Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.21 Cerita masa lalu


__ADS_3

Nuriah mengepalkan tangannya karena geram dengan suami nya, ia ingin membantah tapi ia juga sadar bagaimana amarah suami nya jika sudah meluap. Selain tak suka dengan Susan yang jauh diatasnya, Nuriah juga dendam dengan Ahmad yang lebih memilih Santi ketimbang dirinya.


Dulu, mereka berempat adalah sahabat dan teman baik sejak mereka masih anak-anak. Ahmad, Santi, Susan dan Nuriah.. Seiring berjalan nya waktu dan mereka sudah dewasa dengan usia yang pantas untuk menikah, tiba-tiba Ahmad mengatakan pada Susan kalau dia menyukai Santi sejak dulu, niat baik Ahmad sangat disambut baik oleh Susan, karena diantara mereka, memang Susan lah yang 2 tahun lebih tua.. mereka sering meminta wejangan dari nya.


Nuriah merasa kesal dengan Susan yang seolah lebih mendukung hubungan Santi dengan Ahmad dari pada Ahmad dengan diri nya. Tapi Nuriah tidak bisa mengatakan langsung keberatannya hingga mereka berdua menikah.


Tinggallah Susan dan Nuriah, 5 tahun kemudian barulah Susan menikah dengan anak kampung sebelah dengan Wahyu dan Nuriah dengan Adi, kehidupan mereka berjalan hingga akhir nya mereka melahirkan anak-anak nya. Namun kehidupan ekonomi Nuriah sejak menikah dengan Adi sangat sulit, Bahkan untuk sekedar makan kadang mereka merasa kekurangan, sedangkan Susan, meskipun dia bukan orang kaya, tapi selalu bisa tercukupi, walaupun setelah pernikahan nya dengan Wahyu menginjak 10 tahun dan Wahyu meninggal karena terkena sakit lambung, Susan tetap tidak kesusahan, karena sawah dan ladang yang ditinggalkan Wahyu cukup banyak dan cukup untuk mereka.


“Sudahlah pak, jangan membahas soal tega, kamu sendiri gimana? hidup selama 20 tahun dengan kami, kita juga masih sudah begini, lihat.. tunggakan untuk membayar sembako sehabis pesta kemarin saja masih ada! kamu bukannya berusaha malah sibuk menyalahi kami!” balas Nuriah dengan kesal.


“Semua itu salah siapa? apa sebagai istri kamu juga mendengar kan nasehat ku? aku sudah bilang untuk tidak menyelenggarakan pesta besar seperti itu, anak kita sudah melempar kotoran kewajah kita, untuk apa lagi kita membuat nya duduk di pelaminan sana?”


“Kamu gila mas? Desi ini anak kita satu-satunya, kok ya kamu tega dia nikah gak kita pestakan?”


“Tapi dia sudah membuat kita malu Nuriah! apa dia memikirkan bagaimana masih orang tua nya? perasaan orang tua nya? enggak! yang dia pikirkan bagaimana cara nya mendapatkan apa yang dia mau!


Aku heran... sebagai Ibu, apa kamu tidak kecewa dengan sikap nya itu?”


“Terserah kamu lah pak! aku malas mendengar nya!” jawab Nuriah , ia menghentakkan kaki nya dan pergi ke dapur, ia merasa pusing bagaimana cara nya untuk segera melunasi tunggakan sebanyak 10 JT lagi, para tamu undangan yang diharapkan Nuriah ternyata hanya memberi amplop sedikit, bahkan keluarga Yudi juga tidak memberikan apapun pada anak nya sebagai mas kawin.


“Kalau begini aku harus bagaimana?”


*


Sore hari.. jam kerja Nisa sudah selesai.. Ia menunggu kakak sepupunya untuk menjemput, tapi sudah hampir setengah jam sang kakak belum muncul juga.


Ilyas memperhatikan Nisa yang masih menunggu, lantas ia menghampiri nya.

__ADS_1


“Nis.. nunggu Gibran ya?” tanya Ilyas.


“Iya pak.. Kata nya udah dijalan.. tapi belum nyampe juga!”


“Mau aku antar?” tawar Ilyas lagi.


“Eh.. gak usah pak, saya gak enak sama pakde Malik kalau pulang sama laki-laki, biar saya nunggu mas Gibran aja!” tolak Nisa dengan sopan, selain memang benar ia merasa tidak enak dengan pakdenya , Nisa juga tidak mau terlihat dekat dengan laki-laki. Tak berselang lama akhirnya Gibran datang dengan motor sport nya.


“Tu Gibran udah datang!” tunjuk Ilyas ke arah depan, rupanya benar mas nya itu telah datang.


“Lama ya Nis, rame banget dijalan tadi,”


“Iya lumayan lah.. Sampek ke semutan ini loh!”


“Yuuk lah naik, Lo ngapain disini Yas.. ” tanya Gibran pada Ilyas yang yang berdiri tepat disamping mobil nya.


“Gue selalu sempetin buat jemput sepupu gue yang manis ini, secara dia baru kan disini.. gue takut dia bakal kenapa-kenapa! kecuali.. kalau dia udah punya calon suami!” mendengar itu Nisa langsung mencubit lengan Kakak sepupunya itu.


“Aww, sakit Nis!” keluh Gibran yang meringis karena kesakitan, Ilyas melihatnya dengan lucu, mereka bukan saudara kandung.. tapi akrab nya sudah melebihi kakak adik.


“Yuk ah kak kita pulang, malu tahu diliatin sama pak Yas!”


Degh!


Ilyas langsung berdebar saat Nisa menyebut namanya dengan sebutan ‘Yas’ biasanya para karyawannya selalu memanggilnya dengan nama lengkap nya Ilyas, dari mana Nisa berinisiatif memanggil nya dengan sebutan Yas?


“Pak Yas?” tanya Gibran aneh. Nisa langsung melirik sadis kearah sepupunya itu.

__ADS_1


“Apa salah nya, bukannya mas Gibran juga manggil pak Yas dengan sebutan Yas?”


‘Ah benar juga! Gibran juga memanggil ku dengan Yas, apa yang istimewa? Astaga Yas.. please jangan pede , kenapa jadi salting sendiri sih sama karyawan Lo!’ batinnya dalam hati.


Nisa dan Gibran berpamitan untuk pulang duluan, karena hari sudah hampir Maghrib.


Setiba nya dirumah Nisa langsung masuk kamar untuk mandi, dan segera shalat Maghrib. Pukul 8 malam Nisa baru keluar dari kamar dengan masih menggunakan mukenah.


“Makan malam sayang?” ucap bude nya.


“Iya ini Nisa mau makan bude.. maaf ya Nisa gak bantuin masak, soal nya baru pulang hampir Maghrib tadi!”


“ya gak apa-apa sayang, kamu kan kerja .. gimana tadi hari pertama?”


“Lumayan bude.. lancar kok.. temennya juga pada baik, awalnya Nisa pikir bakal susah adaptasi, Alhamdulillah semua nya pada welcome dan baik sama Nisa!”


“Alhamduliah!” ucap bude nya lagi, meskipun Nisa ini keponakan suami nya, tapi jauh dilubuk hati nya ia sangat menyayangi anak dari adik suami nya ini, Lastri sendiri tidak punya anak perempuan, kedua anak nya Laki-laki. Lastri berdo‘a agar secepatnya Nisa bisa melupakan kejadian pedih nya didesa.


“Oh ya.. Apa mas Gibran gak repot antar jemput aku?” kini Nisa beralih ke kakak sepupunya.


“Ya enggak lah.. kamu santai aja!”


“Emang nya kakak gak punya pacar apa?” Malik dan Lastri saling berpandangan satu sama lain, sedangkan Gibran yang tadi sedang fokus mengunyah langsung berhenti.


“Cerita mu sama mas mu ini hampir-hampir mirip nduk.. dia juga ditinggal nikah sama pacar nya..” jawab Malik.


“Beneran mas?? masih ada yang nyia-nyiain mas ku yang guanteng nya pool ini?”

__ADS_1


“Kamu ngeledek?”


__ADS_2