Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.9 Menghibur Nisa


__ADS_3

Keesokan harinya, Nisa kembali mengurung diri dikamar, harus nya hari ini H-2 untuk pernikahan yang sudah lama ia tunggu-tunggu, tapi.. Petaka justru datang menguji iman dan mental nya.


Susan melihat Nisa yang merenung di belakang rumah, ia agak khawatir melihat kondisi Nisa yang seperti itu, Nisa merenung sambil membakar seluruh kenangan nya bersama Yudi, baik itu foto,baju atau apapun yang diberikan oleh Yudi.


“Kenapa Sus?” tanya kakek Wardi pada ibunya Nisa.


“Nisa pak.. Aku kok cemas ya, dia begitu terus.. dari tadi malam, ku lihat dia juga gak tidur nyenyak, meskipun dia rebahan dengan membelakangi aku, tapi aku bisa melihat kalau punggung nya bergetar karena menangis,” terang Bu Susan , sebagai jelas dia sangat khawatir.. dia takut mental putrinya akan terganggu nantinya.


“Bapak juga mikirnya gitu, sepertinya Yudi dan Desi berhasil membuat pertahanan nya hancur, sehancur-hancur nya.. ” jawab sang kakek.


Susan berjalan mendekati anak nya.


“Nis.. Makan dulu nak.. sejak pulang dari balai desa, perut mu belum diisi sama sekali!”


“Sebentar lagi ya Bu, Nisa masih pengen sendiri!” jawabnya dengan tidak menatap ibunya sama sekali.


*


Malam hari.. dibalai Desa ada pertunjukan tari daerah yang ditampilkan oleh warga sekitar juga, biasa nya acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut ulang tahun RI, yang memang akan jatuh pada lusa hari..


Sementara itu dirumah Desi.. tenda yang digunakan untuk acara resepsi pernikahan nya dengan Yudi sudah berdiri dengan sempurna, entah bagaimana persiapan Nuriah mempersiapkan pernikahan anak nya secepat itu.. Yang pasti,besok pernikahan anak nya dengan orang kaya dikampung nya akan segera digelar. Dan malam ini adalah malam Midodareni untuk sang mempelai perempuan.


Nisa bisa melihat dari jendela tenda yang menghiasi rumah Desi, ’Harusnya malam ini.. malam bahagia untukku, egoiskah aku jika aku masih memikirkan hal ini?' bisiknya dalam hati..


“Nis.. Ada Fadil didepan!” ucap sang ibu yang baru masuk kedalam kamarnya.


“Ngapain dia Bu?”


“Kata nya mau ngajak kamu nonton pertunjukan tari di balai desa, kamu lupa?? acara ini kan juga kamu yang mempersiapkan nya bersama temanmu yang lain,”


“Oh iya.. Nisa lupa.. tapi Nisa males keluar ah buk!”


“Kenapa?? kamu perlu udara segar nak, keluar gih.. kata Fadil, Eka, Nining dan Yahya juga ada disana nunggu kamu!”


“Yaudah deh Bu, bilang sama Fadil Nisa ganti baju dulu ya?”


“Ya sudah,”

__ADS_1


Setelah ibunya keluar, Nisa segera menuju lemari untuk mencari baju yang pas, setelah cocok, dia langsung keluar menemui Fadil.


“Udah Nis?”


“Udah.. Ayo!”


Fadil mengajak Nisa dengan menggunakan motor maticnya, saat diperjalanan berulang kali Fadil melirik Nisa dari kaca spionnya, karena Nisa sama sekali tak mengeluarkan suara sedikitpun, biasa nya ia akan asangat cerewet, kala mendapati jalan yang berlubang namun Fadil tak menghindari nya, kali ini berulang kali Fadil sengaja menabrak lubang, tapi Nisa tak bereaksi sama sekali. ‘Sedalam itukah luka mu Nis?? kalau saja di dunia ini tidak ada hukuman untuk memukul seseorang, sudah habis Yudi kubuat!’ batin Fadil dalam hati.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke balai desa, disana Eka, Nining dan Yahya jmsudah menunggu.


“Hai Nis..” sapa Eka dan Nining bersamaan.


“Hai.. acara nya udah mulai?”


“Udah juga sih, kedepan yuk..”


“Didepan berisik banget Ning, gue disini aja deh,”


“Lah kok disini sih, mana kelihatan Nis,”


Yahya menyikut lengan Fadil. “Nisa begini sepanjang jalan?”


“Iya.. kayak nya luka yang dibuat Yudi dalem banget Ya.. andai aja gue bisa ngelakuin sesuatu untuk Nisa!”


“Memang brengsek dia! mentang-mentang orang kaya, seenak nya nyakitin dan mainin perasaan orang!”


“Bukan cuma Yudi yang brengsek, tapi Desi juga sama, apa sih yang enggak dilakuin Nisa kedia? kemanapun selalu diinget, tidur satu bantal .. bahkan makan pun mereka sama, tapi kok ya dia itu tega banget!” tambah Fadil, padahal jauh-jauh hari Fadil dan Yahya sering mengingatkan Nisa akan hal itu, tapi dia bersikeras mempercayai calon suami yang gak bermoral itu.


“Terus Lo besok datang keacara Desi?”


“Datang lah, gue mau kasih dua kado yang gak bisa dia lupain!” Fadil tak menjawab lagi ucapan Yahya, kini beralih duduk di motor bersama Nisa.


“Nis..”


“Iya..”


“Apa yang Lo rasain sekarang?”

__ADS_1


“Gak tahu Dil, rasanya seluruh dada dan pikiran gue penuh dan sesak,”


“Kalau terasa berat, Lo bisa cerita sama kita-kita.. Lo gak sendiri Nis.. ada kami!”


bugh!!


Tanpa aba-aba , Yudi yang sudah dikuasai dengan minuman keras, langsung datang memukul pipi Fadil dengan amat keras.


“Astaghfirullah Fadil,” Fadil sudah limbung ketanah, tubuh nya tidak sanggup menahan pukulan dadakan dari Yudi.


“Apa-apan kamu mas!” teriak Nisa pada Yudi, semua mata sudah tertuju pada mereka.


Nisa langsung membantu Fadil berdiri. “Lo gak apa-apa Dil?” tanya Nisa dengan panik, pelipis mata nya sudah robek dan mengeluarkan darah.


“Kamu yang apa-apaan Nis, kamu jalan sama pria lain, kamu anggap aku ini apa hah!” teriak Yudi kepada Nisa, bukannya menjawab ia justru melempar pertanyaan yang sama.


“Kamu bukan siapa-siapa ku lagi, apa kamu lupa, kalau kamu besok akan menikah secara resmi dengan Desi??”


“Kayak nya dia minum Nis, kamu bawa Fadil pergi dari sini, cepet!” usul Yahya, karena Yahya tahu jika orang sudah dipengaruhi minuman beralkohol tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.


Melihat Nisa membonceng Fadil, amarah Yudi semakin meningkat, apalagi saat tangan Fadil melingkar sempurna dipinggang Nisa yang ramping, bahkan Yudi pun belum pernah menyentuh Nisa sampai sejauh itu.


“Nisa!! kamu mau kemana?? lepasin tangan laki-laki brengsek itu dari tubuhmu Nis!” teriak Yudi membabi buta.


Para warga yang menyaksikan kegilaan Yudi sedikit prihatin, namun jika mereka mengingat sikap nya yang sudah menghamili sahabat calon istrinya sendiri, rasa kasihan itu berubah menjadi rasa geram.


Salah satu warga ada yang melapor ke pak kades karena kekacauan ini.


Yahya langsung memegangi Yudi, saat ia tahu kalau Yudi akan mengejar Nisa dan Fadil.


“Lepasin aku Yahya! kau sengaja kan.. kau senang melihat ku putus dengan Nisa!” racau Yudi.


“Lo sendiri yang bikin Nisa lepas kan! makanya kalau punya syahwat tu dijaga, jangan asal Cemplung sana sini!" balas Yahya tak mau kalah.


“Brengsek Lo! mau gue pukul juga!”


“Udah lah Ya.. ngapain sih Lo ngurusin orang yang lagi minum gini!”

__ADS_1


__ADS_2