
Gibran menyadari kalau Ilyas terpesona dengan adik sepupunya itu, meskipun Nisa dari desa, tapi dia juga memiliki kecantikan yang tak kalah dengan gadis di kota, kulitnya bersih berwarna kuning Langsat, rambut nya lurus dan hitam alami, wajah nya mungil seperti boneka, dan bola matanya sama hitamnya seperti warna rambut nya, hitam alami.
Gibran menyikut lengan Ilyas, spontan Ilyas tertunduk malu. Ini kali pertama nya merasa salah tingkah kala menginterview calon pekerja nya.
“Emm Naima?” panggil Ilyas pada salah satu orang kepercayaan Ilyas.
“Iya pak?”
“Ini kita ada temen baru, namanya Nisa.. Tolong kamu ajarin dia dikasir ya.. dia akan jadi kasir sama seperti mu, jadi setelah dia bisa , kalian akan saya buat dua shift..” terang Ilyas menjelaskan.
“Baik pak.. akan saya ajarkan dia sampai bisa.. Nisa, ayo ikut saya, untuk ganti pakaian dan kita langsung praktek kasir ya?” ajak Naima, Nisa berasa senang karena Naima sepertinya welcome pada nya, padahal sejak tadi ia sudah sibuk memikirkan bagaimana cara nya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, karena dia termasuk orang yang sangat susah bergaul, tidak seperti Desi yang gampang mendapatkan teman.
Bicara soal Desi, suasana baru ditempat kerja.. mampu membuat nya melupakan masalah yang ia alami di desa sana.
Sementara itu di ruangan Ilyas.
“Serius amat Lo natapnya?” ledek Gibran.
“Apaan sih Lo Gib, cuma natap doang.. pasti dia juga udah punya pacar kan?”
“Lo to the point banget sih Yas.. langsung bilang dia pasti punya pacar?”
“Salah lagi kayak nya!”
“Enggak sih, kalau saat ini Nisa memang masih single .. cuma gue gak yakin dia mau buka hati lagi atau enggak!” jawab Gibran, melihat luka yang begitu dalam Dimata sepupunya rasanya sangat sulit jika ada laki-laki yang ingin masuk lagi kedalam kehidupan Nisa.
__ADS_1
“Loh kenapa?” tanya Yas penasaran, baginya memang tidak mungkin kalau Nisa masih sendiri, karena gadis cantik seperti nya pasti sudah punya kekasih atau malah suami.
Gibran mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia menceritakan apa yang Nisa alami.
“Di desa Nisa punya calon suami, bahkan mereka mau menikah, tepat 3 hari yang lalu.. dan Lo inget kan ,gue batalin acara kita dirumah Haikal karena gue bilang gue ada acara dikampung halaman?” Yas mengangguk.
“Itu karena acara nya Nisa itu, tapi pas kami baru aja mau masuk mobil buat berangkat, kita dikabari kalau pernikahan Nisa batal! calon suami nya menghamili sahabat Nisa sendiri, sahabat satu bantal Yas.. bisa bayangin gak lo gimana sakit nya Nisa?
Gue aja nih, yang denger emosi banget sama tuh lakik, apalagi sama sahabat perempuan nya yang gak tahu diri, padahal selama ini keluarga bulek gue tuh baik banget sama tu keluarga nya pelakor, dasar nya aja orang-orang gak tahu diri!” emosi Gibran meluap, jika memang benar sewaktu kejadian itu dia dan Fauzan ada disana, bisa dipastikan pria itu akan patah tulang dimana-mana.
“Jadi.. Dia batal nikah Gibran?” tanya Yas, ia bisa merasakan bagaimana rasanya dikhianati, apalagi dengan sahabat nya sendiri.
“Iya.. makanya gue gak yakin dia bakal buka hati lagi atau enggak, makanya Bulek Susan mengantar kan nya kesini.. supaya Nisa tu bisa lupain semua kejadian yang terjadi disana!” jelas Gibran lagi.
“Kok bodoh banget sih tu cowok,”
“Ya udah lah ya Gib, gue yakin lama kelamaan Nisa bakal bisa lupain semua itu.. Gue pasti akan jagain dia disini!”
“Big thanks bro!” Gibran berjabat tangan dengan Ilyas, lalu ia berpamitan untuk pulang kerumah,karena masih ada pekerjaan yang lain.
Nisa cukup cepat tanggap, semua yang diajari Naima, bisa langsung masuk kedalam otak nya, ia benar-benar melupakan kejadian dengan mantan calon suaminya itu.
Ilyas memperhatikan Nisa dari jarak jauh, senyum dan ketawa nya yang mengembang saat bercanda dengan temannya.
“Cantik sekali, indah sekali ciptaan mu ya Allah!”
__ADS_1
*
Desa mekar sari, rumah Desi
Yudi langsung masuk kamar dan menutup pintunya dengan kuat, ia agak kesal karena Nisa pergi tanpa izinnya, menurut nya Nisa hanya akan jadi miliknya, dan bukan orang lain.
Nuriah yang melihat raut wajah Yudi tak bersahabat langsung mencegah Desi untuk menyusul suami nya.
“Kenapa Yudi?” tanya Nuriah pada Desi.
“Biasalah Bu, karena Nisa.. aku kesel liat sikapnya yang masih peduli sama Nisa, dia anggap aku ini apa Bu? aku istri nya loh, bukannya Nisa itu!” gerutu Desi dengan sangat kesal.
“Kurang ajar tu Nisa, udah pergi masih aja ngerepotin!”
“Iya Bu.. ditambah Bik Susan nyebut aku murahan , gak tahu malu, apa aku salah kalau Yudi lebih milih aku ketimbang Nisa?”
“Ya jelas lah salah.. kalau Nisa belum mau nikah sama Yudi, itu masih sah-sah aja Des.. ini masalah nya kamu tahu, pernikahan Desi akan dilangsung kan kemarin lusa? tapi apa?? kamu menghancurkan semua nya.. ” timpal Adi, menurut nya memang putri nya sangat salah, memang kalau sudah begini Yudi harus tetap bertanggung jawab, tapi setidak nya dulu sebelum mereka melakukan hubungan terlarang itu, anak nya memikirkan juga kalau sebentar lagi sahabatnya itu akan menikah.
“Kok bapak malah ngebela Nisa sih, apa aku gak berhak untuk mas Yudi, anak yang didalam kandungan ku ini anak nya loh pak! sedangkan Nisa belum hamil kan?”
“Terserah kalian lah, tanggung sendiri konsekuensi nya, kalau Yudi masih memikirkan Nisa itu berarti kamu kasihan, karena apa?? karena kamu hanya sebatas pelampiasan nafsunya saja, bukan orang yang sungguh-sungguh ia cintai, paham!” Desi diam tak menjawab , jelas sekali jika saat ia juga bertambah kesal dengan bapaknya itu, sudah jelas-jelas dia itu anak kandung nya, malah membela Nisa yang jelas bukan siapa-siapa bagi bapaknya itu.
“Bapak malu loh Des, kamu hamil diluar nikah, jadi bahan gunjingan orang-orang.. tapi kalian berdua malah bangga, otak dan hati nurani kalian sudah tertutup dengan hawa nafsu!”
“Bapak!!” Nuriah membentak suaminya, ia juga tak terima dikatakan hal seperti itu.
__ADS_1
“Kenapa?? kamu gak terima aku bilang begitu?? aku malu Nur.. aku gak punya muka untuk sekedar bertemu pakde Wardi dijalan! setiap aku melihat pakde.. bayangan tentang kejahatan Desi pada Nisa kembali berputar di otakku, apalagi mbak Susan! dia itu sudah baik sama kita, menyewakan sawahnya untuk kita garap dan jadi mata pencaharian kita sehari-hari.. kok ya kalian ini tega sekali!”