang lebar. Lastri menutup mulut nya tak percaya.


“Pak.. Apa Nisa trauma?” lirih Lastri dengan mata yang mulai mengembun menahan tangis. Jika benar dugaan nya, miris sekali nasib keponakan nya itu.


“Trauma?? maksud mu dia trauma gara-gara pernikahan nya batal?” Lastri mengangguk lemah.


“Keluarga Ilyas juga bilang begitu Bu! aku takut Nisa beneran trauma dengan pernikahan, kalau benar begitu dia gak akan bisa melanjutkan hidup nya, semangat nya sudah dilebur habis oleh Yudi yang brengsek itu!” sahut Gibran dengan kepalan tangan yang kuat menahan marah.


“Astaghfirullah Nisa..” Lastri berjalan mendekati kamar Nisa, gadis yang sudah ia anggap seperti anak nya sendiri. Dibuka nya perlahan pintu kamar Nisa, ia memandang wajah teduh keponakan nya itu. Dengan masih berbalut hijab Nisa tidur dengan tenang. Meskipun keringat masih membasahi kening nya.


‘Seberapa perih nak.. laki-laki itu menyakiti kamu, sampai trauma itu ada! selama ini bude lihat kamu baik-baik saja, bude gak mengira sama sekali kalau dibalik wajah mu yang ceria , ada luka yang sangat dalam didalam sana,’


Sementara itu diluar kamar Nisa. Gibran dan Malik masih memikirkan diskusi yang akan mereka bahas tentang kesembuhan Nisa.


“Jadi bapak harus menelpon Susan dan Kakek mu?”


“Iya pak.. Bulek dan juga kakek harus tahu kondisi Nisa kan, menurutku kita harus membawa Nisa ke psikiater pak!”


“Pskiater? bukan nya itu untuk orang yang tidak waras ya Gib?”

__ADS_1


“Enggak pak! banyak kok orang-orang kaya yang pergi kesana, agar masalah yang mereka alami berjalan normal dan tidak berlebihan, maksud ku mereka tidak menjadi gila sungguhan!


Ke psikiater itu agar kita lebih bisa mengontrol emosi kita pak, atau kita bisa mengeluarkan seluruh amarah kita Yang selama ini disimpan rapat-rapat,”


“Ya sudah! bapak hubungi Bulek kamu dulu,”


*


*


*


Keesokan harinya, Susan dan Wardi sedang dalam perjalanan menuju kota dengan diantar oleh Yahya dan juga Fadil.


Kedua wajah mereka tegang, jelas saja. Karena Susan tidak diberi tahu sama sekali perihal masalah yang menimpa Nisa, kakak nya itu hanya bilang kalau ada yang ingin mereka bicarakan tentang Nisa, itu saja.


Yahya dan Fadil saling lirik satu sama lain, mereka juga sadar kalau saat ini aura didalam mobil sedang tidak bagus. Ingin bertanya tapi mereka bingung mau memulai dari mana.


“Gue juga gak tahu Dil, semoga aja lah si Nisa gak apa-apa!”


Setelah menempuh jarak 3 jam, akhirnya Susan dan Wardi sampai didepan rumah Malik. Gibran dan Fauzi sudah ada disana. Bertambah gusar saja hati Susan, jika anak Malik sudah kumpul seperti ini, pasti ada sesuatu.


“Nisa kemana Gib?” tanya Susan, yang sudah penasaran dengan keadaan putri semata wayang nya itu.


“Nisa lagi istirahat di kamar Bulek!”


“Dia sakit?”


“Enggak Bik, cuma keadaan nya lagi kurang baik aja, Bulek masuk dulu.. kakek juga ayo.. kita bicara didalam!”


Gibran membawa Susan dan Wardi untuk masuk, tapi Yahya dan juga Fadil mengentikan Gibran, karena mereka berdua penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabat nya itu.

__ADS_1


“Mas Gibran?” panggil Yahya, Gibran lantas menoleh melihat kearah mereka berdua.


“Iya ada perlu apa ya mas?” jawab Gibran.


“Maaf mas, kami berdua ini sahabat Nisa didesa.. emm kami mau tanya.. apa terjadi sesuatu dengan Nisa mas?”


“Ooh, enggak! Ada urusan keluarga aja yang harus kami diskusikan mas,” jawab Gibran lagi, jelas Gibran tak mau membicarakan Masalah sesungguhnya pada sahabat Nisa sekaligus. Karena Desi yang sahabat sedari kecil saja mampu mengkhianati dirinya.


“Syukurlah.. kami agak cemas kalau sampai Nisa kenapa-kenapa, ya sudah.. kalau gitu kamu berdua pamit ya mas?”


“Iya Mas, hati-hati dijalan ya?”


Setelah berbincang sebentar dengan Fadil dan Yahya, Gibran langsung masuk kedalam rumah.


Bisa ia lihat jika Bulek nya serta sang kakek begitu cemas.


“Sebenarnya ada apa Lik, kamu menyuruh kami berdua kesini, apa Nisa ada masalah?” tanya Wardi memulai pembicaraan.


“Emm Pak, ia ada masalah dengan Nisa!”


Gibran menceritakan seluruh kejadian dengan detail pada malam tadi, jelas Susan dan Wardi sangat syock. Ia tak menyangka jika Nisa masih menyimpan luka itu dengan amar sangat rapi. Mereka pikir Nisa sudah berdamai dengan keadaan, tapi nyatanya luka itu masih menganga lebar di sudut hati nya.


“Ya Allah Nisa! jadi kita harus gimana mas!” tanya Susan dengan air mata yang sudah mengalir deras dipipi nya.


“Keluarga Ilyas menyarankan untuk membawa Nisa ke Psikiater Sus,”


“Apa Nisa akan dirawat disana seperti orang yang sakit jiwa?”


“Enggak Bulek, ke psikiater itu bukan seperti itu,” Gibran menjelaskan tentang manfaat datang ke psikiater pada Bulek serta kakek nya.


“Kalau gitu aku setuju mas, kita bawa Nisa kesana,” ujar Susan dengan mantap.

__ADS_1


“Iya Lik, bapak juga setuju kalau Nisa kita bawa kesana, berapa pun biaya nya bapak akan usahakan agar Nisa bisa sembuh dan kembali normal, bapak pengen liat dia bahagia sama laki-laki yang tepat!”


__ADS_2