Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.7 Sidang di balai Desa


__ADS_3

"Tenang dulu Bu Santi, mari kita dengarkan dulu mereka," Sela pak Kades lagi.


"Bu, tenang dulu!" bisik Ahmad ditelinga istrinya. Santi hanya melengos dan mendengus kesal, karena semua orang saat ini sedang mencaci dirinya pastinya.


Sedangkan Nisa, berulang kali ia mengambil nafas dalam-dalam dan membuang nya secara perlahan, sakit sekali mendengar penuturan Yudi dan Desi, yang sama sekali tak memikirkan dirinya saat berbuat.


"Tapi yang dikatakan ibuku benar pak kades, bukan hanya saya yang melakukan nya,"


"Gak bisa gitu dong, anak saya bilang kalau kamu yang terakhir melakukan nya, dan dia yakin itu anak kamu, jangan lari dari tanggung jawab dong!" ucap Nuriah yang juga tak terima kalau anak nya saja ya g disalahkan.


"Berapa kali kamu menyentuh Desi ,Yudi??"


"Pak.. apa pertanyaan seperti itu perlu?" potong Ahmad, ia merasa kalau pertanyaan pak kades hanya akan membuat nya malu, sebagai orang tua nya.


"Bagi saya itu perlu pak Ahmad!" jawab Pak Kades dengan tenang.


"Saya.. " kata-kata Yudi seperti tercekat di tenggorokan, tidak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya didepan wanita yang sangat ia cintai.


"5 kali!" jawab Desi, menurut nya untuk apa lagi ditutup tutupi, semua orang sudah terlanjur tahu..


"Astaghfirullah.." ucap warga serempak.


Susan mengusap punggung anak nya, ia tahu saat ini pasti Nisa sangat hancur, ia juga tahu jika saat ini putrinya tengah menangis, tapi tanpa suara.

__ADS_1


"Kapan terakhir kali kalian melakukannya dan dimana?" kini pertanyaan nya beralih ke Desi.


"3 bulan yang lalu pak,dirumah saya.. karena waktu itu bapak sama Ibu, lagi pergi ke kampung sebelah.. Saya dititipkan sama Bik Susan dan juga Nisa, tapi waktu itu, mas Yudi mengajak ku bertemu.. dan kami bertemu dirumah ku juga melakukan nya disana," terang Desi lagi, perih...itulah yang dirasakan Nisa, ia ingat betul saat itu Bik Nur dan Mang Adi orang tua Desi, pergi ke kampung sebelah selam 2 hari karena ada pesta dirumah kerabat nya, dan Desi dititipkan dirumah kami.. bahkan ia juga tidur bersama Nisa, tapi malam itu Desi izin pulang sebentar karena hendak mengambil baju, ternyata hal itu ia gunakan untuk berzina dengan Yudi?


Adi dan Susan juga mengingat momen itu, tapi mereka terutama Adu tak menyangka kalau kepergiannya, akan digunakan untuk berbuat dosa oleh anak perempuan nya.


"Sangat jelas bukan.. Berarti anak yang dikandung Desi adalah anak nya Yudi, dan itu bukan khilaf lagi namanya.. " jelas Pak kades lagi yang geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua pemuda didesa nya ini.


Yudi diam, lidah nya keluh untuk menjawab ataupun menyangkal nya, karena memang itulah kejadian Yang sesungguh nya. Ia melirik ke arah Nisa yang wajah nya sudah basah dengan air mata. 'Maafkan aku!' lirih nya dalam hati.


Ahmad dan Santi juga diam, mereka tidak bisa lagi membela anak nya , karena disini Yudi terbukti bersalah.


"Sekarang sudah jelas kan kalau anak saya tidak mengada-ada, jadi saya minta sama pak Ahmad dan Buk Santi, nikahkan anak laki-laki mu dengan Anak ku, karena dia harus bertanggung jawab!" sahut Nuriah, ia merasa puas karena Desi berhasil menjawab pertanyaan pak kades dengan amat lugas, meskipun ia merasa malu, tapi rasa malu nya sudah tertutup saat ia membayangkan jika anak perempuan nya bersuamikan Yudi yang sudah mapan dan dari keluarga yang kaya pula.


"Saya mengikhlaskan Mas Yudi untuk menikahi dan bertanggung jawab pada Desi pak!" jawab Nisa dengan wajah yang tertunduk, membuat kaki Santi jadi lemas seketika, baginya Nisa itu adalah calon menantu yang baik, tidak neko-neko dan sangat sayang pada diri nya.


"Kamu sudah yakin?" tanya pak kades sekali lagi, untuk meyakinkan apakah keputusan Nisa sudah ia ambil dengan sangat matang.


"Saya yakin pak!"


"Baiklah.. kalau begitu Yudi, saya mau kamu menikah dengan Desi sekarang juga , didepan para warga, setelah itu silahkan jika kalian ingin mendaftar kan pernikahan kalian di KUA setempat," terang pak kades, keputusan yang ia ambil membuat Ahmad, dan Santi membelalak kaget, secepat ini kah pernikahan nya.


"Tapi pak kades, ini terlalu cepat,"

__ADS_1


"Desi sudah hamil 3 bulan pak Ahmad, mau berapa lama lagi.. Sekarang mereka menikah dibawah tangan saja dulu, disaksikan para warga disini, sisanya terserah kalian jika ingin mengadakan resepsi!"


"Pak.. Yudi gak mau nikah sama Desi, dia itu perempuan yang gampangan, Yudi cuma mau nikah sama Nisa!" mohon Yudi pada pak Ahmad. Yudi langsung beranjak dari duduk nya dan menarik pergelangan tangan Nisa.


"Nisa.. Ayo kita nikah sekarang.. kalau memang anak yang Desi kandung itu anak ku, aku akan tetap bertanggung jawab, tapi aku gak mau nikah sama dia, aku cuma mau nikah sama kamu Nis!" ucapnya dengan air mata yang bercucuran.


"Gak bisa gitu dong mas.. Nisa.. kamu kan perempuan, masa kamu tega sih berbuat begitu padaku! saat ini aku sedang hamil anak nya Yudi, aku perlu sosok Ayah untuk anak ku!" sela Desi yang tak terima jika Yudi malah ingin melanjutkan pernikahan nya dengan Nisa ketimbang dirinya yang jelas-jelas sedang mengandung anak nya.


"Hei Desi! kamu itu kalau ngomong jangan asal, kamu juga perempuan kan? dimana hati kamu saat kamu berbuat begitu pada Nisa?? kamu itu temen paling tega sedunia tau gak!" ucap Bik Rana yang mulai kesal dengan sifat Desi yang sepertinya tidak ada rasa bersalah nya sama sekali, malah ia menunjukan sikap yang seolah dirinya lah yang tersakiti disini.


"Tapi kan ini bukan salah ku aja Bik.. mas Yudi juga salah kan!"


"Sudah cukup! dari pengkhianatan kalian , tidak ada yang bisa membuat aku untuk melanjutkan pernikahan kita mas Yudi.. nikahi Desi sekarang!" jawab Nisa dengan suara yang bergetar.


"Bu, Ayo kita pulang!" pinta Nisa lada Ibunya.


"Pak kades, urusan kami sudah selesai kan, silahkan lanjutkan acara pernikahan kalian!" tanya Bu Susan, pada pak kades, karena ia tahu Nisa sudah tidak sanggup berada lama-lama disini.


"Sudah Bu Susan, pak Wardi, maaf karena membuat kalian tidak nyaman,"


Kakek Nisa, langsung menarik Nisa begitu saja untuk pergi dari sana, diikuti oleh Susan dan Warno.


"Nisa tunggu!" panggil Desi, ia langsung berlari kearah Nisa, dan memeluknya.

__ADS_1


"Makasih Nis.. kau memang sahabat terbaik, aku mohon.. jadilah pagar ayu ku saat aku melakukan resepsi dengan mas Yudi.."


__ADS_2